661 research outputs found
PENGELOLAAN SAMPAH PESISIR: SEBUAH ANALISIS TREN PENELITIAN DAN TINJAUAN LITERATUR
Artikel ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan informasi terkait pengelolaan sampah pesisir melalui analisis tren dan tinjauan literatur dari hasil penelitian yang dipublikasikan dengan menggunakan kata kunci pengelolaan sampah pesisir. Metode yang dilakukan dengan cara pengumpulan artikel melalui menu advance search dari Scopus dan analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hanya ada 8 artikel yang fokus membahas pengelolaan sampah pesisir. Artikel yang membahas topik pengelolaan sampah pesisir pertama kali terindeks di Scopus pada dekade 1970-an dan baru banyak dikaji kembali pada dekade 2010-an. Pada awalnya artikel penelitian lebih membahas upaya memahami alam, memberikan rekomendasi metode yang relevan, serta melaporkan permasalahan lingkungan. Hingga saat ini artikel penelitian lebih banyak membahas kebijakan dan program untuk menanggulangi permasalahan sampah pesisir. Hanya satu artikel yang memberikan rekomendasi teknis terkait pengelolaan sampah pesisir. Rekomendasi teknis yang diberikan hingga saat penelitian ini dilakukan masih sebatas pemanfaatan sisa industri perikanan untuk dijadikan bahan baku pangan bernilai ekonomi tinggi untuk mendukung ekonomi biru. Dapat dikatakan penelitian terkait pengelolaan sampah pesisir masih memiliki sangat berpeluang dan menarik untuk dlakukan
Pelestarian Lanskap Sejarah Kota Baubau Sebagai Kota Pusaka Indonesia Di Provinsi Sulawesi Tenggara
Kota Baubau, di Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan salah satu kota prioritas dalam program kota pusaka Indonesia. Salah satu alasan ditetapkannya Baubau sebagai satu dari sepuluh kota prioritas dalam program tersebut yaitu kota ini memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang tinggi, baik yang wujud maupun tak wujud. Tim kota pusaka telah melakukan inventarisasi aset pusaka makro dan juga membuat zonasi namun belum menyeluruh. Tujuan dari penelitian ini adalah menginventarisasi dan menganalisis karakter lanskap sejarah di Kota Baubau, mengkaji partisipasi masyarakat dalam mendukung Kota Baubau sebagai kota pusaka, dan menyusun strategi pelestarian lanskap sejarah di Kota Baubau. Metode yang digunakan antara lain penelusuran dan penilaian lanskap sejarah, survei kepada masyarakat, dan analytical hierarchy process. Hasil yang diperoleh terdapat 17 lanskap sejarah yang merepresentasikan empat periode yaitu prakerajaan, kerajaan dan kesultanan, kolonial, dan pascakemerdekaan. Hasil analytical hierarchy process, menunjukkan bahwa komponen keunikan merupakan komponen prioritas dalam upaya pelestarian lanskap sejarah sedangkan alternatif prioritasnya yaitu peninggalan dengan karakter lanskap kerajaan dan kesultanan. Lanskap sejarah yang memiliki nilai prioritas yang tinggi antara lain lanskap Benteng Sorawolio, Keraton Buton, serta Baadia dan sambali. Zona yang ditetapkan oleh tim kota pusaka dengan perluasan berdasarkan hasil kajian pada penelitian ini, dapat memenuhi kriteria outstanding universal value of world heritage pada kriteria (i), (ii), (iii), dan (iv). Berdasarkan hasil survei kepada 359 responden, sebanyak 61% masyarakat tidak mengetahui bahwa Baubau telah ditetapkan sebagai salah satu kota pusaka di Indonesia, namun mereka mengganggap bahwa seluruh lanskap sejarah harus dilestarikan. Pengetahuan mengenai kota pusaka, sejarah, dan objek sejarah di Baubau oleh masyarakat yang tinggal di pinggir kota lebih rendah dibandingkan masyarakat yang tinggal di tengah kota. Masyarakat umumnya ingin terlibat sebagai pengontrol pelestarian lanskap sejarah di Baubau. Masyarakat juga ingin melestarikan kebudayaan-kebudayaan yang rentan hilang, asalkan memiliki manfaat ekonomi. Strategi pelesetarian yang diberikan antara lain kebijakan perlindungan, peningkatan keterlibatan masyarakat, dan penataan lanskap sejarah
REVIEW OF VISUAL AND CULTURAL LANDSCAPES CONSERVATION IN TOURISM DEVELOPMENT: CASE STUDY OF WAKATOBI REGENCY, SOUTHEAST SULAWESI PROVINCE
Maybe some people still don\u27t know when they hear the term of visual pollution. However, visual objects are important assets in supporting the character of an area. Even these visual objects sometimes become landmarks or ecomarks in the area and then become a tourist attraction. Unlike other countries, which already have regulations on visual preservation, in Indonesia it seems that no one has spoken out loud about this issue. Without regulations regarding visual preservation, it can pose a threat in the form of a source of visual discomfort that has an impact on the image of the area and tourism. Likewise with the uniqueness of the cultural landscape, both tangible and intangible, the wrong handling will eliminate the values in it. This article aims to provide an overview of the position of tourism policies made by local governments in an effort to preserve the visual and cultural landscape using a case study approach in Wakatobi Regency, Southeast Sulawesi. Wakatobi was chosen because it is one of Indonesia\u27s ten priority destinations which, after receiving special attention from the government, began to show the development of tourism infrastructure. The data sources used in this study were secondary data obtained from various research articles, documents, reports, and related legal products. This article is expected to provide an enrichment of literature related to the preservation of visual and cultural landscapes in tourism. The results show that there is no specific policy to protect visual preservation in Wakatobi. Compared to visual preservation, efforts to preserve the cultural landscape are far more developed, although not yet deep.Mungkin bagi sebagian orang masih asing ketika mendengar istilah pencemaran visual. Meskipun demikian objek visual merupakan aset penting dalam mendukung karakter suatu daerah. Tidak jarang objek-objek visual tersebut menjadi landmark maupun ecomark dalam daerah tersebut yang kemudian menjadi daya tarik pariwisata daerah. Berbeda dengan negara-negara lain, yang telah memiliki peraturan dalam pelestarian visual, di Indonesia nampaknya belum ada yang lantang mengatur tentang hal tersebut. Tanpa adanya regulasi mengenai pelestarian visual dapat menimbulkan ancaman munculnya sumber ketidaknyamanan visual yang berdampak pada citra daerah maupun pariwisata. Begitu pula dengan lanskap budaya, keunikan sifatnya yang dapat wujud maupun tak wujud, penanganan yang salah dapat berdampak pada hilangnya nilai-nilai di dalamnya. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran posisi kebijakan-kebijakan pariwisata yang dibuat oleh pemerintah daerah dalam upaya pelestarian visual dan lanskap budaya dengan menggunakan pendakatan studi kasus pada Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Wakatobi dipilih karena merupakan salah satu dari sepuluh destinasi prioritas Indonesia yang setelah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, mulai menunjukkan geliat pembangunan infrastruktur pariwisata. Sumber data yang digunakan dalam studi ini yaitu data sekunder yang diperoleh dari berbagai artikel penelitian, dokumen, laporan, dan produk hukum terkait. Diharapkan dengan adanya artikel ini dapat memberikan pengkayaan literatur terkait dengan pelestarian visual dan lanskap budaya dalam pariwisata. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa belum ada kebijakan yang spesifik dalam melindungi pelestarian visual di Wakatobi. Dibandingkan pelestarian visual, upaya pelestarian lanskap budaya jauh lebih berkembang meskipun belum mendalam
The Change of Butonese Cultural Landscape in Negeri Kawa, Molucas
As a maritime ethnic, Butonese people migrated to some places. A rather large amount of them are in Province of Maluku, Indonesia. This study aims at investigating Butonese cultural landscape in their new migrant region. Is there any different? If this study also aims to know social interaction among ethnics and how it affects Butonese cultural landscape dynamics. This study took place in Negeri Kawa, western part of Seram Regency, Maluku Province, on November 2015. The method used in the study was a qualitative method with in depth interview by snowball and triangulation technique, observation participation, focus group discussion (FGD), and literature study. The result showed that there is a different between Butonese cultural landscape in Buton and Negeri Kawa. Stereotype, presumption, and prejudice to Butonese people also occur. However, it is not always negative because from those three things, the process of acculturation and adaptation as a form of respect and prevention of Butonese culture can occur in Negeri Kawa.</jats:p
Pengaruh Komposisi Media dan Fertigasi Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan Tanaman Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack)
Kemuning (Murraya paniculata (L.) Jack) dapat digunakan sebagai obat tradisional, tanaman lanskap, dan tanaman hias. Banyak penelitian mengenai fitofarmakologi M. paniculata (L.) Jack tapi tidak pada penelitian mengenai budidaya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober 2011 hingga Maret 2012 di Gunung Batu, Bogor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kombinasi komposisi media dan aplikasi fertigasi dengan pupuk organik terhadap pertumbuhan M. paniculata (L.) Jack. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Teracak dengan perlakuan komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi (1:1) v/v tanpa fertigasi; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media dengan tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + pupuk kandang kambing (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang kotoran ayam; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1 ) v/v dan aplikasi fertigasi dengan kotoran kambing; komposisi media tanah latosol Darmaga + arang sekam padi + kotoran ayam (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang ayam. Konsentrasi yang digunakan untuk fertigasi yaitu 1 kg pupuk organik per 5 liter air, dengan dosis 60 ml per tanaman, dan diaplikasikan setiap dua minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanah latosol Darmaga + arang sekam + kotoran ayam (1:1:1) v/v dan aplikasi fertigasi dengan pupuk kandang ayam menghasilkan penampilan tanaman lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain untuk jumlah daun, jumlah anak daun jumlah cabang, dan jumlah bunga. Analisis kualitatif fitokimia menunjukkan daun M. paniculata (L.) Jack mengandung steroid yang paling menonjol, dan kemudian saponin, flavonoid, tanin, dan alkaloi
Inventarisasi dan Identifikasi Objek Daya Tarik Wisata dalam Perencanaan Pariwisata Wakatobi: Inventory and Identification of Tourism Attractions in Wakatobi Tourism Planning
Wakatobi\u27s prestige has recently dimmed compared to other similar tourism areas in Indonesia. Carrying the theme of a real underwater paradise in the center of the world\u27s coral triangle, it is sometimes slipped by local people as hell on land. The cause of this phenomenon is the lack of understanding on the power of objects, especially objects in terrestrial areas, whereas tourists who come to Wakatobi spend time not only under the sea, but also more time on land. The aims of this study were to provide information about tourist attractions in Wakatobi in terms of originality, authenticity, uniqueness, diversity, and beauty. Data and information were collected by means of document searches and interviews with key informants. The result showed that Wakatobi cannot be viewed as just one place but the four major islands that compose it. In general, natural, historical, and cultural tourism are spread throughout the islands in Wakatobi. Icons that can be highlighted as strengths of each of the four main islands include dolphin migration attraction in Wangi-Wangi, historical and cultural heritage attractions, especially the Lariangi Dance in Kaledupa, underwater beauty in Tomia, and geological landscape of the rock garden in Binongko. All tourist attractions in Wakatobi shall be connected with the strengthening of infrastructure, which currently seems to be concentrated in the capital only
REVIEW TINJAUAN KRITIS PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI INDONESIA
This article is a critical review that aims to provide information regarding the development of household waste management in Indonesia. Household waste management in Indonesia is still not optimal due to several factors, internal and external. There are eight obstacles related to household waste management in Indonesia. The eight obstacles include: 1) weak level of knowledge, 2) community diversity related to customs and culture, 3) regulations and policies, 4) processing innovation, 5) synergy between stakeholders, 6) processing system, 7) facilities and infrastructure, and 8) the existence of a pandemic that has also changed people's behavior in producing types of household medical waste. These eight obstacles are challenges to be solved and also become opportunities for future research in related fields of science
HUBUNGAN JUMLAH BUNGA, JUMLAH DAUN, JUMLAH ANAK DAUN, JUMLAH CABANG, DAN TINGGI TANAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack)
ABSTRACTThere is a problem that is frequently complained by the nursery which usually cultivated orange jessamine (Murraya paniculata (L.) Jack) from seed as a landscape plant. The problem is orange jessamine usually flowering although the size of the plants are still very small (about 5 cm) and even only has two leafs. These condition tends to be less favorable for the nursery because the orange jessamine grows slow because of vegetative growth was delayed due to the generative growth is underway. This study aims to see how important the presence of orange jessamine flowers in the nursery and how its relationship with branching, plant height, numberof leaves and number of leaflets. This research used a simple linear regression analysis and correlation of 150 orange jessamine plant seeds. The results showed only the correlation of the amount of flowers with plant height that has no significant correlation. Nevertheless, the presence of flowers in the nursery remains important because every increase in the number of flowers, there is also an increase in the number of branch, number of leaf, and number of leaflet.Keywords: Murraya paniculata (L.) Jack, rutaceae, flowers, landscape plants, plant nurser
Recommended from our members
Enhanced colour encoding of materials discrimination information for multiple view dual-energy x-ray imaging
This thesis reports an investigation into dual-energy X-ray discrimination techniques. These techniques are designed to provide colour-coded materials discrimination information in a sequence of perspective images exhibiting sequential parallax. The methods developed are combined with a novel 3D imaging technique employing depth from motion or kinetic depth effect (KDE). This technique when applied to X-ray images is termed KDEX imaging and was developed previously by the university team for luggage screening applications at security checkpoints. A primary motivation for this research is that the dual-energy X-ray techniques, which are routinely incorporated into ‘standard’ 2D luggage scanners, provide relatively crude materials discrimination information. In this work it was critical that robust materials discrimination and colour encoding process was implemented as the sequential parallax exhibited by the KDEX imagery may introduce colour changes, due to the different X-ray beam paths associated with each perspective image. Any introduction of ‘colour noise’ into the resultant image sequences could affect the perception of depth and hinder the ongoing assessment of the potential utility of the dual-energy KDEX technique. Two dual-energy discrimination methods have been developed, termed K-II and W-E respectively. Employing the total amount of attenuation measured at each energy level and the weight fraction of layered structures, a combination of the K-II and the W-E techniques enables the computation and extraction of a target objects’ effective atomic number (Zeff) and its surface density (ρS) in the presence of masking layers
PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT MEDIKA DRAMAGA DAN DAMPAKNYA TERHADAP KUALITAS VISUAL
ABSTRAK. Beberapa penelitian melaporkan cara negara-negara di berbagai belahan bumi melestarikan kualitas visual lanskap. Tingginya apresiasi terhadap lanskap membuat mereka selalu melakukan sebuah penilaian atau assessment setiap adanya penambahan struktur baru pada lanskap. Hal inilah yang membuat kualitas visual mereka tetap terjaga dari kerusakan baik yang disengaja maupun tak disengaja. Di Indonesia, perhatian ini masih lemah dan belum ada peraturan dari pemerintah yang khusus mengaturnya. Penelitian ini mencoba melakukan penilaian terhadap kualitas visual pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga yang didirikan pada tahun 2012. Proses proyek dan setelah proyek memiliki beberapa efek yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah dampak visual konstruksi pada lanskap sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis dampak visual dari kegiatan pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga bagi masyarakat sekitar yang dilihat dari aspek natural resources dan cultural resources; dan 2) mengidentifikasi persepsi dan preferensi masyarakat sebagai user utama. Hasil dari penelitian ini berupa rekomendasi perlindungan visual setelah adanya pembangunan Rumah Sakit Medika Dramaga terhadap lanskap sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode visual impact assessment (VIA) dengan menggunakan pendekatan dari Ogawa. Hasil penilaian menunjukkan bahwa kualitas visual Rumah Sakit Medika Dramaga umumnya dapat diterima secara visual, namun perlu dilakukan sedikit tindakan mitigasi (modifikasi kecil) untuk menghilangkan kontras visual yang terjadi dengan lingkungan.
Kata kunci: kualitas lingkungan, lanskap, penilaian dampak visual, kualitas visual
ABSTRACT. The prior researches in many countries report about preserving their visual landscape qualities. Due to their high appreciation for managing their landscape makes them always conduct an assessment of every new structure in its landscape. That is what makes their landscape well managed. In Indonesia, the attention to that case is still weak, and there are no specific rules issued by the governments. This research tries to assess the visual quality development of Medika Dramaga Hospital that built in 2012. The project process and after the project has several effects that must be considered. One of them is the visual impact of construction on the surrounding landscape. The aims of this article are to 1) analyze the visual impact of Medika Dramaga Hospital towards the community nearby based on natural resources and cultural resources aspects, and 2) to identify the community perception and preference as the primary user. The output of this research is a recommendation for the visual preservation after the completed process of Medika Dramaga Hospital development towards is landscape. This study using visual impact assessment (VIA) method based on Ogawa approaches. The results of the assessment of visual quality Medika Dramaga Hospital acceptable as visually, but need to do a few of mitigation actions (minor modifications) to eliminate the visual contrast that occurs with the surrounding environment.
Keywords: environmental quality, landscape, visual impact assessment, visual qualit
- …
