NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
KAJIAN PENERAPAN PENDEKATAN BRAND IDENTITY PADA RUANG LOBBY HOTEL BINTANG TIGA METLAND HOTEL BEKASI
Transformasi Metland Hotel Bekasi dari hotel bintang dua menjadi hotel bintang tiga belum sepenuhnya mencerminkan perubahan identitas merek dalam aspek desain interior, khususnya pada ruang lobby yang merupakan titik temu pertama antara tamu dan hotel. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan brand identity pada ruang lobi Metland Hotel Bekasi guna menciptakan pengalaman tamu yang kuat dan meningkatkan kualitas ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deksriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa elemen brand identity seperti Clear Vision, Unique Story, dan Energy belum diterapkan secara optimal. Beberapa temuan lainnya menunjukkan ketidaksesuaian dalam aspek ergonomi, pencahayaan, sirkulasi udara, serta tingkat kebisingan yang belum memenuhi standar kenyamanan. Kajian ini merekomendasikan perancangan ulang area lobby yang mengintegrasikan identitas merek secara konsisten melalui elemen warna, material, bentuk, pencahayaan, dan furnitur.
Bekasi has become a region with the highest industrial absorption rate, alongside a significant increase in tourist visits, creating great potential for the hospitality industry. A strong brand identity within hotel interiors is essential to address the competition among three-star hotels. The transformation of Metland Hotel Bekasi from a two-star to a three-star hotel has not yet been reflected in its interior design, particularly in the lobi area, which serves as the primary point of interaction between guests and the hotel. This study aims to examine the application of brand identity in the lobi of Metland Hotel Bekasi to create a memorable guest experience and improve spatial quality. The research uses a descriptive qualitative method, with data collected through observation, interviews, questionnaires, documentation, and literature studies. The results show that brand identity elements based on Kim Kuhteubl’s theory have not been fully implemented. Other findings reveal inconsistencies in ergonomics, lighting, air circulation, and noise levels that do not meet comfort standards. This study recommends a redesign of the lobi area that consistently integrates brand identity through visual elements, materials, and spatial layout
EVALUASI KUALITAS DAN DISTRIBUSI PENCAHAYAAN ALAMI RUANG KELAS: Studi Kasus Prodi Arsitektur, Universitas Mataram
Kualitas pencahayaan alami memiliki dampak pada fisiologis dan psikologis pengguna ruang, tak terkecuali di ruang kuliah. Hal ini menunjukkan urgensi evaluasi kualitas dan distribusi pencahayaan alami pada ruang kuliah, karena pencahayaan alami memiliki dampak signifikan terhadap kenyamanan visual, kesehatan, dan produktivitas mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan distribusi pencahayaan alami pada ruang kuliah di Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Mataram. Studi ini menggunakan metode kuantitatif melalui pengukuran untuk memperoleh data aktual mengenai kondisi pencahayaan alami di lapangan. Pengukuran dilakukan pada tiga waktu, yaitu pagi (08.00), siang (12.00), dan sore (16.00) selama tiga pekan pada hari kerja (Senin-Jumat). Pengukuran intensitas cahaya dilakukan menggunakan lux meter pada bidang kerja datar dengan ketinggian sekitar 75 cm. Titik-titik pengukuran intensitas cahaya ditentukan berdasarkan pertimbangan bahwa setiap titik mewakili area maksimal 3 m², dimana setiap titik pengukuran merupakan titik temu antara dua garis diagonal panjang dan lebar ruangan. Hasil studi menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruang dipengaruhi oleh waktu dan kondisi langit saat pengukuran. Semakin jauh dari jendela, intensitas pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruang juga semakin berkurang. Secara umum, hasil pengukuran menunjukkan bahwa kualitas dan distribusi pencahayaan alami dalam ruang kelas D2-03 masih belum memadai. Hal ini disebabkan karena intensitas yang diperoleh masih jauh di bawah standar SNI 6197:2020 untuk ruang kelas, yaitu sebesar 350 lux. Selain itu, sebaran pencahayaan alami juga belum merata di seluruh titik pengukuran dalam ruang.
Natural lighting quality affects space users' physiological and psychological well-being, including in lecture rooms. This highlights the urgency to evaluate the quality and distribution of daylight in classrooms, as it significantly impacts students' visual comfort, health, and productivity. This study aims to assess the daylight quality and distribution in a lecture room at the Architecture Study Program, Faculty of Engineering, University of Mataram. A quantitative method was used through field measurements to collect actual daylight data. Measurements were taken three times daily, in the morning (08:00), noon (12:00), and afternoon (16:00), and on weekdays over three weeks. Light intensity was measured using a lux meter at a work plane height of approximately 75 cm. Measurement points were spaced to represent a maximum of 3 m² per point, positioned at the intersections of diagonal lines across the room’s length and width. The results show that light intensity varied depending on the time of day and sky conditions. The further from the window, the lower the daylight intensity. Overall, the study found that the quality and distribution of daylight in Room D2-03 remain inadequate, with light levels falling significantly below the SNI 6197:2020 standard for classrooms (350 lux) and uneven distribution across the measured points
PERAN DAN MAKNA API PADA MASYARAKAT ADAT PANCER PANGAWINAN DI SUKABUMI JAWA BARAT
Penggunaan api baik di dunia maupun di Nusantara masih bertahan hingga saat ini, seperti untuk kegiatan memasak, menghangatkan ruang, dan juga digunakan untuk kegiatan ritual spiritual. Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan peran penting api di daerah yang memiliki latar belakang agraris, yang memiliki kepercayaan terhadap Dewi Padi sangat besar sekali. Pada penelitian mengenai budaya padi yang telah dilakukan sebelumnya sudah banyak membahas tentang kaitannya arsitektur dengan budaya padi tersebut, namun demikian penelitian tersebut luput menjelaskan adanya peran api yang terkait budaya padi. Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep api baik itu secara makna denotatif maupun konotatif yang terkait tatanan spasial di Masyarakat Adat Pancer Pangawinan baik api untuk kegiatan sehari-hari maupun untuk kegiatan ritual, oleh sebab itu menggunakan metode kualitatif dengan strategi pendekatan studi kasus untuk mengidentifikasi kegiatan yang dilakukan terkait penggunaan api di rumah (imah). Imah di masyarakat Pancer Pangawinan dibedakan menjadi dua yaitu imah gede dan imah warga. Dari masing-masing imah tersebut dapat terlihat fungsi api serta memunculkan makna api terkait sakralitas. Dengan demikian memungkinkan permukiman lama untuk berkembang mengikuti modernisasi sementara itu keaslian Masyarakat Adatnya tetap terjaga di dalam permukiman baru yang berbasis konsep api.
The use of fire both in the world and in the archipelago still survives to this day, such as for cooking activities, warming the space, and also used for spiritual ritual activities in several places. Several studies in Indonesia show the important role of fire in areas that have an agrarian background, which has a very large belief in the Goddess of Rice, but what is missed is explaining the role and meaning of fire related to rice culture. This study aims to explore the role and meaning of fire both in daily activities related to spatial order in the Pancer Pangawinan Indigenous People, therefore using a qualitative method with a case study approach strategy to identify activities carried out related to the use of fire at home (imah) that are slightly different from other areas. Houses in the Pancer Pangawinan community are divided into two, namely large houses and residents' houses. The role of fire in the Pancer Pangawinan Society serves as a means to fulfill daily activities, both related to the circle of life and traditional rituals. Meanwhile, in terms of meaning, fire can indicate the formation of a sacred space when fire is used in traditional rituals that take place. With the use of fire in daily life, old settlements survive and develop in the era of modernization, while the authenticity of the Indigenous Peoples is maintained in settlements based on the concept of fire
TRANSFORMASI MATERIAL PELINGGIH MERAJAN/SANGGAH DI BALI PERIODE TAHUN 1970 SAMPAI DENGAN 2024
Penelitian ini mengkaji transformasi material pada pelinggih Merajan/Sanggah di Bali dari tahun 1970 hingga 2024, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, faktor ekonomi, dan perubahan sosial-budaya. Pada periode 1970-1990, material tradisional seperti batu alam, kayu, dan ijuk mendominasi pembangunan pelinggih, dipilih karena nilai spiritual serta estetika yang melekat pada material tersebut. Namun, pada akhir periode ini, modernisasi mulai memperkenalkan material seperti beton dan bata press, yang lebih efisien dan mudah diakses. Pada periode 1991-2000, penggunaan material modern seperti beton cetakan dan genteng keramik meningkat seiring perkembangan teknologi konstruksi yang mempermudah proses pembangunan. Material modern ini menawarkan daya tahan dan efisiensi lebih tinggi, meskipun mengurangi keaslian nilai spiritual bangunan. Memasuki periode 2001-2024, muncul tren keberlanjutan yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan, seperti bata daur ulang dan genteng berkelanjutan. Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan semakin terintegrasi dalam proses pembangunan, dengan revitalisasi material lama yang berfokus pada pengurangan limbah konstruksi dan menjaga nilai budaya.Faktor-faktor yang mendorong perubahan material ini termasuk inovasi teknologi, pertimbangan ekonomi, dan globalisasi yang mempengaruhi preferensi masyarakat Bali. Kesimpulannya, perubahan material pada pelinggih Merajan/Sanggah mencerminkan adaptasi terhadap modernisasi dan upaya untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian nilai budaya. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan arsitektur tradisional yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan spiritualitas.
This study examines the transformation of materials in Merajan/Sanggah shrines in Bali from 1930 to 2024, influenced by technological developments, economic factors, and socio-cultural changes. During the 1930-1990 period, traditional materials such as natural stone, wood, and ijuk (palm fibre) dominated shrine construction due to their spiritual and aesthetic values. However, modernisation introduced materials such as concrete and pressed bricks, which were more efficient and accessible. In the 1991-2000 period, the use of modern materials like cast concrete and ceramic roof tiles increased as construction technology advanced. Entering the period of 2001-2024, sustainability trends encouraged the adoption of eco-friendly materials, such as recycled bricks and sustainable roof tiles. The primary factors driving these material changes included technological innovation, economic considerations, and globalisation, which have influenced the preferences of Balinese communities. To conduct the study, a qualitative descriptive research design with the case study approach was adopted. Data were collected through field observations, interviews with Balinese traditional architects (undagi) and local communities, and document analysis. The analysis techniques applied included thematic, comparative and sustainability analyses to assess the impact of material transformation on cultural values and environmental sustainability. Findings of the study denote the material changes in Merajan/Sanggah shrines that reflect an adaptation to modernisation while striving to maintain a balance between efficiency, environmental sustainability, and cultural preservation
EVALUASI AKSESIBILITAS PEDESTRIAN PADA OBJEK WISATA ALAS PALA DESA SANGEH, BALI
Penelitian ini mengevaluasi kondisi aksesibilitas pedestrian di objek wisata Alas Pala, Desa Sangeh, Bali. Alas Pala yang dikenal sebagai Monkey Forest Sangeh, merupakan destinasi ekowisata yang menarik banyak wisatawan. Seiring dengan tingginya antusiasme pengunjung, kualitas fasilitas dan infrastruktur menjadi faktor penting untuk menjamin kenyamanan dan keamanan. Namun, peningkatan jumlah pengunjung menuntut perbaikan fasilitas aksesibilitas. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, mengumpulkan data melalui kuesioner dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar pengunjung merasa nyaman dengan jalur pedestrian, terdapat beberapa masalah seperti kurangnya penunjuk arah, kondisi jalur yang rusak, dan minimnya fasilitas penunjang. Evaluasi ini memberikan rekomendasi untuk perbaikan jalur pedestrian, penambahan fasilitas penunjang, dan peningkatan kebersihan untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung. Perbaikan ini diharapkan dapat menghasilkan destinasi wisata yang lebih inklusif dan nyaman bagi semua kalangan.Alas Pala, also known as Sangeh Monkey Forest, is a prominent ecotourism destination that draws significant numbers of visitors. As a public space frequented by tourists, comfort and safety during movement within the site rely heavily on the quality of its pedestrian pathways. Field observations reveal several issues, such as limited signage, uneven surfaces, and insufficient supporting facilities. This study evaluates the pedestrian accessibility at Alas Pala, Sangeh Village, Bali, to assess how effectively the pathways support safe, comfortable, and inclusive visitor movement. Employing a quantitative method with a descriptive approach, data were collected through questionnaires and field documentation. The observed variables include pedestrian comfort, safety, and inclusiveness, based on visitor perceptions regarding physical conditions, supporting amenities, and access ease within the tourist area. Data were analyzed descriptively using Microsoft Excel to categorize and interpret questionnaire results and identify emerging patterns. Findings indicate that while most visitors experience relative comfort on the pedestrian paths, issues remain, such as inadequate directional signage, damaged trail sections, and a lack of supporting infrastructure. The evaluation offers recommendations for pathway improvements, additional amenities, and enhanced site cleanliness to boost overall visitor comfort and safety. These enhancements are expected to foster a more inclusive and pleasant tourism experience for all groups
OPTIMALISASI DESAIN RUANG TERBUKA UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN TERMAL (STUDI KASUS: TAMAN ALUMNI ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO)
Kenyamanan termal merupakan salah satu aspek krusial dalam desain ruang terbuka, terutama di wilayah berklim tropis lembab seperti Kota Semarang. Kenyamanan termal saat ini sulit didapatkan manusia saat berada di ruang luar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal dengan dilakukannya pengoptimalan desain ruang terbuka di Taman Alumni Departemen Arsitektur, Universitas Diponegoro. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui observasi lapangan, analisis elemen-elemen desain yang mempengaruhi kenyamanan termal seperti vegetasi, elemen air, material, dan orentiasi taman, serta faktor-faktor kenyamanan termal. Hasil penelitian menunjukkan hasil pengukuran dan analisis data berupa penggunaan elemen vegetasi sebagai peneduh alami, elemen air berfungsi menurunkan suhu, material dengan albedo tinggi dan orientasi untuk mendapatkan pergerakan angin yang optimal. Hal-hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa Pada Taman Alumni ini belum mendapatkan kenyamanan termal yang sesuai dengan standar Lippsmeier. Hal ini dikarenakan kurang optimalnya pada desain ruang terbuka, yaitu kurangnya elemen desain berupa air. Dengan adanya elemen air, temperatur atau suhu dalam taman tersebut akan mendapatkan efek pendinginan atau pengurangan suhu. Pengurangan suhu ini akan membantu meningkatkan kenyamanan termal di taman.Thermal comfort is one of the crucial aspects in open space design, especially in humid tropical climates like Semarang City. Thermal comfort is currently difficult for humans to obtain when in outdoor spaces. This study aims to analyze the level of thermal comfort with the optimization of open space design in the Alumni Park of the Department of Architecture, Diponegoro University. The method used is a quantitative method through field observations, analysis of design elements that affect thermal comfort such as vegetation, water elements, materials, and garden orentiation, as well as thermal comfort factors. The results showed the results of measurements and data analysis in the form of the use of vegetation elements as a natural shade, water elements serve to reduce temperature, materials with high albedo and orientation to get optimal wind movement. These things lead to the conclusion that the Alumni Park has not gotten thermal comfort in accordance with Lippsmeier standards. This is due to the less than optimal design of open space, namely the lack of design elements in the form of water. With the water element, the temperature or temperature in the park will get a cooling effect or temperature reduction. This temperature reduction will help improve thermal comfort in the park
KAJIAN PROSES DAN DAMPAK GENTRIFIKASI DI KAWASAN CAGAR BUDAYA KOTAGEDE
Kotagede sebagai sebuah kawasan bersejarah sekaligus kawasan cagar budaya di Yogyakarta, terindikasi menghadapi gentrifikasi. Hal ini berpotensi mengubah karakter fisik, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses gentrifikasi di Kotagede serta dampaknya terhadap kawasan cagar budaya tersebut. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan untuk mengetahui sejarah Kotagede yang terkait langsung dengan gentrifikasi. Data ini diperoleh melalui studi literatur, observasi lapangan, wawancara mendalam dengan berbagai pihak yang terkait, serta studi dokumentasi. Selanjutnya data dianalisis melalui beberapa metode. Analisis kualitatif digunakan untuk memahami dampak gemtrifikasi pada aspek fisik dan spasial kawasan, serta aspek sosial dan ekonomi. Analisis komparatif digunakan untuk membandingkan proses dan dampak gentrifikasi pada dua fase. Analisis pemetaan spasial digunakan untuk memahami perubahan tata ruang Kotagede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gentrifikasi di Kotagede terjadi dalam dua fase utama: fase pertama yang ditandai dengan invasi kelompok pedagang, dan fase kedua yang ditandai dengan masuknya kelompok bermodal tinggi yang membeli rumah tradisional Kotagede. Fase pertama berdampak pada lahirnya pemukiman padat dan kekayaan tipologi arsitektur. Secara fungsional, Kotagede berubah menjadi kota perdagangan dan kota kerajinan yang makmur. Dari aspek sosial, terjadi perubahan demografi Kotagede yang didominasi pedagang dan pengrajin, serta hadirnya kalangan intelektual. Sedangkan pada fase kedua, dimana fenoma architectural neglection and alterations terjadi, gentrifikasi berdampak pada pelestarian fisik bangunan.
Kotagede, one of Yogyakarta’s cultural heritage districts, faces gentrification pressures that may transform its physical, social, and economic character. This phenomenon can accelerate the degradation of the district’s identity if unmanaged, but it also holds the potential to become a tool for preservation through building restoration. This study aims to analyze the dynamics of gentrification in Kotagede across two phases of development and examine its impacts on the district’s social, economic, and spatial-physical aspects. A qualitative descriptive approach with a case study strategy was employed, utilizing literature review, field observations, in-depth interviews, and documentation studies. The analysis compared two gentrification phases: (1) the influx of traders and artisans after the Diponegoro War and (2) the arrival of high-capital groups following the 1998 economic crisis and the 2006 earthquake and incorporated spatial mapping to identify settlement pattern changes. Findings indicate that the second phase significantly contributed to the adaptive reuse of heritage buildings, the restoration of the district’s image from neglect, and the enhancement of tourism and the local economy. These results enrich the gentrification literature by demonstrating that gentrification in heritage districts can have a positive impact if managed participatively and contextually, and provide a basis for formulating community-based planning policies that balance heritage conservation with social sustainability
KETERJANGKAUAN HUNIAN BAGI MBR MELALUI PROGRAM APARTEMEN TRANSIT JAWA BARAT. Studi Kasus: Skema Gerakan Menabung Penghuni Apartemen Transit Jawa Barat (GEMPITA)
Tingginya harga rumah mengakibatkan masyarakat, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), tidak dapat menjangkau kepemilikan hunian. Salah satu program pemerintah yang dapat membantu MBR untuk dapat menjangkau hunian yang sesuai dengan kemampuan ekonomi masing-masing individu adalah program rumah subsidi. Meskipun begitu, uang muka rumah subsidi dinilai masih terlalu tinggi bagi MBR. Oleh sebab itu, Gerakan Menabung Penghuni Apartemen Transit (GEMPITA) hadir untuk membantu mempersiapkan keuangan kepemilikan hunian. Skema ini dibuat untuk penghuni Apartemen Transit Jawa Barat agar dapat mengupayakan pemenuhan uang muka kepemilikan hunian yang layak. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat bahwa upaya pemerintah dalam membantu masyarakat memenuhi kebutuhan hunian seringkali hanya berfokus sampai pada kepemilikan rumah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan evaluasi terhadap keterjangkauan hunian layak melalui Skema GEMPITA bagi MBR. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa GEMPITA terbukti membantu MBR dalam mempersiapkan keuangan untuk pemenuhan uang muka (DP) kepemilikan hunian yang layak. Hal ini dapat dilihat dari tahun 2015-2022 sebanyak 247 KK telah memiliki hunian melalui Program GEMPITA. Tetapi, program ini dinilai tidak terjangkau karena (1) pembayaran pertama yang perlu dibayar penghuni tidak hanya mencakup uang muka, tetapi juga biaya administrasi dan kepengurusan legalitas hunian; (2) biaya cicilan bulanan lebih dari 30% dari penghasilan; dan (3) lokasi rumah yang berada jauh dari area perkotaan menyebabkan adanya pengeluaran tambahan seperti biaya transportasi.High house prices have made people, especially low-income people (MBR), unable to obtain residential ownership. One of the government programs that can help MBR reach housing that suits the economic ability of each individual is the subsidized housing program. Even so, the down payment for subsidized houses is still too high for MBR. Therefore, the Transit Apartment Residents Savings Movement (GEMPITA) is here to help prepare housing ownership finances. This scheme was created for residents of the West Java Transit Apartment to strive to fulfill a decent down payment for residential ownership. Based on this, the government's efforts to help people meet their housing needs often only focus on home ownership. This study aims to identify and evaluate the affordability of decent housing through the GEMPITA Scheme for MBR. The research method used is descriptive-qualitative with a case study approach. Based on the analysis results, GEMPITA has proven to help MBR prepare financially for the fulfillment of a decent down payment (DP) for residential ownership. This can be seen from 2015-2022 as many as 247 families have had housing through the GEMPITA Program. However, this program is considered unaffordable because (1) the first payment that residents need to pay includes not only a down payment but also administrative costs and management of housing legality; (2) monthly installment fees of more than 30% of income; and (3) the location of th
REPRESENTASI ELEMEN RUANG KOTA SEBAGAI PEMBENTUK URBAN INTERFACE DARI KEHADIRAN MAKANAN PADA MEDIA SOSIAL (INSTAGRAM)
Penggunaan hashtag merupakan salah satu cara untuk menelusuri keterlibatan pengguna sosial yang memiliki kesamaan, keterikatan, dan keterhubungan dengan hal – hal terkait makanan. Dalam penelitian ini, penekanan kehadiran makanan di media sosial ada pada urban interface atau ruang antara privat dan publik. Tujuan penelitian ini adalah untuk untuk menelusuri elemen pembentuk urban interface dan pola kombinasi antara elemen yang paling dominan dalam merepresentasikan ruang kota dan makanan pada media sosial Instagram melalui hashtag pada konten. Penelitian ini mempertanyakan bagaimana dominasi dan representasi elemen urban interface terkait makanan dan ruang kota pada unggahan di Instagram melalui hashtag #jktfooddestination. Penelusuran terhadap elemen urban interface menekankan pada dominasi pola atau pengulangan dari elemen ruang kota dan makanan, baik melalui media teks (caption) maupun gambar atau video pada laman feed Instagram. Penelitian ini menerapkan metode penelitian campuran (mixed-methods) yang melingkupi tujuh tahapan proses analisis terhadap foto dan video antara lain data cleaning, data integration, data selection, data transformation, data mining, data evolution, dan knowledge representation. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa setting tempat merupakan salah satu hal penting dalam menginformasikan kehadiran makanan. Di sisi lain, temuan penelitian ini juga mengungkapkan bahwa semakin kuat hubungan visual dan fisik antara ruang privat dan publik maka semakin beragam pula pola kombinasi elemen urban interface, serta sebaliknya. Temuan ini dapat menjadi arahan bagi pengembangan kawasan terkait dengan makanan yang dapat menarik pengunjung dan berkontribusi dalam penciptaan ruang kota yang aktif.Using hashtags is one way to trace the involvement of social users who have similarities, attachments, and connections to food-related matters. This study emphasizes the presence of food on social media in the urban interface or the space between private and public. This study aims to explore the elements that form urban interfaces and the combination patterns between the most dominant elements in representing urban space and food on Instagram social media through hashtags in the content. This study questions how the dominance and representation of urban interface elements related to food and urban space in Instagram uploads through hashtags #jktfooddestination. Searching for urban interface elements emphasizes the supremacy of patterns or repetition of urban space elements and food through text media (captions) or images or videos on the Instagram feed page. This study applies a mixed-methods method that covers seven stages of the analysis process on photos and videos, including data cleaning, data integration, data selection, data transformation, data mining, data evolution, and knowledge representation. This study's findings indicate that the place's setting is one of the essential things in informing the presence of food. On the other hand, the findings of this study also reveal that the stronger the visual and physical relationship between private and public spaces, the more diverse the combination pattern of urban interface elements, and vice versa. These findings can serve as a direction for the development of food-related areas that can attract visitors and contribute to the creation of active urban spaces
EVALUASI PURNA HUNI PADA HUNIAN MASYARAKAT MENENGAH DITINJAU DARI ASPEK KENYAMANAN RUANG
Bentuk sebuah bangunan pada umumnya dihadirkan selaras dengan bangunan disekitarnya, tanpa memperhatikan konteks kenyamanan bangunan itu sendiri. Demikian juga dengan tatanan ruang dan hubungan ruang sebagai fasilitas operasional kegiatan dengan fungsi yang spesifik, efektivitas fungsi ruang yang ada bila dilihat dari potensi pencahayaan maupun penghawaan sekedar hadir tanpa memperhatikan tuntutan yang ideal agar ruangan dapat berfungsi secara optimal. Secara umum kondisi ini banyak didapati pada hunian-hunian tingkat menengah, seperti rumah yang berada pada perumahan yang dibuat secara tipikal, ataupun rumah yang dibuat dirancang dengan mandiri. Melihat fenomena tersebut, maka evaluasi purna huni sangat diperlukan untuk dapat mengetahui kenyamanan sebuah hunian yang sudah terbangun pada hunian tingkat menengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kenyamanan ruang pada bangunan hunian yang sudah terbangun serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi kenyamanan tersebut. Metode penelitian menggunakan metode kualitatif untuk mengambil data langsung ke objek rumah terpilih dengan sampel objek yang difokuskan pada rumah tinggal menengah di Kota Malang. Data yang diambil mencakup tingkat kenyamanan dalam ruang, luasan bukaan, pencahayaan, kebisingan dan luasan ruang. Hasil evaluasi purna huni pada hunian menengah didapatkan hasil yang beragam, sesuai dengan desain dan kondisi hunian pada masing-masing objek. Faktor-faktor seperti suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin berpengaruh signifikan terhadap perasaan nyaman penghuni pada objek yang diteliti. Selain itu, aspek visual, akustik, dan ruang gerak juga menjadi aspek yang berpengaruh dalam penentuan kenyamanan pada masing-masing objek. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam perancangan hunian yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan bagi penghuninya.
The building form is generally presented in harmony with the surrounding buildings, without regard for the comfort context of the building itself. Likewise, the spatial order and spatial relationship, as an operational facility for activities with specific functions, determine the effectiveness of the existing space function when viewed in terms of potential for lighting and air conditioning. However, this is often overlooked, and ideal demands are not considered, resulting in the room not functioning optimally. In general, this condition is most commonly found in middle-class dwellings, such as houses that are typically built or designed independently. Recognizing this phenomenon, a post-occupancy evaluation is necessary to determine the comfort level of a middle-level residence. This study aims to evaluate the comfort of space in residential buildings that have been built and identify the factors that affect this comfort. The research method employs a qualitative approach to collect data directly from selected house objects, focusing on a sample of medium residential houses in Malang City. The data collected included the level of comfort in the space, the area of the opening, lighting, noise, and the area of the space. The results of the post-occupancy evaluation in medium housing varied according to the design and housing conditions of each object. Factors such as air temperature, humidity, and wind speed have a significant effect on the comfort of occupants in the object being studied. Additionally, visual, acoustic, and movement space aspects are also influential in determining the comfort of each object. From the results of this research, it is hoped that it will serve as a reference for designing housing that provides comfort and safety, as well as enhances the overall quality of life for its residents