252 research outputs found

    POLA BERMAIN, RUANG BERMAIN DAN INTERAKSI SOSIAL ANAK-ANAK SEKOLAH DASAR DI SEKITAR UNIVERSITAS PANCASILA JAKARTA

    Full text link
    Penelitian ini mengeksplorasi persepsi keamanan orang tua dan ketersediaan fasilitas bermain di lingkungan perkotaan serta pengaruhnya terhadap kebebasan bermain dan interaksi sosial anak-anak sekolah dasar di sekitar Universitas Pancasila, Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana persepsi orang tua terhadap keamanan lingkungan dan akses ruang terbuka hijau memengaruhi pola bermain dan keterlibatan sosial anak-anak. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam semi-terstruktur kepada orang tua dan observasi langsung terhadap ruang bermain di lingkungan tempat tinggal mereka. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola dan tema utama terkait persepsi keamanan serta akses ruang terbuka hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi keamanan lingkungan memengaruhi kebebasan bermain anak. Orang tua yang merasa lingkungannya aman cenderung memberikan kebebasan lebih besar bagi anak-anak untuk bermain di luar rumah, sementara mereka yang merasa lingkungannya tidak aman lebih memilih membatasi aktivitas anak-anak mereka. Selain itu, akses ruang terbuka hijau yang baik mendukung interaksi sosial melalui permainan kelompok, yang meningkatkan keterampilan sosial anak. Sebaliknya, keterbatasan fasilitas bermain di kawasan perkotaan mengurangi kebebasan bermain dan menghambat perkembangan sosial anak-anak. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi perencanaan kota, terutama terkait desain ruang publik yang ramah anak. Hasil ini menekankan pentingnya keamanan lingkungan dan aksesibilitas ruang terbuka hijau untuk mendukung kebebasan bermain serta perkembangan sosial anak-anak di kawasan perkotaan. This study examines parents' perceptions of safety and the availability of play facilities in urban environments, as well as their impact on the play freedom and social interactions of elementary school children residing near Universitas Pancasila, Jakarta. The study aims to understand how parents' perceptions of environmental safety and access to green open spaces affect children's play patterns and social engagement. This research employed a qualitative approach, involving semi-structured in-depth interviews with parents and direct observation of play areas in their neighborhoods. Data analysis was conducted using thematic analysis to identify patterns and themes related to safety perceptions and access to green open spaces. The findings reveal that parents' perceptions of environmental safety have a significant impact on their children's freedom to play. Parents who perceive their environment as safe are more likely to allow their children to play outdoors, while those who feel unsafe tend to restrict their children's activities. Furthermore, access to green open spaces enhances social interaction through group play, fostering children's social skills. In contrast, limited access to play facilities in urban areas reduces play freedom and hampers children's social development. This study provides valuable insights for urban planning, particularly in designing child-friendly public spaces. The findings emphasize the importance of ensuring environmental safety and accessible green spaces to support children's freedom of play and social development in urban areas

    PLACE ATTACHMENT PADA LOBI HOTEL ”X” DAN HUBUNGANNYA TERHADAP REVISIT INTENTION BERDASARKAN PREFERENSI GENERASI MILENIAL

    Full text link
    Generasi milenial lahir pada masa situasi politik dan ekonomi yang stabil, sehingga cenderung menunjukkan sifat-sifat yang fokus pada kenyamanan dan kemudahan. Generasi milenial memiliki tingkat preferensi dan selera yang tinggi serta bersifat canggih, cenderung menyukai ruangan yang memiliki kriteria dan spesifikasi tertentu seperti desain interior yang bersih, sederhana, fungsional dan modern. Objek penelitian ini adalah Hotel “X” sebagai salah satu hotel bintang-5 di Surabaya berlokasi di pusat kota, sehingga mudah di akses dan strategis.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana preferensi generasi milenial sebagai mayoritas pengunjung Hotel “X” dapat memengaruhi keadaan emosional, kenyamanan serta minat untuk menginap kembali (revisit intention) pada Hotel “X”. Hubungan atau ikatan emosional yang mendalam antara individu dengan suatu tempat merupakan konsep psikologi lingkungan yang dinamakan place attachment. Area lobi Hotel “X” merupakan ruang yang berfungsi sebagai pusat informasi, ruang tunggu dan pemberi kesan pertama bagi pengunjung hotel, sehingga lobi hotel membutuhkan perhatian khusus terutama pada desain dan estetika interiornya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berupa Systematic Literature Review (SLR) dengan tujuan untuk melakukan evaluasi literatur yang sistematis dan menyeluruh mengenai pembahasan yang relevan. Berdasarkan hasil kajian, lobi Hotel “X” mempunyai kriteria yang sesuai dengan preferensi generasi milenial dan dapat memfasilitasi kebutuhan saat beraktivitas pada lobi hotel. Hal tersebut dapat memperkuat ikatan emosional antara pengunjung dengan lobi sehingga membentuk hubungan place attachment. Hubungan place attachment yang kuat pada pengunjung dapat berdampak pada tingkat kepuasan dan revisit intention kepada hotel. Kata kunci: Place Attachment, Lobi Hotel, Generasi Milenial, Revisit Intention The millennial generation was born during a stable political and economic situation, so they tend to show traits that focus on comfort and convenience. The millennial generation has a high level of preferences and tastes and is sophisticated in nature, tending to like rooms that have certain criteria and specifications such as clean, simple, functional and modern interior designs. The object of this research was Hotel "X" as one of the 5-star hotels in Surabaya, located in the city center, so it was easy to access and strategic.  This research aimed to examine how the preferences of the millennial generation as the majority of visitors to Hotel "X" can influence their emotional state, comfort and interest in revisit intention at Hotel "X". The deep emotional connection or bond between an individual and a place is an environmental psychology concept called place attachment. The lobby area of Hotel "X" is a space that functions as an information center, waiting room and gives a first impression to hotel visitors, so the hotel lobby requires special attention, especially to its interior design and aesthetics. This research uses a qualitative method in the form of a Systematic Literature Review (SLR) with the aim of carrying out a systematic and comprehensive literature evaluation regarding relevant discussions. Based on the results of the study, the lobby of Hotel "X" has criteria that suit the preferences of the millennial generation and can facilitate their needs when carrying out activities in the hotel lobby. This can strengthen the emotional bond between visitors and the lobby, thereby forming a place attachment relationship. A strong place attachment relationship with visitors can have an impact on the level of satisfaction and revisit intention with the hotel.Keywords: Place Attachment, Hotel Lobby, Millennial Generation, Revisit Intentio

    STUDI GAYA DALAM PADA KONSTRUKSI BALOK SEDERHANA DENGAN PEMODELAN BEBAN

    Full text link
    Pengetahuan dasar dari pembelajaran struktur salah satunya adalah mengenal tentang konstruksi balok sederhana. Balok adalah member dari struktur yang menerima gaya arah transversal. Pemahaman terkait balok sederhana merupakan pembelajaran struktur yang penting namun, dianggap sulit dan sering terabaikan. Mempelajari dan memahami struktur memang memerlukan ekstra kerja keras dikarenakan kombinasi dari teknis dan kreatifitas. Oleh karena itu, penelitian ini membahas perilaku konstruksi balok sederhana (KBS) dengan pemodelan beban dan penggambaran diagramnya. Tujuan dari penelitian ini sebagai referensi dari perilaku struktur konstruksi balok sederhana dengan beberapa pembebanan. Perilaku struktur ditunjukkan dengan gaya-gaya reaksi dan gaya-gaya dalam akibat muatan yang bekerja beserta penggambaran diagramnya. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Analisis digunakan perhitungan manual dan divalidasi dengan metode elemen hingga aplikasi ETABS. Hasil perhitungan dari reaksi perletakan dengan enam pemodelan beban baik secara manual dan metode elemen hingga signifikan sama. Penggambaran diagram gaya geser pada konstruksi balok sederhana dengan beban terpusat merupakan garis lurus mendatar. KBS yang dikenai beban merata persegi panjang diagram gaya geser merupakan garis lurus miring dan beban merata segitiga merupakan garis lengkung. Penggambaran diagram momen akibat beban terpusat merupakan garis lurus miring. Sedangkan, KBS yang dikenai beban merata persegi panjang, segitiga simetri atau sehadap merupakan garis lengkung. Perbedaan dari perilaku struktur dikarenakan perbedaan beban yang diberikan pada KBS. Hal ini memperlihatkan beban terpusat dan beban merata memberikan pengaruh yang berbeda pada KBS. One basic knowledge of learning structure is knowing about the construction of simple blocks. A beam is a member of a structure that receives transverse directional forces. Understanding simple blocks is essential to learning structures. However, it is considered difficult and often overlooked. Learning and understanding the structure does require extra hard work due to the combination of technique and creativity. Therefore, this study discusses simple beam construction (KBS) behavior by load modeling and diagramming. This study aims to refer to the behavior of simple beam construction structures with some loading. The behavior of the structure is indicated by the reaction forces and the forces in the effect of the working charge, along with the diagram drawing. The research method uses quantitative description. The analysis uses manual calculations and is validated by the finite element method of the ETABS application. The calculation results of the laying reaction with six load modeling manually and the method of finite elements are significantly the same. The drawing of a shear force diagram in a simple beam construction with a concentrated load is a horizontal straight line. KBS is subjected to a uniform load, rectangle, and shear force diagram, a straight line of shear, and the uniform load of the triangle is a curved line. The drawing of the moment diagram due to a concentrated load is a slanted straight line. Meanwhile, KBS that is subjected to a load evenly distributes rectangles, symmetrical triangles, or faces in a curved line. The difference in structural behavior is due to the difference in the burden given to KBS. This shows that centralized and evenly distributed loads have different effects on KB

    PLACE BRANDING SENTRAL WISATA BINONG JATI BANDUNG MELALUI PENDEKATAN KONEKTIVITAS POTENSI LOKAL: Studi Kasus Jalan Utama Binong Jati

    No full text
    Sentral Industri Rajut Binong Jati adalah kawasan wisata belanja pakaian, sarung tangan, topi dan produk rajut lainnya. Saat ini perkembangan kawasan industri rajut binong jati masih terfokus pada industrinya saja sedangkan untuk penataan tempat dan kawasan belum di perhatikan. Kawasan industri rajut binong jati sebenarnya dapat berkembang dalam place baranding penataan kawasan melalui pemberdayaan budaya lokal sebagai bagian dari atraksi kawasan wisata belanja rajut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penelusuran literatur terkait dan penelusuran lapangan. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan rekomendasi desain place branding penataan kawasan koridor jalan utama Binong Jati yang berbasis pada konektivitas potensi lokal untuk sebuah kawasan wisata. Place branding penelitian ini terfokus pada koridor jalan utama Binong Jati. Konektivitas adalah sebuah pola keterkaitan dan hubungan antar ruang, waktu dan kegiatan. Konsep konektivitas pada kawasan industri rajut Binong Jati dilakukan dengan menata untuk place branding potensi wisata yang tersebar melalui penguatan karakter tempat (place) dan optimalisasi pergerakan (movement), penguatan karakter tempat dengan memanfaatkan lahan kosong menjadi kawasan parkir wisatawan dan thematic park, mendesain entrance gate jalan Binong Jati dengan adanya street furniture dan penanda (signage) agar memjadi first impression yang menarik, penambahkan lampu penerangan di sepajang jalan, memperindah tampilan pertokoan. Sedangkan untuk optimasi pergerakan antara lain memfasilitasi pejalan kaki dengan adanya trotoar yang nyaman, tanpa hambatan dan ramah dengan difabel, menerapkan manajeman traffic dan strategi penempatan pada ruang parkir, transportasi publik becak untuk wisatawan berkelilng kawasan rajut Binong Jati. Dengan adanya place branding ini diharapkan meningkatkan daya tarik wisatawan berbelanja rajut di Binong Jati. Binong Jati Knitting Industry Center is a shopping and tourism area featuring clothes, gloves, hats, and other knitting products. Currently, the development of the Binong Jati knitting industry area is still focused solely on the industry, while the arrangement of the place and area has not been considered. The Binong Jati knitting industry area can develop through regional planning that emphasizes local culture, thereby enhancing the attraction of the knitted shopping tourism area. This study employs a qualitative descriptive method, incorporating related literature searches and field research. The purpose of this study is to develop design recommendations for the place branding arrangement of the main road corridor area in Binong Jati, based on local potential connectivity for a tourist area. Place branding. This research focuses on the main road corridor of Binong Jati. Connectivity is a pattern of interconnectedness and relationship between space, time, and activities. The concept of connectivity in the Binong Jati knitting industry area is carried out by arranging for place branding, tourism potential that is spread through strengthening the character of the place (place)and optimization of movement (movement), strengthening the character of a place by utilizing empty land as a parking area for tourists and a theme park, designing entrance gate Binong Jati road with the presence ofstreet furnitureand marker (signage) to becomefirst impressionwhich are interesting, adding lighting along the road, beautifying the appearance of shops. Meanwhile, to optimize movement, among other things, facilitate pedestrians with comfortable, barrier-free, and wheelchair-friendly sidewalks, implement effective management, traffic, and placement strategies in parking spaces, and provide public transportation pedicabs for tourists to travel around the Binong Jati knitting area. With the existence of place branding, this is expected to increase the attraction of tourists shopping for knitwear in Binong Jati

    SISTEM SPASIAL RUMAH PANGGUNG SUKU REJANG DI KABUPATEN KEPAHIANG

    No full text
    Suku Rejang merupakan suku asli wilayah Bengkulu dan suku tertua di Sumatera yang mendominasi wilayah Kabupaten Kepahiang dengan menghuni rumah panggung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi sistem spasial rumah panggung Suku Rejang berdasarkan denah, susunan ruang, dan hirarki ruang menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan mengamati kondisi eksisting ruang rumah panggung untuk mengidentifikasi sistem spasial pad objek amatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe rumah panggung Suku Rejang di kabupaten Kepahiang berbentuk persegi panjang dengan perubahan memendek maupun memanjang. Lantai dasar mengalami perubahan dari yang tidak difungsikan menjadi ruang-ruang yang mendukung aktivitas profesi dan hunian di lantai tengah. Lantai tengah yang mengalami perubahan pada dopoa dan ga-ang. Faktor yang melatarbelakangi perubahan ruang berupa : faktor sosial, budaya, pengetahuan, mata pencaharian, teknologi, usia bangunan, ekonomi, gaya hidup, aktivitas dan minat serta keinginan pemilik rumah. The Rejang Tribe is indigenous to the Bengkulu region and the oldest tribe in Sumatra, which dominates the Kepahiang Regency area by living in stilt houses. The purpose of this study was to identify the spatial system of the Rejang Tribe's stilt houses based on the floor plan, spatial arrangement, and spatial hierarchy using a qualitative descriptive approach by observing the existing conditions of the stilt house space to identify the spatial system in the observed object. The results showed that the type of Rejang Tribe's stilt house in Kepahiang Regency is rectangular with changes in shortening or lengthening. The ground floor has been transformed from unused space into areas that support professional activities, while the middle floor now houses residential units. The middle floor has changed to the dopoa and ga-ang. Factors underlying changes in space include social factors, culture, knowledge, livelihood, technology, building age, economy, lifestyle, activities, interests, and the homeowner's desires

    PERAN NILAI MOTIVASI GEN MILENIAL TERHADAP PREFERENSI DESAIN INTERIOR RUMAH PERTAMA DALAM MENCAPAI BUDAYA ORGANISASI

    Full text link
    ABSTRAK. Generasi milenial memiliki preferensi desain interior yang berbeda, terutama untuk rumah pertama mereka dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Preferensi ini sangat dipengaruhi oleh nilai motivasi seperti pencapaian, kemandirian, dan lain-lain. Bagaimana nilai-nilai motivasi generasi milenial diterapkan pada desain interior rumah pertama dapat menciptakan lingkungan yang mendukung budaya organisasi yang berkinerja tinggi (HPO). Studi ini menggunakan pendekatan multidisipliner dan melibatkan aspek pengalaman pengguna dalam desain interior, psikologi lingkungan, preferensi generasi, dan kinerja organisasi. Penelitian ini berada pada ruang lingkup bagaimana milenial memprioritaskan pemenuhan kebutuhan emosional yang mencakup tahapan emosional desain: visceral, behavioral, dan reflektif. Data yang diperoleh dipelajari untuk menemukan hubungan antara nilai motivasi dan preferensi desain yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan penghuninya. Studi menunjukkan bahwa generasi milenial lebih suka desain yang mendukung keberlanjutan, fleksibilitas, dan personalisasi. Selain itu, terbukti bahwa penggunaan teknologi pintar dalam desain interior meningkatkan pengalaman pengguna dan kenyamanan. Studi ini meningkatkan pemahaman kita tentang peran nilai motivasi dalam desain interior rumah pertama dan bagaimana hal itu berdampak pada kesehatan dan kebahagiaan penghuni. Hasil ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi arsitek, desainer interior, dan pengembang properti dalam merancang hunian yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan generasi milenial.

    STUDI MORFOLOGI PERMUKIMAN PERDESAAN DAN SUMBER AIR TELAGA MELALUI SINTAKSIS SPASIAL DI DAERAH MINIM SUMBER DAYA AIR

    Full text link
    Perdesaan adalah lingkungan yang erat kaitannya dengan aspek natural dan budaya bertani sehingga bentuk spasial dari sebuah permukiman perdesaan bergantung pada lingkungan tempat permukiman terbentuk. Sumber daya air merupakan salah satu aspek natural yang dapat memengaruhi sebuah permukiman secara signifikan. Penelitian ini bertujuan melihat keterhubungan adanya telaga dalam permukiman dengan terbentuknya permukiman yang berkembang dan jaringan jalan perdesaan di kawasan karst yang minim sumber daya air. Penelitian ini menganalisis morfologi permukiman secara kualitatif dan kuantitatif. Sintaksis spasial digunakan untuk memberikan visualisasi dan perhitungan numerik mengenai konektivitas, integrasi, dan kedalaman jaringan jalan. Penelitian ini akan membandingkan morfologi Kelurahan Sumberwungu yang memiliki 5 telaga dan Kelurahan Sidoharjo yang memiliki 3 telaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah sumber daya air permukaan sebanding dengan meningkatnya konektivitas jaringan jalan perdesaan minim sumber daya air. Dari morfologi Kelurahan Sidoharjo dan Kelurahan Sumberwungu terdapat beberapa persamaan seperti kedua kelurahan memiliki pola yang mirip, hal ini dikarenakan kondisi alam, iklim, dan budaya di kedua kelurahan yang masih cenderung mirip. Rural areas are environments closely related to natural aspects and farming culture, so the spatial form of a rural settlement depends on the environment in which the settlement is formed. Water resources are one of the natural aspects that can significantly affect a settlement. This study aims to examine the relationship between surface water resources and the spatial morphology of rural settlements in the karst region, which has limited water resources. This research qualitatively analyzes the settlement morphology, and then spatial syntax is used to provide visualizations of connectivity, integration, and depth of the road network. The study compares the morphology of Sumberwungu Village, which has five doline ponds, and Sidoharjo Village, which has three doline ponds. The results indicate that the number of surface water resources is proportional to the increased connectivity of the road network in rural areas with limited water resources. The morphology of Sidoharjo Village and Sumberwungu Village shows some similarities, such as both villages having similar patterns, due to the natural conditions, climate, and culture in both villages being relatively similar

    POLA PERMUKIMAN KAMPUNG TRADISIONAL STUDI KASUS : KAMPUNG KAMBOJA KELURAHAN BENUA MELAYU LAUT KOTA PONTIANAK

    No full text
    Proses terbentuknya pola permukiman di dasar dari berbagai aspek yang membentuk suatu permukiman. Secara topografi permukiman Kampung Kamboja terbentuk dari penyusun unsur lingkungan yaitu air sungai. Unsur lingkungan tersebut menjadi wadah untuk melakukan aktivitas masyarakat setempat. Kondisi lingkungan bermukim diharapkan dapat menunjang aktifitas baik dari segi finansial dan aksesibilitas. Kebudayaan suatu permukiman juga tidak terlepas dari tradisi maupun adat istiadat dari sebuah permukiman. Suatu komunitas memilih lokasi  permukiman berdasarkan tradisi atau adat istiadat yang telah di turunkan secara turun temurun . Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi pola permukiman yang berada di Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data geo-spasial, survei lapangan, dan digital tracing untuk mengidentifikasi pola permukiman yang ada. Termasuk distribusi bangunan, dan aksesibilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya 2 pola dalam penggunaan lahan: pola linier pada permukiman yang berada di bantaran sungai dan mengelompok, pada permukiman yang berada di dekat jalur jalan kota.The process of forming a settlement pattern at the base of various aspects that make up a settlement. Topographically, Cambodian Village settlements are formed from the constituent elements of the environment, namely river water. These environmental elements are a forum for carrying out local community activities. The condition of the living environment is expected to support activities both in terms of finance and accessibility. The culture of a settlement is also inseparable from the traditions and customs of a settlement. A community chooses the location of a settlement based on traditions or customs passed down from generation to generation. This study also aims to identify settlement patterns in Benua Melayu Laut Village, South Pontianak District, Pontianak City, and West Kalimantan. This study uses qualitative methods with geospatial data, field surveys, and digital tracing to identify settlement patterns, including building distribution and accessibility. This study's results show two patterns in land use: linear patterns in settlements located on riverbanks and clustering in settlements located near city roads

    KAJIAN PERMEABILITAS KAWASAN BERSEJARAH KOTA LAMA SEMARANG

    Full text link
    Dalam sebuah kota terdapat Kawasan bersejarah yang merupakan salah satu elemen pembentuk kota. Kota adalah daerah dengan penduduk padat yang tinggal dan bergerak di suatu daerah. Sebuah kota dibentuk berdasarkan faktor permeabilitas. Faktor permeabilitas itu sendiri termasuk blok bangunan, lebar jalur, dan koneksi jalur sirkulasi. Kawasan Kota Lama Semarang merupakan kota budaya yang luas, penerapan unsur citra kota perlu dipelajari terkait penerapannya pada kota tua. Objek penelitian berada di Kota Lama Semarang yang merupakan kawasan budaya dengan tujuan untuk dapat mengidentifikasi, memahami, dan menjelaskan penerapan permeabilitas di kota ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan penelitian menggunakan pemetaan dan deskriptif. Metode ini digunakan untuk mendapatkan hasil yang maksimal untuk mendapatkan data. Setiap elemen kota saling terkait satu sama lain, setiap elemen kota telah berhasil membuat Kota Lama Semarang memiliki identitas kota yang dapat dilihat oleh para migran. Elemen citra kota ini perlu dipertahankan dengan baik agar tetap terpelihara dengan baik di masa depan. In a city, there is a historical place that is one of the forming elements. A town is an area with a dense population that lives and moves in. A city is formed based on permeability factors. Permeability factors themselves include building blocks, path width, and circulation path connections. The Semarang Old Town area is a vast cultural town, and the application of town image elements needs to be studied regarding its application to the old city. The object of research is in Semarang Old Town, a cultural area, to identify, understand, and explain the application of permeability in this town. This research employs a qualitative descriptive method, utilizing a research approach that involves mapping and description. This method is used to obtain the maximum results for data collection. Every element of the town is interconnected, and each component has contributed to Semarang Old Town's unique identity, which is evident to migrants. This element of the town's image needs to be appropriately maintained to remain well-maintained in the future

    IMPLEMENTASI SONGKET PADA BANGUNAN PEMERINTAHAN KOTA PALEMBANG: WUJUD PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-VERNAKULAR

    Full text link
    Sebagai salah satu bentuk warisan budaya lokal, Songket Palembang memiliki nilai estetika tinggi untuk diadaptasi ke dalam desain arsitektur kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis wujud penerapan motif Songket Palembang pada fasad bangunan sebagai bentuk penerapan arsitektur neo-vernakular. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan observasi lapangan, serta studi literatur mengenai pola-pola songket. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan motif songket pada bangunan pemerintahan di Kota Palembang dalam mendukung konsep arsitektur neo-vernakular. Analisis dilakukan untuk menilai sejauh mana motif songket berkontribusi terhadap estetika, identitas budaya, serta fungsionalitas bangunan dalam konteks modern. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan desain arsitektur yang mengedepankan integrasi antara tradisi dan arsitektur kontemporer, serta menjadi referensi bagi arsitek dan desainer yang ingin memadukan unsur budaya ke dalam karya mereka. As a form of local cultural heritage, the Palembang Songket has high aesthetic value and can be effectively adapted into contemporary architectural design. This research aims to identify and analyze the application of Palembang Songket motifs on building facades as a form of neo-vernacular architecture. Through a qualitative approach, this research employs a case study method, incorporating field observations and a literature review on songket patterns. This research aims to evaluate the effectiveness of songket motif application on government buildings in Palembang City in supporting the concept of neo-vernacular architecture. The analysis was conducted to assess the extent to which songket motifs contribute to the aesthetics, cultural identity, and functionality of buildings in a modern context. The results of this research are expected to contribute to the development of architectural design that emphasizes the integration of tradition and contemporary architecture, as well as serve as a reference for architects and designers who wish to incorporate cultural elements into their wor

    225

    full texts

    252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    NALARs
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇