NALARs
Not a member yet
252 research outputs found
Sort by
KAJIAN TRANSFORMASI RUANG BERSEJARAH MELALUI KONSEP ADAPTIVE REUSE DI DE TJOLOMADOE SURAKARTA
Adaptive reuse merupakan pendekatan pemanfaatan kembali bangunan tua bersejarah terabaikan diubah fungsinya menjadi fungsi baru yang populer di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia. Surakarta, kota yang kaya akan sejarah, berupaya menerapkan konservasi dengan adaptive reuse, pada De Tjolomadoe. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis implementasi konsep adaptive reuse pada bangunan bersejarah di Kota Surakarta, khususnya di Museum De Tjolomadoe. Metode penelitian kualitatif naratif digunakan untuk melihat perubahan fungsi dan struktur bangunan serta dampaknya terhadap transformasi sejarah dan warisan budaya. Penelitian ini melibatkan pengumpulan data melalui studi pustaka terkait teori adaptive reuse, observasi lapangan pada objek bangunan, analisis dokumentasi bangunan dan dokumen arsip terdahulu sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap aspek arsitektur yang diteliti, yang terdiri dari bentuk, fasad, interior, material, dan struktur mengalami perubahan. Aspek bentuk, fasad, dan struktur juga mengalami perubahan yang tidak signifikan pada masing-masing empat dimensi dengan masih mempertahankan karakter dan poin-poin penting dari setiap bagian. Di sisi lain, variabel interior dan material merupakan bagian yang mengalami perubahan signifikan. Misalnya saja bagian besali, stasiun puteran, dan stasiun pengepakan yang berubah menjadi cafe dan hall. Merupakan ruang yang mengalami perubahan signifikan, bahkan sudah kehilangan karakteristik ruang tersebut sebagai tempat pengolahan gula. Di antara material tersebut, ada yang cukup kuat, terutama di area yang dekat dengan dan melekat pada pengolahan mesin, namun secara keseluruhan, material baru ini tidak terbatas pada apa yang terlihat pada sisi bangunan itu juga ada pada struktur utama bangunan yang sudah mengalami permabharuan dengan material-material baru.Adaptive reuse is an approach that repurposes abandoned historic buildings by transforming them into new functional spaces, a practice prevalent in various countries, including Indonesia. Surakarta, a rich historical city, strives to apply conservation through adaptive reuse, particularly at De Tjolomadoe. This study aims to identify and analyze the implementation of the adaptive reuse concept in historic buildings in Surakarta, specifically at the De Tjolomadoe Museum. A qualitative narrative research method is used to observe changes in the building's function and structure and their impact on the transformation of history and cultural heritage. Data collection involves literature reviews on adaptive reuse theory, field observations of the building, analysis of building documentation, and archival documents for comparison. The findings indicate that every architectural aspect studied changed, including form, facade, interior, material, and structure. The form, facade, and structure experienced minimal changes in the four dimensions, maintaining each part's character and key features. In contrast, the interior and material variables experienced significant changes. For instance, areas like the besali, spinning station, and packing station have been transformed into a cafe and hall, undergoing substantial changes that resulted in the loss of their original characteristics as sugar processing spaces. Among the materials, some remain strong, especially in areas close to and integrated with the processing machinery. However, the new materials are not limited to the building's visible parts but also include updates to the main structure with new materials
TIGA STRATEGI PENGEMBANGAN MASYARAKAT TERHADAP SIGNIFIKANSI BANGUNAN CAGAR BUDAYA PADA GEREJA KATOLIK DI JAKARTA Studi kasus: Gereja Katedral, Gereja Theresia, Gereja Bidaracina, Gereja Toasebio
Bangunan cagar budaya di kota Jakarta memiliki signifikansi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor antropologis, sosiologis, politik dan sejarah perkembangan dunia sejak terbukanya hubungan dagang Nusantara dengan dunia luar. Namun masyarakat belum mengambil peran aktif melestarikan bangunan Cagar Budaya (CB) maupun bangunan Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Terdapat pandangan masyarakat bahwa pelestarian bangunan CB dan ODCB tidak bernilai ekonomis dan sulit pelaksanaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan metode atau strategi mengembangkan kesadaran masyarakat terhadap bangunan cagar budaya, khususnya gereja Katolik, berangkat dari signifikansi kesejarahan dan arsitektur. Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur, observasi dan survey empat bangunan gereja Katolik yang menjadi bahan studi kasus untuk merumuskan tiga strategi yaitu strategi skala mikro, meso dan makro untuk mengembangkan kesadaran masyarakat terhadap signifikansi bangunan cagar budaya dengan studi kasus empat bangunan gereja katolik yang sudah berstatus cagar budaya. Terdapat dua hasil penelitian yang dicapai. Hasil yang pertama, yang menjadi dasar, adalah mendapatkan unsur-unsur signifikansi kesejarahan, arsitektur dan aspek pemanfaatan. Hasil yang kedua, yang memiliki kaitan erat pada hasil pertama, adalah pengembangan metode atau strategi untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap arti penting pelestarian bangunan cagar budaya. Dengan dilaksanakannya metode pengembangan kesadaran masyarakat berbasis signifikansi cagar budaya subjek penelitian, diharapkan kesadaran masyarakat dapat mengakar secara objektif sehingga menjadi rasionalisasi yang kuat untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha-usaha pelestarian. Edukasi bagi semua pihak adalah cara yang efektif dan efisien untuk membangun kesadaran masyarakat akan melestarikan signifikansi bangunan cagar budaya. Sistem dan muatan edukasi yang bersifat transformatif, dapat disiapkan secara komprehensif melalui pelbagai kajian, dan dikemas sedemikian agar masyarakat dapat mencerna dan memahaminya dengan mudah.Cultural heritage buildings in Jakarta have significance that are influenced by various anthropological, sociological, political, and historical factors of world development since the opening of trade relations between the archipelago and the outside world. However, the community has not actively preserved cultural heritage (CB) buildings or suspected cultural heritage object (ODCB) buildings. Public opinion is that preserving CB and ODCB buildings has no economic value and is difficult to implement. This research aims to develop a method or strategy to develop public awareness of cultural heritage buildings, especially Catholic churches, departing from historical and architectural significance. This study uses an analytical method with a descriptive qualitative approach through literature studies, observations, and surveys of four Catholic church buildings, which are the subject of a case study, to formulate three strategies, namely micro, meso, and macro-scale strategies, to develop public awareness of the significance of cultural heritage buildings with a case study of four Catholic church buildings that have cultural heritage status. There are two research results achieved. The first result, the basis, is to obtain elements of historical significance, architecture, and utilization aspects. The second result, closely related to the first result, is the development of methods or strategies to grow and increase public awareness of the importance of preserving cultural heritage buildings. With the implementation of the process of developing public awareness based on the significance of the cultural heritage of the research subject, it is hoped that public awareness can take root objectively so that it becomes a strong rationalization to participate actively in conservation efforts. Education for all parties is an effective and efficient way to build public awareness and preserve the significance of cultural heritage buildings. The transformative system and educational content can be prepared comprehensively through various studies and packaged so that the public can easily digest and understand them.
ANALISIS KONSOLIDASI RUANG PUBLIK PADA KAWASAN KLASTER INDUSTRI KREATIF SONGKET TANGGA BUNTUNG SEBAGAI PENDUKUNG KONSEP SMART CITY DI KOTA PALEMBANG
Ruang publik merupakan ruang dimana manusia berinteraksi satu sama lain. Ruang publik dapat berupa plaza, pedestrian, ruang pertokoan, jalan, taman, bahkan sarana peribadatan. Saat ini ruang publik diharapkan dapat menjadi ruang kota yang memberikan inspirasi publik untuk lebih cerdas, inovatif, kreatif dan mudah berkembang. Untuk meningkatkan kreativitas, dibutuhkan ruang publik kreatif (RPK). Ruang publik dalam konteks smart city berkorelasi dengan banyak elemen diantaranya ruang publik sebagai wadah berkreativitas dalam masyarakat selaku sumber daya manusia sebagai pendorong utama terbentuknya kota yang cerdas. Konsep Smart city dengan salah satu indikatornya smart economy saat ini menjadi salah satu pendukung aktifitas ekonomi kreatif pada sebuah kota. Istilah ekonomi kreatif dalam 10 tahun belakangan ini memberikan pengaruh dalam peningkatan peran dari penggiat industri kreatif dalam hal ini masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Salah satunya adalah kota Palembang yang pernah masuk ke dalam 10 kota kreatif di Indonesia pada tahun 2019 dengan mengandalkan industri kreatif diantaranya kain tenun Songket. Sentra industri kerajinan Songket yang terkenal di Palembang adalah kawasan Tangga Buntung. Pada kawasan ini terdapat aglomerasi pengusaha sekaligus pengrajin Songket. Sebagai salah satu pusat industri kreatif, kawasan ini diharapkan bisa menjadi salah satu alternatif magnet ekonomi, budaya dan pariwisata, namun kondisi ruang publik dan lingkungan yang cukup padat dan tidak tertata menjadikan kawasan ini sulit untuk dinikmati secara spasial. Metode Kualitatif dan wawancara digunakan guna menghimpun data kebutuhan dan langkah konsolidasi spasial seperti apa yang dibutuhkan sehingga menghasilkan rekomendasi solusi arahan desain ruang publik guna memperkuat karakteristik kawasan sentra industri songket Tangga BuntungA public space is a space where people interact with each other. Public spaces can be in the form of plazas, pedestrians, shopping spaces, roads, parks, and even places of worship. Currently, public spaces are expected to become urban spaces that inspire the public to be smarter, more innovative, creative, and easier to develop. To increase creativity, creative public space (RPK) is needed. Public space in the context of a smart city is filled with many elements, including public space as a place for creativity and as a resource for human society, which is the main driver for the formation of a smart city. The Smart City concept with one of the indicators being a smart economy is currently one of the supporters of creative economic activity in a city. In the last 10 years, the term creative has had an influence on increasing the role of creative economy industry activists, in this case, communities in various cities in Indonesia. One of them is the city of Palembang, which was included among the 10 creative cities in Indonesia in 2019, relying on creative industries, including Songket woven fabric. The famous Songket Craft Industry Center in Palembang is the Tangga Buntung area. In this area, Songket entrepreneurs and craftsmen are agglomerated. As a creative industry center, it is hoped that this area can become an alternative economic, cultural and tourism magnet, however, the condition of public space and the environment which is quite dense and disorganized makes this area difficult to enjoy spatially. Qualitative methods and interviews were used to collect data on needs and what kind of spatial consolidation steps are needed to produce recommendations for solutions for public space design directions to strengthen the characteristics of the Tangga Buntung Songket industrial center area
PEMANFAATAN FASILITAS BALE BANJAR DALAM KEBERLANJUTAN SOSIAL DI DESA BALI AGA BAYUNG GEDE
Desa Bayung Gede merupakan salah satu desa Bali Aga atau Bali Kuno di pulau Bali yang berletak di kecamatan Kintamani, kabupaten Bangli. Desa Bayung Gede dengan nilai sejarah dan budayanya berbeda dari beberapa daerah di Bali pada umumnya dikarenakan desa ini sudah terbentuk sebelum budaya kerajaan Majapahit datang ke Bali. Dibalik kelestarian budaya dan nilai sejarah yang dimiliki Desa Bayung Gede adapun permasalahan yang menuai perhatian yakni mengenai fasilitas bale banjar sebagai wadah kegiatan suatu keberlanjutan sosial di Desa Bayung Gede apakah sudah cukup terpenuhi dari segi nilai fungsi serta dengan adanya fasilitas bale banjar apakah dampak yang terjadi dalam keberlanjutan sosial di Desa Bayung Gede. Penelitian ini menggunakan metode secara deskriptif kualitatif dengan langsung meninjau kelokasi. Data yang diambil untuk penelitian ini melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini bahwasannya keberlanjutan sosial di Desa Bayung Gede yang didukung oleh suatu fasilitas bale banjar dapat dinilai berperan penting dalam merangkul masyarakat sehingga mengedepankan nilai budaya “Tat Twam Asi” pada keberlanjutan sosial agar berjalan dengan baik dikarenakan hakikat dari fasilitas bale banjar sesuai dalam menampung masyarakatnya dalam bermusyawarah, pertemuan adat, sebagai tempat bersosialisasi, dan sebagai tempat untuk kegiatan adat istiadat Desa Bayung Gede. Serta memberikan fungsi yang memenuhi kondisi bagi masyarakat dalam aktivitas keberlanjutan sosial di Desa.Bayung Gede Village is one of the Bali Aga or Ancient Bali villages on the island of Bali. It is located in the Kintamani sub-district, Bangli district. Bayung Gede Village, with its historical and cultural values, is different from several areas in Bali in general because this village was formed before the culture of the Majapahit kingdom came to Bali. Behind the preservation of cultural and historical values owned by Bayung Gede Village, there are issues that are gaining attention, namely regarding the bale banjar facility as a forum for social sustainability activities in Bayung Gede Village, is it sufficiently fulfilled in terms of functional value and with the bale banjar facility, what are the impacts that occur in social sustainability in Bayung Gede Village. This study uses a descriptive qualitative method by directly observing the location. The data were taken for this study through observation, interviews, and documentation. The results of this study show that social sustainability in Bayung Gede Village, which a bale banjar facility supports, can be considered to play an essential role in embracing the community so that it puts forward the cultural value "Tat Twam Asi" on social sustainability so that it runs well because the nature of bale banjar facilities is appropriate in accommodating community in deliberations, traditional meetings, as a place to socialize, and as a place for traditional activities of Bayung Gede Village. It also provides functions that meet the community's conditions in the village's social sustainability activities
Arsitektur Tradisional Rumoh Aceh Dalam Perspektif Jakob Burckhardt (Reflections on History)
Sejarah Aceh yang panjang berdampak pada akulturasi budaya. Dari sekian banyak akulturasi tersebut yang menarik adalah Arsitektur Tradisional Rumoh Aceh. Salah satu faktor yang menjadikan Rumoh Aceh menarik untuk ditinjau adalah karena keberadaannya yang mulai hilang, saksi sejarah, dan bagian dari kebudayaan Aceh. Rumoh Aceh kaya akan nilai estetis dan filosofis karena bersifat traditional ecological knowledge. Oleh karena itu, penggunaan perspektif Jakob Burckhardt tentunya sangat menarik yakni “The Great Men and History”. Adapun rumusan permasalahan dalam penelitian ini mencangkup; pengalaman empiris (keahlian seni dan arsitektur), rekonstruksi, dan irasional.Metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang menekankan pada teknik observasi yang dideskripsikan. Memanfaatkan literatur tentang Sejarah Rumoh Aceh (dulu dan sekarang) serta rekonstruksi yang terkini untuk menemukan atau menjawab dari rumusan permasalahan penelitian.Hasil penelitian yang berkaitan dengan pengalaman empiris terlihat pada bangunan Rumoh Aceh. Rekonstruksi bangunan Rumoh Aceh terlihat bahwa bentuk dan fungsi bangunan utama tidak berubah akan tetapi dalam hal penggunaan material banyak berubah (penggunaan material kekinian seperti; batu bata, semen/cor, dan atap seng). Selain itu juga ada penambahan ruang pada bagian bawah bangunan. Sedangkan irasional pada Rumoh Aceh terkadang diluar nalar, akan tetapi pengalaman empiris seorang Utoh mampu menjawab keraguan tersebut. Terlihat dari hasil rekonstruksi Rumoh Aceh, seorang Utoh mampu beradaptasi dan bertransformasi sesuai dengan “jiwa zaman”
FAKTOR PEMBENTUK EKSISTENSI PASAR TRADISIONAL (Studi Kasus Pasar Tradisional Desa Gawok - Sukoharjo )
Tujuan penelitian ini adalah mengkaji tentang faktor pembentuk eksistensi pasar tradisional pada kasus pasar desa Gawok berlokasi di Sukoharjo. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mendapatkan data seperti kata-kata, gambaran secara detail tentang tentang lingkungan, aktifitas, perilaku dan tradisi pasar yang membentuk eksistensi pasar. Hasilnya didapat temuan faktor lingkungan sebagai pembentuk pasar, faktor fisik dengan pasar tradisional vernakular dan faktor non fisik yang bersifat intangible seperti pasaran Pon, tradisi dan budaya kearifan lokalnya.Hal ini menjadikan Pasar Gawok masih eksis dan bertahan di hingga sekarang. The aim of this research is to examine the factors that shape the existence of traditional markets, such as the Gawok village market located in Sukoharjo.The method of this research was qualitative with a descriptive approach to obtain the data, such as words, detailed descriptions of the environment, activities, behavior and market traditions that shapes market existence. As a result, this research found environmental factors as market shapers, physical factors with vernacular traditional markets and non-physical factors which are intangible such as the Pon market, traditions and local wisdom culture. This means that Gawok Market still exists and survives to this day.
EKSPLORASI KONSEP FILOSOFIS HERMENEUTIK: METODE DALAM PENELITIAN ARSITEKTUR
ABSTRAK. Salah satu cabang ilmu filsafat yang dapat dieksplorasi sebagai sebuah metode dalam penelitian adalah ilmu hermeneutik. Kajian ini bertujuan mengeksplorasi ilmu hermeneutik sebagai sebuah metode dalam penelitian arsitektur dan bagaimana penerapannya.Adanya makna yang menyertai fenomena arsitektural menjadikan metode hermeneutik menjadi penting. Kajian ini menggunakan metode eksplorasi hermeneutik interpretif melalui penelaahan referensi, baik studi pustaka maupun penjelajahan internet, yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ilmu hermeneutik dapat menjadi alternatif metode dalam penelitian arsitektur melalui eksplorasi filosofis yang menghasilkan beberapa konsep metodis yaitu lingkaran hermeneutik, hermeneutik sebagai berarsitektur, empati, penghayatan, pra-struktur, peleburan horizon, dialog, dan otonomi. Metode hermeneutik merupakan salah satu metode filosofis yang penting untuk penelitian-penelitian setingkat doktoral, bahkan ia bisa menjadi salah satu temuannya
KARAKTERISTIK TIPOLOGI FASAD RUMAH TINGGAL BERGAYA ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA DI KAWASAN BLOK BENGKEL KOTA SIGLI
Pada masa kolonial Belanda Kota Sigli merupakan bengkel kereta api terbesar kedua di Indonesia. Saat Kota Sigli dikuasai oleh Belanda mereka melakukan invasi dengan mendirikan bangunan-bangunan, salah satunya rumah tinggal. Akulturasi antara budaya Belanda dan Indonesia membuat bangunan rumah tinggal kolonial dirancang menyesuaikan iklim tropis di Indonesia, sehingga rumah peninggalan kolonial Belanda memiliki karakteristik dan identitas tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tipologi fasad rumah tinggal bergaya arsitektur kolonial Belanda dan mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi tipologi fasad rumah tinggal bergaya arsitektur kolonial Belanda di kawasan Blok Bengkel Kota Sigli. Teknik pengumpulan data menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif serta pendekatan teori tipologi karakteristik elemen arsitektur kolonial. Bangunan kolonial yang dipilih sebagai kasus studi dilakukan dengan teknik purposive sampling melalui beberapa kriteria. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwasannya terdapat 4 jenis tipe rumah tinggal Kolonial Belanda dikawasan Blok Bengkel Kota Sigli, yaitu: rumah tinggal tipe panggung tunggal, rumah tinggal tipe panggung berderet, rumah tinggal tipe non panggung tunggal, dan rumah tinggal tipe non panggung berderet. Keragaman fasad bangunan didasarkan pada: faktor fisik termasuk iklim, bahan bangunan dan warna, dan faktor non fisik termasuk usia bangunan, kepemilikan bangunan dan fungsinya. During the Dutch colonial period, there was the second largest railway repair shop in Indonesia Sigli City in which Block Bengkel was the most important area. The Dutch constructed some infrastructure such as housings for supporting their colonial aims. The unique of colonial architecture which then turned into heritage lies in the acculturation between Dutch and Indonesian cultures and suit the tropical climate in Indonesia. Limited studies have been conducted on the colonial railway heritage in Sigli, especially the typology characteristics of the facades of colonial houses which is of important for architectural heritage conservation data. Thus, this research aims to identify the typology of the facades of houses the Block Bengkel area and some reasons shaped the typology. This research employed qualitative methods with descriptive analysis and a typological theoretical approach to understand the characteristics of colonial architectural elements. The colonial buildings selected as case studies were carried out using a purposive sampling technique through several criteria. The results of this study indicate that there are 4 types of Dutch Colonial residences in the Block Bengkel area of Sigli City, namely: single-stage dwellings, row-stilt houses, non-single-stage dwellings, and non-stilt type dwellings. The diversity building facades of Dutch Colonial residences in the Block Bengkel area of Sigli City caused by physical factors (climate, building materials and color), and non-physical factors (building age, building ownership and function)
IMPLEMENTASI ARSITEKTUR KARIWARI PADA BANGUNAN KOTA JAYAPURA
Perkembangan zaman membawa perubahan pada banyak hal yang tidak dapat dihindari. Salah satu hal yang mengalami perubahan adalah arsitektur. Arsitektur memiliki hubungan yang erat dengan tata ruang sebuah wilayah. Arsitektur berkaitan dengan karakter dari suatu wilayah tersebut. Perubahan dalam arsitektur yang tidak terkontrol dapat menghilangkan karakter dari sebuah wilayah. Arsitektur Papua khususnya arsitektur Kariwari telah mengalami perubahan bentuk dan stylistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi arsitektur Kariwari dalam bentuk tampilan bangunan di Kota Jayapura yang dapat digunakan sebagai masukan untuk penerapan peraturan daerah tentang bangunan di masa depan. Selain itu diharapkan hasil penelitian ini juga dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya yang terkait dengan kasus serupa. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan strategi studi kasus yang digunakan untuk pengumpulan data dalam kajian ini juga melalui penelusuran literatur penelitian-penelitian sebelumnya, baik dari jurnal, tesis maupun artikel-artikel terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Kariwari pada bangunan di Kota Jayapura selain dapat berfungsi sebagai atap secara utuh juga menunjukkan identitas dan kearifan lokal. Adapun metode implementasi Kariwari yang digunakan terbagi dalam tiga cara yakni metode kolase, metode elektik dengan menambah/ nenempel, dan metode abstraksi/ dekonstruksi. Mayoritas bangunan modern di Kota Jayapura menggunakan metode implementasi elektik. Berdasarkan bentuknya tipologi Kariwari diketahui melalui bentuk dasar denah yang mayoritas berbentuk segi delapan dengan banyaknya susunan tingkat sebanyak tiga tingkat. Tipologi Kariwari berdasarkan ragam/ gayanya dilihat dari warna dan material, ditemukan bahwa material atap genteng metal dengan warna merah bata menjadi mayoritas pilihan. The development of this era also brought about changes in many things that could not be avoided. One of the things that has changed is architecture. Architecture has a close relationship with the spatial layout of an area. Architecture relates to the character of an area. Uncontrolled changes in architecture can take away the character of an area. Papuan architecture, especially Kariwari architecture, has changed shape and style. This study aims to examine the implementation of the Kariwari architecture in the form of a building display in the city of Jayapura, highlighting its crucial role in preserving the local identity and wisdom and providing valuable input for implementing regional regulations on buildings in the future. In addition, it is hoped that the results of this study can also be used as a reference for further research related to similar cases. The method used is a qualitative method with a case study strategy used for data collection in this study as well as through a literature search of previous studies, both from journals, theses, and related articles. The results showed that the use of Kariwari in buildings in Jayapura City, besides being able to function as a complete roof, also showed local identity and wisdom. The Kariwari implementation method is divided into three ways: the collage method, the electric method by adding/ sticking, and the abstraction/deconstruction method. The majority of modern buildings in Jayapura City use the electric implementation method. Based on the shape of the Kariwari typology, it is known through the basic shape of the floor plan, the majority of which is octagonal with several level arrangements of three levels. While the stylistic typology of Kariwari is based on color and material, it was found that metal roof tiles with brick red color were the majority of choices.
TINJAUAN PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR BIOFILIK PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT DI ASIA TENGGARA
Desain biofilik merupakan desain yang menitikberatkan pada hubungan antara manusia sebagai penggunan bangunan dengan elemen alam. Rumah sakit adalah sebuah fasilitas medis yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui proses pencegahan, penanganan, dan perawatan terhadap masalah kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami desain biofilik pada rumah sakit dengan menggunakan studi kasus rumah sakit yang ada di Asia Tenggara. Metode yang digunakan yaitu quasi-kualitatif dengan materi penelitia 14 pola desain biofilik oleh Browning, Ryan, dan Clancy (2014). Pola tersebut ditrurunkan dari 3 prinsip desain biofilik yaitu nature in the spaces, nature analogues, nature of spaces. Prinsip desain biofilik akan dikaji menggunakan 14 pola desain biofilik oleh Browning, Ryan, dan Clancy (2014) pada siteplan, eksterior, dan interior Khoo Teck Puat Hospital Singapura, Ng Teng Fong Hospital Singapura, dan Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya Indonesia. Penerapan Biofilik terbanyak ada pada Khoo Teck Puat Hospital karena lokasi dan siteplan mampu memaksimalkan kondisi alam di sekelilingnya. Meskipun ketiga rumah sakit terletak di kawasan perkotaan namun ketiganya mampu menerapkan konsep biofilik. Nature in Space dapat diterapkan pada siteplan, eksterior, dan interior ketiga rumah sakit. Nature analogues lebih banyak diterapkan pada interior. Sedangkan Nature of Space dapat diterapkan pada konfigurasi ruang dalam dan ruang luar termasuk lanskap. Biophilic architectur is a design that focuses on the relationship between humans as the use of buildings and natural elements. Hospital is a medical facility that aims to improve the quality of life of the community through the process of preventing, treating and treating health problems. This study aims to understand the biophilic design of hospitals using case studies of hospitals in Southeast Asia. The method used is quasi-qualitative with 14 biophilic design patterns by Browning, Ryan, and Clancy (2014). The pattern is derived from 3 principles of biophilic design, namely spatial properties, analogous properties, and spatial properties. The principles of biophilic design will be studied using 14 biophilic design patterns by Browning, Ryan, and Clancy (2014) on site plans, exteriors, and interiors of Khoo Teck Puat Hospital Singapore, Ng Teng Fong Hospital Singapore, and Pondok Indah Bintaro Jaya Hospital Indonesia. The most biophilic applications are in Khoo Teck Puat Hospital because the location and site plan are able to maximize the natural conditions around them. Although the third hospital is located in an urban area, the three are able to apply the biophilic concept. Nature in Space can be applied to the site plan, exterior and interior of all three hospitals. Natural analogues are more widely applied to interiors. Whereas Nature of Space can be applied to the configuration of space and outer space including landscapes