252 research outputs found

    INTERPRETASI RUPA BERENDO PADA RUMAH PANGGUNG MELAYU – REJANG DI KOTA BENGKULU

    Full text link
    ABSTRAK. Rumah menjadi kebutuhan primer sebagai tempat berlindung serta membina dalam keluarga. Mayoritas rumah panggung Melayu-Rejang di kota Bengkulu memiliki teras dengan nama lokal yaitu berendo. Berendo difungsikan sebagai tempat interaksi penghuni rumah dengan tetangga sekitar serta bersifat multifungsi untuk kegiatan lain yang dibutuhkan oleh pemilik rumah. Tujuan penelitian ini adalah menjadi pengembangan pendidikan budaya lokal di Bengkulu terutama pengetahuan arsitektur nusantara yang telah bertahan eksistensinya hingga sekarang. Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan cara observasi di kota Bengkulu. Pengumpulan data menggunakan alat Geographic Information System (GIS) untuk mendapatkan informasi yang akan dituangkan ke dalam bentuk peta. Hasil penelitian ini didapatkan yaitu jumlah berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 1 sebanyak 15 unit rumah, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 1 sebanyak 47 unit rumah, berendo panggung kayu dengan tangga tengah sebanyak 21 unit, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 3 sebanyak 29 unit rumah, berendo panggung kombinasi kayu dan beton tipe 4 sebanyak 30 unit rumah, berendo panggung kayu sebanyak 18 unit rumah. Kesimpulan di dapat yaitu rupa bentuk berendo di rumah panggung Melayu-Rejang kota Bengkulu memiliki aneka ragam bentuk yang dipengaruhi oleh minat dan keinginan oleh pemilik rumah. Kata kunci: Bengkulu, berendo, Melayu – Rejang, vernakular ABSTRACT. The house is a primary need for shelter and fostering in the family. Most Malay-Rejang stilt houses in Bengkulu city have a terrace with a local name, namely Berendo. Berendo functioned as a place of interaction between residents of the house with neighbors and is multifunctional for other activities needed by the homeowner. This research aims to develop local cultural education in Bengkulu, especially knowledge of archipelago architecture, which has survived its existence until now. The method used is a descriptive analysis using observation in the city of Bengkulu, collecting data using Geographic Information System (GIS) tools to obtain information that will be poured into map form. The results of this study received the number of stage combinations of wood and concrete type 1 as many as 15 units of houses, stage combinations of wood and concrete type 1 as many as 47 units of houses, as many as 21 units of wooden stilts with a central staircase, stage combinations of wood and concrete type 3 as many as 29 units of houses, 30 units of wooden and concrete stilt combinations of type 4, 18 units of wooden stilts. The conclusion obtained is that the shape of the Berendo in the Malay-Rejang stilt house in Bengkulu city has various forms which are influenced by the interests and desires of the homeowner. Keywords: Bengkulu, berendo, Melayu – Rejang, vernacula

    UNSUR-UNSUR POLA BENTUK LANTAI BANGSAL WITANA DALAM KONTEKS VASTUSASTRA

    Full text link
    Ngayogyakarta Hadiningrat Palace means realizing values based on local knowledge as a civilization indicator. Fact Yogyakarta palace, as the center of Javanese culture, is maintained and exists through intangible and tangible aspects. The reality of the distribution of local Javanese values, such as Javanese philosophy and way of life, is threatened among the younger generation. The physical revitalization of the Yogyakarta Palace on public crisis awareness of understanding philosophical meaning circulating. Understanding that Yogyakarta Palace's symbolic meaning can be learned through buildings, especially in the Witana ward, is vital. Witana has complete ornaments full of symbolic meaning by focusing on the floor as one of the architectural building's elements. What does the floor look like in Witana Ward? What is the process of the relationship between geometric shapes and meaning? What is the symbolic meaning of the Witana Ward floor pattern? Consider Witana's architectural symbol to invite all people to remember God Almighty. The research is urgent to formulate floor shapes in Witana Ward to formulate the relation between geometric shapes and meanings and formulate the symbolic meaning of floor patterns in Witana Ward, Yogyakarta Palace. The semiotic method with Peirce and Chandler's analytical model examines Ward Witana architectural forms, namely icons, indexes, and symbols, in a triadic system. The application of this method in the study of the elements of the Witana Ward floor pattern is to uncover latent factors to produce truths through local knowledge. The result is a system consisting of three sign components, built from floor pattern objects that have a relationship with Vastusastra as context. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu sarana perwujudan nilai (value) berdasarkan pengetahuan lokal yang dapat menjadi indikator perkembangan peradaban. Fakta bahwa Keraton Yogyakarta sebagai centrum kebudayaan Jawa yang masih terjaga dan eksis, dibuktikan melalui dua aspek yakni intangible serta tangible. Realitanya distribusi nilai lokal Jawa seperti filosofi kejawaan hingga pandangan hidup semakin terancam di kalangan generasi muda. Revitalisasi fisik Keraton Yogyakarta tentunya didasari kesadaran terhadap krisis pemahaman makna filosofis yang beredar di lingkungan publik. Vitalnya pemahaman mengenai makna simbolik di Keraton Yogyakarta dapat dipelajari melalui bangunan sebab memuat makna simbolik lengkap, khususnya di Bangsal Witana. Bangsal Witana memiliki kelengkapan ornamen sarat makna simbolik dengan berfokus pada lantai sebagai salah satu elemen penting pembangun Arsitektur. Seperti apa bentuk lantai di Bangsal Witana? Bagaimana proses relasi antar bentuk geometri dengan makna? Apa makna simbolik pola lantai Bangsal Witana? mengingat Bangsal Witana merupakan simbol Arsitektural guna mengajak seluruh rakyat untuk mengingat Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini sejalan dengan urgensi penelitian untuk merumuskan bentuk lantai di Bangsal Witana, merumuskan proses relasi antar bentuk geometri dengan makna, serta merumuskan makna simbolik pola lantai di Bangsal Witana, Keraton Yogyakarta. Metode semiotika dengan model analisis milik Peirce dan Chandler, dimana mengkaji bentuk Arsitektur Bangsal Witana dalam sistem triadik yaitu ikon, indeks, dan simbol. Aplikasi metode tersebut dalam kajian unsur pola bentuk lantai Bangsal Witana guna mengungkap faktor laten sehingga menghasilkan kebenaran sesuai dengan pengetahuan lokal. Hasilnya berupa sistem yang terdiri dari tiga komponen tanda, terbangun dari objek pola lantai yang memiliki relasi dengan Vastusastra sebagai konteks

    PERAN PEMERINTAH DALAM UPAYA PELESTARIAN CAGAR BUDAYA SITUS GOA GAJAH DI GIANYAR, BALI

    Full text link
    ABSTRAK. Pusaka atau warisan di Indonesia terdiri atas pusaka tangible (benda) dan intangible (tak benda). Goa Gajah ialah pusaka tangible (benda) yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali. Pemerintah mempunyai peran yang sangat penting didalam mengelola maupun melestarikan cagar budaya situs Goa Gajah selain adanya dukungan dari masyarakat sekitar. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus (case study) di situs Goa Gajah. Dengan strategi studi kasus mengenai peran pemerintah dalam upaya pelestarian Cagar Budaya di situs Goa Gajah. Teknik observasi lapangan dan wawancara yang digunakan dalam pengumpulan data primer di situs Goa Gajah. Peran pemerintah dalam upaya pelestarian Cagar Budaya tidaklah terlepas dari kebijakan pemerintah. Dalam mengeluarkan peraturan atau payung hukum berupa peraturan daerah, dan undang-undang. Pemda Kabupaten Gianyar dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Bali (BPCB) sebagai pemegang peran penting dari pemerintah dalam pelestarian situs Goa Gajah. Perlindungan dilakukan dengan ditetapkannya situs Goa Gajah sebagai Cagar Budaya dengan No. SK 131/M/1998 yang ditetapkan pada tanggal 9 Juni 1998. Upaya perlindungan dalam pelaksanaan konservasi tersebut dilaksanakan oleh BPCB Bali. Pemanfaatan dan pengembangan situs Goa Gajah, sebagai cagar budaya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Gianyar. Kata kunci: Goa Gajah, Peran Pemerintah, Pelestarian, Cagar Budaya ABSTRACT. Heritage in Indonesia consists of tangible and intangible heritage. Goa Gajah is a tangible heritage (object) located in Bedulu Village, Blahbatuh District, Gianyar Regency, Bali. The government has a significant role in managing and preserving the cultural heritage of Goa Gajah. This research uses a qualitative method with a case study at the Goa Gajah site. With a case study strategy regarding the government's role in preserving the Cultural Conservation at the Goa Gajah. The government's role in preserving Cultural Conservation is to issue regulations or legal umbrellas in the form of regional regulations and laws. The local government of Gianyar Regency and the Bali Provincial Cultural Heritage Preservation Center (BPCB) as the holders of essential roles in the government in preserving the Goa Gajah site. Protection is carried out by stipulating the Goa Gajah as a Cultural Conservation with No. SK 131/M/1998, which was enacted on June 9, 1998. BPCB Bali carries out efforts to protect the conservation implementation. The government carries out the utilization and development of the Goa Gajah as a cultural heritage. The role of the Gianyar Regency Tourism is to make Goa Gajah a destination. Keywords: Goa Gajah, Government Role, Conservation, Cultural Heritag

    PENGATURAN FISIK PADA RUANG PUBLIK SEBAGAI PENCEGAH TERJADINYA PERILAKU NEGATIF

    Full text link
    Safety is one of the needs humans must have while doing activities. Human activities can be done everywhere, either in personal or public spaces. From an architectural perspective, public spaces were granted as a third place that provides human needs. Public space had to be neutral for all people. This principle of public space established diverse activities and interactions between them. However, only some of these activities always go well. The possibility of negative behavior by some people could be a cause. Hostile architecture and CPTED (Crime Prevention Through Environmental Design) are design strategies that reduce unwanted behavior risk. The application of hostile architecture and CPTED involved the elements' arrangement of a physical setting in a public space. Through the content analysis method, undesirable behaviors were analyzed and integrated with the principles of hostile architecture and CPTED as preventions from the circumstance through elements of the physical setting. In this study, the arrangements of physical locations in public spaces based on the principles of hostile architecture and CPTED were initiated to suppress the appearance of undesirable behavior.Rasa aman merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus dimiliki pada setiap aktivitas. Aktivitas manusia tidak hanya terjadi pada ruang personal tetapi juga pada ruang publik. Ruang publik dalam perspektif arsitektur merupakan ruang bersama sebagai ruang netral yang dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sifat netral yag dimiliki oleh ruang publik menyebabkan terjadinya keberagaman interaksi dan aktivitas dari berbagai kalangan masyarakat pada suatu lokasi yang sama. Namun, aktivitas di dalam ruang publik tidak selalu berlangsung dengan aman. Hal ini disebabkan oleh adanya peluang terjadinya perilaku negatif oleh sebagian orang. Terlebih lagi apabila pengaturan setting fisik suatu ruang publik tidak dirancang dengan baik. Hostile architecture dan CPTED (Crime Prevention Through Environmental Design) merupakan salah dua strategi desain yang mengupayakan penekanan resiko terjadinya perilaku yang tidak diinginkan. Penerapan hostile architecture dan CPTED melibatkan pengaturan elemen setting fisik yang dapat menekan resiko tersebut. Melalui metode content analysis, perilaku negatif diklasifikasi dan dianalisis keterkaitannya dengan upaya penerapan prinsip hostile architecture dan CPTED sebagai bentuk pencegahan terjadinya perilaku negatif melalui pengaturan elemen setting fisik di dalamnya. Dalam penelitian ini dihasilkan kategori elemen setting fisik dalam ruang publik yang dapat diatur berdasarkan prinsip-prinsip hostile architecture dan CPTED sebagai bentuk penekanan resiko terjadinya perilaku negatif

    IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK DAN FORMASI KAMPUNG MELAYU DI KOTA PONTIANAK

    Full text link
    As an ethnic group that has lived for generations on the coast of the Kapuas River, West Kalimantan, many Malay villages have been formed and developed. Even though they are in the same city and tribe, each village has different characteristics as a form of adjustment to the conditions of the area where each community group lives. Characteristics can also be found in the formation or pattern of village settlements. Therefore, this paper aims to identify the factors and formations of Malay villages in Pontianak City, especially Tambelan Sampit Village, Bansir Village, and Beting Village. The qualitative descriptive research method with the comparative study approach used resulted in the discovery that the pattern of settlements in Kampung Melayu in Pontianak City follows the street circulation pattern, the direction of the buildings facing the Kapuas River and characteristics of each village is due to environmental influences or habits from another tribes. Sebagai etnis yang telah menetap turun-temurun di pesisir Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, telah banyak kampung-kampung Melayu yang terbentuk dan berkembang. Walaupun berada di satu kota dan suku yang sama, tentunya setiap kampung memiliki perbedaan karakteristik sebagai bentuk penyesuaian kondisi daerah yang ditinggali masing-masing kelompok masyarakat. Karakteristik juga dapat ditemukan dari bentuk formasi atau pola permukiman kampung. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan formasi pada kampung-kampung Melayu di Kota Pontianak, khususnya Kampung Tambelan Sampit, Kampung Bansir, dan Kampung Beting. Metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi komparasi yang digunakan menghasilkan penemuan bahwa pola permukiman pada Kampung Melayu di Kota Pontianak mengikuti pola sirkulasi jalan, arah bangunan tetap menghadap ke Sungai Kapuas dan karakteristik pada masing-masing kampung karena pengaruh lingkungan atau kebiasaan dari suku lain

    PREFERENSI WARGA TERHADAP PENGEMBANGAN KAWASAN PECINAN SEBAGAI TEMPAT REKREASI DI KOTA MAGELANG

    Full text link
    ABSTRAK. Kawasan Pecinan di Indonesia muncul akibat adanya hubungan perdagangan antara warga lokal dengan orang Cina pada masa lalu. Para pendatang dari Cina yang awalnya memiliki tujuan untuk berdagang kemudian menetap dan mendirikan pemukiman sendiri. Dari berbagai bentuk interaksi kemudian terjadi akulturasi, diwujudkan dalam produk-produk kebudayaan antara lain seni, bahasa, perabot rumah tangga, makanan hingga pakaian. Penelitian ini menggunakan studi kasus Kawasan Pecinan Magelang. Kawasan ini dipilih karena terletak strategis di tengah kota sehingga menjadi salah satu tujuan wisata baik bagi masyarakat yang berasal dari dalam maupun luar Magelang. Data dikumpulkan secara daring dengan menyebar kuesioner terbuka, yang terdiri dari pertanyaan utama mengenai kondisi Kawasan Pecinan saat ini dan preferensi masyarakat mengenai tempat wisata di kota Magelang. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengen metode analisis isi melalui tahap yaitu open-coding, axial-coding, dan selective-coding. Berdasarkan analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa preferensi masyarakat terhadap tempat rekreasi terdiri dari dua aspek, yaitu aspek fisik dan non fisik. Terdapat faktor 4 dominan pada aspek fisik yakni desain, sarana, prasarana, serta aksesibilitas, sedangkan faktor dominan yang terdapat pada aspek non fisik yaitu kenyamanan lingkungan yang terdiri dari nuansa alam, kemudian keamanan, dan kenyamanan pengunjung.Kata kunci: Preferensi, Tempat rekreasi, Pecinan, MagelangABSTRACT. The Chinatown area in Indonesia emerged due to past trade relations between residents and the Chinese. The immigrants from China who initially had the purpose of trading then settled and established their settlements. Various interactions occur, leading to cultural acculturation, manifested in cultural products, including art, language, household furniture, food, and clothing. This research uses a case study of the Chinatown area of Magelang. This area was chosen because it is strategically located downtown, so it has become a tourist destination for people from within and outside Magelang. Data was collected online by distributing an open questionnaire, which consisted of the main questions regarding the current condition of the Chinatown area and people's preferences regarding tourist attractions in the city of Magelang. Data were analyzed using the content analysis method through 3 stages: open, axial, and selective coding. Based on the analysis and discussion, it can be concluded that people's preferences for recreational areas consist of two aspects, namely physical and non-physical aspects. There are four dominant physical factors: design, facilities, infrastructure, and accessibility. While the dominant factors contained in the non-physical aspects are environmental comfort which consists of natural nuances, then security, and visitor comfortKeywords: Preference, Recreation area, Chinatown, Magelan

    KAJIAN PENGHAWAAN ALAMI PADA BUKAAN RUMAH TINGGAL DIPERMUKIMAN PADAT PENDUDUK

    Full text link
    Penghawaan alami merupakan kebutuhan penting bagi sebuah bangunan, maupun pengguna dari bangunan tersebut. Dengan menggunakan penghawaan alami dan system ventilasi udara yang baik akan berdampak pada kenyamanan termal didalam ruang dan membuat sebuah ruang menjadi lebih sehat karena pergerakan udara didalam ruang berjalan dengan baik, untuk memberikan kenyamanan bagi ruang-ruang di dalam rumah saat ini penghawaan alami sering dianggap tidak penting karena dapat ditanggulangi oleh penghawaan buatan, sehingga banyak sekali rumah-rumah yang ada sangat tergantung pada penghawaan buatan seperti kipas, Air Condition (AC) dan lain-lain,. tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi penghawaan alami pada rumah tinggal di permukiman padat penduduk dan  memberikan solusi agar penghawaan alami pada rumah tinggal di permukiman padat penduduk bisa maksimal sesuai dengan ketentuan standart SNI. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang didalamnya terdapat studi literature guna mendapatkan referensi sebagai dasar yang ada, selain itu penelitian ini juga menggunakan metode observasi secara langsung guna mendapatkan data-data yang ada seperti jenis dan ukuran dari jendela maupun ventilasi udara. Hasil yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi-dimensi dari jendela maupun ventilasi pada rumah tinggal masih belum memenuhi standart SNI, sehingga perlu adanya penambahan jumlah jendela dan ventilasi untuk memenuhi kebutuhan penghawaan alami pada rumah tinggal, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi atau dapat menjadi acuan untuk rumah-rumah yang ada

    PREFERENSI WARNA DINDING RUANG DALAM PADA HUNIAN UNTUK MENGURANGI GEJALA GANGGUAN MENTAL BAGI PARA WANITA PASCABERSALIN

    Full text link
    Inetrior merupakan bagian penting dari sebuah ruang yang dapat mempengaruhi pengguna ruangnya, dapat bermanfaat maupun merugikan penghuninya. Penghuni sebuah ruang bisa memiliki kondisi kesehatan yang bermacam-macam, salah satunya adalah keadaan penghuni wanita yang baru saja melahirkan yang memiliki kondisi khusus yang dapat mengakibatkan gangguan mental, yaitu keadaan yang biasa disebut sebagai baby blues, depresi pascapersalinan, dan atau psikosis pascabersalin. Banyak usaha penyembuhan di sekitar lingkungan wanita pascabersalin untuk mengurangi gejala gangguan mental tersebut, salah satunya dengan memperhatikan arsitektur di lingkungan wanita tersebut, termasuk diantaranya adalah dengan mengetahui warna-warna pada ruang dalam yang digunakan oleh para wanita pascapartum untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Penelitian ini bermaksud untuk mencari tahu warna-warna yang dapat mempengaruhi suasana hati dan mencegah terjadinya gangguan mental pada wanita pascabersalin. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif statistik deskriptif. Penelitian ini menemukan bahwa di antara warna primer, sekunder dan perpaduan antara keduanya, warna yang disepakati dapat memperbaiki suasana hati dan mencegah gangguan mental pada penghuninya adalah warna kuning, biru dan hijau. Berdasarkan roda gradasi warna, ditemukan pula bahwa selain warna primer, sekunder dan perpaduannya, warna-warna tersier seperti warna krem yang merupakan perpaduan antara kuning dan putih, merah muda yang merupakan perpaduan antara merah dan putih dan hijau muda yang merupakan perpaduan antara warna biru, kuning dan putih, juga merupakan warna yang dianggap mampu mengurangi gejala gangguan mental pascapersalinan

    POLA PERUBAHAN KAWASAN DAN FUNGSI BANGUNAN EKS PABRIK GULA COLOMADU KARTASURA

    Full text link
    ABSTRAK. Pabrik gula di pulau Jawa mengalami perkembangan yang pesat pada awal abad ke-18 ketika Belanda menerapkan kebijakan tanam paksa perkebunan tebu. Perubahan dinamika politik dan perubahan dalam pengelolaan berdampak juga berdampak pada penutupan pabrik gula. Pemerintah melalui kementerian BUMN kemudian melakukan revitalisasi pada beberapa pabrik gula yang sudah tidak beroperasi. Hal ini dilakukan untuk melestarikan bangunan bersejarah dan juga memberikan nilai tambah bagi bangunan. Revitalisasi dilakukan dengan cara merubah fungsi bangunan menjadi obyek wisata dengan melakukan beberapa perubahan pada kawasan pabrik gula untuk mendukung kegiatan tersebut salah satunya adalah Pabrik Gula Colomadu. Perubahan fungsi pabrik gula tersebut menyebabkan adanya perubahan spasial pada bangunan dan lingkungan termasuk pada kawasan emplasement. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dalam upaya untuk mengkaji secara mendalam mengenai perubahan pola spasial pabrik gula yang telah mengalami revitalisasi sebagai upaya meningkatkan nilai dan visual bangunan. Hasil penelitian ini untuk mengetahui dinamika perubahan kawasan dan fungsi bangunan pabrik gula yang mengalami revitalisasi dengan adaptive reuse. Kata kunci:pola perubahan kawasan, perubahan fungsi bangunan, Eks Pabrik Gula Colomadu ABSTRACT. Sugar factories in Java Island experienced rapid development in the early 18th century when the Dutch implemented a forced labor policy at the sugarcane plantation. Dynamics in political and managerial changes caused the closure of sugar factories. Through the Ministry of State-Owned Enterprises, the government revitalized several sugar factories that were no longer operating. The revitalization was carried out to preserve historic buildings and provide added value to them. This plan was carried out by changing the function of the building into a tourist attraction and making several changes to the sugar factories. One of the revitalized sugar factories is the Colomadu Sugar Factory. The difference in the function of the sugar factory causes spatial differences in the building and the environment, including the emplacement area. The method used is qualitative to examine in depth the changes in the sugar factory's spatial pattern, which has undergone revitalization as an effort to increase the value and visuals of the building. The results of this study are to examine the dynamics of changes in the area and function of the sugar factory, which was revitalized through adaptive reuse. Keywords: area change pattern, change of building function, former Colomadu Sugar Factor

    ANALISIS KENYAMANAN BERJALAN MAHASISWA PADA JALUR PEDESTRIAN DI KOTA BANDARLAMPUNG

    No full text
    Berjalan kaki merupakan salah satu moda transportasi yang sangat sederhana, murah, dan popular pada sepanjang Jalan Zainal Abidin Pagar Alam (selanjutnya disebut Jalan ZAPA). Sepanjang Jalan ZAPA ini terdapat banyak perguruan tinggi dengan berbagai aktivitas mahasiswa, namun kondisi trotoar yang tersedia terlihat kurang memadai. Kondisi trotoar yang kurang memadai tersebut berpotensi menurunkan minat mahasiswa untuk melakukan kegiatan di sekitar kampus dengan menggunakan jalur pedestrian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kenyamanan mahasiswa dalam menggunakan jalur pedestrian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif berupa penggunakan teknik observasi lapangan guna mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan serta penyebarkan kuesioner kepada mahasiswa. Hasil penelitian diketahui bahwa indeks tingkat kenyamanan para mahasiswa terhadap jalur pedestrian yang tersedia masih dirasa kurang. Untuk memberikan kenyamanan bagi mahasiwa dalam menggunakan jalur pedestrian, maka pembangunan jalur pedestrian seharusnya lebih diperhatikan dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan kualitas struktur, permukaan harus rata, elevasi yang landai, ketersediaan ram. Tersedianya jalur pedestrian yang layak diharapkan akan mampu meningkatkan motivasi para mahasiswa untuk berjalan kaki

    225

    full texts

    252

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    NALARs
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇