1,721,034 research outputs found
BEREBUT LAHAN UNTUK SAWIT (Studi Kasus di Nagari Lingkuang Aua Ilia, Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat)
Today the demand for land continues to increase. Starting from the integrity of the community for settlements and agricultural land to plantation land for other interests. Economic improvement, foreign investment, social and political on land. All of this happens in human relations with land, one of which occurs in oil palm plantations. Human relations discourse in the issue of oil palm plantations often intersect with community land (ulayat land). The intersection between the dialogue of plantation interests and community interests in land often leads to prolonged conflicts.
Researchers believe that land problems between communities and oil palm plantations are the result of dialogue between actors' interests in them. Making human relations more complex to land and the dialogues of interests attached to it. The reality that shows that land is an important commodity that is wanted and contested by many parties. An example of this case has often occurred repeatedly in Nagari Lingkuang Aua Ilia, namely the grabbing of community land for oil palm plantation companies that the community refused. On the other hand, the community's refusal is also considered by the company to be unreasonable and hinders development.
This research uses qualitative methods with ethnographic studies, especially critical ethnography. Data collection techniques through interviews, participatory observation, literature study and documentation to support the data obtained from the field. Selection of informants using snowball sampling. The case that occurred in Nagari Lingkuang Aua Ilia is seen from the point of view of ecological anthropology, especially in terms of ecological politics. It is interesting to see discourses (oral and written) in ecological politics. Where land issues do not just happen, but there are many actors/parties with certain knowledge and backgrounds who build discourses to justify their actions. Acts of resistance to the discourse of the other party.
Field findings show that many parties are involved. Conflicts with companies that arise from efforts to take customary lands that have been seized by companies are shrouded in the interests of actors. Starting from the "big capital" actors who move the community. Actors who want to get economic benefits. Actors who have strong relations with regional authorities. Conditions of mutual suspicion and lack of transparency in the dissemination of information make actors attack each other Weak existing dispute resolution mechanisms are also used by actors to "delay" the completion of the existing discourse dialogue
Tingkok Nagari : Pengetahuan lokal dan Lingkungan di Nagari Batu Bajanjang, Kec. Lembang Jaya, Kab. Solok
ABSTRAK
Syafnil, 1410822014, Skripsi Strata 1 (S1), Tingkok Nagari : Pengetahuan Lokal Masyarakat Tentang Lingkungan di Nagari Batu Bajanjang, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok. Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, universitas Andalas, Padang, 2018.
Upaya pemenuhan energi nasional diprakarsai pemerintah dengan membangun pusat-pusat pembangkit energi listrik, salah satunya melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi di Gunung Talang. oleh kerena itu, maka pemerintah melakukan berbagai rencana pembangunan untuk memanfaatkan potensi lingkungan tersebut. Pemerintah yakin cara ini akan bermanfaat untuk pemerantaan pembangunan, ekonomi, dan kesejahteraan nasional yang dimulai dari daerah. Cara ini menuai banyak penolakan diberbagai daerah oleh masyarakat terdampak pembangunan dan atau masyarakat yang merasa akan terkena dampak.
Masyarakat setempat yang menolak pembangunan ini juga memiliki pengatahuan lokal sendiri tentang lingkungan. Pengatahuan ini dipakai masyarakat bisa mengelompokan bentuk-bentuk pengetahuan lokal mereka dan bagaimana implementasinya terhadap lingkungan. Pengetahuan ini juga mengajarkan tentang tindakan yang boleh dilakukan dan tindakan yang dilarang untuuk dilakukan. Maka penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana bentuk-bentuk pengetahuan lokal masyarakat setempat dan implementasinya terhadap lingkungan dan menganalisa kenapa pengetahuan tersebut masih di pertahankan dan sebagian bahkan dianggap sakral.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi etnografi, khususnya etnografi realis, dengan mengunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi partisipatif, studi pustaka dan dokumentasi lain-nya untuk mendukung data-data yang diperoleh dari lapangan. Pemilihan informan menggunakan cara purposive sampling.
Berdasarkan hasil penelitian, lingkungan bagi masyarakat Nagari Batu Bajanjang merupakan segala yang ada disekitar mereka yang memiliki hubungan dalam semua aktivitas masyarakat setempat, baik kekayaan alam, kebiasaan masyarakat dan aturan adat yang berlaku pada masyarakat setempat. Hal tersebut membuat lingkungan dapat dilihat dalam bentuk/wujud (entitas) ekonomi, sosial dan budaya. Dari hal tersebut membuat ada beberapa pengetahuan lokal yang disakralkan, seperti pengetahuan terhadap tanah ulayat nagari sebagai tanah komunal, pengetahuan tentang sumber daya air dan pengetahuan lokal tentang bertani sekaligus pemeliharaan lingkungan. Tiga pengetahuan tersebut yang menjadi dasar utama masyarakat menolak rencana pembangunan, dikarenakan akan mengganggu hajat hidup masyarakat di nagari ini.
Kata kunci : Etno-ekologi, Lingkungan, Pengetahuan Lokal, Pembanguna
Pengolahan Bee Pollen Sebagai Pangan Fungsional Pada Biskuit
Bee pollen mengandung nutrisi yang sangat berguna bagi tubuh manusia. Kandungan nutrisi tersebut misalnya asam amino, serat kasar, vitamin, mineral Fe dan Zn serta antioksidan. Kandungan nutrisi tersebut memiliki fungsi masing-masing pada tubuh ketika dikonsumsi. Mineral Fe dapat mencegah anemia. Mineral Zn dapat mencegah terjadinya stunting pada anak. Kandungan lain pada bee pollen yaitu antioksidan. Antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas. Pembuatan biskuit sebagai cemilan sehari-hari relatif mudah dan cepat. Selain itu, biskuit juga memiliki umur simpan yang lama, sehingga biskuit dapat dijadikan stok atau simpanan cemilan sehari-hari. Pengolahan bee pollen sebagai bahan substitusi dapat memberikan pengetahuan sebagai salah satu contoh pengolahan bee pollen pada produk pangan. Bee pollen yang diproduksi di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum belum diolah menjadi produk pangan. Bee pollen yang sudah diproduksi di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk diolah menjadi produk pangan yaitu biskuit. Praktek pengolahan bee pollen di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum menjadi bahan substitusi dalam pembuatan biskuit merupakan salah satu cara pemanfaatan bee pollen yang telah diproduksi tersebut. Praktek pembuatan biskuit dari bee pollen tersebut diikuti oleh siswa dan guru di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum. Siswa dan guru turut yang mengikuti praktek tersebut terlihat antusias dalam membuat biskuit dari bee pollen. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan pengetahuan baru bagi siswa dan guru di Madrasah Aliyah Mambaul Ulum
USE OF SAND AS A COMPONENT OF MULTI SOIL LAYERING (MSL) SYSTEM TO MINIMIZE LIQUID WASTE CONTAMINANT OF CRUDE PALM OIL (CPO)
Purpose of this research was to determine a capability of MSL-sand in reducing contaminants out of the liquid waste of CPO; to determine optimal rate of flow and; to determine the efficiency of MSL-sand in reducing oil-fat, BOD, COD and pH of liquid waste of CPO. The research was done by flowing liquid waste through an MSL-sand with a rate of flow were0.3 L/hour, 0.6 L/hour, 0.9 L/hour, and 1.2 L/hour; each of treatment was repeated three times. Result of the research showed that with rate of flow of 0.3 L/hour, 0.6 L/hour, 0.9 L/hour, and 1.2 L/hour, the MSL-sand was capable of reducing oil-fat from 471.6 mg/L to 21.30 mg/L, 33.40 mg/L, 43.47 mg/L, and 55.30 mg/L respectively;BOD from 412 mg/Lto 6.73 mg/L,19.27 mg/L,33.10 mg/L, and46.93 mg/L respectively;COD from 1237 mg/L to 31.33 mg/L, 61.67 mg/L, 98.33 mg/L, and135.00 mg/L respectively;and pH from 9.00to 6.72,6.88,7.21 and7.36 respectively. The optimal rate of flow to reduce liquid waste contaminant was 0.3 L/jam (class III) and 0.4 L/jam (class IV). Efficiency of the MSL-sand with the rate of flow of 0.3 L/jam,0.6 L/jam,0.9 L/jam, dan 1.2 L/jam in reducing oil-fat was 95.48 %, 92.92 %, 90.78 %, and88.27 % out of 471.6 mg/L; COD was 97.47 %, 95.01 %,92.05 %, and89.06 % out of 1237 mg/L; and BOD was98.37 %, 95.32 %, 91.97 %, and88.61 %out of 412 mg/L. Reduce of contaminant out of the liquid waste of CPO proved that MSL-sand was capable of reducing oil-fat, COD and BOD and also neutralize the pH
USE OF SAND AS A COMPONENT OF MULTI SOIL LAYERING (MSL) SYSTEM TO MINIMIZE LIQUID WASTE CONTAMINANT OF CRUDE PALM OIL (CPO)
Purpose of this research was to determine a capability of MSL-sand in reducing contaminants out of the liquid waste of CPO; to determine optimal rate of flow and; to determine the efficiency of MSL-sand in reducing oil-fat, BOD, COD and pH of liquid waste of CPO. The research was done by flowing liquid waste through an MSL-sand with a rate of flow were0.3 L/hour, 0.6 L/hour, 0.9 L/hour, and 1.2 L/hour; each of treatment was repeated three times. Result of the research showed that with rate of flow of 0.3 L/hour, 0.6 L/hour, 0.9 L/hour, and 1.2 L/hour, the MSL-sand was capable of reducing oil-fat from 471.6 mg/L to 21.30 mg/L, 33.40 mg/L, 43.47 mg/L, and 55.30 mg/L respectively;BOD from 412 mg/Lto 6.73 mg/L,19.27 mg/L,33.10 mg/L, and46.93 mg/L respectively;COD from 1237 mg/L to 31.33 mg/L, 61.67 mg/L, 98.33 mg/L, and135.00 mg/L respectively;and pH from 9.00to 6.72,6.88,7.21 and7.36 respectively. The optimal rate of flow to reduce liquid waste contaminant was 0.3 L/jam (class III) and 0.4 L/jam (class IV). Efficiency of the MSL-sand with the rate of flow of 0.3 L/jam,0.6 L/jam,0.9 L/jam, dan 1.2 L/jam in reducing oil-fat was 95.48 %, 92.92 %, 90.78 %, and88.27 % out of 471.6 mg/L; COD was 97.47 %, 95.01 %,92.05 %, and89.06 % out of 1237 mg/L; and BOD was98.37 %, 95.32 %, 91.97 %, and88.61 %out of 412 mg/L. Reduce of contaminant out of the liquid waste of CPO proved that MSL-sand was capable of reducing oil-fat, COD and BOD and also neutralize the pH.</jats:p
QUALITY PROFILE OF DRIED FISH PRODUCED USING YTP-UNIB-2013 WITH VARIED DRYING TEMPERATURES
Objectives of this research were 1) to determine fish drying time YTP-UNIB 2013 biomass dryer with four different temperatures; 2) to compare the resulted dry fishes to SNI Standards for fish; 3) to find the optimum drying temperature to produce dry fish with better fit to SNI standards.Utilizing “ Kaseh” fish (Opisthopterus tardoore) as experimental sample dryings with temperatures 30-40 oC, 40-50 oC, 50-60 oC and 60-70 oC, in term of drying time, resulted 10 hours, 8 hours, 6.5 hours and 5.5 hours respectively. From the TPC point of view, the dry fishes produced by these temperature ranges contained 1,16 x 106 kol/g, 1,0875 x 106 kol/g, 0,744 x 106 kol/g and 0,8975 x 106 kol/g. These dry fishes fitted respectively to 8.6, 8.8, 8.4 and 7.8 average organoleptical scores. The finding suggested that drying with 50-60 temperature ranges would be proper choice for drying fish with YTP-UNIB 2013 biomass dryer.Keywords :
EVALUATE THE QUALITY CHANGES OF FRYING OIL DURING CONTINOUS FRYING OF LEMURU FISH (Sardinella lemuru)
The frying oil quality decreased during continoiu frying is not only caused by frying condition, but also caused by the food composition of material being fried. The objective of the study was to evaluate the quality changes of frying oil during continous frying of Sardinella lemuru. 12 consecutive batches of frying of lemuru fish were conducted. Frying oil quality changes after 2nd, 4th, 6th, 8th, 10th and 12th batch of frying were evaluated based on determination free fatty acids (FFA), conjugated dienoic acid (CDA), and the smoke point of the oil samples. The results showed that the more repetitions frying the higher levels of FFA and its CDA value while the value of the lower smoke point. Over 12 times in the frying oil quality parameter of FFA still under the limit was broken and starts to break down in the 23rd frying, but the parameters of the CDA value there is no obtained limit demage, while smoke point of the oil begins to break downin 12th frying
KARAKTERISTIK PERMEN JELLY DAUN KELOR (Moringa oleifera) DENGAN PENAMBAHAN SARI BUAH TERONG BELANDA (Solanum betaceum Cav.) DAN KONSENTRASI KARAGENAN
Permen jelly merupakan makanan manis yang digemari oleh banyak kalangan, yang
terbuat dari komponen air, sari buah, gula dan bahan pembentuk gel. Penelitian ini
menggunakan sari buah terong belanda, bubuk daun kelor dan karagenan sebagai bahan
pembentuk gel. Pada umumnya, pembuatan permen jelly menggunakan bahan pembentuk gel
yaitu gelatin, namun penggunaan gelatin pada industri pangan terkendala pada faktor agama
yaitu tingkat kehalalan dan keamanan pangan. Hal ini dikarenakan sumber bahan utama
gelatin yaitu kulit dan tulang dari sapi dan babi. Perlu adanya bahan pengganti yang memiliki
fungsi yang sama dengan gelatin, karagenan merupakan bahan yang memiliki fungsi yang
sama dengan gelatin, namun terjamin kehalalannya karena terbuat dari rumput laut.
Pembuatan permen jelly daun kelor untuk tingkat penerimaannya masih, Sehingga perlu
adanya penambahan sari buah terong belanda untuk meningkatkan daya terima dan
menjadikan permen jelly makanan fungsional. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan
pengaruh penambahan sari buah terong belanda dan konsentrasi karagenan terhadap sifat fisik
(kadar air, warna, dan tekstur), kimia (vitamin C, kadar abu, dan aktivitas antioksidan),
organoleptik (warna, rasa, tekstur, dan aroma), dan menentukan perlakuan terbaik
berdasarkan tingkat kesukaan panelis.
Metode penelitian yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan
menggunakan dua faktor yaitu faktor pertama karagenan yang terdiri dari 3 taraf yaitu 4%,
5%, dan 6%, dan faktor kedua yaitu penambahan sari buah terong belanda yang terdiri dari 3
taraf yaitu 100 g, 110 g, dan 120 g dengan 3 kali pengulangan, sehingga diperoleh 27 unit
percobaan. Analisis data menggunakan uji anova, dilanjutkan DMRT (Duncan Multiple
Range Test), dan uji friedman untuk tingkat kesukaan pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05)
menggunakan aplikasi SPSS 25.
Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan sari buah terong belanda dan
karagenan berpengaruh nyata terhadap kadar air, tekstur permen jelly, vitamin C, kadar abu,
dan aktivitas antioksidan, dan organeloptik. Semakin banyak penambahan karagenan maka
semakin menurun kadar air, semakin keras tekstur, namun untuk uji vitamin C, kadar abu, dan
aktivitas antioksidan akan semakin meningkat, dan dapat mengurangi rasa, aroma, dan warna
khas dari terong belanda. Kemudian semakin banyak penambahan sari buah maka akan
v
semakin meningkatkan kadar air, vitamin C, kadar abu, aktivitas antioksidan, dapat
meningkatkan intensitas warna, menurunkan tingkat kekerasan tekstur dan dapat menambah
kekhasan permen jelly dari segi warna, rasa, dan aroma. Perlakuan terbaik didapatkan pada
penambahan karagenan 11 g dan sari buah 100 g dengan kadar air sebesar 19,01%, tekstur
97,33 mm/10s, warna 7,5 YR 4/4, vitamin C 7,92 mg/100g, kadar abu 0,808%, aktivitas
antioksidan 65,19 ppm, dan rata-rata panelis menyukai pada skor 4,01
PENGARUH SUHU DAN WAKTU DEODORISASI TERHADAP KANDUNGAN ASAM LEMAK BEBAS DAN TINGKAT KESUKAAN PADA BAU MINYAK KELAPA SAWIT MERAH (RED PALM OIL}
Carotenes, including ftcarotene and o-carotene in red
palm olein (RPO) are important part of the oil in relation to nutrition and health signiflcant. Carotenes are mostly destructed at high temperature at various stages during refining process, icluding durig deodorization process, ln
producing RPO deodorization is aimed to evaporate objectionable odor of the oil as well as to lower
ftee fatty acid (FFA) of the oil.The objective of the study were to evaluate the effect of various time and temperatures to FFA and the objectionable odor of RPO. The result indicated that deodoration at'17 OuC for 60 minutes could produced RPO wih 0.01 FFA without objectionable odor
PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN NaOH DAN MINYAK ATSIRI JERUK KALAMANSI TERHADAP KARAKTERISTIK SABUN PADAT DARI MINYAK GORENG BEKAS
Sabun merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Komponen penting yang
terdapat dalam pembuatan sabun yaitu adanya unsur lemak/minyak dan basa kuat. Perlu
perbandingan yang tepat antara minyak dan alkali untuk menghasilkan sabun yang baik.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh konsentrasi larutan NaOH dan minyak
atsiri jeruk kalamansi terhadap karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik sabun padat dari
minyak goreng bekas serta mendapatkan perlakuan terbaik yang memenuhi mutu SNI sabun
mandi padat 3532:2016 dan disukai oleh panelis.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan dua faktor
penelitian yaitu larutan NaOH dengan konsentrasi (15%, 20%, dan 25%), dan minyak atsiri
jeruk kalamansi dengan persentase (10%, 15%, dan 20%) dari bahan baku minyak goreng
bekas. Penelitian ini dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh 27 unit
percobaan dengan parameter pengamatan karakteristik fisik yang meliputi kadar air,
kekerasan, dan stabilitas busa. Karakteristik kimia meliputi pH dan kadar alkali bebas, serta
uji organoleptik yang meliputi tekstur, aroma, dan overall.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi larutan NaOH dan interaksi antara
konsentrasi larutan NaOH dan minyak atsiri jeruk kalamansi berpengaruh nyata terhadap
kadar air, kekerasan, pH, kadar alkali bebas, dan stabilitas busa sabun padat. Sedangkan
penambahan minyak atsiri jeruk kalamansi tidak berpengaruh nyata terhadap kadar air,
kekerasan, pH, kadar alkali bebas, dan stabilitas busa sabun padat. Hasil uji organoleptik
berdasarkan uji Friedman menyatakan bahwa, penambahan konsentrasi larutan NaOH dan
minyak atsiri jeruk kalamansi berpengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan panelis mengenai
tekstur, aroma, dan overall. Semakin tinggi konsentrasi larutan NaOH dan minyak atsiri jeruk
kalamansi yang digunakan, semakin tinggi pula tingkat penerimaan panelis terhadap sabun
padat yang dihasilkan. Perlakuan terbaik yang memenuhi mutu SNI sabun mandi padat
3532:2016 dan disukai oleh panelis adalah konsentrasi larutan NaOH 25% dan minyak atsiri
jeruk kalamansi sebanyak 20% dari bahan baku minyak goreng bekas
- …
