1,720,959 research outputs found

    PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR REGIONAL I BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA YOGYAKARTA

    No full text
    PENGARUH BUDAYA ORGANISASI DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PEGAWAI DI KANTOR REGIONAL I BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA YOGYAKARTA Oleh: Syafitri Diah Kusumawati NIM. 10402241026 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) besarnya pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta; (2) besarnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta; (3) besarnya pengaruh budaya organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian asosiatif dengan pendekatan kuantitatif. Subyek penelitian adalah pegawai Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta dengan jumlah 73 pegawai. Uji coba instrumen penelitian dilakukan terhadap 30 pegawai Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta yang tidak menjadi subyek penelitian. Pengumpulan data menggunakan kuesioner/angket. Pengujian prasyarat analisis meliputi uji linearitas dan uji multikolinearitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi sederhana untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama dan kedua serta analisis regresi ganda untuk menjawab pertanyaan penelitian ketiga. Hasil penelitian ini adalah: (1) terdapat pengaruh positif dan signifikan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta yang ditunjukkan dengan nilai r2 sebesar 0,273 yang artinya berpengaruh sebesar 27,3% dengan nilai p < 0,05; (2) terdapat pengaruh positif dan signifikan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta yang ditunjukkan dengan nilai r2 0,542 yang artinya berpengaruh sebesar 54,2% dengan nilai p < 0,05; (3) terdapat pengaruh positif dan signifikan budaya organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai di Kantor Regional I Badan Kepegawaian Negara Yogyakarta yang ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0,577 yang artinya berpengaruh sebesar 57,7% dengan nilai p < 0,05

    Nihon To Jawa No Kekkonshiki No Gensyou No Hikai

    No full text
    Tahapan dalam upacara perkawinan dilakukan mulai dari awal menentukan calon pasangan pengantin hinggapesta pernikahan. Pelaksanaan ritual perkawinan merupakan saat yang paling penting karena memiliki makna yang dalam serta dipercaya dapat mengantarkan pasangan menuju kehidupan bahagia. Bentuk sebuah perkawinan sangat erat kaitannya dengan keluarga.Dalam masyarakat Jepang, terdapat dua bentuk keluarga yaitu “kazoku” dan “ie”. “Kazoku” adalah sistem kekerabatan yang terbentuk dari hubungan suami-istri, maupun orang tua-anak dalam kurun waktu yang hanya beberapa generasi saja,Pada” ie” anggota-anggotanya terdiri dari beberapa generasi, meliputi anggota yang masih hidup maupun yang sudah mati. Sedangkan dalam masyarakat Jawa bentuk keluarga dikenal degan istilah “keluarga batih”. “Keluarga batih” adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang belum menikah. Secara garis besar, perkawinan masyarakat Jepang dan Jawa dibagimenjadi tiga tahapan, yaitu: adat sebelum menikah, adat pelaksanaan upacara perkawinan, dan adat setelah menikah. Persamaan adat yang terdapat pada saat sebelum upacara perkawinan masyarakat Jepang dan masyarakat Jawa yaitu adanya media perantara, di Jepang hal tersebut disebut dengan “nakoodo”, sedangkan di Jawa di sebut dengan “congkok”. Kemudian persamaan lainnya yaitu adanya sesi siraman sebelum melakukan upacara perkawinan, sebagai bentuk penyucian diri. Kemudian, adanya pertukaran barang-barang pada saat acara pertunangan. Perbedaan yang terdapat pada tahapan upacara perkawinan Jepang dan Jawa yaitu :pada masyarakat Jawa menggunakan adat dalam tahapan upacara perkawinan, sedangkan pada tahapan dalam upacara perkawinan Jepang tidak terlalu menggunakan acara adat. Selain itu, Di Jepang acara resepsi perkawinan tergolong sederhana dengan acara adat-istiadat yang tidak terlalu banyak, hanya upacara selamat dari para kerabat yang kemudian dilanjutkan dengan hiburan. Berbeda dengan masyarakat Jepang, pada masyarakat Jawa ada banyak acara adat yang harus wajib di jalankan dan memakan durasi yang cukup lama. Kearifan lokal yang terlihat dalam perkawinan Jepang adalah kerja keras, disiplin, kesetia kawanan, rasa syukur, dan pelestarian dan kearifan budaya. Sedangkan kearifan lokal yang terdapat pada perkawinan masyarakat Jawa adalah kesopan santunan, kesejahteraan, komitmen, pengelolaan gender,gotong royong, dan pelestarian dan kreativitas. Dalam hal memilih tanggal pelaksanaan pesta pernikahan, masyarakat Jepang dan Jawa memiliki kesamaan, yaitu benar benar memikirkan hari dan tanggal yang dipercaya baik untuk pelaksanaan pesta pernikahan. Akan tetapi, dalam hal pemilihan tempat untuk melaksanakan upacara perkawinan, masyarakat Jepang dan masyarakat Jawa sangan berbeda. Pada pesta pernikahan masyarakat Jepang, upacara dilaksanakan di kuil maupun gedung. sedangkan pada masyarakat Jawa, upacara dilaksanakan di rumah mempelai wanita maupun di gedung. Dalam hal isi pidato ataupun nasihat dalam upacara perkawinan Jepang dan Jawa sama-sama berisi nasihat kepada kedua pengantin untuk kelangsugan rumah tangga yang baik. Perkawinan masyarakat Jepang dan Jawa, memiliki kesamaan makna dilihat dari peralatan yang digunakan yang dapat mempengaruhi proses berlangsungnya acara, serta memberikan kebaikan dalam rumah tangga kedua mempelai. Di dalam masyarakat Jepang dan Jawa, mereka memiliki perbedaan dalam konteks ideologi. Hal ini di karenakan pandangan masyarakat Jepang yang berbanding terbalik dengan masyarakat Jawa tentang bagaimana pentingnya pernikahan.Skripsi Sarjan

    Pengaruh Debt to Asset Ratio dan Total Asset Turnover terhadap Return On Asset pada Perusahaan Perkebunan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2016

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh variabel Debt to Asset Ratio dan Total Asset Turnover terhadap Return On Asset baik secara parsial maupun simultan pada Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2012-2016. Return On Assets yaitu rasio yang menunjukkan seberapa banyak laba bersih yang bisa di peroleh dari seluruh kekayaan yang di miliki oleh perusahaan. Debt to Assets Ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Total Asset Turnover (TATO) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah yang di peroleh dari tiap rupah aktiva Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekataan asosiatif. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 16 Perusahaan Perkebunan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 6 perusahaan. Periode pengamatan yang dilakukan selama 5 tahun yaitu dimulai dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2016. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh langsung berupa laporan keuangan yang diperoleh dari situs www.idx.co.id. Teknik analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis statistic yaitu : analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik dan uji hipotesis dengan SPSS 22.0 for window serta koefisien determinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Debt to Asset Ratio secara parsial dan simultan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Asset. Total Asset Turnover secara signifikan dan parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return On Asset

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used
    corecore