33,597 research outputs found
TEKNIK PENYUTRADARAAN OPERA DALAM LAKON SWEENEY TODD KARYA CHRISTOPHER BOND
Opera merupakan suatu pertunjukan yang menggabungkan unsur seni yang kompleks, yaitu seni drama, seni tari, seni musik dan seni rupa dimana para aktor secara sadar menyanyikan syair lagu dengan teknik menyanyi yang berkualitas. Salah satu lakon opera klasik yang komplit dengan syarat kompleksitas cabang seni ialah Lakon Sweeney Todd – Pencukur Keji dari Jalan Fleet karya Christopher Bond yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Bakdi Soemanto. Lakon Sweeney Todd merupakan potret kehidupan masyarakat menengah kebawah di kota London, tepatnya di Jalan Fleet. Naskah ini berusaha mengungkap kritik sosial tentang fenomena hukum rimba ditengah masyarakat, siapa yang bertahta, dia yang berkuasa.Penyutradaraan pada lakon Sweeney Todd menggunakan teknik penyutradaraan dari Suyatna Anirun. Adapun teknik yang digunakan adalah 1) Pra Produksi, meliputi persiapan-persiapan fisik dan mental, pemilihan naskah, pemilihan tim, pemilihan aktor, pemilihan pemusik dan penari, latihan (tubuh, vokal, pencarian karakter tokoh, teknik memberi isi, movement, gladi kotor, gladi bersih), 2) Produksi, meliputi latihan-latihan (mencari, memberi isi, pengembangan dan pemantapan) serta eksplorasi (peran, hand-property, setting panggung, koreografi, lagu, movement dan blocking). Berdasarkan teknik penyutradaraan diatas, pementasan karya Sweeney Todd berjalan lancar, maksimal dan antusias dari penonton luar biasa dengan durasi pementasan 124 menit. Meskipun terdapat beberapa kekurangan pada keseimbangan vokal serta permasalahan teknis pangsung, Pementasan Opera Sweeney Todd karya Christopher Bond memberikan sajian pertunjukan yang menarik dan memberikan kesan tersendiri dibenak penonton.Kata Kunci : Penyutradaraan, Opera, Sweeney Tod
Penciptaan Drama Musikal Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street (Sweeney Todd:Tukang Cukur Haus Darah)
Proses kreatif penyutradaraan Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street memberi banyak pelajaran
tentang drama musikal. Drama musikal memiliki keunikan tersendiri dalam proses maupun bentuk penyajiannya.
Jenis drama ini sangat populer di Amerika, dan merupakan satu-satunya sumbangan Amerika dalam memperkaya
jenis teater dunia. Cerita ini merupakan kisah legendaris Inggris. Berkali-kali naskah karya Christopher Bond ini
dimainkan di berbagai benua di dunia, namun bila dilihat dari sejarah penciptaannya, kisah balas dendam seorang
tukang cukur ini telah melalui proses adaptasi yang panjang. Beberapa penulis besar di jamannya sebelum melewati
tangan kreatif Christopher Bond telah mengkreasi ulang naskah ini. Drama musikal ini berawal dari komedi musikal
dan sejak tahun 1920 mengangkat tema-tema serius yang biasa disebut musik Broadway atau musik Amerika. Biasa
disajikan dalam panggung besar West End dan Broadway di London, New York, Australia dan Asia. Beberapa kali
dipanggungkan oleh kelompok teater sekolah atau kelompok teater amatir. Hampir seluruh pertunjukan drama musikal Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street diiringi dengan musik dan dinyanyikan. Dialog diubah
menjadi nyanyian. Para aktor di tuntut untuk dapat menyanyi, akting, dan menari. Drama musikal merupakan
pertunjukan yang menggunakan tiga ciri utama, yakni menyanyi, menari, dan berakting yang mendominasi hampir
seluruh pertunjukan.
Kata kunci: penyutradaraan, drama musikal, kisah legendaris, Sweeney Todd, teater sekolah.
ABSTRACT
The musical drama Sweeney Todd: Th e Demon Barber of Fleet Street. The creative directing process of this drama has given many good lessons to the art work of performing arts, especially to musical drama performance. The musical drama has its own unique characteristics in its process and performance. This type of drama is very popular in the USA, and has been the only contribution from the USA to enrich the typical of world theater. Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street is as an English legend, especially in England. This script created by Christopher Bond has been performed for several times in all around the globe. Having seen from its creating history, the story of a barber who takes revenge has been through long adaptation process. Some big authors in this era, before proceeded by Christopher Bond’s creative touch, had creatively recreated this script. The musical drama Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street was fi rstly created from the musical comedy drama and since 1920 has shown serious themes that are well known as Broadway music or American music. This drama has commonly been shown on a big stage West End and Broadway in London and New York, also in Australia and Asia. Moreover, it has also been performed by groups of school-theater and amateur theater. Most of the musical drama performances Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street are accompanied by music and are sung as well. The dialog is changed into songs. The actors are supposed to be able to sing, to act, and to dance. The musical drama is a performance that uses three main characteristics, namely: singing (solo, ensemble, and choir), dancing (individual and group), and acting, that dominates in most parts of the performance.
Key words: directing, musical drama, legend story, Sweeney Todd, theater
TATA RIAS DAN KOSTUM KARAKTER NYONYA LOVETT DALAM OPERA SWEENEY TODD PRODUKSI TEATER SENDRTASIK UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Abstrak: Tata rias dan kostum merupakan salah satu kebutuhan dalam seni pertunjukan teater. Teater Sendratasik Universitas Negeri Surabaya mementaskan sebuah naskah legendaris Inggris berjudul Sweeney Todd ke dalam pertunjukan Opera. Pertunjukan tersebut membutuhkan proses analisis naskah untuk membuat konsep desain, penciptaan karya dan penyajian hasil tata rias dan kostum karakter Nyonya Lovett. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) penokohan karakter berdasarkan analisis naskah 2) desain tata rias dan kostum 3) hasil penciptaan tata rias dan kostum, dan 4) penyajian karya tata rias dan kostum karakter Nyonya Lovett dalam Opera Sweeney Todd. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Data dikumpulkan dengan metode wawancara, dokumentasi dan observasi. Prosedur penelitian melalui tahap analisis naskah, perancangan desain, penciptaan, dan penyajian karya yang dapat dinilai langsung oleh penonton. Teknik analisis untuk data kualitatif melalui tahapan mengorganisasikan data, mengelompokan, dan menguji keabsahan data. Analisis data kuantitatif berupa rata-rata (mean) untuk menilai hasil tata rias dan kostum karakter Nyonya Lovett. Hasil analisis naskah menunjukkan penokohan Nyonya Lovett secara tiga dimensi (fisiologis, psikologis, dan sosiologis), yaitu seorang wanita berusia 40 tahun, janda pemilik kedai pai, bermuka dua, dan sadis. Berdasarkan analisis penokohan tersebut dihasilkan 3 konsep desain tata rias Nyonya Lovett. Hasil pemilihan desain disepakati desain nomor 2 yang akan diciptakan. Desain yang telah dipilih kemudian diciptakan dan ditampilkan pada pertunjukan Opera Sweeney Todd. Hasil penciptaan dinilai langsung oleh penonton dengan rata-rata 4,29, dengan predikat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil tata rias dan kostum karakter Nyonya Lovett telah sesuai dengan kebutuhan pertunjukan dan dapat diterima oleh penonton.
Kata kunci: tata rias, kostum, Nyonya Lovett, Sweeney Todd
Abstract:Makeup and costumes is one of necessity in theater performing. Sendratasik Theatre of Universitas Negeri Surabaya staged a legendary British manuscript entitled Sweeney Todd into Opera performances. The performance need a analyzes the Sweeney Todd script to makes a design concept and present the makeup and costume character of Mrs. Lovett. This research aims is to know 1) characterizations of the characters based on analysis script 2) makeup and costume design 3) the result of the creation makeup and costume, and 4) the presentation of the results of the makeup and costume characters of Mrs. Lovett. Type of this research is a descriptive qualitative and quantitative. Data were collected by interview, documentation and observation. The research prosedure is a script analysis, designing, creating, and presenting of Mrs. Lovett’s makeup and costume that can be accepeted directly by the audience. Analysis techniques for qualitative data is organizing data, categorize, and test the validity of the data. Analysis of quantitative data such as average (mean) to assess the results of the Mrs. Lovett’s makeup and costume. The script analysis showed Mrs. Lovett’s three-dimensional characterization (physiological, psychological, and sosiological dimentions) is a 40 year old woman, widow of pie shop owner, a liar, and sadistic . The analysis has been produced 3 designs and the result is second design has been selected. The design has been created and used on Sweeney Todd Opera perfomances. Results the average assessment of the audience against the Mrs. Lovett’s makeup and costume un Sweeney Todd Opera proction by Sendratasik Theatre of Universits Negeri Surabaya is 4.29. with a gtood rating. It can be conclude that the result of Mrs. Lovett’s makeup and costume has been in accordance with need of the show and can be accepted by the audience.
Keywords: makeup, costume, Mrs. Lovett, Sweeney Tod
Alaskan Author and Historian Dan O'Neill
Dan O'Neill has become a living legend in Alaska. He is the author of The Firecracker Boys: H-Bombs, Inupiat Eskimos, and the Roots of the Environmental Movement; A Land Gone Lonesome: An Inland Voyage Along the Yukon River; The Last Giant of Beringia: The Mystery of the Bering Land Bridge, and recently Stubborn Gal: The True Story of an Undefeated Sled Dog Racer, a children's book published by the University of Alaska Press. Dan came to Alaska in 1975 and has done a variety of things including dog mushing, trapping, hunting, working in construction, and on the pipeline. As research associate at the UAF Oral History program, he produced radio and television documentaries for public broadcasting, and for several years he wrote a column of political opinion for the Fairbanks Daily News-Miner
Pemeranan Tokoh Benyamin Barker dalam Naskah Sweeney Todd Karya Christopher Bond Terjemahan Bakdi Soemanto
Sweeney Todd adalah sebuah kisah yang memberikan perenungan terhadap kehidupan. Di saat krisis kebaikan dari para penguasa saat ini yang perlu diperhitungkan kembali, tentu saja kisah cerita Sweeney Todd sangat konteks untuk diangkat dan disajikan sebagai bahan pertimbangan oleh khalayak sebagai bentuk pertunjukan. V-effect mempunyai visi dan misi memberikan kecerdasan kritis terhadap apa yang disaksikan maupun telah disaksikan oleh penonton. Sehingga dialektika terhadap kepribadian akan terus dipertanyakan dengan cara mengasingkan diri sebelum mengambil tindakan. Keaktoran dengan perancangan tokoh Sweeney Todd tentu saja diharapkan tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang sematamata bagus, akan tetapi esensi cerita hendaklah dijaga, dipertahankan dan disampaikan dengan benar terhadap penonton, sehingga terwujudlah cita-cita dan harapan yang menjadikan tontonan teater juga berbasis tuntunan kehidupan. Segala keinginan tersebut tentu akan terwujud bila dilakukan dengan usaha yang maksimal dan penuh kesabaran
Supplemental Material, JSR-17-028_R3_Online_Appendix_Final_9-12-2019 - Customer Advocacy: A Distinctive Form of Word of Mouth
Supplemental Material, JSR-17-028_R3_Online_Appendix_Final_9-12-2019 for Customer Advocacy: A Distinctive Form of Word of Mouth by Jillian Sweeney, Adrian Payne, Pennie Frow and Dan Liu in Journal of Service Research</p
Supplemental Material, JSR-17-028_R3_EXECUTIVE_SUMMARY - Customer Advocacy: A Distinctive Form of Word of Mouth
Supplemental Material, JSR-17-028_R3_EXECUTIVE_SUMMARY for Customer Advocacy: A Distinctive Form of Word of Mouth by Jillian Sweeney, Adrian Payne, Pennie Frow and Dan Liu in Journal of Service Research</p
Pemeranan Tokoh Benyamin Barker dalam Naskah Sweeney Todd Karya Christopher Bond Terjemahan Bakdi Soemanto
SweeneyTodd adalah sebuah kisah yang memberikan perenungan terhadap kehidupan. Di saat krisis kebaikan dari para penguasa saat ini yang perlu diperhitungkan kembali, tentu saja kisah cerita Sweeney Todd sangat knteks untuk diangkat dan disajikan sebagai bahan pertimbangan oleh khlayak sebagai bentuk pertunjukan. V-effect mempunyai visi dan misi memberikan kecerdasan kritis terhadap apa yang disaksikan maupun telah disaksikan oleh oenonton. Sehingga dialektika terhadap kepribadian akan terus dipertanyakan dengan cara mengasingkan diri sebelum mengambil tindakan.
Bernyanyi, menari dan akting adalah esensi dari melodrama yang berkolaborasi dengan meminjam spirit sistem metode pelatihan Bertold Brecht, sebagai kebutuhan akademis yang harus diselesaikan. Hasil dari sebuah pencarian dalam proses tentu saja akan mendapatkan kesimpulan sebagai bekal, terutama bagi seorang kreator itu sendiri. Keaktoran dengan perancangan tokoh Sweeney Todd tentu saja diharapkan tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang semta-matabagus, akan tetapi esensi cerita hendaklah dijaga, dipertahankan dan disampaikan dengan benar terhadap penonton, sehingga terwujudlah cita-cita dan harapan yang menjadikan tontonan teater juga berbasis tuntunan kehidupan. segala keinginan tersebut tentu akan terwujud bila dilakukan dengan usaha yang maksimal dan penuh kesabaran.
Metode ibarat kendaraan dalam membantu fikiran untuk menciptakan sebuah hasil kefja kreatif. Pembuktian sebagi bentuk aplikasi terhadap pencarianadalah bukti dari kerja keras sebagi hasil persentasi. Sweeney Todd adalah cermin tokoh kehidupan yang tidak layak ditru, karena menjadikan dendam sebagai pelampiasan emosi. Akan tetapi semuanya tidak akan terjadi jika tidak ada yang memulai. Sebagai makluk yang dianugerahi kecerdasan dalam berfikir sebelum mengambil tindakan, hendaklah mempertimbangkan kembali setiap langkah dan tujuan yanga akan dilakukan. Sehingga tidak menjadikan kekerasan sebagi bahasa penyelesaian terhadap sebuah permaslahan, maka kerukunan dan kedamaian akan mampu diwujudkan, tidak seperti yang telah dilakukan oleh Sweeney Todd, hanya demi melampiaskan dendam, membunuh telah menjadi kebiasaan
- …
