1,720,979 research outputs found

    PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN DAN PENGENDALIAN RUANG DI KECAMATAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG

    Full text link
    Spatial development is a process system of development planning, developing and controlling for the shake of public welfare must include public participation in each steps. This is as reason of spatial development is other than rasionalistic, aesthetics and technique activities but more about such dynamically politics and social process and which also full of conflict ( Forester, 1989). This is being ratified by Republic of Indonesia government by the issuance of Law number 26/2007 about Spatial Development and Government Regulation number 69/96 about the Implementation of Rights and Obligation as well as the Form and Procedure of Public Participation. Although in its practice, it shows that there are unbalanced public welfare maximally. Bawen subdistrict is part of Semarang Region which is urged to be the Region Capital, with such consideration the reinforced hegemony and accessibility.There are several problems dealing with the developing and controlling spatial development in Bawen subdistrict, one of observable point that can be viewed from the public side is its low participation. It is said that the problems arose in this study is " Public Participation in Development and Ccontrolling in Bawen sun district of Semarang Region". There are 3 aims of this study, such as: identifying the accommodation of public needs, public voluntary and their possession of their region in development and controlling in Bawen subdistrict.institution in this study. This study employs qualitative design as its approach as this occupies many naturalistic elements in it. Whereas the data supported this study was gained through primary data by interviewing some key persons who well‐understood about the development and controlling spatial development in Bawen subdistrict of Semarang Region, besides such observation about passive participation is also carried out; whilw the secondary data can be gathered from the related  There is field finding stated that most people do not understand well about the development and controlling of spatial development regulation thus the program proposal has never referred tp the spatial development regulation. However, there are several things that provide additional value from public participation in spatial development; that the people surely have made use of such existing spatial planning and development forums, people also have relationship with the officials when there is problem that comes from informal way. It is strongly recommended to implement the socialization of continuous spatial planning.     Penataan ruang sebagai suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang guna kesejahteraan masyarakat harus menyertakan partisipasi masyarakat dalam setiap tahapannya. Hal tersebut terlebih karena penataan ruang bukanlah semata-mata suatu kegiatan yang rasionalistik, teknis dan estetis tetapi merupakan pula proses sosial politis yang dinamis dan sarat dengan konflik (Forester, 1989). Hal tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah RI dengan adanya UU 26/2007 tentang Penataan Ruang dan PP 69/96 tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Meskipun dalam praktiknya hak-hak masyarakat tersebut belum dapat dinikmati secara maksimal. Kecamatan Bawen merupakan bagian dari Kabupaten Semarang yang oleh kalangan elit politik pemerintahan di Kabupaten ini diwacanakan untuk menjadi Ibukota Kabupaten, dengan pertimbangan penguatan hegemoni dan aksesibilitas. Terdapat beberapa permasalahan pemanfaatan dan pengendalian ruang di Kecamatan Bawen, salah satu yang tampak dari sisi masyarakat adalah rendahnya partisipasi masyarakat.  Karenanya permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Partisipasi Masyarakat dalam Pemanfaatan dan Pengendalian Ruang di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.“ Terdapat 3 Sasaran dari penelitian ini adalah: mengetahui akomodasi kepentingan masyarakat, kesukarelaan masyarakat dan rasa memiliki masyarakat pada kegiatan pemanfaatan dan pengendalian ruang di Kecamatan Bawen. Di mana dari ketiga sasaran tersebut diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi penyempurnaan pelaksanaan kegiatan pemanfaatan dan pengendalian ruang di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif karena banyak menggunakan elemen yang naturalistik. Adapun data untuk mendukung penelitian ini diperoleh dari data primer dengan cara wawancara terhadap tokoh-tokoh kunci yang memahami pemanfaatan dan pengendalian ruang di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang serta observasi partisipasi pasif; dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait dalam penelitian. Temuan lapangan yang didapat bahwa kebanyakan masyarakat belum memahami aturan pengendalian dan pemanfaatan ruang sehingga program kegiatan yang diusulkan oleh masyarakat tidak pernah mengacu pada aturan penataan ruang. Namun terdapat beberapa hal yang memberikan nilai tambah dari partisipasi masyarakat dalam penataan ruang; bahwa masyarakat memanfaatkan forum-forum perencanaan dan pengendalian ruang yang ada, masyarakat selalu berhubungan dengan aparat manakala terjadi permasalahan pemanfaatan dan pengendalian ruang meski melalui jalur informal. Karenanya dalam penelitian ini direkomendasikan untuk dilaksanakannya sosialisasi penataan ruang berkelanjutan

    STRATEGI PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR JARINGAN JALAN PERTIGAAN KARANGLO UNTUK MENGURAI KEMACETAN LAWANG - MALANG

    No full text
    Suwignyo, 2016 Strategi Pengembangan Infrastruktur jaringan jalan pertigaan Karanglo untuk Mengurai kemacetan Lawang-Malang. Tesis : Program Pasca Sarjana Teknik Sipil ITN Malang. Pembimbing I Dr. Ir. Sutanto Hidayat, MT, Pembimbing II Dr. Ir. Subandiyah Azis, CES Penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap kemacetan dan waktu tempuh. Analisis teknis yang digunakan adalah menjaring pendapat responden (kuisoner) serta melaksanakan observasi langsung di lokasi penelitian. Data diolah menggunakan analisis faktor dan analisis patch dengan bantuan software Statistical Package and Service Solution (SPSS 2016). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel yang signifikan dan sangat mempengaruhi kemacetan dan waktu tempuh dari Lawang-Malang adalah penambahan jumlah lajur dan pembangunan jalan alternatif (X6) 56,805% hambatan samping (X3) 67,688%, dan U-turn (X4) 56,722%. Jaringan jalan yang memadai sebagai salah satu kebutuhan untuk mendukung kegiatan kelancaran ekonomi, informasi, teknologi di suatu daerah. Jalan Lawang-Malang adalah ruas jalan arteri primer, sehingga kecepatan rencana adalah 60 km / jam, kapasitas lalu lintas harian rata-rata jumlahnya besar, lalu lintas jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas lokal, akses jalan masuk harus dibatasi, jalan arteri primer yang memasuki perkotaan dan atau pembangunan kota tidak boleh terputus. Volume lalu lintas harian rata-rata maksumum jalan arteri primer adalah 0,85. Ini berarti bahwa sebelum volume lalu lintas mendekati kapasitas jalan arteri primer, harus dilakukan peningkatan dengan pelebaran jalan, menambah jumlah lajur, membuat jalan alternatif atau fly over. Jarak antara bukaan dari jalur samping ke jalan arteri primer minimal 1 km, ke jalan arteri sekunder minimum 0.50 km. Jarak persimpangan jalan arteri primer minimal 3 km dan untuk jalan arteri sekunder minimum 1 km (Manual Kapasitas Jalan Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh langsung terhadap kemacetan dan waktu tempuh di pertigaan Karanglo. Kata kunci: jalan, kemacetan, Lawang-Malang, waktu tempu

    PENGARUH AKTIVITAS KEPROFESIAN, KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DAN KEIKUTSERTAAN DALAM DIKLAT TERHADAP KINERJA GURU SMP DI KABUPATEN KEBUMEN

    No full text
    The study aims to determine: (a) The influence of professionalism activity, principal leadership and participation in training on teacher performance. (b) The influence of professionalism activity on teacher performance. (c) The Influence of principal leadership on teacher performance. (d) The influence of participation in education and training on teacher performance.The study was conducted in Kebumen in the school year 2013/2014. The study uses a quantitative approach with a survey method. The technique of collecting data through questionnaires to study the form of a questionnaire instrument. Sample was 121 teachers on Junior High School teachers in ninth Sub-Rayon, Gombong, Kebumen Residence. Sampling technique in this study is proportional random sampling technique.The results showed that: (a) if teachers often carry out activities of professionalism, leadership learning principals and teachers performed well often follow the training activities can provide a very significant influence on the performance of teachers with effective contribution of 34.7%. (b) the teachers professionalism activities give effective contribution of 9.47% and the relative contribution of 27.32% on teacher performance. (c) the principal's leadership influence with the lowest effective contribution of 7.07% and the relative contribution of 20.40% on teacher performance. (d) participation in education and training provide the most impact on the performance of teachers with the effective contribution of 18.12% and 52.28% relative contribution

    Analisis Citra dan Positioning Bank X dan Bank Pesaingnya Serta Implikasinya Bagi Strategi Pemasaran Bank X

    Full text link
    Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Kebijakan PAKTO 88 telah memacu perkembangan industri perbankan nasional. Dari jumlah bank yang semula (tahun 1988) sebanyak 111 bank meningkat menjadi 240 bank pada tahun 1995. Demikian pula jumlah kantor bank meningkat pesat dari 1.728 kantor pada tahun 1988 menjadi 5.288 kantor pada tahun 1995. Perkembangan perbankan nasional juga dibuktikan dengan pertumbuhan pesat finansial perbankan nasional seperti asset, penghimpunan dana pihak ke tiga dan kredit yang disalurkan. Pemberian peran yang lebih besar kepada bank swasta nasional dalam kebijakan tersebut telah dimanfaatkan dengan baik oleh bank-bank swasta nasional yang meningkat dengan tajam. Sembilan tahun sudah perjalanan PAKTO 88 yang diwarnai dengan persaingan yang semakin tajam pada industri perbankan nasional. Terjadi pergeseran pangsa pasar (dana pihak III dan kredit) dari bank pemerintah ke bank swasta terlihat dari pertumbuhan finansial bank-bank pemerintah lebih lambat atau tidak secepat bank swasta. Hasil riset PT.Nielsen Survey Research Indonesia (SRI) menyatakan terjadi pergeseran minat konsumen dari bank pemerintah ke bank swasta. Demikian pula halnya atas pangsa pasar Bank X yang dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Dari kondisi tersebut, timbul suatu pertanyaan mengapa terjadi pergeseran tersebut, dan mengapa bank-bank swasta tumbuh lebih cepat dibandingkan bank pemerintah. Bagaimana perilaku atau persepsi konsumen/nasabah dalam memilih bank. Tujuan penelitian ini adalah mencari jawaban atas masalah tersebut di atas, yaitu : (1) Menganalisis atau mengetahui citra dan positioning Bank X dan bank pesaingnya berdasarkan persepsi konsumen (2) Menganalisis atau mengetahui hubungan status demografi dengan persepsi konsumen dalam memilih bank. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat diimplikasikan ke dalam strategi pemasaran Bank X untuk lebih efektif dalam mengatasi persaingan, lebih berorientasi pada kebutuhan dan keinginan konsumen, dengan tujuan akhir menigkatkan pangsa pasar Bank X. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey, dan menggunakan dua alat analisis yaitu (1) Analisis Tabulasi Silang dan Perbandingan Antar Bank, untuk mengetahui citra masing-masing bank, dan (2) Analisis Scoring Coeffcients Estimated by Regression (SCER) untuk menjabarkan posisi masing-masing bank pada peta persepsi konsumen. Analisis SCER mengguna-kan program komputer. Penelitian dimaksud antara lain untuk mengetahui persepsi atau penilaian konsumen tentang bank dengan 9 atribut bank, yaitu : (1) Lokasi bank dekat rumah/kantor (2) Pelayanan ramah, profesional dan cepat (3) Kredibilitas (4) Fasilitas teknologi/ATM (5) Status bank pemerintah (6) Hadiah/bonus (7) Popularitas (8) Bunga simpanan bersaing, dan (9) Bunga kredit bersaing. Dari hasil analisis diketahui bahwa bank yang paling banyak dikenal adalah BCA, sedangkan urutan ke dua, tiga dan empat masing-masing diduduki oleh Bank X, Lippo dan BRI. Sangat dikenalnya BCA dapat dijelaskan dari persepsi konsumen mengenai atribut BCA yang lebih unggul, lebih sering beriklan dan merata disetiap media iklan, serta produknya lebih inovatif, lebih diminati dan lebih memenuhi kebutuhan konsumen dibandingkan dengan bank lain. Menurut persepsi konsumen bahwa Bank X termasuk urutan ke 8 (delapan) dari bank-bank yang sering beriklan. Agar citra Bank X lebih membekas di benak konsumen, media iklan yang digunakan harus menyesuaikan urutan prioritas media iklan yang digunakan bank dan yang sering ditangkap di benak konsumen yaitu melalui televisi, surat kabar, majalah, media indoor dan outdoor. Iklan Bank X perlu menekankan pada kelebihan atribut kredibilitas karena berstatus bank pemerintah dengan jaringan cabang dan ATM yang luas atau mudah dijangkau. Kualitas produk Bank X terutama produk-produk andalan agar terus diperbaiki, dimodifikasi atau didaur ulang, menciptakan produk-produk baru (inovasi) untuk lebih memanjakan konsumen dengan kemudahankemudahan bertransaksi khususnya di sektor ritel yang menjadi fokus bankbank pesaing. Bila perlu Bank X membentuk suatu unit imagineering untuk mencari dan memanfaatkan peluang-peluang bisnis dan menciptakan produk-produk riteI baru yang non tradisional. Dari persepsi konsumen, maka urutan kepentingan atribut bank yang menjadi pertimbangan daiam memilih bank adalah (1) Lokasi, (2) Peiayanan, (3) Kredibilitas, (4) Fasilitas teknologi/ATM, (5) Bunga simpanan, (6) Status bank pemerintah, (7) Hadiah/bonus, (8) Popularilas dan (9) Bunga kredil. Terdapal kecenderungan bahwa dalam memilih bank sebagai bank utama mereka menginginkan alau akan memilih bank yang dapal menawarkan bunga lebih bersaing, lebih kredibel, berstatus bank pemerintah, yang populer dan dapat memberikan hadiah/bonus. Mereka bersedia mengorbankan atribut lainnya yailu fasililas teknologi/ATM, lokasi dan pelayanan, dalam arti lebih rendah kualitasnya. Dengan demikian atribul hadiah/bonus menjadi salah satu tuntutan nasabah, oleh karena itu Bank X sudah harus mulai menciptakan produk pengganti unluk memenuhi tuntutan tersebut. Posisi Bank X sebagai bank utama yang kredibel perlu dipertahankan dengan pemberian fasilitas-fasilitas lebih seperti bunga khusus, pelayanan prima/lambahan kepada nasabah utama. Namun demikian Bank X lerposisi sebagai bank yang lemah dalam mutu pelayanan, untuk itu diperlukan usaha-usaha unluk memperbaiki mulu pelayanannya. Selain itu Bank X juga terposisi sebagai bank dengan tingkat bunga simpanan yang kurang bersaing. Posisi tersebut dapal diperbaiki dengan pemasangan papan tarip bunga yang informalif, dan petugas tidak segan-segan menjelaskan keuntungan dari sistim perhitungan bunga berdasarkan saldo harian dibandingkan dengan sistim saldo terendah rata-rata yang dianut oleh bank lain

    POTENSI PEMBANGUNAN PLTMH SUMBER JERUK DESA KARANGSUKA KEC. PAGELARAN KAB. MALANG

    No full text
    PLTMh (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Desa Karangsuko Kec. Pagelaran Kab. Malang merupakan desa yang mempunyai banyak sumber air, antara lain Sumber Taman, Sumber Suko dan Sumber Jeruk. Sumber air yang sudah dimanfaatkan sebagai penghasil listrik adalah sumber maron dengan menghasilkan listrik sebesar 22 KW, dimana listrik yang dihasilkan dimanfaatkan oleh BPAB&S untuk menjalankan 2 buah pompa air dan warung-warung atau kios-kios yang ada di sekitar tempat wisata sumber maron. Pompa air tersebut berfungsi untuk memindahkan air dari sumber maron ke beberapa tandon, masyarakat mendapatkan air bersih dari jaringan tandon ke rumah-rumah penduduk. Permasalahan saat ini adalah masih ada 1 buah pompa air yang masih disupply PLN, sehingga tiap bulan pihak pengelola harus membayar ke PLN sekitar Rp. 15.000.000,-. Sementara kurang lebih berjarak 500 meter dari lokasi PLTMh yang ada saat ini, ada sumber air yang bernama sumber jeruk yang sepintas debitnya lebih besar dari sumber maron. Berdasarkan hipotesa, di lokasi sumber jeruk berpotensi dibangun sebuah pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Sebelum dibangunnya suatu PLTMh, maka dibutuhkan studi kelayakan (Feasibility Study) untuk melihat secara teknis dan ekonomis apakah sebuah PLTMh layak atau tidak layak untuk dibangun. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk membuat feasibility study pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan melakukan mengidentifikasi potensi sumber daya air dan menilai tingkat kelayakan. Metode yang digunakan adalah metode PRA (Participatory Rapid Appraissal), yakni metode pemberdayaan yang bersifat Partisipatif dan Bottom-up Approach, yaitu dengan melakukan kegiatan pengukuran kondisi hidrologi, pemilihan lokasi dan layout dasar, desain teknik PLTMh. Hasil simpulan berdasarkan pengukuran dan perhitungan diperoleh Debit desain (Q) = 1,10 m3/dt, tinggi jatuh gross (H) = 6,00 m, Daya terbangkit (P) = 50,00 kWatt

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore