1,721,076 research outputs found

    PERILAKU LANSIA DALAM KEPESERTAAN POSYANDU LANSIA DIDUSUN KLOWOK LOR DESA KEMPOKO KEC KRANGGAN KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2003

    Full text link
    Dusun Klowok Lor, secara demografis mempunyai penduduk yang terdiri atas 142 kepala keluarga, dengan jumlah penduduk 588 jiwa, dan dari jumlah tersebut 72 orang adalah penduduk lansia, dimana mereka sebagai anggota dan pengguna Posyandu lansia yang berada didusun tersebut. Kondisi kesehatan lansia rata-rata kurang baik, yaitu 33 orang (45,83%) mengalami gangguan kesehatannya (penyakit Degeratif). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai perilaku lansia dalam pelaksanaan Posyandu lansia di dusun Klowok Lor desa Kemploko kecamatan Kranggan Kabupaten Temanggung tahun 2003. Jenis penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan datanya menggunakan teknik : Observasi, Indepth Interview dan Focus Group Discussion (FGD) dan dianalisis dengan menggunakan "Contents Analisis". Hasil penelitian menunjukkan perilaku manusia dalam pelaksanaan posyandu lansia didusun Klowok Lor belum berjalan sesuai "Sistim lima meja", kegiatan Posyandu Lansia lebih banyak sebagai "Pos Pengobatan" karena keterbatasan sarana dan prasarana terutama fasilitas untuk laboratorium sederhana, dan belum adanya petugas laboratorium serta belum terampilnya kader yang ada. Hal ini disebabkan ketidaktahuan lansia sebagai pengguna tentang fungsi dan program posyandu yang tidak hanya sekedar sebagai pos pengobatan. Posyandu dilaksanakan sebulan dua kali, yaitu setiap hari senin dan rabu pada minggu ke empat. Mengenai kehadiran, keaktifan, keikutsertaan dan motifasi lansia untuk datang ke posyandu sudah dapat dikatakan baik hal ini diketahui setiap ada pelaksanaan posyandu banyak lansia yang hadir yaitu rata-rata 66%. Namun masih ada beberapa lansia, yaitu 5-15 orang (34%)sebagai pengguna posyandu yang belum secara teratur aktif datang ke posyandu, dimana hal ini disebabkan kerena sering lupa jadual bila ada pelaksanaan posyandu setiap bulannya dan adanya kesibukan bekerja diladang atau disawah. Lansia sebagai pengguna posyandu merasa sangat membutuhkan keberadaan posyandu karena pelayanan diposyandu dirasa sangat murah dan menolong bagi golongan ekonomi menengah ke bawah, hal ini juga mendapat dukungan dari keluarga, kader kesehatan, dan tokoh masyarakat setempat. Adapun dukungan dari tokoh masyarakat hanya sebatas menjalankan dukungan moril dan memberikan motivasi agar lansia tetap aktif untuk datang ke posyandu lansia. Tetapi mereka tetap menginginkan Posyandu untuk ditinggatkan lebih maju. Sedangkan pembinaan Posyandu selama ini dari UPKM/CD RSK "Ngestiwaluyo" Parakan, sedangkan puskesmas hanya memantau dari laporan kegiatan Posyandu setiap tiga bulan sekali dari Ketua Badan Penyelenggara Pengembangan Masyarakat (BPPM) dusun Klowok Lor. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki permasalahan tersebut adalah dengan memberikan masukan pada dinas kesehatan dan pemerintah daerah serta pelaksana proyek UPKM/CD RSK "Ngestiwaluyo" Parakan untuk memberikan pelatihan dan pembinaan kader kesehatan lansia serta memberikan pembinaan kesehatan pada lansia melalui penyuluhan kesehatan lansia dengan tujuan mempunyai Stategic exist dan posyandu lansia menjadi mandiri dengan program-program yang lebih kearah kontinuitas. Kata Kunci: Perilaku Lansia, Posyandu Lansia IN 2003, THE OLD PEOPLE BEHAVIOUR IN THE PEOPLE POSYANDU IN KLOWOK LOR, KEMPLOKO VILLAGE KRANGGAN TEMANGGUNG Demographical,population in Klowok Lor Village of 142 the family leader with the totality is 588 people with 72 Old People as member and user of Old People Posyandu in this Village.The approximately of the old people condition in not good(33 people or 45.63% have degenerative disease) The purpose of this resort to know more of old People Behaviour in the Old People Posyandu in Klowok Lor Village,Kemloko Kranggan Temanggung at 2003.This resort with the qualitative which the technical data record are:Observation,Indepth Interview and Focus Group Discussion and have analizedused the "Content Analysis".The result of this resort showed that Old People Behaviour in Old Posyandu in Klowok Lor not yet realized accordingwith"Five Table System",the most of Old People activities as "injury Post" because of limit of the simple laboratory facilities,and not yet the Laboratorial,the Cardes professional.In this case caused the Old People unknow as user of function and the Posyandu programmed which just no as the Injury Post.Posyandu has been done 2 times of mont a month(fourth week in Monday and Wennesday).The attention of the Old People of theabsention,activation,the following and the Old People motivation to go to Posyandu is better.This is know from the average of Old People presentation in every posyandu is 66 %.But about 5 to 15 (34 %) old people as the pasives Posyandu user caused remember of the Posyandu schedule and their activity in field factors.Posyandu is very important to the Old People as Posyandu user because the it has given good services,cheaper and especially has helped the community with the economic status is middle to low,the family,health cardes and the community figure have given good respect of it.Although the spirit of community figures just given moral spirit and motivation so they are active to follow the Old People Posyandu.But they wanted to improve it.in the other hand the Posyandu conduction of UPKM/CD"Ngesti Waluyo"Christian Hospital has been done and the Puskesmas (The Health Community Center)controling of the report Posyandu activity ance in 3 time of the Organizer Developing Human Leader(BPPM)in Klowok Lor. The way to improve this case is give idea to the health and regional Goverment Departement and projector of UPKM/CD"Ngesti Waluyo" Christian Hospital to give the cadre,s exercises and conduction to Old People with the purpose is they could have Strategic exist and could do this sustain by themselves. Keyword: The Old People Behaviour, The Old People Posyand

    PENGARUH FREKUENSI PENYULUHAN GIZI TERHADAP KEPATUHAN GIZI TERHADAP KEPATUHAN DIIT DALAM PENURUNAN KADAR GULA DARAH (studi Pada Penderita Diabetes Mellitus di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Wonogiri)

    Full text link
    Di RSUD Kabupaten Wonogiri jumlah penderita Diabetes Mellitus dirawat inap pada tahun 2000 sejumlah 282 pasien. Pengelolaan Diabetes Mellitus meliputi pelayanan medis, asuhan keperawatan, asuhan diit, dan penyuluhan gizi. Penyuluhan gizi yang diberikan mengetahui untuk menyadarkan pendertia agar dapat mematuhi diit yang harus dijalankan. Meningkatnya frekuensi penyuluhan gizi akan berakitab bertambahnya informasi yang diperoleh sehingga akan berpengaruh terhadap kepatuhan diit. System penaripan penyuluhan gizi di RSUD Kabupaten Wonogiri didasarkan pada kelas perawatan dan frekuensi penyuluhan gizi. Frekuensi penyuluhan gizi didasarkan atas permintaan dokter, perawat, pasien atau keluarganya dan pertimbangan lain dari petugas gizi ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi penyuluhan gizi terhadap kepatuhan diit dalam rangka penerunan kadar gula darah penderita Diabetes Mellitus di rawat inap RSUD Kabupaten Wonogiri. Metode penelitian adalah survei yang bersifat explanatory. Variabel bebas frekuensi penyuluhan gizi, variabel terikat penurunan kadar gula darah puasa dan 2 jam post prandial, variabel antara kepatuhan diit. Pengambilan data dengan cara wawancara, penelusuran dokumen, recall 24 jam. Populasi sample semua penderta Diabetes Mellitus di rawat inap RSUD Kabupaten Wonogiri pada bualn Mei-Juni 2001. sample ditentukan secar poposive dengan jumlah 30 responden dan dengan criteria tertentu. Pengolahan dat dengan komputer SPSS 8.0. uji statistik dirunakan regresi linier sederhana dengan tingkat kemaknaan 5%. Dari analisis didapatkan hasil sebagai berikut: rata-rata frekuensi penyuluhan gizi mendekati 3 kali. Rata-rata skor kepatuahn diit 230,7 skor maksimal 300, minimal 130, SD 56,8. Rata-rata penurunan kadar gula darah puasa 147,7 mg/dl, penurunan maksimal 261,5 mg/dl, minimal 61,4mg/dl,SD 59,1. rata-rata penurunan kadar gula darah 2 jam PP 133,3 mg/dl, penurunan maksimal 258,7 mg/dl minimal 51,9 mg/dl,SD 61,2. ada pengaruh frekuensi penyuluhan gizi terhadap kepatuhan diit. Ada pengaruh kepatuhan diit. Ada pengaruh kepatuhan diit terhadap penurunan kadar gula darah puasa dan 2 jam PP. Dari hasil penelitian penneliti menyaranakn sebagai berikut: pemantauan kadar gula darah puasa dan 2 jam PP penderita Diabetes Mellitus selama perawatan di Rumah Sakit dalam kurun waktu minimal sepuluh hari perlu dilestarikan, karena sangat bermanfaat untuk memantau keberhasilan pengelolaan Diabetes Mellitus yang terlah dilakukan. Frekuensi penyuluhan gizi perlu dilakukan >= 3 kali sehingga penderita akan mengerti dan faham tentang maksud penyuluhan yang diberikan, selain merupakan sarana evaluasi. Kata Kunci: PENYULUHAN, DIIT, KADAR GULA DARA

    Relevansi Kurikulum Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan Kebutuhan Dunia Industri

    No full text
    Penelitian ini memiliki 2 tujuan, pertama mengetahui tingkat relevansi Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri di wilayah DI Yogyakarta. Kedua mengetahui tingkat keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan mengacu kepada standar proses permendiknas no 41 tahun 2007. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini terdiri dari dua jenis populasi yaitu industri yang bergerak di bidang teknik bangunan sipil di DI Yogyakarta yang berjumlah 140 industri dan guru Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta yang berjumlah 9 orang. Sampel untuk industri diambil menggunakan teknik purposive random sampling dengan jumlah sampel 35 industri. Untuk guru, semua populasi diambil sebagai sampel. Instrumen untuk industri dan guru menggunakan angket yang dikirim secara langsung dan via pos. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistik deskriptif dengan bantuan paket program Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) relevansi antara kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri dalam kategori sangat relevan dengan prosentase sebesar 83,95%; dan (2) keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta berdasarkan permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang standar proses dalam kategori sangat baik dengan prosentase sebesar 85,42%

    Analisis Peran dan Tugas Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Temanggung Tahun 2011

    Full text link
    Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Administrasi dan Kebijakan Kesehatan 2012 ABSTRAK Suwarsono Analisis Peran dan Tugas Kader Posyandu dalam Pelaksanaan Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Kabupaten Temanggung Tahun 2011 xiv + 153 halaman + 16 tabel + 4 gambar + 38 lampiran Meningkatnya umur harapan hidup (UHH) penduduk Indonesia secara nasional mempunyai dampak meningkatnya populasi penduduk lansia dari 71,2% pada th 2000 yang meningkat 72,9% pada th 2010. Dengan meningkatnya populasi penduduk lansia memunculkan masalah kesehatan pada kelompok lansia, khususnya masalah penyakit yang disebabkan faktor degeneratif. Cakupan pelayanan kesehatan lansia di Kabupaten Temanggung, yaitu 6,97 % dibawah target cakupan Provinsi Jawa Tengah (70 %) pada tahun 2009 dan masih jauh dibawah wajib standar pelayanan minimal (SPM) kesehatan kabupaten/kota, yaitu 80 %.Rendahnya cakupan ini disebabkan oleh peran dan tugas kader di Kabupaten Temanggung yang kurang optimal. Tujuan penelitian untuk menganalisis peran dan tugas kader posyandu dalam pelaksanaan posyandu lansia di wilayah kerja puskesmas Kabupaten Temanggung. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Informan utama adalah 6 orang kader koordinator dan informan triangulasi sebanyak 15 orang terdiri dari 6 orang bidan koordinator, 6 orang lansia, 2 orang Ka.Puskesmas dan 1 orang Ka.Sie Yankes DKK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kegiatan yang tidak dilakukan oleh kader meliputi penyuluhan kesehatan, pengisian indeks massa tubuh (IMT) pada KMS, pengisian buku pemantauan kesehatan pribadi dan aktivitas senam lansia. Peran dan tugas kader dalam menggerakkan masyarakat, membantu petugas kesehatan , mengelola pertemuan bulanan kader dan mengelola pelaporan bulanan posyandu yang sudah berjalan dengan baik, yaitu sudah dilakukan sesuai pedoman pelaksanaan posyandu lansia. Upaya yang dapat dilakukan pemerintahan desa sebagai penanggung jawab posyandu di daerahnya, yaitu melengkapi sarana/fasilitas posyandu. Perlu adanya kebijakan dari DKK dan puskesmas dalam mengalokasikan dana BOK (bantuan operasional kesehatan) yang dapat dimanfaatkan untuk pembinaan melalui pelatihan maupun uang transport bagi kader. Untuk bidan, puskesmas dan DKK hendaknya melakukan pembinaan secara rutin melalui pelatihan dan penyegaran kepada kader posyandu lansia. Kata kunci : Posyandu Lansia, Peran dan Tugas Kader Kepustakaan : 33, 1995 – 2011 Diponegoro University Postgraduate Program Master’s Program in Public Health Majoring in Health Policy Administration 2012 ABSTRACT Suwarsono Analysis on Roles and Tasks Role of Health Cadres in the Implementation of Elderly's Integrated Health Service Post (POSYANDU) in Working Area of Temanggung District Health Office 2011 Xiv + 153 pages + 16 tables + 38 enclosures Increasing the national life expectancy (UHH) of Indonesian people had impact on increasing the proportion of the elderly, which was 71.2% in 2000 to 72.9% in 2010. The increase of elderly population raised health problems in the elderly specifically problems of diseases caused by degenerative factors. Health service coverage for the elderly in Temanggung district was 6.97; it was below the Central Java province target coverage (70%) in 2009, and it was far below district/city compulsory minimum service standard (SPM) of health, namely 80%. This low coverage was caused by less optimum of the roles and tasks of cadres in Temanggung district. The objective of this study was to analyse roles and tasks of the integrated health service (posyandu) cadres in the implementation of elderly’s posyandu in the work area of primary healthcare centres in Temanggung district. This was a descriptive study with qualitative method. The main informants were 6 coordinator cadres; triangulation informants were 15 people: 6 coordinator midwives, 6 elderly people, 2 heads of primary healthcare centres, and 1 head of health service section the district health office. Results of the study showed that some activities were not implemented by cadres such as health education, body mass index filling in the KMS, individual health book filling, and elderly sport activity. Roles and tasks of cadre in actuating the community, in helping health workers, in managing monthly cadre meeting, and in managing posyandu monthly report were done according to the implementation guideline for the elderly’s posyandu. Efforts that can be done by village government responsible for posyandu are to complete posyandu facility. Policies made by district health office and primary health centres are needed for health operational support (BOK) funding allocation. This funding is used for training or transport incentive for cadres. Midwives, primary healthcare centres, and district health office are suggested to conduct routine training and refreshing for cadres of posyandu for the elderly. Key words : Posyandu for the elderly, roles and task of cadres Bibliography : 33, 1995-201

    Perencanaan korporat, dulu, dan sekarang

    Full text link
    Tulisan ini hendak mencoba mengamati perkembangan terakhir sejarah evolusi perencanaan korporat (corporate planning). Untuk keperluan itu, tulisan ini memberikan perhatian kepada faktor semakin sulitnya implementasi strategi yang telah dirumuskan. Jarak antara rumusan dan implementasi semakin jauh

    Relevansi kurikulum teknik gambar bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui tingkat relevansi Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri di DI Yogyakarta. Kedua mengetahui tingkat keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian yaitu industri di DI Yogyakarta yang berjumlah 140 industri dan guru Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta yang berjumlah 9 orang. Sampel untuk industri diambil menggunakan teknik purposive random sampling dengan sampel 35 industri. Untuk guru, semua populasi diambil sebagai sampel. Instrumen untuk industri dan guru menggunakan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) relevansi antara kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri dalam kategori sangat relevan; dan (2) keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dalam kategori sangat baik. RELEVANCE OF BUILDING ENGINEERING CURRICULUM SMKN 3 YOGYAKARTA WITH THE NEEDS OF INDUSTRYAbstractThis research has two purposes; first, to determine the level of curriculum relevance of Building Engineering of SMKN 3 Yogyakarta with the needs of industry in the region of Yogyakarta. Second, to determine the level of curriculum feasibility of Building Engineering of SMKN 3 Yogyakarta. This research is a descriptive study. The research population consists of two types, industries engaged in civil construction engineering in DI Yogyakarta, amounting to 140 industries and namely teachers of Building Engineering SMKN 3 Yogyakarta, amounting to 9 people. For industries, samples were taken using a purposive random sampling with a sample of 35 industries. For the teachers, all population was taken as the sample. Instruments for industries and teachers were a questionnaire which was sent directly and via post. Data analysis technique used is descriptive statistics with the help of Microsoft Excel package.The results show that: (1) the relevance of curriculum competencies building Engineering expertise SMKN 3 Yogyakarta with the needs of industry is in the very relevant category, and (2)curriculum feasibility of building Engineering SMKN 3 Yogyakarta based on Permendiknas number 41 of 2007 on a standard process is in very good category

    Water Turbine Simulation using Autodesk Simulation CFD

    Full text link
    The need on electricity increases annually while its supply decreases, meanwhile power plant has not increased. Process of building microhydro power plant needs scientifically experience and more time to give suitable result as it designed. Sengkaling Cross-flow Microhydro power plant resulted inappropriate electricity power compare with designed power plant. The design is mostly not in accordance with planned calculation. It is caused by the engineer who is not considering surrounding condition. Therefore, simulation is very important to be conducted that it only needs short time to the design maximally arranged. By simulation, building and assembling process can be conducted faster and decreases error risks. Simulation for this research used AUTODESK SIMULATION CFD

    Water Turbine Simulation using Autodesk Simulation CFD

    No full text
    The need on electricity increases annually while its supply decreases, meanwhile power plant has not increased. Process of building microhydro power plant needs scientifically experience and more time to give suitable result as it designed. Sengkaling Cross-flow Microhydro power plant resulted inappropriate electricity power compare with designed power plant. The design is mostly not in accordance with planned calculation. It is caused by the engineer who is not considering surrounding condition. Therefore, simulation is very important to be conducted that it only needs short time to the design maximally arranged. By simulation, building and assembling process can be conducted faster and decreases error risks. Simulation for this research used AUTODESK SIMULATION CFD.</jats:p

    RELEVANSI KURIKULUM TEKNIK GAMBAR BANGUNAN SMKN 3 YOGYAKARTA DENGAN KEBUTUHAN DUNIA INDUSTRI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui tingkat relevansi Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri di DI Yogyakarta. Kedua mengetahui tingkat keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dari penelitian yaitu industri di DI Yogyakarta yang berjumlah 140 industri dan guru Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta yang berjumlah 9 orang. Sampel untuk industri diambil menggunakan teknik purposive random sampling dengan sampel 35 industri. Untuk guru, semua populasi diambil sebagai sampel. Instrumen untuk industri dan guru menggunakan angket. Teknik analisis data yang digunakan yaitu statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) relevansi antara kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dengan kebutuhan dunia industri dalam kategori sangat relevan; dan (2) keterlaksanaan Kurikulum kompetensi keahlian Teknik Gambar Bangunan SMKN 3 Yogyakarta dalam kategori sangat baik. Kata kunci: relevansi kurikulum, keterlaksanaan kurikulu
    corecore