1,726,512 research outputs found
STRATEGI PEMBELAJARAN PAI DI SD SUPRIYADI
Penelitian dilakukan untuk mendeskripsikan bagaimana strategi pembelajaran PAI di SD Supriyadi. Terdapat tiga rumusan masalah yang diangkat yakni ;(1) Bagaimana proses pembelajaran PAI di SD Supriyadi, (2) Bagaimana strategi pembelajaran guru PAI di SD Supriyadi. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat kualitatif dengan metode pengambilan data wawancara, observasi dan dokumentasi, berlokasi di SD Supriyadi Semarang. Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses pembelajaran PAI di SD Supriyadi meliputi pertama perencanaan pembelajaran yang dilakukan dengan membuat silabus dan RPP sebelum melaksanakan pembelajaran. Kedua pelaksanaan pembelajaran yang terdiri dari tiga tahap yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup. Ketiga penilaian pembelajaran yang meliputi tiga aspek yaitu penilaian sikap, pengetahuan dan ketrampilan. Sedangkan strategi pembelajaran guru PAI di SD Supriyadi meliputi pertama blended learning yang dilakukan dengan cara pembelajaran tradisional dan pembelajaran modern, kedua pemberian tugas kepada siswa baik tugas individu maupun tugas kelompok, ketiga web based learning (WBL) yang dilakukan baik ketika pembelajaran di sekolah dengan mengerjakan tugas melalui google form ataupun pembelajaran yang dilakukan secara online, dengan cara mengerjakan tugas melalui google form, keempat pembelajaran sistem online yang dilakukan ketika pandemi covid-19 dan dilakukan dengan jarak jauh.
Kata Kunci : Strategi ; Pendidikan Islam; Pembelajaran PA
KREATIVITAS SUPRIYADI PUJA WIYATA DALAM KARYA TARI TOPENG DEGERAN
Topeng Dégéran merupakan karya tari yang diciptakan Supriyadi
Puja Wiyata berdasarkan fenomena adanya tari topeng di Banyumas.
Penelitian ini bertujuan mengetahui kreativitas Supriyadi Puja Wiyata
dalam tari Topeng Dégéran yang di dalamnya dijelaskan mengenai
kesenimanan Supriyadi Puja Wiyata yang berpengaruh terhadap
kreativitasnya dalam menciptakan tari Topeng Dégéran.
Tujuan lain pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk
tari Topeng Dégéran yang dijelaskan menggunakan elemen-elemen dasar
koreografi berdasarkan pendapat dari Sumandiyo Hadi. Kreativitas
Supriyadi Puja Wiyata dijelaskan menggunakan konsep 4P yang
dikemukakan oleh Utami Munandar yaitu pribadi (person), pendorong
(press), proses (process), produk (product). Pada kreativitas ini terdapat
pembentukan gerak tari Topeng Dégéran yang di dalamnya merupakan
suatu aksi dan usaha ketubuhan (effort-shape) yang dilakukan penari.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan bentuk
deskriptif analitik yaitu dengan memberikan deskripsi atau gambaran
dengan cara memaparkan data yang diperoleh di lapangan mengenai
Topeng Dégéran, koreografi Topeng Dégéran, dan kreativitas Supriyadi
Puja Wiyata dalam menciptakan tari Topeng Dégéran.
Hasil penelitian yang diperoleh yaitu kreativitas Supriyadi dalam
tari Topeng Dégéran banyak dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai
penari maupun koreografer. Kreativitas tersebut diwujudkan dalam motif
gerak sembahan, lampah miring, lémbéyan, dan singgetan selut. Gerak-gerak
tersebut terinspirasi dari gerak tari Yogyakarta, Sunda, Surakarta, dan
Jawa Timur, kemudian digarap menggunakan musik tari Banyumas
sehingga muncul rasa Banyumasan yang khas. Kesimpulan pada
penelitian ini yaitu hasil kreativitas Supriyadi yang mengadopsi beberapa
vokabuler gerak ditata dengan nuansa Banyumas.
Kata Kunci : Topeng Dégéran, Supriyadi Puja Wiyata, Kreativitas
Estetika Tari Bongkel Karya Supriyadi
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui estetika tari Bongkel karya Supriyadi, selanjutnya diharapkan dapat memberikan kontribusi dan sudut pandang dari sisi estetis sebuah tari gaya Banyumas karya Supriyadi. Objek tari Bongkel dipilih karena selain tari ini eksis
hingga saat ini juga terdapat dua penari yakni putra dan putri. Perbedaan jenis kelamin penari untuk melihat perbedaan sisi estetis keduanya dalam tari ini. Penelitian ini sebagai pijakan awal peneliti bagi penelitian selanjutnya yang lebih luas mengenai estetika tari Banyumas.
Tari Bongkel diciptakan oleh Supriyadi pada tahun 1986. Tari ini terinspirasi dari kesenian Angklung Bongkel yang terdapat di Purwojati Banyumas. Pertama kali dipentaskan sebagai drama tari Bongkel di sana, akan tetapi selanjutnya menjadi suatu bentuk repertoar tari yang berkembang di
Yogyakarta. Koreografer menghabiskan masa kecil di Purbalingga, Banyumas, kemudian merantau untuk
menempuh pendidikan, bekerja, dan berkarya di Yogyakarta. Pengalaman estetis tersebut mempengaruhi estetika karya tari yang diciptakan.
Penelitian ini dianalisis berdasarkan latar belakang pengetahuan, budaya, dan bekal estetis
Supriyadi sebagai koreografer tari Bongkel. Pembahasan penelitian menyajikan sudut pandang Langer
mengenai citra dinamis, ekspresi, dan kreasi yang terdapat dalam tari Bongkel. Ketiga hal tersebut
secara implisit dituangkan ke dalam aspek pandang dengar, tari Bongkel yang dinamis dan ekspresif,
serta tari Bongkel cerminan masyarakat Banyumas. Prinsip bentuk seni Hayes digunakan untuk membantu
melihat tari berdasarkan bentuknya. Bentuk, ekspresi, dan latar budaya yang ada dalam tari Bongkel
saling terkait satu sama lain. Bentuk tari Bongkel sebagai hal yang pertama kali ditangkap oleh
penonton mengantarkan untuk melihat ekspresi dan latar belakang penciptaan karya ini. Tari Bongkel
yang ekspresif dan dinamis merupakan cerminan dari karakteristik masyarakat Banyumas. Penggunaan
idiom – idiom Banyumas dalam tarian ini menjadi sebuah ciri dan tanda bagi sebuah gaya Banyumas
REINTERPRETASI SUPRIYADI PADA TARI BALADEWA DALAM PERTUNJUKAN LENGGER
REINTERPRETASI SUPRIYADI PADA TARI BALADEWA DALAM
PERTUNJUKAN LENGGER(IVA CATUR AGUSTINA, 2017), Skripsi
Program Studi S-1 Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut
Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Penelitian yang berjudul "Reinterpretasi Supriyadi Pada Tari
Baladewa Dalam Pertunjukan Lengger" menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan etnografi tari. Untuk menjawab
permasalahan tentang bentuk reinterpretasi pada Tari Baladewan
digunakan teori bentuk Suzanne K. Langer. Untuk menjawab
permasalahan tentang kreativitas Supriyadi dalam reinterpretasi Tari
Baladewa digunakan konsep kreativitas Rhodes yang dikutip oleh Utami
Munandar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ide garap serta proses
reinterpretasi Supriyadi pada Tari Baladewa dalam pertunjukan lengger.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengalamannya sebagai penari
maupun koreografer, kreativitas tersebut diwujudkan dalam motif gerak
Tari Baladewan. Gerak-gerak tersebut terinspirasi dari Tari Baladewa
yang terdapat pada lengger dan dipengaruhi oleh ketubuhan Supriyadi
pada tari gaya Yogyakarta, Surakarta, Banyumas dan Sunda. Tari
Baladewan diiringi dengan gending Kulu-Kulu atau Cindung Cina yang
juga merupakan gendhing untuk mengiringi Tari Baladewa dalam
kesenian lengger.
Kata Kunci : Baladewan, Reinterpretasi, Kreativita
Kebijakan Pemerintah China Dalam Industri Game
Gaming industry become a rising star of the entertainment industry nowadays which is
experiencing rapid development with estimated global revenues of 67 billion US $ in 2013.
Beside major gaming industry leader like United States, Japan, and South Korea, China
also build the strong base for gaming development in his country. China nowadays become
one of the global gaming industry manufacturers with a significant increase in its volume of
revenue from year to year. The gaming industry in China able to grow due to the strong
domestic market base, local game development company, and the intensively role of
government through China's various policies related to the gaming industry. Therefore, this
article aims to look at how the role of the Chinese government as one of the major actors
who support the development of the gaming industry in his country through a variety and
impostant of policies that support local gaming company growt
- …
