1,720,962 research outputs found
Pemanfaatan Sampling Gamelan Sebagai Strategi Peningkatan Kualitas Belajar Mahasiswa Dalam Penciptaan Komposisi Karawitan Kreasi
Komposisi Karawitan Kreasi merupakan salah satu dari tiga jenis mata
kuliah Komposisi karawitan di Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan
Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Penciptaan Komposisi Karawitan Kreasi
menitikberatkan pada unsur kreativitas sehingga capaian dari mata kuliah ini
merupakan bentuk, kemasan maupun nuansa baru dari karya seni karawitan yang
pernah ada sebelumnya. Asah kreativitas bagi mahasiswa dalam mengolah bahan
yang sudah ada membutuhkan ruang dan media yang relevan dan sesuai trend
pembelajaran generasi millenial yang barbasis teknologi.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas belajar mahasiswa
Program Studi S-1 Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia
Yogyakarta dalam mata kuliah Komposisi Karawitan Kreasi. Untuk menelusuri
efektivitas pemanfaatan sampling gamelan dalam pembelajaran, maka metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tindak kelas atau Classroom Action
Research. Peningkatan kualitas belajar dapat dilihat dari kualitas hasil
pengumpulan tugas penciptaan pola ritme maupun melodi sebagai pengembangan
dari substansi musikal sumber karya yang diacu. Berdasarkan hasil tersebut, dapat
disimpulkan bahwa penggunaan sampling gamelan dapat meningkatkan kualitas
Hasil Belajar mahasiswa dalam penciptaan Komposisi Karawitan Kreas
Ragam Kendangan Jogedan dalam Wayang Wong Golek Menak Gaya Yogyakarta Lakon Bedhahing Ambarkustub: Garap dalam Iringan Tari
Penelitian ini ini bertujuan untuk mengungkap beberapa hal dan permasalahan mengenai ragam kendangan jogedan wayang wong menak gaya Yogyakarta mengingat bahwa kemunculannya memiliki latar belakang yang berhubungan dengan adanya 16 tipe karakter dalam wayang golek menak gaya Yogyakarta. Penelusuran dilakukan melalui pengamatan yang detail terhadap intonasi, artikulasi, aksentuasi dan sekaran pada masing-masing jenis kendangan wayang golek menak dalam hubungannya identifikasi karakter tokoh beserta koreografinya. Bedhahing Ambarkustub merupakan salah satu pethilan cerita wayang golek menak yang digunakan sebagai sample penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Sifat kualitatif dalam penelitian ini adalah untuk memaparkan adanya ragam kendangan jogedan beksa golek menak gaya Yogyakarta melalui penelusuran yang berdasarkan data-data yang otentik sekaligus menguji seberapa jauh garap kendangan jogedan dalam mendukung presentasi pertunjukan seni tari khususnya tari klasik gaya Yogyakarta. Kegiatan observasi akan mengungkap gambaran sistematis terhadap objek yang dipilih yakni wayang wong menak lakon Bedhahing Ambarkustub. Hasil penelusuran ini diharapkan dapat memperluas kajian ilmu karawitan khususnya gending beksan atau karawitan tari. Penulis berharap bahwa melalui penelitian secara mendalam tentang pakem kendangan jogedan menak gaya Yogyakarta ini, maka kelestarian dan perkembangan iringan wayang golek menak dapat berlangsung lebih dinamis This study aims to reveal a number of issues and problems regarding the variety of Yogyakarta-style wayang wong constraints given that its emergence has a background that relates to the existence of 16 types of characters in the puppet show that resemble the Yogyakarta style. The search was carried out through detailed observations of the intonation, articulation, accentuation and current in each type of fearful wayang golek in relation to identifying the character of the character and the choreography. Bedhahing Ambarkustub is one of the great examples of puppet stories used as a sample of this study. The method used in this research is qualitative method. The qualitative nature of this study is to explain the variety of jogedan beksa golek constraints that are Yogyakarta style through search based on authentic data while testing how far the jogedan ride is worked in supporting the presentation of dance performances, especially Yogyakarta style classical dance. Observation activities will reveal a systematic picture of the object chosen, namely the wayang wong, the play of Bedhahing Ambarkustub. These search results are expected to expand the study of karawitan science, especially music beksan or karawitan dance. The author hopes that through in-depth research on the design of the jogedan vehicle to be of the Yogyakarta style, the preservation and development of the great puppet show can take place more dynamicall
Pyang Pyung
Dalam tulisan ini menyebutkan bahwa minoritas peran instrumen kempyang dalam gamelan merupakan potensi yang diolah sedemikian rupa sehingga karya ini merupakan manifestasi keinginan penulis untuk menunjukkan pemaknaan subyektif dari sebuah objek yang kecil sehingga dapat memunculkan potensi yang luar biasa sebagi subyek penciptaan seni musik.Kempyang dan kempyung merupakan dua bentuk perpaduan nada yang dapat disejajarkan untuk saling melengkapi dan sama-sama berperan dalam membangun dinamika dalam musik karawitan melalui efek bunyi, maupun karakter yang mampu diciptakannya. Keduanya merupakan bagian dari substansi dasar dalam karawitan yang berpotensi dimana kontras masing-masing efek suara yang muncul dapat diseimbangkan sesuai dengan persepsi dan orientasi presentasi estetis penulis melalui suatu penciptaan komposisi musik yang memadukan kedua kombinasi tersebut sebagai dua hal yang berlawanan yang saling melengkapi dalam keseimbangan harmoni sebuah komposisi musik nusantara
Penyajian Cokekan Sebagai Repertoar Minimalis Dalam Karawitan Jawa: Sebuah Kajian Aspek Musikalitas
Cokekan merupakan salah satu repertoar minimalis karawitan jawa yang muncul sebagai karawitan barangan, keberadaannya dipengaruhi oleh orientasi praktis pada jumlah dan macam instrumen yang digunakan dalam penyajiannya, jenis instrumen dan penyajian yang berbeda dan repertoar karawitan yang lain merupakan ciri khas bagi cokekan, kekayaan imprivisasi dan spontanitas dari pemain cokekan menjadi keunggulan cokekan dalam mencapai musikalitas yang berkualitas melalui jalinan ekspresi estetis serta komunikasi didalamnya
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pyang Pyung: Sebuah Komposisi Karawitan
Karya seni “Pyang Pyung” ini merupakan apresiasi seni musik gamelan Jawa yang sesungguhnya tidak statis, namun tetap dapat dikembangkan seiring kemajuan zaman. Minoritas kempyang dalam instrumen gamelan merupakan potensi yang diolah sehingga karya ini merupakan wujud dari keinginan penulis untuk menunjukkan makna subyektif dari benda yang begitu kecil sehingga bisa membawa potensi luar biasa sebagai subyek seni dalam penciptaan musik. Adanya polaritas dan estetika antara siliran dan musikalitas kêmpyung sebagai jenis kombinasi dua nada, dipandang oleh penulis sebagai dua titik menarik kontras dalam dinamika penciptaan karya seni, terutama komposisi karawitan. Kêmpyang dan kêmpyung adalah dua bentuk kombinasi nada yang bisa disesuaikan untuk saling melengkapi dan keduanya berperan dalam membangun dinamika musik gamelan melalui efek suara dan karakter yang mampu diciptakan. Keduanya merupakan potensi dari substansi dasar musikal karawitan dimana kontras setiap efek suara yang nampaknya seimbang sesuai dengan persepsi estetika penyajian dan orientasi penulis melalui penciptaan komposisi musik yang menggabungkan kedua kombinasi seperti dua hal berlawanan yang saling melengkapi dalam keseimbangan harmoni komposisi musik nusantara
Kaderisasi dan Peningkatan Kemampuan Pelatih Karawitan di Kelompok Seni Ngudi Laras, Watu Lumbung, Kadiluwih Salam, Magelang
Seni budaya Indonesia yang beragam dalam perkembangannya membutuhkan penguatan, pengembangan, dan inovasi agar tetap diterima dan berkembang kepada generasi penerus bangsa. Pelestarian budaya diupayakan melalui berbagai kegiatan, salah satunya adalah penyuluhan seni karena dalam penyuluhan terdapat proses yang melibatkan langsung antara pemangku kepentingan, akademisi, dan masyarakat secara langsung. Karawitan menjadi salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam tradisi yang khas dan menarik. Tujuan dari penyuluhan seni di bidang karawitan dengan objek kelompok seni Ngudi Laras melalui kaderisasi pelatih, peningkatan kemampuan pelatih, pendampingan dan pelatihan kerawitan, serta publikasi kegiatan sanggar. Metode penyuluhan seni ini menggunakan metode penyuluhan langsung (direct communications), yang digunakan pada waktu berhadapan muka ke muka dengan sasarannya dan berdialog dengan pelatih dan anggotanya. Metode yang langsung ini dianggap lebih efektif, meyakinkan, dan mengakrabkan hubungan antara penyuluh dan sasaran. Penyuluhan seni dengan tajuk “Kaderisasi dan Peningkatan Kemampuan Pelatih Karawitan di Kelompok Seni Ngudi Laras, Watu Lumbung, Kadiluwih, Salam, Magelang” memberikan penerangan atau informasi agar hal-hal yang tadinya belum diketahui ataupun dipecahkan kaitannya dengan problematika di dalamnya agar segera menemukan jalan keluar yang terbaik sehingga kesinambungan aktivitas sanggar tersebut bisa berjalan secara terus-menerus dan mengalami peningkatan yang signifikan
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
- …
