1,722,115 research outputs found
Komunikasi Dalang dalam Konsep Mandala Wiwaha Asep Sunandar Sunarya
This study suggests the findings of field research on communication made by a puppeteer of Wayang Golek Purwa, Asep Sunandar Sunarya. This study is categorized into qualitative research with a phenomenological approach. The result of the study shows that Asep Sunandar Sunarya has performed his communication competencies as a communicative puppeteer. Communication competencies owned by Asep Sunandar Sunarya to the audience is based on his experience which is called the concept of Mandala Wiwaha. The concept of Mandala Wiwaha is a concept of technique, insight, message and audience mastery. The concept of Mandala Wiwaha has made Asep Sunandar Sunarya a famous puppeteer who posses his own “popularity" compared to the other puppeteers. Through this concept Asep Sunandar Sunarya puts the audience as an important part every time he conducts his performance.
Studi tentang tema lukisan Edi Sunarya
Tujuan penulisan untuk mengetahui latar belakang dan macam tema lukisa Edi Sunarya serta hubungannya dengan lingkungan dan pendidikannya. Dalam penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan dan lingkungan pada lukisan Edi Sunarya, disamping faktor lingkungan, tradisi dan kesenian merupakan hal yang dapat mempengaruhi pikiran dalam berkarya. Tema lukisannya bersumber dari nilai-nilai tradisi yang berasal dari Indonesia maupun negara lain, bentuk lukisannya simetris, bertekstur dengan warna yang khas dan bermotif tradisional serta garis yang digunakan garis-garis spontan dengan ketebalan yang berbeda
Eksistensi dinansti sunarya di dunia wayang golek
Wayang golek sunda adalah sebuah seni pertunjukan tradisional yang sudah hidup selama beberapa abad. Mengalami pasang surut. Keberhasilan "Dinasti Sunarya" dalam upaya pelestarian kembali ternyata dilandasi oleh adanya beragam kebaruan sebagai wujud kreasi dan inovasi dari para dalangnya
Pesan dakwah Semar dalam pagelaran Wayang Golek Lakon kitab Sastra Jendra Rahayu Ningrat Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya (Giri Harja III)
Dakwah dapat diartikan sebagai upaya untuk menyerukan ajaran islam, menegaskan, memanggil memohon dan meminta kepada manusia ke jalan yang baik dan benar. Strategi dakwah mestinya memiliki berbagai macam cara agar dapat diterima dengan baik oleh masyarakat agar tidak sepi peminat khususnya generasi milenial yang cenderung gampang bosan. Adanya fenomena ini mendorong pada da’I untuk senantiasa memiliki strategi yang tidak biasa. Contohnya adalah dakwah yang dilakukan oleh Asep Sunandar Sunarya yang fokus mengkolaborasikan antara wayang dengan dakwah. Dengan maksud agar pesan dapat lebih diterima oleh masyarakat, lebih alternatif, dekat dengan masyarakat dan budaya juga menarik perhatian seluruh target tanpa melihat umur, khususnya kalangan yang menyukai dunia peradaban.
Tujuan dari penelitian ini diantarana adalah yaitu : (1) menggambarkan mengenai apa saja yang menjadi materi dakwah Ki Asep Sunandar Sunarya (2) menggambarkan teknis yang digunakan oleh Ki Asep Sunandar Sunarya (3) untuk mengetahui pesan dakwah yang disampaikan oleh Ki Asep sunandar Sunarya dalam pagelaran wayang lakon Kitab Sastra Jedra Rahayu Ningrat.
Dalam penelitian ini berfokus pada pesan yang disampaikan oleh da’I kepada mad’u. penelitian ini menggunakan teori komunikasi model SMCR (Berlo 1960) yang di dalamnya membahas sumber, pesan, media dan penerima.
Hasil dari penelitian ini adalah pembawaan tata bahasa, gaya humoris, dan Gerakan khas yang dimiliki oleh Ki Dalan Asep Sunandar sunarya mampu untuk menjadi metode efektif dalam menyampaikan dakwah karena aspek komunikasi terpenuhi. Seperti sumber yang jelas dengan dalil yang sesuai, pesan yang tersampaikan dengan baik, baik yang disisipkan lewat obrolan secara langsung maupun pesan tersirat. Media yang mendukung yakni wayang golek serta mad’u yang hadir di pertunjukan. Adapun pesan yang terkandung dalam pagelaran wayang yang dibawakan oleh Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya adalah menekankan mad’u untuk senantiasa mengedepankan adab dan akhlak diatas segalanya terutama kepada Allah SWT. Dibalik beradab kepada Allah, Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya juga memberitahu mad’u untuk tidak melupakan adab kepada sesame makhluk di dunia, terutama manusia, hewan, tumbuhan dan alam itu sendiri. Karena apabila kita tidak beradab kepada sesame makhluk, maka esensi kita sebagai manusia yang berakhlak tidak akan terpenuhi
Kimia dasar 1 : berdasarkan prinsip-prinsip kimia terkini/ Sunarya
xiv, 546 hal.; ill, tab.; 23 cm
Makna sosial dalam nilai-nilai budaya Sunda pada setiap Lakon Wayang Golek: Kajian fenomenologis atas Ki Dalang Wisnu Sunarya
Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa Kampung Seni dan Budaya (Kampung Giri Harja) yang terletak di Jelekong, Baleendah, Bandung merupakan daerah terkenal di Jawa Barat yang melahirkan para dalang wayang golek hebat dan mumpuni, salah satunya yakni Ki Dalang Wisnu Sunarya. Wayang golek merupakan seni pertunjukan asli Jawa Barat yang sering kali digunakan untuk menyebarluaskan nilai-nilai budaya Sunda, seperti silih asih, silih asuh, dan silih asah. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna sosial yang terdapat di dalam nilai-nilai budaya Sunda pada setiap lakon wayang golek berdasarkan atas kajian fenomenologis Ki Dalang Wisnu Sunarya.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Interaksionisme Simbolik yang dikemukakan oleh Herbert Blumer, bahwa interaksi secara simbolis menghasilkan tindakan yang mempunyai kesan, pendapat, dan pandangan yang berbeda dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia. Memiliki kesan yang mendalam dari kegiatan manusia mengandung arti bahwa tindakan yang dilakukan tidak dapat dengan mudah dilupakan begitu saja. Di dalam penelitian, pertunjukan wayang golek tidak hanya sebatas menjadi hiburan semata, tetapi menjadi tuntunan pula bagi masyarakat (penonton). Hal ini berdasarkan pada posisi dari manusia (dalang) yang memberikan pesan tersembunyi mengenai isi kandungan nilai-nilai budaya Sunda melalui wayang golek yang dimainkan.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif yaitu menggambarkan atau melukiskan gambar/foto yang didapat dari data lapangan atau peneliti menjelaskan hasil penelitian dengan gambar dan dapat pula menjelaskannya dengan kata-kata. Adapun pendekatan kualitatif yaitu berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa. Sumber data di dalam penelitian diambil dari Ki Dalang Wisnu Sunarya (Dalang Putu Giri Harja), Intan Dumilah Sunarya (Ketua Kompepar Giri Harja), dan masyarakat di lingkungan Kampung Giri Harja, serta ditambah dengan banyaknya sumber bacaan yang menunjang berkaitan dengan objek penelitian.
Dari hasil penelitian ini, diketahui bahwa makna sosial nilai budaya Sunda silih asih, silih asuh, dan silih asah didapatkan melalui pertunjukan wayang golek yang dimainkan Ki Dalang Wisnu Sunarya. Secara sosial politik masyarakat dapat memahami makna nilai budaya Sunda dikarenakan cerita dan tokoh pewayangannya merefleksikan kehidupan sehari-hari. Selain representasi pada tokoh pewayangan, dengan memberikan peluang bagi masyarakat sekitar untuk ikut terlibat menjadi sinden, pemain musik gamelan, dan menjadi crew pertunjukan wayang golek merupakan refleksi dari nilai budaya Sunda pada aspek ekonomi. Adapun makna nilai budaya Sunda pada aspek keagamaan dapat dilihat pada tokoh pewayangan Semar yang diyakini sebagai tokoh masyarakat dan tokoh keagamaan
LAKON “DAWALA JADI RAJA” DALAM PEMENTASAN WAYANG GOLEK DALANG ASEP SUNANDAR SUNARYA (TELAAH FILOSOFIS)
Atas dasar inilah, dalam pembahasan skripsi ini difokuskan untuk
memahami bagaimana bentuk lakon “Dawala Jadi Raja” yang dipentaskan oleh
Dalang Asep Sunandar Sunarya dan apa nilai-nilai filosofi yang dapat diambil
dalam lakon tersebut. Adapun tujuan dan kegunaan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah hendak menjelaskan dan memaparkan lakon bentuk lakon
“Dawala Jadi Raja” yang dipentaskan oleh Asep Sunanandar Sunarya serta ingin
menjelaskan tentang nilai-nilai filosofis yang terdapat dalam Lakon “Dawala Jadi
Raja” yang dipentaskan oleh Asep Sunandar Sunarya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis, dengan menalaah dan
mencari makna yang terkandung dalam cerita lakon. Di samping itu agar
penelitian lebih terfokus dan terarah penulis menggunakan metode analisis
kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cerita dalam lakon “Dawala Jadi
Raja: pertama, bentuk lakon yang dikemas dalam bentuk cerita dengan
menghadirkan tokoh-tokoh beserta karakteristiknya, dalam lakon ini sosok tokoh
yang digunakan oleh Asep Sunandar menggunakan pola dasar baik dan buruk.
Tokoh yang buruk diwakili oleh Raja Wijarnaka, dari sisi yang baik terdapat pada
Semar dan Dawala. Yang kedua, cerita yang suguhkan dalam pementasan syarat
akan makna filosofis, hal-hal yang dapat diambil adalah, syarat-syarat untuk
menjadi pemimpin harus memenuhi beberapa keriteria. Setia dan Taat,
Memegang teguh tujuan, Menjunjung tinggi yang diajarkan oleh agama,
memegang teguh amanah, tidak sombong, disiplin, cerdas, terbuka, Ihklas. Di
dalam lakon juga menyiratkan tentang hal-hal yang tidak patut dilakukan oleh
seorang pemimpin suatu negara yang diperankan oleh raja Wijarnaka di mana dia
memiliki karakter yang tidak sepatutnya dimiliki seorang raja, adalah gampang
mengeluh, serakah dan gila harta, tidak sabar, mencuri, ini juga bagian dari kritik
terhadap pola dan gaya pememrintah saai ini
- …
