1,720,998 research outputs found

    Genetic Structuralism Analysis in “Go Set A Watchman” by Harper Lee

    No full text
    El propósito de este estudio es crear un análisis sociológico de la novela Go Set a Watchman. Este estudio tiene como objetivo revelar la cosmovisión del autor mediante el uso de la teoría del estructuralismo genético. El foco de la investigación es el siguiente; 1) Análisis de la estructura literaria de la novela 2) El trasfondo social de Harper Lee en relación con la novela 3) Los acontecimientos históricos y la condición de la sociedad 4) La visión del mundo del autor en la novela. El resultado del análisis muestra que Harper Lee ve las condiciones de la sociedad, en el momento en que se escribió la novela.The purpose of this study is to create a literature sociological analysis of the novel Go Set a Watchman. This study aims to reveal the worldview of the author by using Genetic Structuralism theory. The focus of the research is as follows; 1) Analyzing the literary structure of the novel 2) The social background of Harper Lee in relation with the novel 3) The historical events and condition of the society 4) The author’s world view in the novel. The result of the analysis shows that Harper Lee sees the conditions of the society, at the time the novel was written

    PERJANJIAN BAGI HASIL PERKEBUNAN RAKYAT DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROPINSI JAMBI

    Full text link
    PERJANJIAN BAGI HASH, PERICEBUNAN RAKYAT DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN ICERINCI PROPINSI JAMB! Perjanjian pengusahaan tanah dengan bagi hash l umum dijumpai di Indonesia, setiap daerah mempunyai istilah sendiri-sendiri Di Sumatera Barat dikenal dengan nama "memperduai", di Jawa dikenal dengan nama "moro atau martelu", di Lombok dikenal "nyakap" dan di Sulawesi dikenal dengan sebutan "teseng". Di Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci dikenal juga lembaga perjanjian bagi hasil. Oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah "nduoi' dart "nigoi". Dalam perjanjian itu yang hukumnya berlaku sebagai ketentuan-ketentuan hukum adat yang tidak tertulis. Hukum adat sebagai hulcum positif merupakan suatu rangkaian norma hukum menjadi pegangan bersama dalam kehidupan masyarakat. Berlakunya hukum adat dalam masyarakat merupakan manivestasi aspirasi yang berkembang dalam masyarakat. Sebagai asas umum di dalam hukum adat apabila seseorang menanami tanah orang lain dengan persetujuan atau tanpa persetujuan berkewajiban menyerahkan sebagian hasil tanah itu kepada pemilik tanah. Asas ini berlaku tidak saja untuk tanah kosong, tanah ladang, tanah kebun atau sawah tetapi juga untuk tanah perairan, perikanan, dan peternakan. Terjadinya perjanjian bagi basil antara pemilik tanah perkebunan dengan petani penggarap, dikarenakan pemiliki tanah memiliki tanah garapan yang cukup luas dan tidak sanggup untuk mengerjakan sendiri karena tenaga yang tersedia sangat terbatas, oleh karena itu mereka menyerahkan tanah perkebunan tersebut untulc diolah petani penggarap, dengan harapan tanahnya akan tetap menghasilkan. Dalam rangka untuk melindungi petani penggarap tersebut terhadap praktek- pralctek yang sangat merugikan, mereka yang berhak atas tanah, maka dalam bidang hukum Agraria telah diundangkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1960 yang mengatur tentang perjanjian bagi hasil. Namun dalam kenyataan sehari-hari di dal= kehidupan masyarakat perjanjian bagi basil tidak berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berlaku, masyarakat Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci berpedoman pada kebiasaan- kebiasaan setempat. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian tesis adalah Yuridis Empiris, yaitu mempelajari hukum itu diterapkan dalam masyarakat. Spesifikasi penelitian ini bersifat Deslcriptif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan/observasi dan wawancara/interview, penentuan populasi dan sampel mempergunakan Simple Random Sampling. Teknik analisis data yang digunakan teknik analisis kualitatif akan dilakukan dalam tiga tahap yaitu reduksi data penyajian data verifikasi data. Dalam hasil penelitian tesis ini penulis melihat mengamati bahwa perjanjian bagi basil perkebunan ralcyat di Kecamatan Gunung Raya Kabupaten Kerinci Propinsi Jambi dibuat secara tidak tertulis. Hal ini dikarenakan rasa kepercayaan yang berpatokan kepada kebiasaan setempat. Dimana pelaksanaan pembagian basil perkebunan rakyat terbagi atas dua bentuk yaitu manigoi (dengan perbandingan 2: 1) dan manduoi (dengan perbandingan 1: 1), dengan adanya hak-hak dan kewajiban para pihak terhadap masalah yang ten adi dalam perjanjian bagi basil perkebunan rakyat antara pemilik tanah dengan petani penggarap dapat dilakukan dengan musyawarah secara kekeluargaan apabila tanpa adanya kesepakatan mereka boleh membawanya kepada se/co naa tigo takah, lembaga naa tigo jinjing keempat Lembaga Alam Masyarakat hulcum adat kerinci khususnya Kecamatan Gunung Raya sampai saat ini masih memegang tanah hukum adat mereka, terutama menyangkut penguasaan tanah wilayat. Ralcyat/masyarakat persekutuan berhak menggarap dan mengambil hasilnya setelah memenuhi syarat-syarat adat. Pemanfaaatan tanah wilayah menurut huk-um adat kerinci bersifat terbuka, diperuntukkan bagi masyarakat persekutuan dengan mectjum arcih ek bentang. Penyelesaian masalah yang timbul dari perjanjian bagi basil perkebunan ralcyat di Kecamatan Gunung Raya dengan jalan membawanya ke lembaga hukum adat. The Arrangement of Profit Share of People's Estate in the District of Gunung Raya, Kerinci Regency, Jambi Province Land cultivation arrangements with profit share have begun to be commonly found ini Indonesia, every region has its own terminology. In West Sumatra it is known as "memeperduai" . In java it is known as "maro or martelu". In Lombok it is known as "nyakap" an in Celebes it is known as "teseng". In the district of Gunung Raya, Kerinci Regency, this profit share agreement was also found. The local inhabitant has known it as "nduoi" and "nigoi". In the agreement, the law acted as unwritten customary law regulations. Customary law as a positive law is a set or law norms, which became a mutual hold in the community life. It was a general base in customary law, that if somebody planted others land with or without agreement, then he was responsible to deliver a part of the land yield to the landowner. This base holds for uncultivated lands, fields, an estate lands, also waters, fishery, and breeding lands. The occurrence of profit share arrangements between the estate landowners and the farm hand resulted from land ownersship of relatively extesive cultivate lands of the landowners an the incapability of the landowners of cultivating their lands by themselves. This resulted in the entrusting of the estate lands to be cultivated by the farm hands. In order to protect the farm hands against the most unfavorable practices, consequently in the Agrarian law, it has been legally established the Act Number 2 Year 1960 regulated the profit share arrangements. However, in dally practices, in community life, the profit share arrangements were not based on the valid regulations, the community of Gunung Raya of Kerinci Regency oriented on the local habits. Approach method used in the thesis study was juridical empirical, which learned about the application of the law in community. The specification of this study was Descriptive. Data collection was done by observation an interview, poulation an sample fixation using the Simple Random Sampling. • Data were analyzed using a qualitative analysuis technique, carried out in three stages, which were data reducation, data presentation, and data verification. The result of the study revealed that the profit share arrangements in the district of Gunung Raya of Kerinci Regency nof Jambi Provices was made in an unwritten manner. This resulted from trust feeling oriented on the local habits. Whereas the practice of profit share arrangements was divided into two forms, these were manigoi (with 2:1 comparison) and manduoi (with 1:1 comparison). The arrangements were provided with the existence of rights and obligations of concerned parties toward the occurred problem in the profit share arrangements between the landowners and the farm hands. The occurred problem should be settled with family spirit discussion. In case there was not any accord, they could bring the problem to the naa tigo jinjing, the fourth Nature Institution. The law community of Kerinci, in particular the district of Gunung Raya, has still hold their customer law land, especially concerning the jurisdiction over the wilayat land. The alliance community has the right to cultivate and to take over the yield after they had fulfilled the customary requirements. The wilayat land use by customary law was with right good will, tor the benefit of the alliance community with meajum arah elo bentang. Problem settlement resulted from profit share arrangements in the district of Gunung Raya was carried out in the customary law institution

    Pelestarian Nilai Budaya Kaco’i Angi Pada Masyarakat Donggo

    Full text link
    Pelestarian nilai budaya kaco’i angi merupakan bentuk lain dari istilah saling menghargai antar sesama atau yang disebut toleransi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskripsi kualitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih komprehensif tentang makna yang terkandung dalam nilai budaya kaco’I angi pada masyarakat Donggo. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kaco’i angi bukan sekedar slogan menghormati antar sesama, tetapi lebih menekankan pada proses penanaman nilai moralitas pada generasi penerus serta menjadi pegangan hidup bagi generasi Donggo dalam hidup di masyarakat, baik dilingkungan masyarakatnya sendiri maupun di masyarakat yang lebih luas. Sehingga dengan internalisasi nilai kaco’i angi tersebut generasi penerus Donggo dipastikan bisa membaur dengan cepat dengan masyarakat dimanapun mereka berada

    Pergeseran Makna Pernikahan Usia Muda (Studi Kasus di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima)

    Full text link
    ABSTRAK Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (i)Faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran makna pernikahan usia muda yaitu; Pertamapendidikan, Keduamodernisasi, Ketiga media massa. (ii) Proses Terjadinya pergeseran makna pernikahan usia muda di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima ditandai dengan adanya; (a) pergeseran makna pernikahan usia muda yang lebih bersifat sosial ke makna pernikahan yang lebih bersifat pribadi, (b) pergeseran makna pernikahan usia muda yang bersifat mistis religius, suci, sakral ke hidup pernikahan yang bersifat sekuler, ekonomis, dan efektif. (iii) Dampak pergeseran makna pernikahan usia muda yaitu; Pertamadampak positif, Keduadampak negatif. Kata kunci : Pergeseran Makna, Pernikahan Usia Mud

    E-modul Pendiidkan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan kelas XII, pencak silat

    No full text
    Materi pembahasa modul ini adalah : 1. strategi penyerangan dan pertahanan pada pertandingan pencak silat 2. teknik pencak silat 3. startegi dan taktik penyerangan dalam pertandingan pencak silat 4.strategi dan taktik bertahan dalam pertandingan pencak sila

    IMPLEMENTASI HAK ASASI MANUSIA DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang (1) Bagaimana Pengaturan Hak Asasi Manusia dalam peraturan perundang-undangan Indonesia dan (2) Bagaimanakah Bentuk Perlindungan dan Penerapan Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana Menurut Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981. Untuk menjawab permasalahan ini, peneliti menggunakan metode penelitian normatif; kajian komprehensif analitis terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa Landasan pengaturan Hak Asasi Manusia telah dirumuskan dalam Kitab Udang Undang Hukum Acara Pidana. Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 telah menghadirkan pembaharuan-pembaharuan dalam mengatur HAM sebagaimana diatur dalam pasal-pasal atas hak-hak tersangka/terdakwa dan mengatur juga Asas-asas yang menopang Hak Asasi Manusia seperti Asas Praduga Tak Bersalah, dan juga mengisyaratkan suatu asas hukum yang sangat fundamental yaitu asas Persamaan Kedudukan Dalam Hukum atau dikenal dengan istilah Equality Before the Law. Secara teoritis sejak  tahap penyidikan, penuntutan serta pemeriksaan di depan sidang pengadilan, telah menjamin dan memberikan perlindungan Hak Asasi Manusia, Penerapan Hak Asasi Manusia dalam Sistem Peradilan Pidana secara umum  sudah dilaksanakan pada proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di depan sidang pengadilan. Namun masih saja terdapat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum aparat Penegak hukum yang bersifat personal.Kata Kunci : Pengaturan Penerapan HAM, Peraturan Perundangan, Sistem Peradilan Pidana

    Kemampuan public speaking mahasiswa program studi komunikasi dan penyiaran islam IAIN Palangka Raya

    Full text link
    Public Speaking dulu dikenal dengan sebutan retorika, namun setelah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, retorika berubah menjadi public speaking. Hal ini terjadi disebabkan kebutuhan komunikasi menjadi semakin signifikan dan krusial yang merambah ke berbagai aspek kehidupan. Public speaking pun kemudian menjadi salah satu disiplin ilmu komunikasi publik. Dengan perkembangan yang sedemikian rupa, public speaking menjadi satu keterampilan komunikasi publik yang wajib dimiliki oleh siapapun, bila mereka ingin sukses dalam bidang ekonomi, sosial, politik, bahkan budaya. Sebab komunikasi yang dilakukan manusia di muka bumi ini hampir 99% dilakukan secara verbal. Terkait dengan pemikiran tersebut, mahasiswa yang merupakan bagian dari masyarakat dan merupakan agent of sosial change yang berperan secara aktif-positif dalam merubah peradaban ke arah yang baik melalui keahlian public speaking. Metode dalam penelitian ini adalah menggunakan metode Deskriftif Kualitatif. Penelilitian kualitatif ini secara spesifik lebih diarahkan pada penggunaan metode studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu data primer, dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan teknis penganalisisan data dilakukan secara tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan verifikasi. Adapaun hasil penelitian ini adalah realitas kemampuan public speaking mahasiswa prodi KPI angakatan tahun 2014 masih cukup rendah, hal ini disebabkan masih banyak mahasiswa prodi KPI angkatan 2014 yang belum pandai berbicara atau masih ragu-ragu dalam mengutarakan gagasan, sebagian mahasiswa KPI masih gugup atau malu ketika akan berbicara di depan umum. Adapun tingkat kesulitan mahasiswa prodi KPI terhadap public speaking adalah mahasiswa tidak mau mengeluarkan pendapat atau mengajukan pertanyaan, memiliki sikap apatis di ruangan, kurangnya tingkat membaca, kurangnya rasa ingin tahu, tida percaya diri, mempunyai pengalaman kurang baik dalam public speaking, monopoli yang bertanya serta lingkungan yang tidak kondusif. Masalah yang dihadapi mahasiswa prodi KPI angkatan 2014 dalam public speaking adalah mental yang lemah, kesulitan pemakaian diksi, kurang membaca, posisi tempat duduk, kurang pengetahuan dan takut salah. Adapun solusi yang ditawarkan adalah harus tersedia wadah yang kondusif, tersedia training public speaking, ikut berpartisipasi dalam kegiatan public speaking dan selalu melatih diri untuk mempraktekkan teknik public speaking. ملخص لقد كان التحدث أمام الجمهور مشهورا بذكر البلاغة لكن بعد تقدم العلوم والتكنولوجيا تغيرتْ إلى أن صارت التحدث أمام الجمهور. حدث هذا الأمر لأن حاجة الإتصال تزداد المهمة التي تنتشر إلى أحوال الحياة. على أساس ذالك التطوير, أصبح التحدث أمام الجمهور مهارة الإتصال الجمهوري التى يجب على كل شخص مِلْكُها إن أرادوا النجاح فى الإقتصاد, الإجتماع, السياسة, و الثقافة. لأجل الإتصال الذي يقوم به الناس فى الأرض كادت %۹۹ بلسان المقال. المتعلق على تلك الأفكار, طلاب الجامعة من نصف المجتمع و رجال متغيري الإجتماع يساهمون بالنشاط والإيجابي فى تغيير الحضارة نحو الخيرات بواسطة مهارة التحدث أمام الجمهور . بحوث المنهجية فى هذا البحث هي بحث وصفي نوعي. هذا البحث النوعي توجه بالخاص إلى استخدام طريقة دراسة حالة. مصدر البيانات فى هذا البحث ينقسم إلى جنسين البيانات الأولية و البيانات الثانبة. طريقة جمع البيانات المستخدمة هي الملاحظة, المقالبة وإثبات الوثائق. وكيفية تحليل البيانات تقام بها ثلاث مراحل تلقيص البيانات, تقديم البيانات و خلاصة التحقق. أما نتائج هذا البحث هي واقعية كفاءة التحدث أمام الجمهور عند الطلاب فى قسم الإتصالي الإذاعي الإسلامي دفعة سنة ٢۰۱٤ كثير منهم لم يمهروا فى التحدث أو ما زالوا شاكين فى إخراج الأفكار, وبعضهم يترددون أو يستحيون عندما سيتكلمون أمام الجمهور. أما درجة مشكلات الطلاب فى قسم الإتصالي الإذاعي الإسلامي على التحدث أمام الجمهور هي لا يريدون إخراج الآراء وتقديم الأسئلة, لا يبالون غيرهم فى الغرفة, قليل من القراءة وطلب المعلومات, الشك, عندهم خبرة فضيحة فى التحدث أمام الجمهور, لا يجدون الفرصة للسؤال و البيئة لا تعين عليه. مشكلات الطلاب فى قسم الإتصالي الإذاعي الإسلامي دفعة سنة ٢۰۱٤ على التحدث أمام الجمهور هي ذهنية ضعيفة, صعوبة فى إختيار الكلمات, قلة القراءة, المجلس, قلة المعلومات و خوف الخطأ. أما المخرج المقدم هو يلزم إعداد المكان الذي يعين عليه, يٌعَدّ تدريب التحدث أمام الجمهور, مساهمة فى نشاط التحدث أمام الجمهور و تدريب النفس لتطبيق طريقة التحدث أمام الجمهور دائما

    HUBUNGAN FAKTOR MOTIVASI DENGAN KINERJA PERAWAT DALAM PENERAPAN ASUHAN KEPERAWATAN DI UNUT RAWAT INAP PUSKESMAS GAJAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2004

    Full text link
    Salah bentuk pelayanan di Puskesmas adalah pelayanan rawat inap yang membutuhkan perawat,dimana perawat memberikan pelayanan asuhan keperawatan selama 24 jam. Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menggunakan suatu pendekatan yaitu standar asuhan keperawatan. Mutu asuhan keperawatan sangat mempengaruhi kualitas pelayanan kesehatan dan menjadi salah satu faktor penentu citra institisu pelayanan kesehatan agar tetap baik dibutuhkan penampilan kerja yang baik. Penampilan Kerja (Kinerja) adalah akibat dari interaksi antara dua variabel (1) Kemampuan melaksanakan tugas, dan (2). Motivasi dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan di Unit Rawat Inap Puskesmas dibutuhkan motivasi kerja perawat yang tinggi. Puskesmas Gajah adalah salah satu Puskesmas yang memberikan pelayanan rawat inap. Dari hasil prasurvey yang telah dilakukan peneliti pada bulan Januari-Pebruari 2004 dengan penyebaran angket tentang faktor-faktor motivasi didapatkan bahwa perawat cenderung tidak puas dengan faktor-faktor motivasi, dari hasil data laporan tahunan Unit Rawat Inapmenunjukkan bahwa penerapan asuhan keperawatan cenderung menurun dari tahun 2001-2003. dari data itu didapat kesimpulan bahwa motivasi perawat dalam penerapan asuhan keperawatan adalah kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor motivasi dengan kinerja perawat dalam penerapan asuhan keperawatan di Unit Rawat Inap Puskesmas Gajah Kabupaten Demak tahun 2004 Penelitian ini merupakan jenis penelitian Explanatory Researchdengan pendekatan Cross Sectional.Populasi penelitian ini adalah seluruh perawat yang bertugas di Unit Rawat Inap yang berjumlah 15 orang,dan dengan sampel penelitian berjumlah 15 orang. Dengan uji korelasi Kendall's Tau-B.Hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara faktor-faktor motivasi yang terdiri dari prestasi,penghargaan, tanggung jawab, pengembangan diri supervisi, gaji,hubungan antar pribadi, kondisi lingkungan kerja dengan kinerja perawat dalam penerapan asuhan keperawatan yang secara statistik bermakna. Jadi agar kinerja perawat dalam penerapan asuhan keperawatan dapat meningkat sangat diperlukan motivasi kerja yang tinggi. Kata Kunci: Faktor-faktor Motivasi,Kinerja perawat THE RELATIONSHIP BETWEEN MOTIVATION FACTORS AND NURSE'S PERFORMANCE OF APPLICATION OF NURSING CARE AT IN-PATIENT UNIT OF PUSKESMAS GAJAH,DISTRICT DEMAH OF 2004 One of serveral services given by puskesmas is in-patient service unit which needs nurses to deliver care whithin team coordination in around-the-clock basis and make a constact with patient. The approach in delivering nursing care is the application of nursing care standards. The quality of nursing care will influence the quality of health service and transfroms into a determinant factor of image of health service institution in the community. Excellent performance is needed to sustain the image of institution. Performance is the results of interaction between two variables (1)the competence in delivering the job,and(2)Motivation. The competence in delivering the job is the main element in evaluation performance, but in the absence of motivation and eagemess the job can not be executed.High motivation is needed to icrease the quality of nursing care service at in-patient unit of puskesmas to maxymise the application of nursing care. Puskesmas Gajah is one of Puskesmas in Kabupaten Demak equipped with in-patient care unit. The resulth of pre-survey questionnaire asking about motivation factors given in January-February 2004 showed that nurses tended to be unsatisfied with the motivation factors they got and the results of observation on the data of application of nursing care showed that it tended to decrease time in 2001-2003. The conclusion draw is the degree of nurses'motivation in applying nursing care is poor. This in an explanatory research study with cross sectional approach. The population study consisted of 16 nurses in in-patient care unit, and the number of samples was 15. Statistic test correlation Kendall's Tau-B. This study found statistically significant association between motivation factors consisted of achievement, rewards,responsibility self development,Supervision,payment,inter-individual relationship,working environment and nurse's performance in the application of nursing care. Keyword : Motivation Factors,Nurse's performance,Nursing care
    corecore