124 research outputs found
BAHASA RITUAL DAN KEKUASAAN TRADISIONAL ETNIK RONGGA
Makalah ini memaparkan kekuasaan tradisional (traditional power) dalam konteks kehidupan kontemporer etnik
Rongga di Flores NTT. Fokus kajiannya pada aspek sosio-etnolinguistik terkait dengan bahasa ritual meliputi: (1)
bentuk-bentuk linguistik dan non linguistik yang relevan dengan nilai-nilai kekuasaan; (2) sistem nilai budaya yang
terkait dengan nilai-nilai kekuasaan itu sendiri yang terkandung didalamnya; (3) proses pemerolehan, pewarisan,
pemertahanannya di masa lampau dan kini, serta prospeknya di masa mendatang dalam dinamika sosiopolitik baik
di Manggarai Timur dan Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh manakah terjadi interaksi antara
bahasa (ritual) etnik Rongga dengan kekuasaan. Interaksinya akan dikaji dari dua dimensi, yakni tradisional dan
kotemporer, dilihat dari dinamikanya terkait dengan usaha konservasi bahasa dan budaya minoritas yang
terpinggirkan (Arka, 2013;2015). Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan
etnografi merupakan kelanjutan dari penelitian bahasa dan budaya Rongga (Arka, 2010; Sumitri, 2015). Inovasi
kajian terletak pada ancangan yang diusulkan berupa kajian kapital lingusitik sebagai bagian dari kapital lainnya
(sisiokultural dan ekonomis) (Morrison dan Lui, 2000; Bourdieu 1997). Metode dan teknik pengumpulan data
adalah pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, rekam dan catat.
Temuan. Secara linguistik, terdapat kekhasan satuan bentuk ujaran bahasa ritual bersifat puitis arkais dalam polapola
bersajak dengan tingkat kesulitan dalam bentuk dan irama yang tinggi. Secara etnolinguistik, bahasa ritual
berisi pesan/makna yang sarat nilai sosial budaya dan pengetahuan etnik Rongga. Bahasa ritual tersebut ditopang
pula dengan perilaku ragawi untuk menunjang kebermaknaan esensi pesan yang disampaikan. Relasi kekuasaan dan
bahasa ritual terbangun secara alamiah melalui sejumlah kualitas persona yang dihargai tinggi dengan mendapatkan
pengakuan atas posisinya dalam hirarki sosial seperti kemampuan, keterampilan, dan kepekaan dalam penguasaan
pengetahuan adat yang luhur dengan ekpresi linguistik dengan tingkat kerumitan tinggi sebagai bentuk kapital
linguistik dan kultural bagi seseorang. Terbentuknya kapital linguistik dan budaya yang tinggi pada seseorang
adalah proses yang kompleks, kombinasi dari kualitas diri dan bakat verbal linguistik serta pembawaan dengan
legitimasi seseorang. Semua itu diperoleh secara tradisional berdasarkan pengalaman dan juga bersifat genealogis
(dengan otoritas rohaniah) terkait dengan adat/suku/marga tertentu yang semuanya menjadi sumber daya potensial
yang berakumulasi pada pengaruh dan kekuasaan menggerakkan kepatuhan dan penghormatan warga lain.
Walaupun kekuasaan tradisional mengalami penyusutan, yang bisa dijelaskan dengan baik dari perspektif
pergeseran ideologi (bahasa/budaya) dan ekologi kekuasaan lebih besar, namun fungsi dan perannya tidaklah punah
sama sekali. Diargumentasikan bahwa dinamika kekuasaan tradisional mestinya didokumentasikan dan dipahami
dengan baik, diaktualisasi untuk kepentingan kontemporer sebaik-baiknya. Kekuatan legitimasinya tergerus sebagai
dampak dari kehadiran sistem pemerintahan/birokrasi modern Indonesia (menggantikan sistem kedaluan pada tahun
1960an). Meskipun demikian, sistem pewarisan kekuasaan tradisional masih mengikuti garis kekuasaan kepada
orang yang memiliki kapital linguistik-budaya, umumnya tokoh adat yang berpengaruh, yang mampu menguasai
bahasa ritual dan memanfaatkan pengetahuan adat dan energi lembaga adat untuk berbagai kepentingan, baik
ritual/tradisi maupun kontemporer. Makalah lengkap akan menguraikan lebih jauh secara komparatif dampak
positif-negatif terpisahnya (perekrutan) kepemimpinan dan kekuasaan ditingkat lokal (tradisional/adat vs. modern),
dalam konteks kapital budaya/linguistik yang lebih luas di Indonesia
BAHASA RITUAL DAN KEKUASAAN TRADISIONAL ETNIK RONGGA
Rongga di Flores NTT. Fokus kajiannya pada aspek sosio-etnolinguistik terkait dengan bahasa ritual meliputi: (1)
bentuk-bentuk linguistik dan non linguistik yang relevan dengan nilai-nilai kekuasaan; (2) sistem nilai budaya yang
terkait dengan nilai-nilai kekuasaan itu sendiri yang terkandung didalamnya; (3) proses pemerolehan, pewarisan,
pemertahanannya di masa lampau dan kini, serta prospeknya di masa mendatang dalam dinamika sosiopolitik baik
di Manggarai Timur dan Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh manakah terjadi interaksi antara
bahasa (ritual) etnik Rongga dengan kekuasaan. Interaksinya akan dikaji dari dua dimensi, yakni tradisional dan
kotemporer, dilihat dari dinamikanya terkait dengan usaha konservasi bahasa dan budaya minoritas yang
terpinggirkan (Arka, 2013;2015). Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan
etnografi merupakan kelanjutan dari penelitian bahasa dan budaya Rongga (Arka, 2010; Sumitri, 2015). Inovasi
kajian terletak pada ancangan yang diusulkan berupa kajian kapital lingusitik sebagai bagian dari kapital lainnya
(sisiokultural dan ekonomis) (Morrison dan Lui, 2000; Bourdieu 1997). Metode dan teknik pengumpulan data
adalah pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, rekam dan catat.
Temuan. Secara linguistik, terdapat kekhasan satuan bentuk ujaran bahasa ritual bersifat puitis arkais dalam polapola
bersajak dengan tingkat kesulitan dalam bentuk dan irama yang tinggi. Secara etnolinguistik, bahasa ritual
berisi pesan/makna yang sarat nilai sosial budaya dan pengetahuan etnik Rongga. Bahasa ritual tersebut ditopang
pula dengan perilaku ragawi untuk menunjang kebermaknaan esensi pesan yang disampaikan. Relasi kekuasaan dan
bahasa ritual terbangun secara alamiah melalui sejumlah kualitas persona yang dihargai tinggi dengan mendapatkan
pengakuan atas posisinya dalam hirarki sosial seperti kemampuan, keterampilan, dan kepekaan dalam penguasaan
pengetahuan adat yang luhur dengan ekpresi linguistik dengan tingkat kerumitan tinggi sebagai bentuk kapital
linguistik dan kultural bagi seseorang. Terbentuknya kapital linguistik dan budaya yang tinggi pada seseorang
adalah proses yang kompleks, kombinasi dari kualitas diri dan bakat verbal linguistik serta pembawaan dengan
legitimasi seseorang. Semua itu diperoleh secara tradisional berdasarkan pengalaman dan juga bersifat genealogis
(dengan otoritas rohaniah) terkait dengan adat/suku/marga tertentu yang semuanya menjadi sumber daya potensial
yang berakumulasi pada pengaruh dan kekuasaan menggerakkan kepatuhan dan penghormatan warga lain.
Walaupun kekuasaan tradisional mengalami penyusutan, yang bisa dijelaskan dengan baik dari perspektif
pergeseran ideologi (bahasa/budaya) dan ekologi kekuasaan lebih besar, namun fungsi dan perannya tidaklah punah
sama sekali. Diargumentasikan bahwa dinamika kekuasaan tradisional mestinya didokumentasikan dan dipahami
dengan baik, diaktualisasi untuk kepentingan kontemporer sebaik-baiknya. Kekuatan legitimasinya tergerus sebagai
dampak dari kehadiran sistem pemerintahan/birokrasi modern Indonesia (menggantikan sistem kedaluan pada tahun
1960an). Meskipun demikian, sistem pewarisan kekuasaan tradisional masih mengikuti garis kekuasaan kepada
orang yang memiliki kapital linguistik-budaya, umumnya tokoh adat yang berpengaruh, yang mampu menguasai
bahasa ritual dan memanfaatkan pengetahuan adat dan energi lembaga adat untuk berbagai kepentingan, baik
ritual/tradisi maupun kontemporer. Makalah lengkap akan menguraikan lebih jauh secara komparatif dampak
positif-negatif terpisahnya (perekrutan) kepemimpinan dan kekuasaan ditingkat lokal (tradisional/adat vs. modern),
dalam konteks kapital budaya/linguistik yang lebih luas di Indonesia
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP FISIKA SISWA (Eksperimen Pada SMA N di Bogor)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Fisika terhdap pemahaman konsep dasar dalam pembelajaran Fisika khususnya untuk penyelesaian materi Suhu dan Kalor di kelas X SMA. Sampel berukuran 48 siswa yang diperoleh dengan tehnik sampling otomatis dari kelas sampel SMA N 2 Cibinong dan SMA N 4 Cibinong. Pengumpulan data dilaksanakan dengan mengadakan tes/ulangan harian dan menyebar angket. Analisis data dengan metode statistik deskriptif, ANAVA dua arah. Uji statistik dipergunakan uji F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap pemahaman konsep fisika dengan nilai sig 0,000 < 0,05 dan Fhitung =15,634, (2) terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap pemahaman konsep fisika dengan nilai sig 0,013 < 0,05 dan Fhitung =6,645, (3) Tidak terdapat pengaruh interaksi model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap pemahaamn konsep fisika dengan nilai sig 0,953 > 0,05, (4) Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, maka sebagai guru fisika harus mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga hasil pemahaman konsep fisika siswa meningkat. Di samping itu guru dalam mengajarkan materi fisika harus menerapkan model pembelajaran yang tepat,salah satunya adalah model pembelajaran Problem Based Learning
The purpose of this study is to determine the effect of Physics learning model terhdap understanding of basic concepts in Physics learning, especially for the completion of materials Temperature and Heat in grade X SMA. Samples of 48 students were obtained by automatic sampling technique from sample class of SMA N 2 Cibinong and SMA N 4 Cibinong. Data collection was conducted by conducting daily tests / tests and dispatching questionnaires. Data analysis with descriptive statistic method, two way ANOVA. The statistical test used F test. The results showed that: (1) There is influence of learning model to understanding physics concept with sig 0,000 <0,05 and Fhitung = 15,634; (2) there is influence of learning motivation toward understanding physics concept with sig value 0,013 <0,05 and Fhitung = 6,645, (3) There is no influence of learning model interaction and learning motivation toward the concept of physics with the value of sig 0,953> 0,05, (4) Based on the result of this research, then as physics teacher must be able Increase students 'learning motivation, so that the students' understanding of the concepts of physics increases. In addition, teachers in teaching materials physics must apply the appropriate learning model, one of which is the model of learning Problem Based Learnin
BAHASA RITUAL DAN KEKUASAAN TRADISIONAL ETNIK RONGGA
Rongga di Flores NTT. Fokus kajiannya pada aspek sosio-etnolinguistik terkait dengan bahasa ritual meliputi: (1)
bentuk-bentuk linguistik dan non linguistik yang relevan dengan nilai-nilai kekuasaan; (2) sistem nilai budaya yang
terkait dengan nilai-nilai kekuasaan itu sendiri yang terkandung didalamnya; (3) proses pemerolehan, pewarisan,
pemertahanannya di masa lampau dan kini, serta prospeknya di masa mendatang dalam dinamika sosiopolitik baik
di Manggarai Timur dan Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejauh manakah terjadi interaksi antara
bahasa (ritual) etnik Rongga dengan kekuasaan. Interaksinya akan dikaji dari dua dimensi, yakni tradisional dan
kotemporer, dilihat dari dinamikanya terkait dengan usaha konservasi bahasa dan budaya minoritas yang
terpinggirkan (Arka, 2013;2015). Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif-kualitatif dengan pendekatan
etnografi merupakan kelanjutan dari penelitian bahasa dan budaya Rongga (Arka, 2010; Sumitri, 2015). Inovasi
kajian terletak pada ancangan yang diusulkan berupa kajian kapital lingusitik sebagai bagian dari kapital lainnya
(sisiokultural dan ekonomis) (Morrison dan Lui, 2000; Bourdieu 1997). Metode dan teknik pengumpulan data
adalah pengamatan, wawancara, studi dokumentasi, rekam dan catat.
Temuan. Secara linguistik, terdapat kekhasan satuan bentuk ujaran bahasa ritual bersifat puitis arkais dalam polapola
bersajak dengan tingkat kesulitan dalam bentuk dan irama yang tinggi. Secara etnolinguistik, bahasa ritual
berisi pesan/makna yang sarat nilai sosial budaya dan pengetahuan etnik Rongga. Bahasa ritual tersebut ditopang
pula dengan perilaku ragawi untuk menunjang kebermaknaan esensi pesan yang disampaikan. Relasi kekuasaan dan
bahasa ritual terbangun secara alamiah melalui sejumlah kualitas persona yang dihargai tinggi dengan mendapatkan
pengakuan atas posisinya dalam hirarki sosial seperti kemampuan, keterampilan, dan kepekaan dalam penguasaan
pengetahuan adat yang luhur dengan ekpresi linguistik dengan tingkat kerumitan tinggi sebagai bentuk kapital
linguistik dan kultural bagi seseorang. Terbentuknya kapital linguistik dan budaya yang tinggi pada seseorang
adalah proses yang kompleks, kombinasi dari kualitas diri dan bakat verbal linguistik serta pembawaan dengan
legitimasi seseorang. Semua itu diperoleh secara tradisional berdasarkan pengalaman dan juga bersifat genealogis
(dengan otoritas rohaniah) terkait dengan adat/suku/marga tertentu yang semuanya menjadi sumber daya potensial
yang berakumulasi pada pengaruh dan kekuasaan menggerakkan kepatuhan dan penghormatan warga lain.
Walaupun kekuasaan tradisional mengalami penyusutan, yang bisa dijelaskan dengan baik dari perspektif
pergeseran ideologi (bahasa/budaya) dan ekologi kekuasaan lebih besar, namun fungsi dan perannya tidaklah punah
sama sekali. Diargumentasikan bahwa dinamika kekuasaan tradisional mestinya didokumentasikan dan dipahami
dengan baik, diaktualisasi untuk kepentingan kontemporer sebaik-baiknya. Kekuatan legitimasinya tergerus sebagai
dampak dari kehadiran sistem pemerintahan/birokrasi modern Indonesia (menggantikan sistem kedaluan pada tahun
1960an). Meskipun demikian, sistem pewarisan kekuasaan tradisional masih mengikuti garis kekuasaan kepada
orang yang memiliki kapital linguistik-budaya, umumnya tokoh adat yang berpengaruh, yang mampu menguasai
bahasa ritual dan memanfaatkan pengetahuan adat dan energi lembaga adat untuk berbagai kepentingan, baik
ritual/tradisi maupun kontemporer. Makalah lengkap akan menguraikan lebih jauh secara komparatif dampak
positif-negatif terpisahnya (perekrutan) kepemimpinan dan kekuasaan ditingkat lokal (tradisional/adat vs. modern),
dalam konteks kapital budaya/linguistik yang lebih luas di Indonesia
Supervisi Kurikulum dalam Peningkatan Kreativitas belajar siswa Sekolah menengah atas (SMA) Negri 2 Ciputat
penulis mengambd dua variab'e yang ilkan diteliti yaitu mengenai supervisi kllrikulllm dan tingkat kreativitas belajar siswa. Untuk memperoleh data mengenai dua variabel tersebllt, penuJis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu suatu metode yang digllnakan untuk mendeskripsikan data, mencatat, menganalisis dan menginteerpretasikan kondisikondisi yang sedang terjadi. Metode ini digunakan untuk menggali data dari informen, kemlldian data yang telah dikumpulkan dianalisis dan disajikan dalam deskriptif kualitatif Selain itu digunakan pula metode anal isis deskriptif kuantitatif yaitll llntuk menganalis�is tanggapan responden terhadap angket yang disebarkan mengenai pelaksanaan kuIikulum dan llsahanya dalam peningkatan kreativitas belajar siswa. Untuk mendapatkan data dan infonnasi yang falid penulis mengh'llnakan beberapa teknik pengempulan data, di antaranya: I. Observasi, dilakukan untuk mendapatkan data dengan mengadakan kunjungan langsung ketempat penelitian dan mengamati kondisi umum sekolah serta datdat yang mendukung lainnya. 2. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan pertanyaan kepada kepala sekolah sebagai subjek penelitian. 3. Angket, yaitu teknik pengumpulan data dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada guru dan siswa. Bentuk angket adalah angket langsung dan bersifat tertutup dengan bentuk pilihan ganda, dan responden diminta untuk memilih salah satu jawabannya
Nilai Sesenggakan dalam Ungkapan Tradisional Bali (dalam Perspektif Linguistik Kebudayaan)
Saying as one of the variations of traditional Balinese expressions is one of the forms and practice of language styles used especially in oral commucations. In Balinese society, the formation of this traditional saying is much inspired by the nature phenomena such as the plants, fruit, animals, and manimate objects. The meaning of this saying are closely related to the cultural values, and norms of the Balinenesesociety which relect the interrelationship between the humanbeings and the nature. The cultural values of the saying can be specified as showing the values of educations, moral ethics, and togetherness. All of these values become the orientation of each individual in Balinese society
Peningkatan efisiensi pemeliharaan anak ayam buras
Peningkatan efisiensi pemeliharaan anak ayam bura
SIMILARITY" LINGKUNGAN ALAM DALAM BINGKAI SASTRA LISAN (Suatu Tinjauan Syair Nyanyian Rakyat Etnik Rongga)"
- …
