1,720,990 research outputs found

    Membangun kesehatan mental anak usia dini dengan pengasuhan positif

    Full text link
    Early childhood who are in PAUD often get developmental stimulation. Apart from providing stimulation, Bunda and Yanda are the closest people to PAUD apart from their parents. Parenting principles are also applied in PAUD. Good parenting at an early age will make children grow up well in the future. A person's mental health problems are often related to early parenting. On this basis, counseling on positive parenting for Bunda and Yanda in early childhood education was carried out. The socialization activities were carried out in Dengok Village, Padangan District, Bojonegoro Regency. Activities carried out to provide solutions to existing parenting problems. Counseling is carried out in two days at intervals of one week to provide opportunities for Bunda and Yanda in PAUD to look for parenting problems in the field so far. The results obtained are quite encouraging because of the increased understanding of Mothers and Yanda in PAUD about positive parenting methods which in turn will make children happier and improve mental health

    EVALUATION OF VALIDITY AND FEASIBILTY OF THE CASHFLOWPOLY BOARDGAME AS A FINANCIAL LEARNING MEDIA FOR MIDDLE SCHOOL STUDENTS

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas konten dan feasibilitas dari penggunaan permainan papan Cashflowpoly sebagai media pembelajaran keuangan dalam konteks pendidikan formal di jenjang sekolah menengah pertama. Penelitian ini berjenis R&D yaitu pada tahap evaluasi formatif. Berdasarkan metode expert based evaluation, disimpulkan bahwa permainan papan tersebut valid dengan katagori excellent yang ditunjukkan dengan nilai Content Validity Index (CVI) yaitu S-CVI sebesar 0,92 dan semua I-CVI bernilai di atas 0,83. Panel ahli berjumlah enam orang yang berasal dari latar belakang profesi guru, akademisi, praktisi keuangan, praktisi pendidikan dan psikolog. Selain itu, berdasarkan penilaian menggunakan kuesioner dengan Likert skala 5 yang dilakukan setelah field trial dengan partisipan (N=135) disimpulkan bahwa penggunaan papan permainan Cashflowpoly layak digunakan dalam sekolah menengah pertama. Penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan penggunaan Cashflowpoly pada aktivitas intrakulikuler dan alternatif solusi berdasarkan saran ahli dan partisipan di lapangan. Hasil dari penelitian ini memberikan kebaruan yang menawarkan alternatif media pembelajaran keuangan yang valid dan layak untuk diterapkan kepada remaja/ siswa di sekolah menengah pertama. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan kepada pembuat kebijakan, sekolah, dan guru untuk menggunakan media pembelajaran ini sebagai salah satu alat pembelajaran literasi keuangan, termasuk mengintegrasikannya dalam kegiatan intrakurikuler.Abstract:  This research aims to determine the content validity and feasibility of using the Cashflowpoly board game as a financial learning medium in the context of formal education at the junior high school level. This research is of the R&D type, specifically at the formative evaluation stage. Based on the expert-based evaluation method, it was concluded that the board game is valid with an excellent category, as indicated by the Content Validity Index (CVI) value, namely an S-CVI of 0.92 and all I-CVIs above 0.83. The expert panel consisted of six individuals from backgrounds in teaching, academia, finance, education, and psychology. In addition, based on the assessment using a 5-point Likert scale questionnaire conducted after the field trial with participants (N=135), it was concluded that the use of the Cashflowpoly board game is suitable for use in junior high schools. This study also identifies the challenges of using Cashflowpoly in extracurricular activities and alternative solutions based on expert advice and field participants. The results of this study provide a novelty that offers a valid and feasible alternative financial learning media to be applied to adolescents/students in junior high schools. Therefore, the researchers recommend to policymakers, schools, and teachers to use this learning media as one of the tools for financial literacy education, including integrating it into extracurricular activities

    Gambaran Hubungan Romantis Pada Perempuan Dewasa Awal dengan Pengalaman Fatherless Akibat Perceraian

    No full text
    Perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian menghadapi tantangan unik dalam membangun hubungan romantis yang sehat. Ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan mereka berpotensi memengaruhi aspek keintiman, gairah, dan komitmen dalam menjalin relasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dampak dan dinamika pada hubungan romantis pada perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian, dengan menggunakan teori Triangle of Love dari Sternberg (1988) sebagai kerangka teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman fatherless memengaruhi ketiga aspek dalam hubungan romantis, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Proses ini tidak bersifat linear, melainkan melibatkan dinamika kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal

    Gambaran Hubungan Romantis Pada Perempuan Dewasa Awal yang Belum Menikah dengan Pengalaman Fatherless Akibat Perceraian

    Full text link
    Perempuan dewasa awal yang belum menikah dengan pengalaman fatherless akibat perceraian memiliki pola hubungan romantis yang cenderung terbentuk oleh pengalaman fatherless mereka. Ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan mereka berpotensi memengaruhi aspek keintiman, gairah, dan komitmen dalam menjalin hubungan romantis. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dinamika hubungan romantis pada perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian, dengan menggunakan teori Triangle of Love dari Sternberg sebagai kerangka teoritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan fenomenologi deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam pada tiga partisipan perempuan dewasa awal yang mengalami fatherless akibat perceraian yang sudah pernah menjalin hubungan romantis dan belum menikah. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik Miles dan Huberman dengan metode triangulasi, member check, dan verifikasi significant others sebagai teknik pemantapan kredibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman fatherless akibat perceraian tercermin dalam kesulitan menjalin kedekatan emosional, perasaan tidak aman, dan kecenderungan menarik diri dalam situasi yang memerlukan keterbukaan. Hubungan romantis yang terbentuk cenderung tidak stabil dan belum sepenuhnya sesuai dengan gambaran ideal hubungan romantis menurut Sternberg. Dalam aspek keintiman, partisipan menunjukkan kesulitan dalam membangun hubungan yang hangat dan terbuka. Gairah yang muncul tidak diimbangi dengan kematangan emosional dalam mengelolanya. Komitmen terlihat lemah dengan kecenderungan menunda keputusan jangka panjang karena kekhawatiran akan kegagalan hubungan yang terkait dengan pengalaman perceraian dalam keluarga mereka

    Gambaran Hubungan Romantis Pada Perempuan Dewasa Awal dengan Pengalaman Fatherless Akibat Perceraian

    No full text
    Perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian menghadapi tantangan unik dalam membangun hubungan romantis yang sehat. Ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan mereka berpotensi memengaruhi aspek keintiman, gairah, dan komitmen dalam menjalin relasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana dampak dan dinamika pada hubungan romantis pada perempuan dewasa awal dengan pengalaman fatherless akibat perceraian, dengan menggunakan teori Triangle of Love dari Sternberg (1988) sebagai kerangka teoritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman fatherless memengaruhi ketiga aspek dalam hubungan romantis, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Proses ini tidak bersifat linear, melainkan melibatkan dinamika kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal

    The effect of storytelling on the theory of mind in preschoolers

    Full text link
    This study aims to see the effect of storytellingto the theory of mind on preschoolers. Subjects in this study were 24 preschoolers (M = 60.62, SD = 2.41), who got informed consent from parents. The design of this study is one group pretest-posttest design, measuring the theory of mind before and after intervention. Data were analyzed with Wilcoxon signed rank test. The measuring tool that is used in this study is the scale of theory of mind. Storytelling is given daily to children for 4 weeks. The result shows that the storytelling can increase the theory of mind (p < .05), effect size (η2 = .80). Implications of this study is giving storytelling will help to increase preschoolers’s theory of mind. So, they can imagine, think, and predict the action will happen in the story next. In addition, the interaction of subjects with researcher in storytelling sessions will also be able to stimulate verbal words that indicate an understanding of the feelings or thoughts of others

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Penerapan Teknik Total Task Presentation untuk Meningkatkan Keterampilan Bina Diri Berpakaian pada Disabilitas Intelektual Berat

    Full text link
    Kriteria dalam menegakan diagnosa disabilitas intelektual berat salah satunya adalah memiliki hambatan fungsi adaptif. Salah satu bentuk permasalahan fungsi adaptif yang dimiliki individu dengan disabilitas intelektual berat adalah permasalahan dalam keterampilan bina diri yang di dalamnya termasuk berpakaian. Individu dengan disabilitas intelektual berat merupakan individu yang mampu dilatih dengan intens dalam hal keterampilan bina diri sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bina diri berpakaian pada individu remaja dengan disabilitas intelektual berat. Subjek dalam penelitian ini adalah laki-laki berusia 15 tahun yang didiagnosa disabilitas intelektual berat. Penelitian ini menggunakan metode dengan desain single case ABA. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah total task presentation. Penerapan teknik dilakukan dengan total 9 sesi yang terdiri dari 1 sesi pengukuran baseline dan 8 sesi penerapan total task presentation. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa teknik total task presentation dapat meningkatkan keterampilan bina diri berpakaian pada individu dengan disabilitas intelektual
    corecore