1,720,979 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
TRANSFORMASI TARI BADAYA DALAM WAYANG AJEN
AbstrakTari Badaya merupakan reportoar tari dalam genre tari Wayang yang menjadi titik perhatian agen dalam memenuhi sistem pertunjukan Wayang Ajen. Untuk mengejar sistem yang dirancang diperlukan kedinamisan dari laku kreatif guna menciptakan ruang transformasi sebagai salah satu perangkat mempertahankan tari tradisi agar tetap lestari. Stabilitas struktur dalam ranah transformasi tak terelakan dari terciptanya perubahan. Fenomena ini menjadi daya tarik untuk dianalisis agar mendapatkan temuan mengenai sejauh mana perlakuan kreatif agen dalam mentransformasi tari Badaya yang disesuaikan dengan sistem pertunjukan Wayang Ajen. Untuk menganalisis perubahan struktur tari Badaya pada ranah transformasi akan dibedah menurut cara pandang Giddens yang terbatas pada tindakan para agen untuk memodifikasi struktur yang ada sebelumnya. Ranah kajian transformasi tari Badaya ini akan menggunakan metode kualitatif yang bersifat deduktif.Kata Kunci: Tari Badaya, Wayang Ajen, Transformasi Abstract Badaya dance is the repertoire of Wayang dance genre that became the focal point of an agent to meet the system of Wayang Ajen show. To pursue the designated system, the dynamism of creative behavior is necessary to create transformation space as one of the devices to maintain a traditional dance in order to remain sustainable. The stability of the structure in the realm of the inevitable transformation of the creation of the change. This phenomenon has become an attraction to be analyzed in order to obtain findings regarding the extent to which the creative treatment agent in transforming dance Badaya customized with Wayang Ajen system. To analyze the structural changes in the realm of Badaya dance transformations will be discussed according to Giddens perspective which is limited on the actions of the agents to modify the existing structure. The realm of dance Badaya study this transformation will use qualitative methods are deductive.Keywords: Tari Badaya, Wayang Ajen, Transformatio
Tari wayang gaya Sumedang karya Raden Ono Lesmana Kartadikusumah
Tari ini mengungkapkan peristiwa dalam cerita pewayangan meliputi pengenggambaran tokoh utama dan pemeran pembantu. Penelitian ini difokuskan pada tari-tarian yang diciptakan oleh R. Ono lesmana
TUBUH, PIKIRAN, KEBUDAYAAN: TELISIK BUSANA TARI WAYANG PRIANGAN
ABSTRAKPada tari wayang, busana berperan penting sebagai ciri identitas yang membedakan dengan genre tari lainnya. Berbicara identitas busana tari Wayang Priangan, akan bersentuhan dengan tampilan secara tersurat yang menuntut perhatian untuk dianalisis. Mengingat setiap elemen busana tersebut, tidak semata-mata tercipta jika tidak menawarkan konsep-konsep tanda yang memiliki makna secara tersirat. Untuk menguak konsep tersebut akan ditelisik berdasarkan tiga aspek yang berkaitan dengan tubuh, pikiran, dan kebudayaan. Dengan demikian, pemaknaan sistem tanda pada setiap elemen busana dapat dianalisis secara detail. Ranah kajian dengan menggunakan pendekatan semiotik ini akan menggunakan metode kualitatif. Kata Kunci: Busana, Tari Wayang Priangan, tubuh, pikiran, dan budaya ABSTRACTIn Wayang dance, costume plays an important role as a characteristic identity that distinguishes it from other dance genres. Talking about costume identity of Wayang Priangan dance, it will come into contact with an explicit display that demands attention to be analyzed. Considering each element of the costume is not solely created if it does not offer concept, it will be examined based on three aspects related to body, mind, and culture. Thus, the meaning of the sign system on each costume element can be analyzed in detail. The field of study using the semiotic approach will use qualitative methods. Keywords: Costume, Wayang Priangan Dance, Mind, and Culture
PENGEMBANGAN WISATA ALAM DAN PERTUNJUKAN KAULINAN BARUDAK DI SITUS GUNUNG HAWU PABEASAN
Situs Gunung Hawu Pabeasan di Kabupaten Bandung Barat, JawaBarat, adalah salah satu daerah dengan potensi besar yang belumsepenuhnya dikembangkan. Gunung Hawu dikenal karena keindahanalamnya yang luar biasa, termasuk formasi batu kapur yang unik danfenomena alam yang menakjubkan. Namun, potensi wisata di kawasanini masih belum dimanfaatkan secara optimal.Dalam konteks pengembangan pariwisata, terutama yangberkelanjutan, penting untuk menemukan cara-cara inovatif untukmemanfaatkan potensi alam dan budaya lokal. Salah satu pendekatanyang diusulkan dalam kajian ini adalah pengembangan wisata alamyang dikombinasikan dengan pertunjukan panggung keliling tentangKaulinan Barudak dengan tema Imah Kuring, Lembur Kuring. Kaulinanbarudak adalah istilah dalam bahasa Sunda yang berarti “permainananak-anak.” Kata “kaulinan” berasal dari kata dasar “ulin,” yangberarti bermain atau melakukan aktivitas yang menghibur, sementara“barudak” berarti anak-anak. Jadi, kaulinan barudak merujuk padaberbagai jenis permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anakanakdi masyarakat Sunda. Permainan ini biasanya dilakukan di luarruangan dan sering kali melibatkan unsur fisik, sosial, dan kreatif,seperti berlari, melompat, atau bernyanyi bersama. Kaulinan barudakjuga sarat dengan nilai-nilai budaya dan sosial yang mengajarkan anakanaktentang kerja sama, sportivitas, dan kearifan lokal. Sementara“Imah Kuring” dan “Lembur Kuring” adalah dua ungkapan dalambahasa Sunda yang mengandung makna mendalam tentang identitas,kebersamaan, dan keterikatan dengan tempat tinggal serta kampunghalaman
DRAMATARI HANJUANG DI KUTAMAYA SEBAGAI ENTERTAINMENT SECTOR DALAM WISATA BUDAYA GEOTHEATER RANCAKALONG
Geotheater Rancakalong di Kabupaten Sumedang merupakansebuah inovasi ruang pertunjukan terbuka yang memadukanlanskap alam dengan ekspresi seni budaya Sunda. Lokasi inihadir di tengah berkembangnya potensi pariwisata Rancakalongyang sejak lama dikenal kaya akan tradisi serta daya tarik alamperbukitan. Secara infrastruktur, Geotheater telah ditunjang olehakses transportasi lokal, serta semakin strategis dengan adanyajalan tol Cisumdawu dan kedekatannya dengan BandaraKertajati, sehingga aksesibilitas dari luar daerah relatif mudahdijangkau (Hanim dkk., 2023). Selain itu, ragam kulinertradisional, suasana pegunungan, serta keberadaan penginapansederhana memperkaya pengalaman wisatanya. Namundemikian, sektor hiburan budaya yang seharusnya menjadipengikat utama pengalaman wisata belum sepenuhnya optimal,padahal komponen ini merupakan salah satu pendorong utamalamanya wisatawan tinggal dan kecenderungan mereka untukmerekomendasikan destinasi (Goeldner & Ritchie, 2012).Mengingat bahwa dalam kerangka ini, sektor hiburanatau entertainment memiliki posisi yang sangat strategis karenamenyediakan pengalaman yang mudah dikenali,dikomunikasikan, sekaligus dipasarkan. Seni pertunjukan,atraksi hiburan khas, dan ekspresi budaya komunal bukanhanya elemen tambahan, tetapi dapat berfungsi sebagaidiferensiasi utama yang memberi identitas unik bagi suatudestinasi sekaligus menjadi instrumen ekonomi yangmendorong daya tarik wisata dan memperkuat pelestarianbudaya (Darmawijaya dkk., 2024; Hidajat, 2025; Novianti, 2025;Siregar dkk., 2025)
Purpose Of Art Dan Kontribusinya Dalam Transformasi Budaya (Studi Kasus: Tari Jayengrana)
 Tatanan budaya memiliki sifat elastis dan dinamis mengekor pada empunya pencetus ke- budayaan yang tiada lain adalah manusia. Sifatnya yang demikian berpeluang mengalami pe- rubahan menuju cita dengan pencitraan berbeda. Kebenaran budaya, agama, ilmu, dan filsa- fat sekalipun, senantiasa menjadi kejaran setiap insan dalam ruang dan waktu yang berbatas. Upaya menggapai perubahan budaya terkadang berbenturan dengan tatanan budaya tradisi. Suatu paradoksal antar dua sisi yang berbeda bahkan menjadi penghantar menuju keabadian.Perubahan budaya berdampak pada berbagai pola kehidupan tak terkecuali tekstual tarian. Perihal ini mewujud karena berhadapan dengan laku kreatif  para seniman yang didasarkan pada maksud seni (purpose of art ) yang pada setiap sistem menganut perbedaan. Kata kunci: Budaya, purpose of art, tekstual tarian, transformas
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSU PANCARAN KASIH GMIM MANADO Lilis Sumiati1), Gayatri Citraningtyas1), Adithya Yudistira1)1)Program Studi Farmasi FMIPA UNSRAT Manado, 95115 ABSTRACT Treatment of hypertension medication was done in a long period of time so it costs a lot. The types of antihypertensive drugs are also highly variable, so it becomes an important factor in considering its use in hypertensive patients, therefore it is necessary to do a cost effectiveness analysis in order to assist in making the effective drug selection decisions by benefit and cost. This study aims to find out more cost-effectiveness treatment therapy between amlodipine-captopril and amlodipine-bisoprolol group combinations in hypertensive patients inpatients in GMIM Pancaran Kasih General Hospital Manado. This research uses descriptive research method with retrospective data retrieval. The samples in this study were 36 patients consist of 20 patients using amlodipine-captopril and 16 patients using amlodipine-bisoprolol. The results showed that the most cost-effective antihypertensive drugs were amlodipine-captopril with an ACER value of Rp. 11.808,63 and ICER value of Rp. 19.402,60. Keywords:Cost Effectiveness Analysis, Hypertension, Amlodipine-Captopril, Amlodipine Bisoprolol.ABSTRAK Terapi pengobatan hipertensi dilakukan dalam jangka waktu yang panjang sehingga membutuhkan biaya yang besar. Jenis obat antihipertensi juga sangat bervariasi, sehingga menjadi salah satu faktor penting dalam mempertimbangkan penggunaannya pada pasien hipertensi, oleh karena itu perlu dilakukan analisis efektivitas biaya agar dapat membantu dalam pengambilan keputusan pemilihan obat yang efektif secara manfaat dan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terapi pengobatan yang lebih cost-effectiveness antara kombinasi golongan amlodipin-captopril dan amlodipin-bisoprolol pada pasien hipertensi rawat inap di RSU Pancaran Kasih GMIM Manado. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif. Sampel pada penelitian ini sebanyak 36 pasien diantaranya 20 pasien menggunakan amlodipin-captopril dan 16 pasien menggunakan amlodipin-bisoprolol. Hasil penelitian menunjukan, obat antihipertensi yang paling cost-effective adalah amlodipin-captopril dengan nilai ACER sebesar Rp.11.808,63 dan nilai ICER sebesar Rp.19.402,60. Kata kunci : Analisis Efektifitas Biaya, Hipertensi, Amlodipin-Captopril, Amlodipin Bisoprolol. Â
- …
