1,721,144 research outputs found
SELECTION OF SOYBEAN CULTIVARS: PREPARATION THE PLANT BREEDING WITH MICROSPORE CULTURE METHOD
Microspore culture method can be used as plant breeding program. The preparation of cultivars selection is an important step. The research starts with cultivated five cultivars of soybean i.e: Argomulyo, Grobogan, Wilis, Anjasmoro and Black Malika. The appearence of soybean plant was observed until flowering. Selection of plants based on: sum of flower bud every plant, anther midline, total and diameter of microspore every flower bud was measured by the ‘Optilab’ software. The development of microspore done with grouping of flower bud according long 2.02.5 mm, 2.6-3.0 mm, 3.1- 3.6 mm and 3.7-4.1 mm for chooses flower bud with the most late uninucleate microspore stadium. Result of the research shows that long of flower bud 2.6-3.6 mm contain 1847-2010 late uninucleate microspores, diameter 20 µm for 5 cultivars can be used for material of microspore culture. Anjasmoro cultivar, tall of plant gain 68 cm, sum of rame 7-9, anther midline 354.67±59.67 µm, number of microspores each flower bud 2003±216. Result of responsive qulity test with anther incubation on 340C temperature for 4 days represent the most of total viable microspore, 3.371±45 on Anjasmoro cultivar. Plant breeding by Anjasmoro cultivar is the most appropriate for microspore culture treatment
A Study of Local Wisdom of Balinese Aga and Samin People to Develop Environmental Awareness Characteristics
Korelasi CRP dengan Interleukin 10 Pasien Sirosis Hati Dekompensata
KORELASI KADAR C-REACTIVE PROTEIN DENGAN IL-10 SERUM PADA PASIEN SIROSIS HATI DEKOMPENSATA INTISARI Sumarmi*., B Rina Sidharta**., Amiroh Kurniati** *PPDS Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi di Surakarta **Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi di Surakarta Pendahuluan : Sirosis hati merupakan penyakit kelainan hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B maupun C. Infeksi tersebut bila kronis dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur jaringan hati atau fibrosis yang kemudian dapat mempengaruhi fungsi hati yang dikenal dengan sirosis hati. Infeksi yang terjadi pada sirosis dapat menyebabkan terjadinya komplikasi. Berdasarkan data riskesdas dan PMI penderita hepatitis B dan C diperkirakan 28 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B dan C, 14 juta diantaranya berpotensi menjadi kronis, dan dari yang kronis tersebut 1,4 juta berpotensi untuk menderita menderita kanker hati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi kadar IL-10 dengan CRP sebagai marker inflamasi pada pasien sirosis hati dekompensata. Sehingga bila terdapat korelasi, CRP dapat digunakan untuk mendeteksi inflamasi pada pasien sirosis hati. Tempat : Penelitian di Instalasi Patologi Klinik Rumah Sakit Dokter Moewardi di Surakarta, bulan Oktober 2017. Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan kohort retrospektif. Pengambilan sampel sesuai dengan diagnosis klinisi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat Rayto microplate reader metode ELISA sandwich. Data diolah dengan menggunakan program komputer. Hasil : Total subjek 20 penderita sirosis hati dekompensata dianalisa dengan CRP dan IL-10 sehingga didapatkan hasil r = 0.386, dan p = 0.093. Simpulan : Tidak terdapatnya korelasi antara kadar CRP dengan IL-10 pada pasien sirosis hati dekompensata. Perlu dilakukan seleksi lebih ketat pada pasien dan menggunakan penanda lain yang lebih spesifik. Kata kunci : Sirosis hati, C-reactive Protein, Interleukin-1
Pendampingan iman remaja di Asrama SMU Stella Duce I, Samirono, Yogyakarta berdasarkan visi dan misi kongregasi CB dengan Katekese model shared Christian Praxis
Mekanisme Pelaksanaan Pembangunan Desa Terpadu
Pembangunan di Indonesia dilaksanakan secara menyeluruh di semua propinsi. baik itu di duerah perkotaan maupun di daerah pedesaan. Dalam membangun desa harus memperhatikan dan menggali potensi-potensi yang ada di desa, baik itu potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusianya. Semua itu dilaksanakan untuk mengembangkan desa demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran yang merata. Supaya pembangunan yang ada di desa bisa tercapai dengan baik se1ain memperhatikan potensi yang ada juga harus dilaksanakan secara terpadu antara kebijaksanaan dari atas dan dari bawah
Sekolah Hijau Sebagai Alternatif Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Menggunakan Pendekatan Kontekstual
Green school have the comitment to systematically develop school programs internalizing environmental values. As the environtment education is geared toward the development of knowledge, awareness, positive attitude, and responsible behavior toward environment, a joyful learning approach seemingly appropriate for green schools is contextual teaching and learning (CTL). Through CTL, green schools can create more meaningful lessons, making the environtment education rea
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TK PANCASILA SOBAYAN PEDAN KECAMATAN PEDAN KABUPATEN KLATEN KELOMPOK B PEDAN KLATEN TAHUN AJARAN 2011 / 2012
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI
METODE BERMAQIN PERAN DI TK PANCASILA SOBAYAN PEDAN
KLATEN KELOMPOK B TAHUN AJARAN 2011 / 2012
SUMARMI, NIM. A53B090085 MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL
EMOSIONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TK PANCASILA
SOBAYAN PEDAN KLATEN KELOMPOK B TAHUN AJARAN 2011/2012. Jurusan
Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UniversitasMuhammadiyah Surakarta 2012, 84 halaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan sosial emosional
anak melalui metode bermain peran pada pokok bahasan, memperagakan sebagai penjual tiket
dan mempegarakan orang yang jadi pemandu wisata. Penerima tindakan adalah anak
kelompok B TK Pancasila Sobayan Pedan Klaten yang berjumlah 12 anak.
Subyek pelaksanaan tindakan adalah anak. Pelaksanaan ini dilaksanakan dalam 3
putaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara.
Teknik analisis data secara deskriptif komparatif dengan analisis kritis terhadap kelemahan dan
kelebihan kinerja anak dan guru dalam proses pembelajaran yang terjadi didalam kelas selama
penelitian berlangsung.
Hasil penelitian adalah terjadi peningkatan sosial emosional melalui metode bermain
peran. Peningkatan sosial emosional pada prasiklus 35,71%, siklus I peningkatan sosial
emosional anak mencapai 54,46%, siklus II sebesar 64,58% dan siklus III mencapai 83,47%.
Dengan demikian berdasarkan hipotesis metode bermain peran dapat meningkatkan
kemampuan sosial emosional anak TK
Problematika Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami masalah yang dihadapi oleh guru dalam menerapkan kurikulum merdeka belajar dan solusi yang telah diterapkan di MI Negeri 10 Gunungkidul Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari guru kelas I dan IV. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui Triangulasi Teknik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa guru menghadapi beberapa masalah selama ujicoba penerapan kurikulum merdeka, seperti kesulitan dalam menganalisis capaian pembelajaran, merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun alat tes penilaian (ATP), dan menyusun Modul Ajar. Mereka juga kesulitan dalam menentukan metode dan strategi pembelajaran, memanfaatkan teknologi secara optimal, mendapatkan buku siswa yang memadai, menggunakan metode dan media pembelajaran yang efektif, mengatasi luasnya materi ajar, menentukan proyek kelas I dan IV, mengalokasikan waktu pembelajaran berbasis proyek, serta menentukan bentuk asesmen pada pembelajaran berbasis proyek. Solusi yang dilakukan adalah mengadakan pertemuan rutin dengan Kelompok Kerja Guru (KKG), dan pelatihan khusus yang dipimpin oleh kepala sekolah. Selain itu, mereka juga menggunakan buku abjad, menghasilkan materi sendiri, melanjutkan proyek di rumah, membuat catatan, dan mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum
Alternatif Model Pengembangan Wilayah Untuk Membendung Urbanisasi
Pada mulanya jumlah penduduk kota masih dalam batas daya dukung lingkungan, tetapi lonjakan jumlah penduduk yang mendiami kola mulai menimbulkan masalah karena daya serap ketenagakerjaan dan daya layan pengelola kota sudah kewalahan mengbadapi tantangan tersebut. Banyak usaha telah dicoba mencegah serbuan pendatang, tetapi gejala urbanisasi demikian kuatnya sehingga pertumbuhan penduduk kota sulit dikendalikan. Selama faktor-faktor pendorong dan penarik masih ada serta perbedaan kondisi sosial ekonomi antara kola dan desa masih mencolok, maka mustahil arus urbanisasi dapat dihentikan. Untuk membendung arus urbanisasi perlu disusun model pengembangan wilayah yang memungkinkan pusat-pusat pertumbuhan bisa dimanfaatkan dan dinikmati baik oleh penduduk kota maupun penduduk desa
Analisis Hubungan Kondisi Fisik Rumah Dengan Kejadian TB Paru BTA Positif di Puskesmas Kotabumi II, Bukit Kemuning dan Ulak Rengas Kab. Lampung Utara Tahun 2012
Penyakit TB Paru atau yang lebih dikenal dengan TBC masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia bahkan dunia dimana TB paru di Indonesia menjadi penyebab kematian utama ketiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Di Kabupaten Lampung Utara angka insiden TB Paru cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Puskesmas Kotabumi II, Puskesmas Bukit Kemuning dan Puskesmas Ulak Rengas merupakan tiga puskesmas dengan insiden tertinggi di Kabupaten Lampung Utara.Tujuan penelitian ini mengetahui kejelasan hubungan antara variabel independen dengan kejadian TB Paru BTA Positif di wilayah kerja puskesmas Kotabumi II, puskesmas Bukit Kemuning dan puskesmas Ulak Rengas tahun 2012.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan rancangan case control dengan sampel 62 kasus yang merupakan total populasi dan 62 kontrol dengan menitikberat-kan pada dominasi hubungan yang benar benar bersih terhadap variabel yang diduga sebagai variabel utama penyebab kejadian penyakit TB Paru.Hasil analsis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara kejadian TB Paru BTA positif dengan kondisi fisik rumah (OR = 3,72), umur (OR = 2,32), pendidikan (OR = 2,55), pekerjaan (OR = 2,75) dan kepadatan hunian (OR = 3,13). Sedangkan hasil analisis multivariat ternyata ada hubungan bermakna antara kejadian TB Paru BTA positif dengan kondisi fisik rumah (OR = 7,033), umur (OR = 3,06), jenis kelamin (OR = 2,22), pendidikan (OR = 2,33), kondisi fisik rumah dengan pendidikan (OR = 0,12) dan interaksi antara pekerjaan dengan kepadatan hunian (OR = 6,08). Kesimpulannya diperoleh hubungan yang sesungguhnya antara kondisi fisik rumah dengan kejadian TB Paru BTA positif umur, jenis kelamin, pendidikan, kondisi fisik rumah dengan pendidik-an dan interaksi antara pekerjaan dengan kepadatan hunian. Disarankan, peningkatan frekuensi penyuluhan rumah sehat, jangka pendek menambahkan genteng kaca dan membuka jendela setiap pagi hari untuk membantu masuknya sinar matahari dan sirkulasi udara, jangka panjang dengan peningka-tan perbaikan kondisi lingkungan rumah dengan lebih mempe-rhatikan aspek sanitasi rumah sehat pada saat membangun rumah dan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat
- …
