1,721,670 research outputs found
Proses Kreatif Penciptaan Karya Tari Gondang Kasih Karya Sumarmi Rochmawati
Penelitian ini mengupas tentang proses kreatif penciptaan karya tari Gondang Kasih karya Sumarmi Rochmawati, yang terinspirasi dari upacara pernikahan adat jawa pada bagian upacara panggih temanten. Alasan dasar Sumarmi mengangkat upacara pernikahan adat jawa karena ketertarikan Sumarmi dalam bagian prosesi panggih temanten, keinginan tahu Sumarmi tentang Gondang Kasih yang ternyata mempunyai makna saling memberi dan saling menerima cinta. Ketertarikan menjadikan sebuah keinginan Sumarmi dalam menciptakan tari. Tari tersebut diberi nama tari Gondang Kasih.
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Sumarmi menggunakan konsep kreativitas 4P Rhodes yaitu Person, Process, Press, dan, Product. Dengan memfokuskan pada proses penciptaan, maka dalam teori tersebut menjelaskan tentang proses kreatif dan faktor pendukung dan pendorong Sumarmi dalam menciptakan tari Gondang Kasih. Selanjutnya untuk menjabarkan proses penciptaan tari Gondang Kasih digunakannya tahap penciptaan dari Alma Hawkins yang meliputi Eksplorasi, Improvisasi, Komposisi dan Evaluasi. Tahap ini diterapkan Sumarmi dalam proses penciptaan karya tari.
Hasil penelitian ini menunjukkan Sumarmi dalam melakukan proses kreatif dipengaruhi oleh faktor internal, Sumarmi sendiri melihat adanya fakta bahwa kurangnya minat dan minimnya kesenian masyarakat dalam sebuah pagelaran seni pertunjukan yang ada di Kabupaten Magetan, selain itu faktor eksternal yaitu dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk keluarga, pemerintah, dan masyarakat yang membuat ia semangat untuk selalu terus berkarya. Gagasan tari Gondang Kasih diwujudkan dalam tahapan proses penciptaan, pertama eksplorasi Sumarmi mengamati bagaimana suatu proses panggih temanten ini berlangsung dan apa saja yang ada dalam tahap proses itu, kedua improvisasi Sumarmi melakukan proses mengembangkan gerak yang sebelumnya sudah dieksplorasi seperti gerak singgetan, ketiga komposisi Sumarmi sudah memulai merangkai motif gerak yang didapatkan, kemudian ditransfer kepada penari sekaligus melakukan latihan
bersama pemusik. Evaluasi sebagai tahap terakhir yang diterapkan disetiap proses latihan sampai dengan akhir pementasan sebagai tolak ukur keberhasilan bagian dan keutuhan karya. Dengan melalui tahap proses ini menghasilkan suatu karya tari yaitu tari Gondang Kasih.
Kata Kunci : Upacara Panggih Temanten, Gondang Kasih, Proses Kreati
POLA USAHA KRIPIK PISANG SUMARMI DI DESA WONOSALAM KABUPATEN JOMBANG DITINJAU DARI ASPEK PENGADAAN BAHAN, PRODUKSI, DAN PEMASARAN
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) memaparkan gambaran umum usaha kripik pisang Sumarmi; 2) memaparkan pola kegiatan pengadaan bahan pada usaha kripik pisang Sumarmi; 3) memaparkan pola kegiatan produksi pada usaha kripik pisang Sumarmi; 4) memaparkan pola kegiatan pemasaran pada usaha kripik pisang Sumarmi Adapun yang dimaksud dengan pola adalah suatu bentuk organisasi gagasan tentang suatu bidang pengetahuan, tindakan atau kegiatan manusia yang terjadi secara berulang-ulang, yang terbentuk oleh akibat terjadinya aktivitas-aktivitas dan interaksi. Jenis penelitian adalah case study pendekatan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian ditetapkan di unit usaha Kripik Pisang Sumarmi di Desa Wonosalam Kabupaten Jombang. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, observasi dan literatur. Metode analisis data yang digunakan adalah triangulasi pengecekan data dengan pengumpulan data dan sumber data, subyek penelitian adalah pemilik usaha kripik pisang Sumarmi. Hasil pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwasannya bentuk usaha kripik pisang Sumarmi di Wonosalam Kabupaten Jombang terbangun atas hubungan antar gagasan atau cita-cita yang didukung oleh beberapa komponen, yaitu sumber daya manusia (SDM), beberapa bidang pekerjaan yang dikerjakan diantaranya bagian pengadaan bahan, produksi dan pemasaran, tempat unruk mengerjakan dan aturan-aturan yang mengaturnya atau yang mengikatnya, sehingga terjadi hubungan yang terpola, saling ketergantungan dan membentuk suatu sistem. Pola usaha kripik pisang Sumarmi memiliki fungsi utama untuk mengumpulkan uang. Upaya untuk menciptakan sarana tersebut diperlukan penciptaan berbagai faktor kebutuhan dan daya tarik antar individu. Pada dasarnya setiap individu yang terlibat memiliki kebutuhan atau keinginan yang sama, yaitu berharap berbagai jenis ganjaran sosial baik bersifat material maupun non material.
Kata kunci : pola usaha, pengadaan bahan, produksi dan pemasaran
Abstract
The goal of this study is: 1) describes a general overview of sumarmi business banana chips; 2) describes the pattern of material procurement activities on Sumarmi banana chips business; 3 ) describes the pattern of activity in the production of Sumarmi banana chips business; 4 ) describes the pattern of marketing activities on Sumarmi banana chips business. The meaning of the pattern is a form organization of idea about a field of knowledge, human actions or human activities that occur repeatedly, which is formed by the result of the activities and interactions. This type of research is case study descriptive qualitative approach. The location specified of this research in business unit of sumarmi banana chips in wonosalam village district Jombang. Method of data collection was done with the interview, documentation, observation and literature. Method of data analysis is triangulation, the study subjects were business owners sumarmi banana chips. The result of the discussion, it is concluded that form of business sumarmi banana chips in wonosalam jombang built upon relationships between ideas or ideals that are supported by several components, that is human resources (SDM), some field carried out including material procurement, production and marketing, place to work and rules that govern or are tied, so that occurred patterned relationships, interdependence and make form a system. Sumarmi banana chips business pattern have main function to collect the money. Efforts to create the necessary means of the creation of avariety of factors need and attraction between individuals. Basically any individuals involved have the same needs or desires, which hopes various types of social rewards both material and non-material.
Key words : business patern, procurement of materials, production and marketing
// //
// /
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TK PANCASILA SOBAYAN PEDAN KECAMATAN PEDAN KABUPATEN KLATEN KELOMPOK B PEDAN KLATEN TAHUN AJARAN 2011 / 2012
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK MELALUI
METODE BERMAQIN PERAN DI TK PANCASILA SOBAYAN PEDAN
KLATEN KELOMPOK B TAHUN AJARAN 2011 / 2012
SUMARMI, NIM. A53B090085 MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL
EMOSIONAL ANAK MELALUI METODE BERMAIN PERAN DI TK PANCASILA
SOBAYAN PEDAN KLATEN KELOMPOK B TAHUN AJARAN 2011/2012. Jurusan
Pendidikan Anak Usia Dini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UniversitasMuhammadiyah Surakarta 2012, 84 halaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan sosial emosional
anak melalui metode bermain peran pada pokok bahasan, memperagakan sebagai penjual tiket
dan mempegarakan orang yang jadi pemandu wisata. Penerima tindakan adalah anak
kelompok B TK Pancasila Sobayan Pedan Klaten yang berjumlah 12 anak.
Subyek pelaksanaan tindakan adalah anak. Pelaksanaan ini dilaksanakan dalam 3
putaran. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi dan wawancara.
Teknik analisis data secara deskriptif komparatif dengan analisis kritis terhadap kelemahan dan
kelebihan kinerja anak dan guru dalam proses pembelajaran yang terjadi didalam kelas selama
penelitian berlangsung.
Hasil penelitian adalah terjadi peningkatan sosial emosional melalui metode bermain
peran. Peningkatan sosial emosional pada prasiklus 35,71%, siklus I peningkatan sosial
emosional anak mencapai 54,46%, siklus II sebesar 64,58% dan siklus III mencapai 83,47%.
Dengan demikian berdasarkan hipotesis metode bermain peran dapat meningkatkan
kemampuan sosial emosional anak TK
Korelasi CRP dengan Interleukin 10 Pasien Sirosis Hati Dekompensata
KORELASI KADAR C-REACTIVE PROTEIN DENGAN IL-10 SERUM PADA PASIEN SIROSIS HATI DEKOMPENSATA INTISARI Sumarmi*., B Rina Sidharta**., Amiroh Kurniati** *PPDS Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi di Surakarta **Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi di Surakarta Pendahuluan : Sirosis hati merupakan penyakit kelainan hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B maupun C. Infeksi tersebut bila kronis dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur jaringan hati atau fibrosis yang kemudian dapat mempengaruhi fungsi hati yang dikenal dengan sirosis hati. Infeksi yang terjadi pada sirosis dapat menyebabkan terjadinya komplikasi. Berdasarkan data riskesdas dan PMI penderita hepatitis B dan C diperkirakan 28 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B dan C, 14 juta diantaranya berpotensi menjadi kronis, dan dari yang kronis tersebut 1,4 juta berpotensi untuk menderita menderita kanker hati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi kadar IL-10 dengan CRP sebagai marker inflamasi pada pasien sirosis hati dekompensata. Sehingga bila terdapat korelasi, CRP dapat digunakan untuk mendeteksi inflamasi pada pasien sirosis hati. Tempat : Penelitian di Instalasi Patologi Klinik Rumah Sakit Dokter Moewardi di Surakarta, bulan Oktober 2017. Desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan kohort retrospektif. Pengambilan sampel sesuai dengan diagnosis klinisi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan alat Rayto microplate reader metode ELISA sandwich. Data diolah dengan menggunakan program komputer. Hasil : Total subjek 20 penderita sirosis hati dekompensata dianalisa dengan CRP dan IL-10 sehingga didapatkan hasil r = 0.386, dan p = 0.093. Simpulan : Tidak terdapatnya korelasi antara kadar CRP dengan IL-10 pada pasien sirosis hati dekompensata. Perlu dilakukan seleksi lebih ketat pada pasien dan menggunakan penanda lain yang lebih spesifik. Kata kunci : Sirosis hati, C-reactive Protein, Interleukin-1
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Pengaruh benziladenin dan ukuran bonggol pada perbanyakan tunas pisang muli (Musa paradisiaca L.) melalui belahan bonggol [Skripsi] / Sumarmi
Bibliografi : 49-51xi, 48 hlm. : ill. ; 28 cm. . -- Lamp. (22 lem
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
