73 research outputs found
Mutu Kerupuk Ikan Tenggiri dengan Penggunaan Jenis Pasir yang Berbeda Sebagai Media Penyangraian
“Kerupuk” are served after the cooking process which can be done by frying in oil, roasting with sand or by grilling. “Kerupuk” cooking process by sand roasting is known to strengthen the taste and reduce the risk of rancidity during storage. The type of sand used in sand roasting generally depends on the availability of sand near the production site. This study is aimed to determine the effect of using different types of sand on the cooking process and to determine the best type of sand that can be used. This experimental laboratory research was carried out with a completely randomized design (CRD). The experimental treatments tested were river sand (S), beach sand (P) and mixed sand (C) where each experimental treatment was tested with three replications. The quality tests of sand-roasted spanish mackerel ‘kerupuk’ were hedonic sensory value, moisture content, efflorescence value, crispness, Scanning Electron Microscopy (SEM) and color test. Nonparametric data were analyzed by Kruskall-Wallis and Mann-Whitney follow-up test. Parametric data from moisture content, efflorescence value, crispness and color were analyzed by ANOVA and Tukey HSD follow-up test. The results of the Tukey HSD test showed that different types of sand produce “kerupuk” with different moisture content and efflorescence, where P produced the lowest water content and the largest efflorescence, while for the crispness of P gives different results from S but both P and S produce the same crispness as C. The best sand that can be used for roasting mackerel “kerupuk” was beach sand with efflorescence value of 72.71 ± 0.92% and crispness of 2.020.15 ± 219.79 gf. The microstructure test results of “kerupuk” roasted in beach sand also showed looser and more porous tissue
EVALUASI KURIKULUM PENDIDIKAN BAHASA ARAB DI PERGURUAN TINGGI: ANALISIS KEBUTUHAN DAN TANTANGAN
Kurikulum pendidikan Bahasa Arab di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kurikulum yang tidak selalu relevan dengan kebutuhan pasar kerja, kurangnya fasilitas pembelajaran yang memadai, serta ketidakselarasan antara kemampuan mahasiswa dan harapan kurikulum. Penelitian ini termasuk dalam jenis library research, di mana data utama diperoleh dari kajian literatur yang sudah ada. Sumber data utama dalam penelitian ini berasal dari artikel jurnal ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal akademik serta laporan hasil penelitian. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 1). Kebutuhan kurikulum pendidikan Bahasa Arab di Perguruan Tinggi adalah bahwa kurikulum pendidikan Bahasa Arab di perguruan tinggi perlu fokus pada penguasaan kompetensi linguistik yang komprehensif (berbicara, menulis, membaca, dan mendengarkan), pemahaman keilmuan dan budaya Arab, serta pengembangan keterampilan profesional yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. 2). Tantangan kurikulum pendidikan Bahasa Arab di Perguruan Tinggi adalah bahwa tantangan utama dalam kurikulum pendidikan Bahasa Arab adalah kurangnya pembaruan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman, keterbatasan pengajar yang berkualitas, kurangnya fasilitas pendukung pembelajaran, serta ketidaksesuaian antara kurikulum dan kebutuhan dunia kerja. 3). Upaya dalam mengoptimalkan kurikulum pendidikan Bahasa Arab di Perguruan Tinggi adalah bahwa upaya untuk mengoptimalkan kurikulum termasuk pembaruan kurikulum secara berkala, pengembangan profesionalisme pengajar, peningkatan fasilitas pembelajaran, dan kolaborasi dengan dunia industri untuk memastikan keselarasan antara kurikulum dan kebutuhan pasar
PENGARUH LAMA WAKTU PENGASAPAN TERHADAP KOMPOSISI DHA (Docosahexaenoic Acids) IKAN BANDENG (Chanos-chanos Forsks)
Besides contain of high nutrition like : protein, lipid, vitamins and minerals, Milkfish also rich in calcium and phosphor and good flavour of this fish has caused of high consumer preferences in Indonesia. One of the most important nutritin compound founded in Milkfish is the omega-3 fatty acids, which is very important to human health. Because of its capability to avoid the blood circulation deseases. One of the method of preservation that implemented by many fish processors is smoking, but the omega-3 fatty acids containing in the lipid of fish is faced highly risk of occuring the reduction of its composition and even possibility of oxidation process and deterioration.
The aim of this study is to obtain the effects of smoking duration on the changes of nutrition value, and the composition of omega-3 fatty acids of Milkfish. Analisysis of the products consists of sensory test, proximate analysis and omega-3 /DHA analyisis based on the Indonesian National Standard. Statistical analysis using SPSS program and ANOVA. This research was taken place in two places i.e : the Laboratory of Fisheries Processing Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and the Laboratory of Food and Nutrition, Gajah Mada University, Yogyakarta.
The results of sensory evaluation of fresh fish shows the rate value of 8.1 means that the quality of fresh fish were still in good condition with the characteristics of bright eye, less fresh of gill , whole flesh and neutral odour. While smoked fish A (3 hours smoking duration) get the average sensory value of 8.59 (a little bit lower) and smoked fish B ( 5 hours smoking duration) get the average value of 8.78. This is caused by smoked fish B show more drak appearanced and therefore it looks more well cooked with glossy golden colour.
But generally both products are acceptable by the panellists, proved by a high average • sensory value given by the panelists. According to SNI the lowest average value of smoked fish is 7.
Proximate composition of fresh Milkfish seems on the normal as the
ordinary fresh fish and the composition is as follows : moisture content 75,03%; protein 20,30%; lipid 0,61% dan ash 1,35%, Smoking process has change the chemical composition of fish. Reduction of moisture content of ± 5% on smoked fish A and 6,92% on smoked fish B has increasing the protein content and lipid content on smoked fish A of 3,65% and 1,18%. While on smoked fish B of 7,2% and 2,92%. This changes are causes by smoking duration, temperature of smoking kiln and the wheather condition. When smoking process was raken place. The composition of ash were also changes steadily.
One of the most interesting fenomena that occurred in this study was the changing od DHA composition. The smoked fish A show that the DHA value was 121,19 mg/100g, while smoked fish B was sharply decreased until 16,4 mg/100g. This is means that smoking duration has very significant effect to the composition of DHA. Result of SPSS program shows that the probability < 0,05 so that the hypothesis of Ho which is predicted that all of fatty acids populated were identic was rejected and therefore HI which is predicted that all population of fatty acids were not identic was accepted. In other word it was identify that the two method of smoking was significantly different.
ANOVA result shows the excistensy of interaction between smoking duration and the fatty acids composition contain in Milkfish. The longer the duration of smoking the lower the fatty acids composition. This fenomena is also shows that the longer the duration of smoking the higher possibility of the oxidation process occurred and the higher possibility of deterioration of DHA. So, it can be concluded that smoking duration should be not more than 3 hours.
Ikan Bandeng selain bergizi tinggi karena mengandung protein, lemak,vitam in dan mineral yang kaya akan kalsium dan fosfor juga rasanya lezat gurih sehingga sangat digemari masyarakat Indonesia. Salah satu komponen yang menonjol dalam nutrisi ikan Bandeng adalah asam lemak omega-3 yang sangat berguna bagi kesehatan manusia, karena dapat mencegah penyakit yang berhubungan dengan peredaran darah. Ikan Bandeng sering diawetkan dengan cara pengasapan, namun asam lemak omega-3 dalam lemak ikan ini beresiko mengalami penurunan komposisi dan bahan kemungkinan dapat mengalami kerusakan atau oksidasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana lama waktu pengasapan dapat berpengaruh pada perubahan nilai gizi dan komposisi asam lemak omega-3 ikan Bandeng. Analisa produk meliputi uji organoleptik, analisa proksimat dan analisa asam lemak terutama asam lemak omega-3 DHA dengan menggunakan metoda yang berdasarkan pada Standar Nasional Indonesia. Analisa statistik menggunakan program SPSS dan ANOVA. Penelitian dilakukan di 3 tempat yaitu : Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro dan Laboratorium Pangan dan Gizi, Universitas Gajah Mada Yogyakarta.
Hasil uji organoleptik ikan Bandeng Segar menunjukkan nilai 8,1 yang berarti mutu ikan masih sangat baik dengan kriteria mata cerah, insang kurang cemerlang, daging utuh dan berbau netral. Sedangkan ikan asap A (3 jam pengasapan) mempunyai nilai organoleptik rata-rata 8, 59 sedikit lebih rendah dari ikan asap B ( 5 jam pengasapan) yang mendapatkan nilai rata-rata dari panelis sebesar 8, 78. Hal ini disebabkan karena ikan asap B mempunyai kenampakan
lebih matang dan warna coklat keemasan lebih gelap. Namun secara keseluruhan dapat diterima dengan baik oleh panelis, dengan nilai cukup tinggi karena menurut SNI batas penerimaan ikan Bandeng Asap adalah 7.
Komposisi proksimat ikan Bandeng Segar nampak berada pada nilai normal yaitu kadar air 75,03%; protein 20,30%; lemak 0,61% dan Abu 1,35%. Proses pengasapan telah merubah komposisi proksimat ikan. Penurunan kadar air sebesar ± 5% pada ikan asap A dan 6,92% pada ikan asap B telah meningkatkan kadar protein, lemak dan pada ikan asap A sebesar 3,65%; 1,18%. Sedangkan pada ikan asap B sebesar 7,2% dan 2,92%. Perubahan komposisi ini antara lain dipengaruhi oleh lama waktu pengasapan, suhu pengasapan dan keadaan angin pada saat dilakukan proses pengasapan. Kadar abu mengalami perubahan komosisi yang tidak jauh berbeda.
Satu hal yang paling menonjol ditemukan dalam penelitian ini adalah pada komposisi DHA atau asam lemak omega-3 produk. Pada ikan asap A komposisi DHA dijumpai sebesar 121,19 mg/100g sedangkan ikan asap B sebesar 16,4 mg/100g. Ini berarti bahla lama waktu pengasapan sangat berpengaruh terhadap komposisi DHA. Hasil perhitungan program SPSS menunjukkan bahwa probabilitas < 0,05 sehingga Ho yang menyatakan semua populasi asam lemak identik ditolak dan Hi yang menyatakan populasi tidak identik diterima. Dengan kata lain terdapat perbedaan nyata pada kedua perlakuan.
Hasil pengujian ANOVA menunjukkan adanya interaksi anta lama waktu pengasapan dengan berbagai jenis asam lemak yang terdapat pada lemak ikan. Semakin lama waktu pengasapan semakin rendah komposisi asam lemak pada lemak ikan. Kecenderungan ini juga dapat mencerminkan bahwa semakin lama waktu pengasapan kemungkinan terjadinya kerusakan asam lemak DHA semakin tinggi. Oleh karena itu disarankan lama waktu pengasapan ikan sebaiknya tidak lebih dari 3 jam
PENGOLAHAN KERUPUK TERIPANG SEBAGAI SALAH SATU PEMANFAATAN KEKAYAAN LAUT DI PERAIRAN KEPULAUAN KARIMUNJAWA
Pemanfaatan potensi sunberdaya laut melalui diversifikasi basil pengolahan merupakan suatu usaha yang perlu dikembangkan. Pemanfaatan teripang di Karimunjawa mempunyai prospek yang entail) baik disamping yang telah dilakukan oleh pengolah setempat. Diharapkan basil penelitian ini dapat dimanfaadcan oleh penduduk Kepulauan Karimunjawa dalam rangka peningkatan pemanfa.atan sumber daya perairan yang ada.
Panetitian dilaksanakan pada bulan Jab sampai Oktober 2004 bertempat di Kepulauan Karimunjawa dan Laboratorium THP, junisan Perikanan, Universitas Diponegoro.
Bahan meliputi teripang pasir yang diperoleh dari perairan Kepulauan Karimunjawa, pasir pantai, dan minyak kelapa. Mat yang digtmalcan adalah ember, penggorengan, timbangan, dan tempat penjemuran. Sedangkan prosedttmya mengacu pada Supamo et aL (1993). Kemudian dilakukan analisa subyektif (organoleptik) untuk mengukur kesukaan terhadap kerupuk teripang dan analisa proksimat (kadar air, protein, lemak, abu, dan garam).
Basil dan uji kesukaan didapat nilai selang kepercayaan 6,17 < p < 7,43 yang berarti produk kerupuk teripang tersebut disukai oleh konsumen. Sedangkan basil analisis proksimat (prosentase) yang terdiri dan protein 43,19 %, air 2,58 %, lemak 32,33 % dan abu 14, 58 %
KARAKTERISTIK SENSORI PINDANG IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) DENGAN PENAMBAHAN GARAM BLEDUG KUWU
Ikan pindang merupakan ikan yang direbus dengan penambahan garam. Garam yang biasanya digunakan untuk pembuatan ikan pindang adalah garam krosok. Pemindangan menggunakan garam krosok kurang higienes, karena masih terdapat kotoran. Pemberian garam bledug kuwu selain sebagai bahan pengawet, juga merupakan sumber mineral sulfur dan iodium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan karakteristik ikan pindang kembung (Rastrelliger sp.) terhadap penambahan garam bledug kuwu dan mengetahui konsentrasi garam bledug kuwu terbaik berdasarkan karakteristik kimia dan sensori. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 kali ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi garam bledug kuwu (5%, 10% dan 15%) pada ikan pindang kembung. Pembanding yang digunakan adalah ikan pindang kembung dengan penambahan garam krosok 10%. Parameter pengujian yang dilakukan adalah kadar protein, kadar lemak, kadar air, kadar abu, kadar mg, kadar garam dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan pindang kembung dengan penambahan garam bledug kuwu 10% berpengaruh nyata terhadap kadar protein (18,73±0,15), kadar lemak (0,74±0,04), kadar air (69,89±0,21), kadar abu (7,08±0,35), kadar Mg (2,66±0,43), kadar garam (4,72±0,05) dan nilai hedonik (8,09<µ<8,21). Penambahan garam bledug kuwu 10% merupakan konsentrasi terbaik yang ditambahkan pada ikan pindang kembung
PROFIL ASAM LEMAK PETIS IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) DENGAN SUHU PEMASAKAN YANG BERBEDA
Petis merupakan salah satu produk pemanfaatan limbah hasil perikanan. Pada penelitian ini, petis diolah dari limbah air sisa perebusan bandeng presto. Petis ikan bandeng memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang tinggi, karena sumber nutrisi bahan baku petis ikan berupa ikan bandeng (C. chanos Forsk). Suhu pemasakan dapat mempengaruhi komposisi nutrisi asam lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perlakuan suhu yang berbeda terhadap profil asam lemak pada petis ikan bandeng (C. chanos Forsk) dan suhu terbaik dalam proses pemasakan. Penelitian dilakukan menggunakan metode rancangan acak lengkap, dengan 1 (satu) factor yaitu perbedaan suhu pemasakan petis ikan bandeng, antara lain: 50°C, 60°C dan 70°C. Parameter pengujian adalah profil asam lemak, kadar air, kadar lemak, viskositas dan organoleptik. Data parametrik diuji sidik ragam dilanjutkan uji beda nyata jujur, sedangkan data non parametrik diuji Kruskal Wallis dilanjutkan uji Mann Whiteney. Penelitian menunjukkan hasil beda nyata dan suhu pemasakan 60°C menghasilkan kwalitas petis lebih baik secara kimiawi maupun organoleptik dibandingkan dengan suhu pemasakan lainnya, dengan hasil: 43,5% kadar air; 3,46% kadar lemak, 3983cp viskositas dan dari segi organoleptik memiliki selang kepercayaan 7,67<µ<8,09. Profil asam lemak menunjukkan bahwa asam lemak jenuh tertinggi adalah asam palmitat (1,306%) dan asam lemak tak jenuh tertinggi adalah asam oleat (1,705%). Perbedaan suhu pemasakan petis ikan berpengaruh nyata (p<5%) terhadap kadar air, kadar lemak dan viskositas. Petis ikan bandeng hasil penelitian ini didominasi asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh sehingga baik apabila digunakan sebagai pelengkap dalam sajian makanan
KARAKTERISTIK TERASI IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) DENGAN PENAMBAHAN SERBUK BIT MERAH (Beta vulgaris L.) SEBAGAI PEWARNA ALAMI
Terasi adalah salah satu produk fermentasi yang terbuat dari ikan atau udang. Dalam penelitian ini ikan kembung digunakan sebagai bahan baku. Warna terasi merupakan salah satu atribut mutu yang penting, sehingga terkadang masih ditemukan terasi dengan bahan pewarna yang tidak aman di pasar. Salah satu alternatif bahan untuk memperbaiki warna terasi adalah dengan menggunakan pewarna alami seperti bit merah. Pigmen warna dari bit merah yaitu betacyanin (merah-ungu) dan betaxanthin (kuning) dapat menjadi alternatif pewarna alami untuk produk terasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi bit merah terhadap karakteristik fisikokimia dan sensori terasi ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan konsentrasi serbuk bit merah yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dengan 3 kali ulangan. Parameter yang diuji meliputi kadar air, kadar garam, warna, pH, total mikroba dan uji organoleptik. Data parametrik dianalisis menggunakan uji ANOVA dan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Penambahan konsentrasi serbuk bit merah yang berbeda pada terasi ikan kembung memberikan pengaruh (P5%) ditunjukkan pada total BAL. Terasi ikan kembung dengan penambahan konsentrasi serbuk bit merah 5% merupakan produk yang terbaik yang memberikan warna terbaik dengan hasil uji kadar air 46,59%, kadar garam 15,56%, L* 59,93, a* 3,45, b* 5,79, pH 6,63, dan total BAL, 6,8× 106 CFU/ml, nilai sensori dengan sebesar 7,58<µ<7,66
KARAKTERISTIK SIRUP BUAH PEDADA (Sonneratia caseolaris) DENGAN PENAMBAHAN GELATIN TULANG, KULIT, DAN SISIK IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp.)
Pengolahan sirup buah pedada memerlukan penstabil larutan. Penggunaan gelatin dapat mempertahankan kestabilan sirup buah pedada. Tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gelatin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan gelatin tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah terhadap karakteristik sirup buah pedada dan jenis gelatin terbaik untuk formula sirup buah pedada. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental laboratories menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan pada penelitian ini adalah penambahan gelatin tulang, kulit, dan sisik ikan kakap merah sebanyak 8% terhadap sirup buah pedada, dengan kontrol adalah sirup buah pedada tanpa penambahan gelatin. Masing-masing perlakukan diuji sebanyak tiga kali pengulangan. Berdasarkan analisis sidik ragam dan Duncan, perbedaan jenis gelatin berpengaruh nyata (P5%) terhadap kestabilan, pengujian kapang, dan hedonik (parameter tekstur). Sirup buah pedada dengan penambahan gelatin sisik ikan kakap merah disukai oleh panelis dengan nilai hedonik sebesar 7,08, lebih tinggi dari penggunaan gelatin tulang dan kulit, tetapi tidak berbeda nyata (P>5%) dengan sirup buah pedada kontrol. Sirup buah pedada tersebut memiliki nilai viskositas sebesar 164,34 cP, 98,46% kestabilan, nilai pH sebesar 3,75 dan kecerahan (nilai L) sebesar 38,97
SIKAP MASYARAKAT SURABAYA TERHADAP TAYANGAN ENTERTAINMENT NEWS DI NET. TV (Studi Deskriptif Kuantitatif Sikap Masyarakat Surabaya Terhadap Tayangan Entertainment News di Net TV)
Tayangan Entertainment News di NET TV selalu memberikan informasi
pemberitaan media massa di Indonesia. Entertainment News di NET TV menjadi
pemberitaan yang positif mengenai informasi kuliner, sport, selebriti maupun
mancanegara sehingga banyak diminati oleh masyarakat kini.
Metode penelitian ini deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini
adalah masyarakat Surabaya yang berusia 18 hingga 65 tahun. Sampel sebanyak
100 responden dengan memenuhi kriteria yang telah ditentukan peneliti.
Berdasarkan analisis penelitian ini responden memberikan sikap positif.
Kata Kunci : Kognitif, Afektif, Konatif, Entertainent News dan Responde
Efektivitas Serbuk Simplisia Biji Pepaya sebagai Antibakteri pada Udang Putih (Penaeus merguensis) Selama Penyimpanan Dingin
Udang putih (Penaeus merguensis) merupakan salah satu produk perikanan yang memiliki sifat mudah busuk (highly perishable). Serbuk simplisia biji pepaya (C. papaya L.) mengandung senyawa aktif flavonoid, fenol, tanin dan saponin yang dapat digunakan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas serbuk simplisia biji pepaya terhadap masa simpan udang putih selama penyimpanan dingin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF)dengan 2 faktor yaitu konsentrasi serbuk simplisia biji pepaya (0% dan 4%) dan lama penyimpanan (0, 4, 8 dan 12 hari). Data terdiri dari analisis fitokimia dan rendemen serbuk simplisia biji pepaya, Total Plate Count (TPC), Total Volatile Base Nitrogen (TVBN), organoleptik dan pH udang putih hasil penelitian. Rendemen serbuk simplisia biji pepaya sebesar 40,67% dengan kandungan flavonoid 0,12%, saponin 0,24%, fenol 0,67%, dan tanin 0,72%. Udang putih segar yang disimpan dengan serbuk simplisia biji pepaya konsentrasi 4% mampu bertahan hingga hari ke-12 dibandingkan dengan udang putih segar tanpa serbuk simplisia (kontrol) yang hanya bertahan hingga hari ke-8. Perbedaan konsentrasi serbuk simplisia biji pepaya dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata (p<5%) terhadap nilai TPC, pH serta organoleptik. Nilai TPC udang putih yaitu 7,1x105 CFU/gram, TVBN 33,60 mgN/100g, nilai pH 7,26 dannilai organoleptik 6,7
- …
