1,724,124 research outputs found

    Pengantar perlindungan hutan/ Sumardi

    No full text
    iii, 123 hal. ; 29 cm

    Tari Berthema"Kedok"

    No full text
    Tari Berthema"Kedok" Karya: Sumardi, Ujian penyajian Tari, Pendapa ISI Surakart

    Lembar Review naik pangkat IVB Sumardi

    Full text link
    Berisikan hasil review, Jurnal dan Prosceding serta sertifikany

    Pengantar perlindungan hutan/ Sumardi

    No full text
    iii, 123 hal. ; 29 cm

    Rahasia menjadi siswa unggul/ Sumardi

    No full text
    viii, 159 hal.: ill.; 21 cm

    Rahasia menjadi siswa unggul/ Sumardi

    No full text
    viii, 159 hal.: ill.; 21 cm

    Rahasia menjadi siswa unggul/ Sumardi

    No full text
    viii, 159 hal.: ill.; 21 cm

    Bentuk Tari Sesanduran Karya Sumardi

    No full text
    The purpose of this study is to describe the dance form "Sesanduran" by Sumardi. This study uses a qualitative method with the theory of form according to Sumandiyo Hadi. The data sources in this study were Sumardi as the choreographer, Purwo Suleksono as the music director, Efrin Umma as the dancer, and Ismiati as the fashion make-up artist. Data collection techniques using observation, interviews and documentation. Data analysis was carried out in a qualitative descriptive manner with data reduction steps, data presentation and drawing conclusions. Data validity uses source triangulation, method triangulation and time triangulation to prove the validity of the data. The results showed that the new traditional dance "Sesanduran" presented at the 2014 Archipelago Dance Parade competition, was inspired by the movements of the Bancik Sandur scene consisting of six, Tutup buka kudhung, Bancik Endhog, Kendhi, Dengkul, Shoulders, and Kalongking with characteristic movements Tubanan. The title of the dance "Sesanduran" means playing Sandur, which describes the phases of human life from birth to passing away to the Almighty. Make-up and clothing arrangements are matched to look fresher, simpler and have a lively feel. Using Cawik clothes and gedog batik pants is a characteristic of Tuban. The iringan music is made exactly like Sandur's art with the kendhang and gong gong instruments. The place for the "Sesanduran" dance performance is held on a semi-open stage. Using the properties of rontek, eggs, kendhi, ubo rampe (offerings), and sampur. The "Sesanduran" dance is danced by nine female dancers, and three male supporting dancers to deceive the views of the jury and the audience.                From this it can be concluded that the Sesanduran Dance is a complex dance work from the point of view of its form, starting from dance moves, techniques, styles, floor patterns, musical accompaniment, make-up, clothing, dancers, props, and stage setting. Of the several forms in the Sesanduran dance, there are distinctive icons depicting the typical Tubanan dance moves, Sumardi's style of movement, musical accompaniment with the acapella technique, then clothing consisting of gedog batik motifs. Icon is one of the targets for the identification of characteristics by Sumardi so that Tuban is better known outside the region through the works he creates. Keywords: Artist, Sumardi, Shape, Sesanduran Danc

    Proses Kreatif Penciptaan Tari Lencir Kuning Karya Sumardi

    Full text link
    Penelitian ini berfokus pada proses kreatif penciptaan tari Lencir Kuning karya Sumardi, yang terinspirasi dari keunikan Cawik, karakter tokoh perempuan tapi diperankan laki-laki. Hal yang menarik dalam proses penciptaan tari Lencir Kuning yaitu adanya perubahan gender Cawik dari Kesenian Sandur yang ditarikan oleh laki-laki kemudian pada tari Lencir Kuning ditarikan oleh perempuan, sehingga muncullah sebuah rumusan masalah yaitu bagaimana proses kreatif penciptaan Tari Lencir Kuning karya Sumardi? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Potensi kreatif Sumardi dianalisis dengan menggunakan konsep kreativitas 4P Rhodes yang meliputi Person, Process, Press, dan Product. Dengan berfokus pada proses kreatif penciptaan, maka dapat dijelaskan pribadi kreatif dan faktor pendukung atau pendorong yang bagaimana yang dapat menghasilkan produk tari Lencir Kuning. Selanjutnya untuk menjabarkan proses penciptaan tari Lencir Kuning digunakan konsep penciptaan Hawkins meliputi eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi. Pada kenyataannya konsep ini juga diterapkan Sumardi dalam proses penciptaannya. Hasil penelitian menunjukkan Sumardi dalam melakukan proses kreatif dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu pengalamannya dalam berkesenian dan keinginan membuat karya tari bernuansa tubanan, dan faktor eksternal yaitu dukungan dari lingkungan sekitarnya, termasuk keluarga, pemerintah, dan masyarakat yang membuat ia semangat untuk selalu berkarya. Gagasan karya Lencir kuning diwujudkan melalui tahapan proses, pertama adalah eksplorasi, mengimajinasikan figur Cawik yang memerankan bunga desa dan mengamati kondisi geografis Tuban yang merupakan daerah pesisir digunakan sebagai landasan konsep busana tari. Improvisasi, melakukan pengembangan gerak dari Kesenian Sandur, yang sebelumnya sudah dieksplorasi contohnya nyirik gedekan yang merupakan pengembangan dari selutan gedekan. Pada tahap komposisi, Sumardi mulai merangkai motif-motif gerak yang telah didapatkan, contoh jalan gambuh dipilih sebagai motif pembuka tarian dan gonjingan sebagai motif penutup tarian kemudian ditransfer ke penari sekaligus latihan bersama pemusik. Evaluasi sebagai tahap akhir, diterapkan di setiap akhir proses yang dilakukan sebagai tolak ukur keberhasilan setiap bagian dan keutuhan karya. Dengan melakukan tahapan proses ini akhirnya menghasilkan sebuah karya tari yaitu tari Lencir Kuning, mempresentasikan karakter perempuan dengan penari perempuan. Hal ini menegaskan bahwa tari Lencir Kuning merupakan tari perempuan. Kata Kunci: Sandur, Cawik, Lencir Kuning, Proses Kreati
    corecore