1,721,825 research outputs found
Renewing Shadow Puppet Musics Created by Sukron Suwondo
"Renewing Shadow Puppet Musics Created by Sukron Suwondo” was a research to accelerate in achieving the position of chief lecturer funded by DIPA ISI Surakarta. This research used qualitative descriptive method by using data collection techniques through literature review, interview, recording, and transcription. This research tried to uncover two problem formulations, namely (1) the background of creating the Sukron Suwondo musical composition, (2) the relevance of Sukron Suwondo's work to contemporary performance. To answer these two problem formulations, interviews were also conducted with four dalang (traditional puppeteers) who often used Sukron Suwondo's works, including Seno Nugroho, Anom Dwijo Kangko, Sigid Aryanto, and Cahyo Kuntadi. The results of this study indicated that there were a number of factors underlying the innovations carried out by Sukron Suwondo, as well as other things that made the work of Sukron Suwondo relevant to the needs of today's pakeliran (Javanese traditional shadow puppet show). Keywords: Javanese music, shadow puppet, Sukron Suwondo DOI: 10.7176/ADS/79-08 Publication date: December 31st 201
ANALISIS SWOT DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN PADA UD SUKRON DESA GRAGALAN KECAMATAN KEDUNGWARU KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK
skripsi ini berjudul” Analisis SWOT dalam meningkatkan volume
penjualan menurut perspektif Islam pada UD Sukron Tulungagung” ini ditulis
oleh M Thoyib Sulaiman, pembimbing Dr.Hj. Nur Aini Latifah, S.E, M,M.
penelitian ini dilator belakangi oleh perkembangan bisnis di Indonesia
terutama dalam bidang bahan pangan yang semakin lama semakin berkembang
dan menunjukan kopleksitas.persaingan perubahan dan ketidakpastian.keadaan
seperti ini menimbulkan persaingan yang tajam antar pebisnis yang ada.sehingga
memaksa pebisnis untuk untuk memaksa perusahaan lebih memperhatikan
lingkungan perusahaan dari internalnya sendiri maupun eksternalnya. Agar
perusahaan mengetahui strategi pemasaran seperti apa dan bagaimana yang harus
diterapkan pada perusahaan. Seperti dalam UD Sukron Tulungagung strategi
pemasaran merupakan rencana yang menyeluruh untuk mencapai tujuan
perusahaan.
Rumusan masalah dalam penulisan skripsi ini adalah (1) bagaimana
analisis SWOT dalam menentukan strategi pemasaran pada UD Sukron
Tulungagung ? (2) strategi pemasaran apa yang digunakan UD Sukron
Tulungagng?
Dalam penelitian ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan mix
method yaitu kombinasi dari penelitian kualitatif dan kuantitatif. Dengan teknik
pengumpulan data melalui wawancara yang mendalam terhadap informan.
Analisis yang digunakan adalah SWOT yang didalamnya berisi kolaborasi antara
faktor internal dan faktor eksternal perusahaan.
Hasil penelitian yang dilakukan penulis pada UD Sukron Tulungagung
adalah dengan penggunaan analisis SWOT, maka UD Sukron Tulungagung dapat
menggunakan strategi SO (strengths-Oportunities) yaitu mempertahankan dan
meningkatkan kualitas produk maupun pemberian servise kepada
konsumen.selalu berinovasi pada produk yang ditawarkan , mempertahankan
hubunga yang baik dengan konsumen.
Kata kunci : strategi pemasaran, Analisis SWO
STRATEGI PEMASARAN SYARIAH PETERNAKAN AYAM PETELUR SUKRON GUNA MENINGKATKAN DAYA SAING
Skripsi dengan judul “Strategi Pemasaran Syariah Peternakan Ayam Petelur Sukron guna Meningkatkan Daya Saing” ini ditulis oleh Qurotal A’yun, NIM. 12640521324, pembimbing Dr. Deny Yudiantoro, S.AP., M.M.
Penelitian ini membahas penerapan strategi pemasaran syariah dalam usaha peternakan ayam petelur Sukron guna meningkatkan daya saing. Peternakan Sukron dipilih sebagai objek penelitian karena penerapan nilai-nilai Islam dalam operasional bisnisnya serta posisinya di Kabupaten Blitar, daerah dengan persaingan tinggi dalam sektor ayam petelur. Fokus penelitian ini mencakup bagaimana strategi pemasaran berbasis syariah dapat meningkatkan daya saing usaha, segmentasi pasar yang diterapkan, serta kendala yang dihadapi peternakan Sukron dalam mempertahankan eksistensinya di pasar.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan pendekatan induktif untuk memahami pola penerapan strategi pemasaran syariah di peternakan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran syariah yang diterapkan di peternakan Sukron berlandaskan tiga prinsip utama: ketakwaan, kesederhanaan, dan kebajikan. Prinsip ketakwaan diterapkan melalui transparansi dalam kehalalan pakan dan proses produksi. Prinsip kesederhanaan diwujudkan dalam penetapan harga yang wajar dan adil. Sementara itu, prinsip kebajikan tercermin dalam praktik pemasaran yang jujur, transparan, dan bermanfaat bagi konsumen.
Segmentasi pasar yang dilakukan oleh peternakan Sukron yaitu segmentasi geografis, demografis, psikografis dan perilaku. Segmentasi ini lebih mengarah pada konsumen yang mengutamakan produk halal, berkualitas, dan berasal dari usaha yang mengedepankan etika Islam. Kendala utama yang dihadapi meliputi fluktuasi harga pakan, persaingan yang ketat dengan peternakan besar, serta keterbatasan modal dalam pengembangan usaha. Meskipun demikian, penerapan strategi pemasaran syariah terbukti membantu meningkatkan loyalitas pelanggan, membangun kepercayaan pasar, dan menjaga keberlangsungan usaha dalam kondisi persaingan yang ketat.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap peneliti selanjutnya mengenai pemasaran syariah, khususnya di sektor peternakan ayam petelur. Selain itu, hasil penelitian dapat dijadikan referensi bagi pelaku usaha lain yang ingin menerapkan strategi pemasaran berbasis syariah untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan bisnis mereka.
Kata Kunci: Strategi Pemasaran Syariah, Prinsip Syariah, Ayam Petelur, Daya Saing
Tindak Tutur dalam Studi Kasus Pakeliran Wayang Kulit Purwa Sukron Suwondo (Kajian Sosiopragmatik)
This research is descriptive qualitative with a holistic critical approach, by examining three factors, namely: (1) objective factors are three stories that focus on the types of speech acts found, dominant speech acts, direct/indirect speech strategies, implicature and pragmatic power and the unique features of pakeliran which include elements of working on chess, working on musical instruments, working on sabet, and working on sanggit plays; (2) the genetic factor is conducting in-depth interviews on the reasons for Sukron Suwondo as the unconventional mastermind in playing three stories about the findings of objective factors; (3) the affective factors of public perception, namely the puppeteers, humanists, art experts, lovers of the art of puppetry, regarding the findings on the objective factors of working on Pakekiran Sukron Suwondo, it will be known the positive and negative impacts on Pakekiran. The findings of the research results are as follows. First, the Sukron Suwondo shadow puppet show underwent a change in form, elements of work on, and meaning. Second At this time, Sukron Suwondo appears as a puppeteer who is different from other puppeteers, with all his strengths and weaknesses, even by some people he is considered a puppeteer who is controversial and unconventional. The third of the three speech act stories is the dominant play (TTKUMDSLSMG), namely there are 5,085 speech acts. The four speech strategies that choose to use indirect types of speech acts are used more often than direct speech acts. The implication of compliance with the maxims of the principle of cooperation is needed when speakers and speech partners emphasize the element of cooperation in speech acts, therefore other communication principles are needed, namely the principle of politeness (PSS), the principle of relevance (PR), the principle of humor ( PH), and the principle of harmony (PK)
STUDI KASUS PAKELIRAN WAYANG KULIT PURWA SUKRON SUWONDO BESERTA TINDAK TUTURNYA ( KAJIAN SOSIOPRAGMATIK)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) keunikan/ ciri kekhasan bentuk garap/unsur-unsur pertunjukan wayang kulit Sukron Suwondo; (2) kepatuhan Sukron Suwondo terhadap garap pakem pakeliran tradisi gaya Surakarta pada umumnya; (3) jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam lakon Kyai Udan Mas, Dåsåmukå Lahir, Semar Ngruwat (TTKUMDSLSMG),dan menentukan tindak tutur yang dominan, serta mengungkap Implikatur, daya pragmatik pada tuturan tersebut; (4) Strategi bertutur yang diungkapkan dalam wujud tindak tutur langsung/ tidak langsung, kaitannya dengan pelanggaran maksim prinsip kerjasama/ prinsip kesantunan dalam pakeliran Sukron Suwondo; (5) tanggapan/ pandangan para pakar/ahli pewayangan, budayawan, dan para seniman dalang pertunjukan wayang kulit purwa, terhadap bentuk dan wujud pakeliran Sukron Suwondo.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik holistik, dengan mengkaji tiga faktor yaitu: (1) faktor objektif adalah tiga cerita yang berfokus pada jenis tindak tutur yang ditemukan, tindak tutur yang dominan, strategi bertutur langsung/ tidak langsung, Implikatur dan daya pragmatik serta ciri-ciri keunikan pakeliran yang meliputi unsur garap catur, garap karawitan pakeliran, garap sabet, dan unsur garap sanggit lakon; (2) faktor genetik adalah melakukan wawancara mendalam alasan Sukron Suwondo dalam memainkan tiga cerita tentang temuan faktor objektif; (3) faktor afektif persepsi masyarakat yaitu para pakar/ ahli pewayangan, budayawan, dan para dalang pertunjukan wayang kulit purwa, tentang temuan terhadap faktor objektif garap pakeliran Sukron Suwondo, untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif terhadap pakeliran.
Temuan hasil penelitian tersebut seperti berikut ini. Pertama pertunjukan wayang kulit Sukron Suwondo mengalami perubahan bentuk, perubahan unsur garap, dan makna. Perubahan ini terjadi adanya faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal karena Sukron Suwondo ingin selalu eksis di tengah-tengah masyarakat pendukungnya, dan faktor eksternal adanya perubahan teknologi komunikasi, perubahan sosial dan perubahan sistem nilai. Kedua Pada saat ini Sukron Suwondo tampil sebagai sosok dalang yang berbeda dengan dalang-dalang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, bahkan oleh sementara orang ia dianggap sebagai dalang yang kontroversial dan inkonvensional. Ketiga dari tiga cerita tindak tutur yang dominan lakon (TTKUMDSLSMG) adalah sebagai berikut: terdapat 5.085 tindak tutur, yang terdiri dari Tindak tutur Asertif sebanyak 1.849 ttr. (36,36%), mencakup subtindak tutur ‘memberitahu’ 849 ttr. (16,70%), subtindak tutur ‘menjelaskan’ 483 ttr. (9,50%), subtindak tutur ‘meyakinkan’ 254 ttr. (4,99%), subtindak tutur ‘mengingatkan’ 195 ttr. (3,83%), subtindak tutur ‘menceritakan’ 38 ttr. (0,75%), subtindak tutur ‘menunjukkan’ 6 ttr. (0,12%), subtindak tutur ‘melaporkan’ 4 ttr. (0,08%). Tindak tutur direktif sebanyak 1.298 ttr. (25,53%), mencakup subtindak tutur ‘bertanya/menanyakan’ 415 kali ttr. (8,16%), subtindak tutur ‘menyarankan’ 193 kali ttr. (3,80%), subtindak tutur ‘memerintah/menyuruh’ 188 kali ttr. (3,70%), subtindak tutur ‘memohon’ 153 kali ttr. (3,01%), subtindak
tutur ‘mengharapkan’ 144 kali ttr. (2,83%), subtindak tutur ‘menasihati’ 98 kali ttr. (1,92%), subtindak tutur ‘memaksa’ 52 kali ttr. (1,02%), subtindak tutur ‘memanggil’ 27 kali ttr. (0,53%), subtindak tutur ‘melarang’ 15 kali ttr. (0,29%), subtindak tutur ‘meminta’ 13 kali ttr. (0,26%).Tindak tutur ekspresif sebanyak 998 ttr. (19,63%), mencakup subtindak tutur ‘mengakui’ 569 kali ttr. (11,19%), subtindak tutur ‘menyadari’ 217 kali ttr. (4,27%), subtindak tutur ‘menyesal’ 126 kali ttr. (2,48%), subtindak tutur ‘menyangkal’ 51 kali ttr. (1,00%), subtindak tutur ‘meminta maaf’ 25 kali ttr. (0,49%), subtindak tutur ‘mengeluh’ 10 kali ttr. (0,20%). Tindak tutur verdiktif sebanyak 509 ttr. (10,01%), yang terdiri subtindak tutur ‘menyalahkan’ 225 kali ttr. (4,42%), subtindak tutur ‘menuduh’ 154 kali ttr. (3,03%), subtindak tutur ‘menegur’ 43 kali ttr. (0,85%), subtindak tutur ‘memuji’ 41 kali ttr. (0,81%), subtindak tutur ‘berterima kasih’ 23 kali ttr. (0,45%), subtindak tutur ‘memarahi’ 20 kali ttr. (0,39%), subtindak tutur ‘menghubungkan’ 3 kali ttr. (0,06%). Tindak tutur komisif sebanyak 396 kali ttr. (7,79%), subtindak tutur ‘menolak’ 132 kali ttr. (2,60%), subtindak tutur ‘menawarkan’ 109 kali ttr. (2,14%), subtindak tutur ‘mengancam’ 78 kali ttr (1,5.3%), subtindak tutur ‘berjanji’ 17 kali ttr. (0,33%). Tindak tutur fatis sebanyak 42 kali ttr. (0,83%), mencakup subtindak tutur ‘berkelakar’ 24 kali ttr. (0,47%), subtindak tutur ‘mengucapkan salam’ 12 kali ttr. (0,24%), subtindak tutur ‘basa-basi’ 6 kali ttr. (0,12%). Tindak tutur performatif sebanyak 13 kali ttr. (0,26%), terdiri dari subtindak tutur ‘mengumumkan’ 8 kali ttr. (0,16%), subtindak tutur ‘hukuman’ sebanyak 5 kali ttr. (0,10%). Keempat strategi bertutur yang memilih menggunakan jenis tindak tutur tidak langsung (TTDL) lebih sering digunakan daripada dengan tindak tutur langsung (TTL), perbandingannya adalah TTDL 1137 kali Ttr (70,36%), sedangkan TTL 476 kali Ttr. Implikasi dari kepatuhan terhadap maksim-maksim prinsip kerjasama itu diperlukan ketika penutur dan mitra tutur menekankan unsur kerjasama dalam tindak pertuturan, oleh karena itu diperlukan prinsip berkomunikasi yang lain, yaitu prinsip sopan-santun (PSS), prinsip relevansi (PR), prinsip humor (PH), dan prinsip kerukunan (PK).
Kata kunci: Tindak tutur, Implikatur, Daya Pragmatik, dan Prinsip
perbandingan cerita hanoman duta antara relief ramayana di candi panataran dan cerita hanoman duta versi ki dalang sukron suwondo serta nilai-nilai edukasinya
ABSTRAK perbandingan cerita hanoman duta antara relief ramayana di candi panataran dan cerita hanoman duta versi ki dalang sukron suwondo serta nilai-nilai edukasinya. skripsi. program studi pendidikan sejarah. jurusan sejarah fakultas ilmu sosial. universitas negeri malang
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG 5 LANTAI POLITEKNIK TRISILA DHARMA TEGAL
Sukron, 2021. Prencanaan Struktur Gedung 5 (lima) Lantai Politeknik Trisila Dharma Tegal.
Perencanaan struktur suatu konstruksi bangunan diperlukan untuk mendapatkan dimensi dan konfigurasi struktur yang paling efektif dan efisien. Perencanaan suatu struktur gedung yang berada di wilayah rawan gempa harus direncanakan sesuai standar, kuat, dan aman gempa. “Perencanaan Struktur Gedung Lima (5) Lantai Politeknik Trisila Dharma Tegal” mengacu pada Tata Cara Perencanaan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002), dan Standar Perencanaan Ketahan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung (SNI 031726-2002).Beban-beban yang ditinjau untuk perencanaan mengacu pada Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung 1983.
Perencanaan Struktur Gedung Lima (5) Lantai Politeknik Trisila Dharma Tegal ini meliputi perencanaan struktur atas dan struktur bawah. Perencanaan struktur atas menggunakan SAP 2000 V.14, Perhitungan tulangan pada struktur Kolom 600 mm x 600 mm, selimut 50 mm, tulangan pokok Ø250 mm, tulangan sekang Ø 120 mm. Balok Induk 30 mm x 60 mm, selimut beton 50 mm, tulangan pokok Ø 25 mm, tulangan sekang Ø12 mm. Balok Anak 250 mm x 50 mm, selimut beton 50 mm, tulangan pokok Ø14 mm, tulangan sekang Ø8 mm. Pelat Lantai dengan ketebalan 120 mm, selimut beton 20 mm,tulangan pokok Ø120 mm, tulangan sekang Ø100 mm dengan biaya Rp. 39.319.843.000, sedangkan struktur bawah direncanakan secara manual, dengan biaya Rp. 2.809.191.125,16. Terdiri dari 9 ruang perkuliahan, 1 laboratorium, 2 ruang dosen, Perpustakaan, 3 km/wc wanita, 3 km/wc pria, dengan jumlah keseluruhan 45 ruang perkuliahan, 10 ruang dosen, 15 km/wc wanita. 15 km/wc pria, 3 laboratorium, 1 perpustakaan, 3 ruang kaprodi. Pembebanan yang ditinjau untuk perencanaan elemen struktur adalah beban mati, beban hidup, dan beban gempa. Beban gempa yang dimasukkan adalah beban gempa dinamis berdasarkan respon spektrum pada lokasi Politeknik Trisila Dharama Tegal.
Kata kunci: Struktur gedung, Tahan gempa, Pondasi, Pile Cap, Footplat, Sloof, Kolom, Balok, Pelat Lantai, Atap
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
