1,721,031 research outputs found
Sukreni gadis Bali
Sukreni Gadis Bali termasuk salah satu karya dari sastrawan Angkatan Pujangga Baru. Roman ini termasuk roman psikologis. Penulisnya adalah A.A. Panji Tisna. Pertama kali oleh Balai Pustaka diterbitkan pada tahun 1936. Roman ini menceritakan tentang masalah hukum karma. Setiap orang yang telah melakukan perbuatan jahat pasti akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Latar cerita adalah Bali (Karangasem, Buleleng) Tokoh-tokoh cerita ini adalah Ni Sukreni atau Men Widi; anak Men Negara dari I Nyoman Raka; Men Negara; wanita pemilik kedai. Ibu dari Men Negari, I Negara, Ni Sukreni; Men Negaeri dan I Negara; saudara tiri Ni Sukreni; I Gusti Made Tusam; seorang mentri polisi yang sangat ditakuti; Ida Gde Swamba; pemuda yang berbudi luhur yang mencintai Sukreni; I Made Aseman; anak buah I Gusti Made Tusam; Si Kebal alias I Gustam; anak Sukreni ketika ia diperkosa oleh Made Tusam
Sukreni Gadis Bali
Kehidupan seolah berhenti. Kedai yang pernah terbakar itu, kini hanya menyisakan kayu-kayu hitam yang berserakan. Suatu pagi yang telah melewati berpuluh tahun sejak pagi pertama di awal cerita masih juga menyisakan kabut yang berpendar di akhir cerita. Men Negara tak dibiarkan mati. Ia masih setia menunggui puing-puing kedai yang pernah begitu jaya. Apakah keadaan itu membuatnya menderita?kalau roman I Swasta setahun di Bedahulu membawa kita ke lanskap keraton raja-raja Bali, roman sukreni Gadis Bali mendesakkan kita ke tengah-tengah kehidupan rakyat bawah di medan kasta terendah. Seperti I Swasta Setahun di Bedahulu, di dalam Sukreni Gadis Bali pun kita akan bertemu dengan tragedi yang menimpa anak manusia. Karma dibuktikan keberadaannya dalam cerita. Manusia sebagai tokoh-tokoh tak bisa mengelak dari karma. lihatlah apa yang terjadi pada men negara : siapa memanggil angin akan menuai badai. (Amal Hamzah dalam Buku Penulis)x, 110 hlm.; 14,8 x 21 c
Perempuan dan Masyarakat Bali dalam Novel Rape of Sukreni oleh Pandji Tisna
Penelitian ini menggambarkan budaya perempuan dan masyarakat Bali melalui novel terjemahan Rape of Sukreni karya Pandji Tisna. Novel ini berkisah tentang tiga perempuan Bali yaitu Ni Luh Sukreni, Men Negara dan Ni Negari yang memiliki saling kecemburuan primadona desa. Novel ini juga berkisah tentang tokoh masyarakat budaya Bali yaitu I Gusti Made Tusan (Kepala Polisi), Ida Gede Swamba (pemilik kebun kelapa), I Gustam (putra dari Sukreni), I Nyoman Raka
(ayah Sukreni), dan I Mujana (Ajudan Kepala Polisi) yang memiliki persamaan kepercayaan dan perbedaan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pemanfaatan konsep sosiologi sastra dan representasi perempuan untuk menganalisis gambaran 3 (tiga) perempuan dan masyarakat Bali dalam novel terjemahan Rape of Sukreni. Data penelitian yang diambil berupa
narasi dan dialog yang diambil penulis berupa representasi, kepercayaan, dan budaya. Hasil dari penelitian ini adalah penulis menemukan bahwa perempuan memiliki representasi dan masyarakat Bali juga memiliki budaya kepercayaan tersendiri. Ada 3 aspek dari perempuan dan masyarakat Bali yaitu pertama, menunjukkan budaya adat masyarakat Bali melalui sistem kasta/sistem lapisan sosial teratas-terendah, ngaben/kremasi mewah-sederhana, dan hak waris perbedaan kepercayaan. Kedua, representasi perempuan Bali sebagai objek (Ni
Negari dan Ni Luh Sukreni), inferior (Ni Luh Sukreni, Men Negara dan Ni Negari) dan kuat (Ni Luh Sukreni). Ketiga, mengenai kepercayaan masyarakat Bali melalui Widhi Sradha (kepada Tuhan) dan Karmaphala Sradha (hukum karma).
Kata kunci: Sosiologi sastra, Budaya masyarakat Bali, Representasi perempuan Bali, Kepercayaan masyarakat Bali. / This study describes the culture of women and Balinese society through the translated novel Rape of Sukreni by Pandji Tisna. The novel tells the story of three Balinese women, Ni Luh Sukreni, Men Negara and Ni Negari, who have mutual jealousy of the village prima donna. The novel also tells the story of Balinese cultural community figures namely I Gusti Made Tusan (Chief of Police), Ida Gede Swamba (coconut plantation owner), I Gustam (son of Sukreni), I Nyoman Raka (Sukreni's father), and I Mujana (Police Chief's aide) who have similar beliefs and social differences. This research uses a descriptive qualitative method by utilizing the concepts of literary sociology and women's representation to analyze the images of three women and Balinese society in the translated novel Rape of Sukreni. The research data taken in the form of narration and dialog taken by the author in the form of representation, belief, and culture. The result of this research is that the author found that women have representation and Balinese people also have their own culture of belief. There are 3 aspects of women and Balinese society, namely first, showing the traditional culture of Balinese society through the caste system / top-low social layer system, luxurious-simple ngaben /cremation, and inheritance rights of different beliefs. Second, the representation of Balinese women as objects (Ni Negari and Ni Luh Sukreni), inferior (Ni LuhSukreni, Men Negara and Ni Negari) and strong (Ni Luh Sukreni). Third,regarding the Balinese beliefs through Widhi Sradha (to God) and KarmaphalaSradha (the law of karma).
Keywords: Literary Sociology, Balinese society culture, Balinese womenrepresentative, Balinese belief societ
Sukreni gadis bali dalam perspektif psikomemori feminisme sastra: stigma kegilaan sebagai ekspresi trauma perempuan
Bersama dengan corak budaya Bali yang tampil menonj ol, novel Sukreni Gadis Bali juga memiliki persoalan trauma yang tertulis di dalam kisah subjek-subjek di dalamnya. Persoalan trauma yang ada dalam novel Sukreni Gadis Bali karya A.A. Panji Tisna yang terbentuk dalam diri subjek terjadi disebabkan interaksi antarsubjek dalam cerita. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menjabarkan isu trauma yang ada dalam diri subjek cerita Sukreni Gadis Bali: muasal penyebab trauma dan representasi trauma dalam tubuh subjek sebagai dampak budaya patriarki. Dengan demikian, analisis penelitian didasarkan pada pandangan trauma Cathy Caruth dan konsep trauma patriarki yang dipaparkan Michelle Justus. Oleh karena itu, penelitian ini berada pada ruang perspektif psikomemori feminisme sastra. Penelitian ini menemukan bahwa trauma yang dialami subjek, Men Negara dan Sukreni, disebabkan oleh kekerasan interpersonal yang dilakukan oleh laki-laki dengan landasan relasi kuasa yang timpang antarsubjek. Kekerasan interpersonal itu berbentuk intimidasi, pemerkosaan, kekerasan fisik, dan peristiwa katastrofe berupa kebakaran. Subjek yang trauma, Men Negara dan Sukreni, menampilkan sindrom pascatrauma setelah mengalami peristiwa traumatis. Sukreni mengalami krisis identitas dan Men Negara memperlihatkan kegilaan. Dua trauma yang dialami oleh Sukreni dan Men Negara merupakan hasil dari dominasi patriarki
SUKRENI GADIS BALI DALAM PERSPEKTIF PSIKOMEMORI FEMINISME SASTRA: STIGMA KEGILAAN SEBAGAI EKSPRESI TRAUMA PEREMPUAN
Bersama dengan corak budaya Bali yang tampil menonjol, novel Sukreni Gadis Bali juga memiliki persoalan trauma yang tertulis di dalam kisah subjek-subjek di dalamnya. Persoalan trauma yang ada dalam novel Sukreni Gadis Bali karya A.A. Panji Tisna yang terbentuk dalam diri subjek terjadi disebabkan interaksi antarsubjek dalam cerita. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menjabarkan isu trauma yang ada dalam diri subjek cerita Sukreni Gadis Bali: muasal penyebab trauma dan representasi trauma dalam tubuh subjek sebagai dampak budaya patriarki. Dengan demikian, analisis penelitian didasarkan pada pandangan trauma Cathy Caruth dan konsep trauma patriarki yang dipaparkan Michelle Justus. Oleh karena itu, penelitian ini berada pada ruang
perspektif psikomemori feminisme sastra. Penelitian ini menemukan bahwa trauma yang dialami subjek, Men Negara dan Sukreni, disebabkan oleh kekerasan interpersonal yang dilakukan oleh laki-laki dengan landasan relasi kuasa yang timpang antarsubjek. Kekerasan interpersonal itu berbentuk intimidasi, pemerkosaan, kekerasan fisik, dan peristiwa katastrofe berupa kebakaran.
Subjek yang trauma, Men Negara dan Sukreni, menampilkan sindrom pascatrauma setelah mengalami peristiwa traumatis. Sukreni mengalami krisis identitas dan Men Negara memperlihatkan kegilaan. Dua trauma yang dialami oleh Sukreni dan Men Negara merupakan hasil dari dominasi patriarki
Discourse on Violence Against Balinese Women in the Novel "Sukreni Gadis Bali": A Literary Anthropological Study
This article aims to examine the discourse of violence against Balinese women in the novel Sukreni Gadis Bali based on a study of literary anthropology. This study uses a qualitative method with a critical discourse analysis approach. Sukreni represents Balinese women who continuously experience violence in their lives due to the power of patriarchal culture. He became a victim of parental divorce. Her identity was toyed with by her father to fulfil his ego. She became a victim of trafficking in women and sexual violence. From a feminist perspective, the novel Sukreni Gadis Bali shows the author's criticism of the discourse on violence against Balinese women due to patriarchal culture
ANALISIS PADA NOVEL “SUKRENI GADIS BALI” KARYA ANAK AGUNG PANDJI TISNA DENGAN PENDEKATAN OBJEKTIF
Penelitian pada novel ini dilatarbelakangi oleh kehidupan masyarakat Bali. Tujuan dari penelitian ini untuk mengulik lebih dalam pada novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A. Panji Tisna. Penelitian ini menggunakan pendekatan objektif yang berfokus dalam memeriksa dan menganalisis unsur-unsur sastra pada novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A. Panji Tisna yang disusun secara rinci dan sistematis. Objek penelitian ini merupakan novel “Sukreni Gadis Bali” karya A.A. Panji Tisna. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik pustaka. Data yang telah diperoleh perlu melalui tahap validasi keakuratannya. Dalam novel ini juga dijelaskan beberapa masalah sosial yang terjadi pada novel dan kemudian diapresiasi secara struktural sesuai isi novel tersebut. Adapum hasil pendekatan struktural dalam novel “Sukreni Gadis Bali”adalah (1) tema, (2) tokoh dan penokohan, (3) latar atau setting, (4) gaya bahasa, (5) sudut pandang, (6) alur, (7) nilai moral atau amanat
Kaitan Nilai Budaya dan Fakta Sosial Novel Sukreni Gadis Bali Karya AA Panji Tisna
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kaitan nilai budaya dan fakta sosial novel Sukreni Gadis
Bali karya AA Panji Tisna. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
Kualitatif. Pendekatan yang digunakan semiotik. Penelitian ini diarahkan untuk bisa memahami
secara luas, menyeluruh, dan lebih mendalam serta dapat memperoleh makna dari nilai budaya dan
fakta sosial dalam novel Sukreni Gadis Bali. Selanjutnya penelitian tersebut dapat dijadikan bahan
ajar secara menyenangkan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik kajian pustaka yaitu
dengan cara membaca buku-buku yang sesuai dengan permasalahan yang diteliti sehingga buku
buku tersebut dijadikan dasar teori. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kaitan
antara nilai budaya dengan fakta sosial novel Sukreni Gadis Bali karya AA. Pandji Tisna. Hal ini
dapat dilihat melalui unsur-unsur budaya dalam novel ini, berkaitan dengan fakta sosial
masyarakatny
THE CONSTRUCTION OF BALINESE WOMEN'S IDENTITY IN THE NOVEL SUKRENI GADIS BALI
Novel is not just a literary work, but also serves to dismantle various cultural practices in society. The novel Sukreni Gadis Bali is one of many novels that represents feminist literary criticism. It can take part as participatory and emancipatory roles for gender equality in Bali. In the sociolinguistic approach, literary works can take on an ideological role for social transformation by criticizing deviations from cultural practices that result in injustice to certain social groups. Having this background, this research intends to explore Balinese women’s identity construction in the novel Sukreni Gadis Bali. This research applies a qualitative method with a critical discourse analysis approach and note taking technique. The main literature reviewed is the novel entitled Sukreni Gadis Bali by Panji Tisna which is analysed using a critical interpretation. This research found that the identity of Balinese women involves the role of structure in the form of a naming system, culture in the form of patriarchal relations, and actors in the form of identity awareness. It also found that the construction of identity can lead to identity fracture in the social world which resulting in various physical impacts. In addition, the construction of Balinese women’s identities is under the control of patriarchal ideology. The ideology is naturalized in the patrilineal kinship, religious, and customary system. Sukreni is a symbol of a Balinese woman whose identity has been degraded by culture, so she has to accept various forms of violence and injustice throughout her life's journey.
Keywords: Balinese women, construction, identity, nove
NOVEL SUKRENI GADIS BALI CERMIN KEHIDUPAN ETNIS ZAMANNYA
Karya sastra tidak dapat dilepaskan dari lingkungan sosialnya. Karya sastra menampilkan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu adalah suatu kenyataan sosial. Tulisan ini membahas novel Anak Agung Panji Tisna Sukreni Gadis Bali (SGB) dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Tulisan ini memperlihatkan bahwa SGB merupakan sebuah karya yang banyak merefleksikan kehidupan masyarakat Bali pada tahun tiga puluhan
- …
