1,721,591 research outputs found
Studi karya kriya Sukarman
Sukarman adalah salah satu seniman kriya seni. Dalam penelitian kali ini objek penelitian berupa panel/hiasan dinding, terbuat dari bahan kayu dan logam,. Karya kriya seni Sukarman di ciptakan benar-benar untuk memenuhi tuntutan batin/jiwa seni semata tidak untuk komersial. Pokok permasalhan dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan kriya seni karya Sukarman dari tahun 1977 sampai tahun 1992
Designing Visual Identity Brand Montera Coffee
Mahasiswa Desain Komunikasi Visual
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
Dian Cahyadi
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
Sukarman B
Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar
[email protected]
ABSTRAK
Montera Coffee adalah perusahaan dengan bisnis waralaba coffee shop yang sedang dalam
tahap persiapan untuk dapat hadir mengikuti persaingan di tengah kompetisi pasar industri
coffee shop dengan kompetitornya yang telah hadir lebih dulu dan telah mengembangkan
brand sebagai daya saing potensial dalam persaingan pasar yang kompetitif. Untuk itu,
kemudian perancangan visual identity brand Montera Coffee merupakan langkah awal dalam
upaya membangun visual identity yang mampu menyampaikan nilai perusahaan dan menjadi
pembeda antara Montera Coffee dengan para kompetitornya. Melalui proses perancangan
visual identity yang memenuhi kaidah-kaidah dalam membangun brand identity akan
memudahkan konsumen dari Montera Coffee dalam mengidentifikasi produk perusahaan.
Kata Kunci : Persaingan pasar, brand, brand identity, visual identit
Liberalilasi Perbankan Indonesia : Suatu Telaah Ekonomi - Politik
Buku Liberalisasi Perbankan Indonesia ini merupakan telaah ekonomi-politik terhadap kebijakan Paket Juni (Pakjun) 1983 dan Paket Oktober (Pakto) 1988. Bercermin pada pengalaman negara-negara Southern Cone, studi ini menganalisis tiga hal penting: konteks ekonomi-politik domestik dan internasional yang melatarbelakangi kebijakan Pakjun
1983 dan Pakto 1988, pelaksanaan kebijakan, dan dampak kedua kebijakan tersebut.
Dalam konteks lebih luas, buku ini, yang dikembangkan dari disertasi di Universitas Gadjah Mada, dapat dibaca sebagai suatu upaya penulisan sejarah ekonomi Indonesia dari sudut dunia perbankan sejak Indonesia merdeka. Karena itu, buku ini patut dibaca oleh kalangan pengambil kebijakan ekonomi, akademisi, dan mahasiswa ekonomi maupun sosial-politik.
Buku Dr Widigdo Sukarman ini memberi perspektif baru tentang dunia perbankan yang tidak bersifat teknikal. Dr Widigdo berhasil melihat perkembangan perbankan berjalan bersisian dengan politik pembangunan. Yang terakhir ini bukan saja jelas-jelas memperlihatkan segi non-teknikal perbankan, melainkan juga mendemonstrasikan magnitude pengaruh besar-kecilnya sumbangan perbankan dalam stabilitas politik Indonesia.
Fachry Ali--Peneliti
Mengapa krisis 1997 terjadi? Bagaimana penegakan tata kelola perusahaan di industri perbankan nasional menjadi sebuah senjata ampuh untuk mengoreksi secara berkelanjutan dampak moral
hazards yang mengiringi deregulasi dan liberalisasi perbankan? Mengapa Indonesia perlu suatu lembaga independen yang mengawasi seluruh kegiatan di sektor jasa keuangan? Mereka yang berkecimpung di sektor jasa keuangan perlu menyimak telaah Widigdo Sukarman dalam buku ini.
Muliaman Darmansyah Hadad--Ketua Dewan Komisioner
Otoritas Jasa Keuangan
Dengan menelusuri dinamika pemikiran dan kebijakan perbankan di Indonesia yang dikuak buku ini, pembaca bisa mengintip pemikiran kebijakan Indonesia pascakemerdekaan. Pemahaman ini bisa menuntun kita mewaspadai serial dan patahan dinamika perbankan dan ekonomi Indonesia
Kajian desain kecapi Sulawesi Selatan dan kaitannya dengan budaya maritim masyarakatnya.
Penelitian ini dilatarbelakangi pemikiran bahwa kecapi Sulawesi Selatan sebagai salah satu karya budaya bangsa yang eksistensinya cenderung makin tergeser oleh desakan arus budaya luar akibat perkembangan zaman perlu direvitalisasi lewat pelbagai kegiatan, antara lain dengan melakukan kajian terhadap karya budaya tersebut. Mengkaji kecapi Sulawesi Selatan merupakan salah satu bentuk studi budaya yang selain bermakna menggali nilai-nilai budaya untuk menunjukkan identitas budaya bangsa sendiri, juga memberikan kontribusi yang lebih jauh berupa pemahaman kembali nilai-nilai budaya bangsa sendiri yang berguna sebagai bahan studi untuk menata masa depan bangsa. Demikianlah sekilas pemikiran yang menjadi landasan perlunya penelitian ini dilakukan. Permasalahan penelitian yang dikemukakan kemudian berawal dari adanya perhatian penulis pada bentuk kecapi Sulawesi Selatan yang sangat menyerupai perahu (pinisi). Dalam perhatian itu, penulis teringat pada ungkapan "masyarakat Sulawesi Selatan adalah masyarakat pelaut" yang sering didengung-dengungkan, sehingga rupa perahu yang tampak pada kecapi Sulawesi Selatan diduga merupakan indikasi perahu sebagai acuan visual dalam penciptaannya. Demikian, kemudian diduga desain kecapi tersebut punya kaitan dengan budaya maritim masyarakatnya. Selanjutnya, kecapi yang bentuknya menyerupai perahu itu terdapat di tiap etnik di Sulawesi Selatan, terutama Bugis, Makassar, Mandar, dan diberikan nama sesuai dengan nama etnik tersebut, yakni kecapi Bugis, kecapi Makassar, dan kecapi Mandar. Penamaan yang berbeda itu menjadi indikasi adanya perbedaan antara kecapi di etnik yang satu dengan kecapi di etnik yang lainnya. Demikianlah, sehingga desain kecapi Sulawesi Selatan dianggap perlu dikaji, baik dalam kaitannya dengan budaya maritim masyarakatnya maupun perbedaan di samping persamaannya di masing-masing etnik. Adapun permasalahan yang diteliti berkenaan dengan pemikiran di atas, yakni: (1) Apakah penciptaan desain kecapi di Sulawesi Selatan mempunyai kaitan dengan budaya maritim masyarakatnya; (2) Apakah bentuk kecapi Sulawesi Selatan mendapat inspirasi dari bentuk perahu; (3) Bila perahu sebagai acuan visual kecapi Sulawesi Selatan, unsur-unsur manakah yang merupakan transformasi dari bentuk perahu; (4) Apakah terdapat perbedaan aspek desain pada kecapi setiapetnik di Sulawesi Selatan; (5) Bila terdapat perbedaan, bagaimanakah spesifikasi desain kecapi masing-masing etnik, dan faktor-faktor apakah yang menyebabkan perbedaan tersebut. Tujuan umum dilakukannya penelitian ini adalah untuk memahami konsep desain kecapi di Sulawesi Selatan serta unsur-unsur yang mempengaruhinya. Tujuan khususnya adalah untuk mengkaji keterkaitan desain kecapi Sulawesi Selatan dengan budaya maritim masyarakatnya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi salah satu informasi aktual yang menggambarkan paradigma desain masa lampau dalam wacana kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya yang ditunjukkan pada desain kecapinya, yang pada gilirannya dapat pula dijadikan referensi untuk mengkaji lebih lanjut perubahan-perubahan mendasar penciptaan artifak (desain) di Sulawesi Selatan. Dalam meneliti masalah di atas digunakan metode korelasi dan komparsi dengan pendekatan antropologis. Kedua metode dgn pendekatan itu secara interaktif digunakan dalam menganalisis data yang di dalam penelitian ini sifatnya kualitatif. Proses analisismencakup tiga alur kegiatan sbg suatu sistem, yakni: reduksi data, sajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan. Aktivitas ketiga komponen analisis tsb dilakukan dlm bentuk interaktif pula dgn proses pengumpulan data sbg suatu proses siklus. Selama proses penelitian berlangsung diperoleh data berupa data verbal dan data visual. Data verbal meliputi informasi mengenai penggunaan kecapi, informasi mengenai pelayaran orang-orang Sulawesi Selatan, dan informasi mengenai aktivitas kesenian masyarakat maritim, termasuk di saat berlayar. Data visual meliputi dokumentasi foto produk kecapi dan pelbagai jenis perahu Sulawesi Selatan. Dari data verbal dicari kaitan penciptaan dan penggunaan kecapi dgn budaya maritim masyarakatnya. Dari data visual dilakukan perbandingan bentuk dan struktur kecapi dgn bentuk dan struktur perahu (pinisi). Hasil analisis data menunjukkan bahwa penciptaan kecapi di Sulawesi Selatan diawali oleh masyarakat pantai yg umum dikenal sbg masyarakat pelaut. Penciptaan kecapi oleh masyarakat pelaut dimotivasi oleh kebutuhan akan alat musik petik sederhana yg ada di daerah tsb, yg berlangsung sbg dorongan alami dlm rangka usaha mencari pemecahan-pemecahan yg lebih baik. Dalam proses itu, karakteristik masyarakat pelaut yg identik dgn kehidupan perahu menjadi spirit yg teradaptasi dgn norma-norma yg berlaku membentuk suatu konsep yg melatari perwujudan ..
Buku materi pokok senam dan metodik,1-5; PORK 2232/2 SKS/ Sukarman
hal. tak beraturan: ill; 30 c
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Buku materi pokok senam dan metodik,1-5; PORK 2232/2 SKS/ Sukarman
hal. tak beraturan: ill; 30 c
Buku materi pokok senam dan metodik,1-5; PORK 2232/2 SKS/ Sukarman
hal. tak beraturan: ill; 30 c
- …
