1,721,846 research outputs found
Sujud Sahwi
ebook ini mengulas pengertian, hukum, sebab sebab kapan waktu untuk sujud sahwi kapan waktu bacaan dan juga tata cara sujud sahwi dilakuka
Sujud tilawah
Buku sujud tilawah ini ditulis untuk memberikan penjelasan terhadap apa yang penulis alami, ketika ternyata tidak semua pribadi memahami dan melaksanakan sujud tilawah. Allah SWT memberikan perintah dan contoh yang sudah dikerjakan oleh tuntunan umat manusia. Nabi akhir jaman Muhammad SAW
ADAT PERNIKAHAN MUKUN TANDANG SUJUD
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan informasi yang jelas tentang Prosesi Tradisi Adat Pernikahan “Mukun Tandang Sujud” Di Daerah Pali Desa Gunung Menang. Masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana Tradisi Adat Pernikahan “Mukun Tudung Sujud” di Daerah Pali Desa Gunung Menang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Objek dalam penelitian ini adalah prosesi adat pernikahan Mukun Tandang Sujud di Daerah Pali Desa Gunung Menang yang meliputi jingok rasan, seserahan, magike mukun, mipis bumbu, akad nikah, resepsi dan tandang sujud. Informasi dalam penelitian ini mencakup kedua mempelai pengantin dan kedua orang tua mempelai pengantin.Kajian Ini menyimpulkan bahwa Mukun berarti meminta, yang di minta calon pengantin perempuan kepada calon pengantin laki-laki. tradisi mukun tersebut diberikan ketika serah-serahan di kediaman perempuan, jika mendapatkan mukun yang dibagikan dari perempuan itu berserta undangan maka mereka membalasnya dengan memberikan perabotan rumah tangga kepada pengantin perempuan, Tandang Sujud tradisi yang khusus dilakukan oleh pasangan pengantin baru, agar mengetahui sanak saudara baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu dari kedua pasangan.
Kata kunci: Adat Pernikahan; Makun Tandang Sujud
KORELASI AYAT-AYAT SAJDAH DENGAN SUJUD TILAWAH
Ayat-ayat s;y'd:J!J memiliki kcunikan tcrscndiri. yaitu adanya anjuran melakukan sujud (sujud
tilawah) ketika membaca atau mendengamya, yang hal itu tidak diberlakukan pada ayat-ayat
al-Qur'an lainnya. Di sisi lain, sujud tilawah memperlihatkan sebuah realitas bahwa
al-Qur'an adalah sebagai sesuatu yang dibaca, dipahami dan dihayati kandungannya,
serta adanya sebuah gambaran reaksi dari penghayatan kandungan dan maknanya dalam
diri manusia, yang bukan hanya sekadar ritual , dan kemudian disimbolkan dengan perbuatan
sujud.
Sujud dalam arti spcsifik yang disandarkan pada manusia, yaitu ibadah yang di lakukan dengan cara
meletakkan dahi pad a bumi ( waqa 'ajabhal1 aii al arqi) dikerjakan pada tempat-tempat dan kondisi
tertentu yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Adapun tatacaranya dicontohkan langsung oleh
Rasulullah Swt., termasuk di dalamnya adalah sujud ketika membaca atau mendengar ayat-ayat tertentu
(ayat sajdah). Selain itu, ibadah sujud juga sangat erat hubungannya dengan kondisi atau sesuatu
yang terkait dengan pelakunya pada saat itu. BiiR dinisbatkan pada orang yang sedang dalam kondisi
tiliiwah (membaca), dalam shalat misalnya, adalah sangat erat hubungannya dengan muatan sesuatu
yang dibaca (al-Fiitiflah), yang mengarahkan pelakunya untuk melakukan sujud kepada Allah Swt.,
begitu juga dengan sujud-sujud yang lain.
Ayat-ayat sajda/J mengandung muatan yang bemuansa ketauhidan, yaitu penyifatan pada diri Allah Swt.
sebagai satu-satunya Ziit yang patut disujudi olch semua makhluk, karena segala sesuatu yang ada di
langit dan di bumi pada dasarnya bcrada dalam kckuasaan dan kehendak-Nya. Ayat-ayat sajdal1
mengandung pokok < iaran/pesan moral agar manusia bersujud kepada Allah Swt., selalu
menyucikan-Nya, dan tunduk serta perc«ya terhadap kebenaran al-Qur'an dengan segala yang
dikandungnya tanpa sedikit pun menyombongkan diri. Pesan moral tersebut disampaikan dangan dua
macam igah (ungkapan), yaitu igah amr agar manusia bersujud kepada Allah Swt., tunduk dan percaya
kebenaran al-Qur'an dan igah khabar, yaitu informasi tentang dua golongan dan perilakunya yang
kontras, yaitu golongan yang dipuji oleh Allah Swt., dan golongan yang dikecam oleh Allah Swt.
Golongan yang pertama adalah para ahli sujud, yaitu para malaikat, Nabi dan Rasul, serta
orang-orang yang memiliki tingkat keimanan yang tinggi. Sedangkan golongan yang kedua adalah
orang-orang kafir yang sombong, yang menolak kebenaran al-Qur'an dan tidak mau bersujud pada Allah
Swt.
Sujud tilawah mcrupakan implementasi atau sebuah wujud dari
keimanan, ketundukan dan kepatuhan , simbol kercndahan diri pembaca atau pcndengar al-Qur'an kepada
Allah Swt. dan kebenaran firman-Nya, yang hal itu selaras dengan kandungan ayat-ayat sajdah. Selain
itu merupakan wujud keinginan mengikuti jejak langkah golongan yang dipuji oleh Allah Swt., dan
menjadi simbol penolakan tcrhadap kesombongan orang-orang kafir yang menolak untuk beriman kepada
Allah Swt. dan kebenaran al-Qur'an, serta bersujud kepada-Nya , seperti yang diberitakan pada
ayat-ayat sajdah
Melazatkan sujud
Rencana membincangkan cara mudah menjadikan sujud solat kita lebih berkesan pada jiw
Epistemologi sujud sumarah: pendekatan indigenous philosophy
Aliran kebatinan secara antropologis merupakan sistem kepercayaan yang dianut olehsebagian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa. Sumarah merupakan salah satu aliran kebatinan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia yang mengedepankan Aspek spiritualitas dengan Sujud Sumarah sebagai laku Spiritual. Sujud Sumarah sebagai jalan untuk Pasrah dan manembah membulatkan tekat dan memunculkan sikap manembah sebagai wujud Kemanunggalan terhadap Gustinya.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Apa dasar – dasar pemikirandalam melaksanakan Sujud Sumarah? (2)Bagaimana Metode yang dilakukan dalam Sujud Sumarah? (3) Bagaimana Aksiologi dari pelaksanaan Sujud Sumarah (Pendekatan Indegonous Philosophy)? Untuk menjab pertanyaan itu, maka penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif yang berbentuk field research (penelitian lapangan).Sedangkan analisisnya menggunakan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi,wawancara, dan dokumentasi. Obyek dari penelitian ini yaitu Sujud Sumarah yang dilaksanakan oleh Paguyuban Sumarah .
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis dapatkan, peneliti berkesimpulan (1) Bahwa Sujud Sumarah mempunyai dasar untuk mendekatkan diri dan meningkatkan pengetetahuan dan kecerdasan spiritual. Adapun epistemologi yang digunakan dalam sujud Sumarah adalah dengan Intuisi (2)Metode yang dilakukan dalam sujud Sumarah adalah meditasi.Sujud Sumarah juga memiliki 3 taraf kebatinan menurut rahmat subagya yakni Untuk meningkatkan integrasi diri manusia melawan pengasingan yang terdapat pada Jana loka. Manusia mampu menyatu dengan tuhan dari keterbelahan atau mendua dan keterasingan yang tertera dalam Indra Loka , serta mampu mengatasi manusia untuk mencapai tingkatan terti yakni Guru Loka jika aktif berpartisipasi dan tertib pada teknis penjiwaan yang sebelumnya. (3) Aksiologi Sujud Sumarah Sifat kebatinan yakni sifat batin,rasa, keaslian, dan adalah hubungan erat antar warga. Ketiga sifat ini sudah melekat dalam Sujud Sumarah. Tak hanya itu, Bagi penganutnya Sujud Sumarah memberikan dampak sebelum dan sesudahnya
Sujud Tilawa: Analysis of the Dalil in the Hadith and Fiqh
Sujud Tilawah is a prostration that is performed when someone reads and hears the sajdah verse either in prayer or outside prayer. The ulema agree about sujud tilawah in Islam but have different opinions regarding the law on sujud tilawah. According to Hanafis, sujud tilawah is obligatory while the jumhur ulama say it’s recommended. This difference of opinion arises because the scholars differ in using hadith as proof in establishing the law. In this research, the author uses a qualitative research method with the type of library research and this research uses a comparative descriptive approach, which the author compares the hadiths used by Islamic school scholars as evidence in interpreting the law of sujud tilawah. The results of the research show that in the hadith book (Kutubussittah) there are thirteen hadiths showing the Prophet and aṣ-ṣaḥāba performing sujud tilawah after hearing the recitation of the sajdah verse and four hadiths showing the Prophet and aṣ-ṣaḥāba abandoning the act of sujud tilawah after hearing the sajdah verse. Furthermore, to enforce the law of sujud tilawah, the Hanafi School uses one hadith narrated by Ibn Majah number 1052. The Maliki School uses one hadith narrated by Bukhari number 1077. The Syafi'i school uses three hadiths narrated by Abu Dawud number 1404 and Bukhari number 1077 and number 2678. The Hanbali school uses two hadiths narrated by Abu Dawud number 1404 and by Bukhari number 1077. The Dzahiri school uses one hadith narrated by Abu Dawud number 1404
SUJUD PERSPEKTIF HADIS DAN IMPLIKASINYA DENGAN KESEHATAN
Sujud memiliki keajaiban dan keistimewaan, karena sujud merupakan gerakan penting gerakan yang menjadikan sah nya dalam mengerjakan salat. Keajaiban dan keistimewaannya itu berupa kesehatan dan untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dari gerakan sujud tersebut terdapat bebagai macam manfaat untuk kesehatan tubuh salah satunya yaitu untuk mencerdaskan otak. otak manusia bisa dimasuki oksigen hanya sekitar 20%, sedangkan 80% nya hanya bisa dimasuki oksigen pada saat orang tersebut sujud. Maka menurut dia agar kebutuhan ini tercukupi maka diperlukan sujud secara rutin. Dengan terpenuhinya kebutuhan oksigen ke otak manusia ini maka akan menjadikan daya berfikir dan kecerdasan seseorang akan semakin terpacu.Terdapat hadis yang driwayatkan oleh Bukhari dan Muslim mengenai sujud dan bagaimana implikasinya dengan kesehatan. Penelitian ini bersifat kualitatif (penelitian perpustakaan). Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui apa manfaat sujud dalam hadis Nabi SAW
Konsepsi Sujud dalam Ajaran Sapta Darma
Skripsi ini membahas tentang Sujud Menurut Ajaran Sapta Darma, maka dari itu penulis berkesimpulan bahwa: Ajaran Sapta Darma yaitu Sujud diwahyukan kepada pendirinya yang didirikan oleh HardjoSapoero pada tanggal 27 Desember 1952, pukul satu malam, yang dibimbing langsung oleh Hyang Maha Kuasa. Pada waktu itu secara tidak sadar HardjoSapoero digerakkan seluruh tubuhnya dengan gerak yang sekarang menjadi pedoman bagi persujudan Sapta Darma, sambil mengucapkan segala kalimat, yang sekarang juga dipergunakan pada upacara persujudan. Bagi warga Sapta Darma diwajibkan Sujud dalam sehari semalam sedikitnya satu kali. Lebih dari sekali lebih baik, dengan pengertian bahwa yang penting bukan banyaknya melakukan sujud, tetapi dilihat dari kesungguhan sujud. Dalam melaksanakan Sujud yang benar dan supaya bisa menyatu dengan Allah Hyang Maha Kuasa, warga Sapta Darma harus menjalankan beberapa jalan diantaranya: Duduk tegap menghadap timur. Bagi pria duduk bersila, dapat dilakukan dengan sila tumpang artinya kaki kiri dibawah kaki kanan diatas. Bagi wanita duduk betimpuh
Interpretasi Perintah Sujud pada Kisah Nabi Adam menurut Para Mufasir
Prostration is proof of the closeness between beings to Allah Swt as their God, by placing his head on the ground as worship that is only done to Allah. This is different from the story of Prophet Adam, and God commanded the angels and demons to prostrate to Prophet Adam. This article attempts to discuss the meaning of prostration in the story of the Prophet Adam. The research method used is the method of maudhu'i which is the method of interpreting the verses of the Qur'an thematically. The type of research that the author uses is the type of literature research, by collecting data following the topic of discussion. The analysis technique that the author uses is descriptive analysis; that is, the author tries to understand the verses based on the interpretation of the scholars and also based on other sources. According to the commentators, this article discusses the command of prostration in the story of the Prophet Adam. The result of the research is the description of prostration in the story of the Prophet Adam in the Qur'an, which is included in various surahs such as surah al-Baqarah, al-Hijr, al-A’raf, al-Isra, al-Kahfi, Thaha, and surah Shad. There are also differences of opinion among scholars in interpreting the verses in which it explains the story of the command of prostration to the Prophet Adam. Sujud merupakan bukti ketaatan dan kedekatan makhluk dengan Allah Swt sebagai Tuhan. Sujud dilakukan dengan merendahkan diri, menundukkan badan dan meletakkan kepala di bawah sebagai bentuk penyembahan. Dalam pengertian tersebut, tidak ada sujud yang boleh dilakukan oleh makhluk selain kepada Allah. Namun di sisi lain, Allah Swt memerintahkan para malaikat dan iblis untuk sujud kepada Nabi Adam. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui makna sujud pada kisah Nabi Adam. Penelitian kepustakaan ini dilakukan dengan menggunakan metode maudhu’i untuk menemukan ayat-ayat yang terkait dengan tema yang dimaksud. Kemudian dianalisa secara deskriptif dengan memahami ayat-ayat melalui penafsiran para ulama dan sumber-sumber lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa deskripsi sujud pada kisah Nabi Adam dalam al-Qur’an terangkum dalam berbagai surah, yaitu QS. al-Baqarah, QS. al-Hijr, QS. al-A’raf, QS. al-Isra’, QS. al-Kahfi, QS. Thaha, dan QS. Shad. Dari ayat-ayat tersebut, diketahui bahwa Allah Swt memerintahkan para malaikat dan iblis untuk sujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan, bukan sebagai penyembahan.
- …
