1,721,442 research outputs found

    Metafisika Cahaya Suhrawardi

    Get PDF
    This article deals with the critique toward west philosophy in terms of the proportion of reason in gaining knowledge. It employs qualitative analysis on his research. The author initially collects documents and relevant materials in relation to the topic then analyze them. As stated in the article, the author believe that the Muslim thinkers tend to contend that west philosophy mainly focus on Aristotelian logic rather than the concept of Plato and Plotinus mystic. Suhrawardi, in this sense, is one of the Muslim philosophers is standing to support Plato’s idea. He, as contended by the author, further developed Plato’s idea into teosofi concept. Teosofi introduces a new approach which combines philosophical theory and peripatetic tradition through Sufism. The author come to conclude that Suhrawardi tend to see the truth can not be reached by the philosopher who solely employ the reason through philosophy or Sufism. Both need to be combined with teosofi concept as popularly discussed in his magnum opus, hikmat al-isyraq. Suhrawardi discussed the contrast between philosophy and Sufism in his book and offer solution which is further called teosofi

    Hirarkhi alam menurut Suhrawardi

    Get PDF
    Alam merupakan sebuah entitas yang menarik untuk diteliti, yang menjadi kajian penelitian dalam ini adalah alam semesta dan benda-benda yang terdapat di dalamnya yang hubungannya mencakup intregasi dan relasi tiga realitas antara Allah, makrokosmos dan mikrokosmos. Al-Qur’an sebagai kitab pentunjuk berfungsi sebagai acuan bagi manusia dalam memahami relasi antara tiga realitas tersebut. Rujukan al-Qur’an terhadap fenomena alam dimaksudkan untuk menarik perhatian manusia pada pencipta alam yang Maha Mulia dengan mempertanyakan dan merenungkan wujud-wujud alam; dan untuk mendorong manusia agar berjuang mendekat kepada-Nya. Al-Qur’an mengajak manusia untuk mengetahui dan memahami pesan moral yang hakiki melalui penelitian dan observasi terhadap fenomena alam semesta yang penuh rahasia dan keajaiban, dan akhirnya membawa jiwa manusia membayangkan keagungan dan kemegahan penciptanya, yaitu Allah. Inilah yang menjadi gagasan awal penulis menganalisis pemikiran Suhrawardi tentang alam semesta yang penulis tuangkan dalam bentuk karya tulis ilmiah dengan judul “Hirarkhi Alam Menurut Suhrawardi”. Suhrawardi dalam menjelaskan formulasi teori kosmologi berpangkal dari prinsip emanasi yang kemudian dikembangkan menjadi teori pancaran (iluminasi, ‘isyraqi). Teori Suhrawardi tentang iluminasi merupakan bentuk khas teori emansi seperti yang dikembangkan oleh kaum Neoplatonis. Menurutnya, Cahaya segala cahaya mengeluarkan “cahaya” karena kedudukannya, dan sinar yang tersebar sampai ke seluruh kosmos; melalui sinar-sinar inilah kosmos dipelihara kesatuannya, gerak dan perubahannya. Menurut Suhrawardi, alam semesta dan semua wujud yang ada di dalamnya bermula dan berasal dari proses penyinaran raksasa dari Prinsip Utama yang Tunggal yang oleh Suhrawardi di sebut sebagai Nûr al-Anwâr. Nûr al-Anwâr merupakan sumber semua gerak, akan tetapi, gerak cahaya di sini bukan dalam arti perpindahan tempat. Menurut Suhrawardi, gerakan itulah yang memiliki peran sentral bagi terbentuknya segala yang ada (al-hawâdits). Cahaya segala cahaya dalam pandangan Suhrawardi adalah Allah SWT, sedangkan dalam pandangan para filsuf, cahaya-cahaya adalah intelek-intelek. Cahaya pengendali adalah intelek cakrawala, sedangkan cahaya adalah jiwa-jiwa manusia. Substansi gelap adalah badan, dunia perantara (‘alam al-barâzikh) adalah dunia badan. Maka, deskripsi Suhrawardi terhadap cahaya abstrak atau Cahaya Segala Cahaya tidak banyak berbeda dengan deskripsi para filsuf terhadap Wâjib al-Wujûd, Yang Satu atau Yang Pertama. Suhrawardi mengklasifikasikan alam menjadi empat jenis yang ia paparkan dalam dua karyanya, ketiga di antarnya tertuang dalam kitab Hayakil al-Nûr, kemudian ia menambahkan jenis alam yang ke empat dalam kitab Hikmah al-Isyrâq. Keempat alam tersebut adalah alam akal (‘âlam al-‘aql) atau alam intelek, kedua alam jiwa (‘âlam al-nafs) dan ketiga alam materi atau alam bentuk (‘âlam al-jism), sedangkan yang keempat adalah ‘âlam al-mitsâl al-mu’allaq (alam citra yang tergantung)

    Konstruksi Epistemologi dalam Filsafat Illuminasi Suhrawardi

    Get PDF
    Artikel ini mengkaji secara filosofis konstruksi epistemologi Filsafat Illuminasi Suhrawardi dengan mengungkap argume nnya tentang proses keilmuan. Secara lebih khusus, akan menunjuk kan kritik Suhrawardi terhadap logika Peripatetik dan kemudian mem­posisikannya dalam proses penggalian ilmu. Kemudian mengungkap tawaran Suhrawardi yang ia klaim sebagai dapat mengantar manusia mem peroleh pengetahuan yang se benarnya, dengan menemukan syarat bagi suatu pengetahuan yang valid. Pemikiran demikian sudah tentu akan menjadi model keilmuan alternatif di tengah perkembang­an keilmuan yang bercorak rasiona listik. Dengan mengungkap anasir­anasir lebih dalam, bisa jadi pengetahuan model illuminasi ini dapat sebagai alternatif bagi krisis keilmuan modern saat ini. Ada beberapa per soalan yang di bahas, antara lain kegelisahan Suhrawardi atas problem logika dan persoalan validitas pengetahuan, lalu mengurai kan metode dasar Filsafat Isyraqiyah, dan yang paling pokok membahas struktur fundamental Logika Illuminasi. Tidak lupa artikel ini juga menunjukkan konsekuensi epistemologi Suhrawardi dengan tesis Tuhan itu merupakan objek “ kenal” bukan objek “ tahu”

    Konstruksi Epistemologi dalam Filsafat Illuminasi Suhrawardi

    No full text
    Artikel ini mengkaji secara filosofis konstruksi epistemologi Filsafat Illuminasi Suhrawardi dengan mengungkap argume nnya tentang proses keilmuan. Secara lebih khusus, akan menunjuk kan kritik Suhrawardi terhadap logika Peripatetik dan kemudian mem­posisikannya dalam proses penggalian ilmu. Kemudian mengungkap tawaran Suhrawardi yang ia klaim sebagai dapat mengantar manusia mem peroleh pengetahuan yang se benarnya, dengan menemukan syarat bagi suatu pengetahuan yang valid. Pemikiran demikian sudah tentu akan menjadi model keilmuan alternatif di tengah perkembang­an keilmuan yang bercorak rasiona listik. Dengan mengungkap anasir­anasir lebih dalam, bisa jadi pengetahuan model illuminasi ini dapat sebagai alternatif bagi krisis keilmuan modern saat ini. Ada beberapa per soalan yang di bahas, antara lain kegelisahan Suhrawardi atas problem logika dan persoalan validitas pengetahuan, lalu mengurai kan metode dasar Filsafat Isyraqiyah, dan yang paling pokok membahas struktur fundamental Logika Illuminasi. Tidak lupa artikel ini juga menunjukkan konsekuensi epistemologi Suhrawardi dengan tesis Tuhan itu merupakan objek “ kenal” bukan objek “ tahu”

    Kesempurnaan sebagai Orientasi Keilmuan dalam Teosofi Suhrawardi Al-Maqtul

    Get PDF
    Knowledge and science are central issues in epistemological debates. The paradigm of knowledge will imply on the methods and means that are used to achieve truth. The social contexts which influence the tradition of thought have also a strong impact on the construction of scientific paradigms. Different social contexts is the reason why the western and eastern scientific paradigms are considered to have different characteristics. In the tradition of eastern thought there are various opinions on scientific paradigm. One of which is from the perspective of Suhrawardi Al-Maqtul. By using the hermeneutic method, the author attempts to answer the question how is the concept of science and its characteristics from the perspective of Suhrawardi and what are the methods and the orientation of science that used by the perspective of Mazhab Al-Isyraqiyyah that Suhrawardi Al-Maqtul created.  The paper proposes that the concept of science in Suhrawardi’s thought resulted from syncretism of various previous eastern thoughts. Suhrawardi understood the plurality of methods that can be used, namely the burhani method with ratio and evidence, as well as the irfani method that comes from intuition. The method must be suitable for the objects of study, which is Suhrawardi’s, encompasses not only aspects of the physical world but also the non-physical supra-worldly. The orientation of this thought is not only to achieve the validity of knowledge but to achieve the perfection of knowledge or the transformation from the dark to the light of knowledge.   

    'Awarif al-ma'arif li al-Suhrawardi

    No full text
    Buku ini Membahas tentang ilmu tasawuf dan apa yang harus dipelajari dan dipahami oleh seseorang yang ingin memperjalankan kehidulpannya dalam bertasawuf

    STUDI KOMPARASI KONSEP CAHAYA MENURUT AL-GHAZALI DAN SUHRAWARDI

    Get PDF
    Skripsi ini mengkaji tentang konsep cahaya dalam pemikiran Al-Ghazali dan Suhrawardi. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan Istilah cahaya banyak dipakai untuk mengungkapkan segala sesuatu hal, pada dasarnya cahaya merupakan fenomena yang unik dan menarik dikaji. Cahaya dapat dikatakan esensi yang paling terang dan paling nyata, sehingga mustahil terdapat sesuatu yang lebih terang dan lebih jelas dari pada cahaya. Menurut Al Ghazali cahaya ialah menunjukan pada suatu yang tampak, sedangkan ketampakannya adalah sesuatu yang nisbi. Sedangkan menurut Suhrawardi seluruh realitas tak lain dari cahaya yang memiliki beragam tingkatan dan intensitas. Ia tidak memerlukan definisi. Sebab, orang yang selalu mendefinisikan ketidakjelasan dan kejelasa, dan tidak ada yang lebih jelas dan lebih jernih dari cahaya, dari penjelasan diatas peneliti ingin mencoba mengkomparasikan pemikiran dari kedua tokoh tersebut yakni Al Ghazali dan Suhrawardi. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah :(1) Bagaimana Konsep Kahaya Menurut Al-Ghazali dan Suhrawardi. (2) Bagaimana Persamaan dan Perbedaan Cahaya Menurut Al�Ghazali dan Suhrawadi. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) yaitu suatu jenis penelitian yang mengacu pada khazanah kepustakaan antara lain, buku-buku, jurnal, skripsi, tesis, dan dokumen-dokumen lainnya. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode komparatif filosofi, dan untuk menganalisa data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, kesinambungan historis dan interpretasi. Temuan dari Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : 1). Konsep Cahaya Al-Ghazali dan Suhrawardi ialah Bahwa cahaya menunjuk pada suatu yang tampak, sedangkan ketampakan adalah suatu nisbi. Konsep Cahaya Suhrawardi ialah di mana cahaya yang berada pada tingkat dibawahnya lahir dari cahaya yang berada iii pada tingkat di atasnya. Namun kelahiran tersebut tidak dalam arti emanasionis melainkan dalam arti iluminasi (al-isyraq). 2). Persamaan dan perbedaan pemikiran Al-Ghazali dan Suhrawardi; Perbedaan Pemikiran Al-Ghazali dan Suhrawardi; Menurut Al�Ghazali alam semesta tercipta dari ketiadaan, diciptakan oleh Tuhan, bukan sebagaimana yang dikemukakan oleh para filosof peripatetik bahwa alam ini emanasi dari Tuhan, limpahan Tuhan. Sedangkan Suhrawardi mengembangkan prinsip emanasi menjadi teori pancaran (Iluminasi), pancaran cahaya bersumber dari sumber pertama yang disebut Nûr al-‘Anwar, pancaran dari sumber pertama akan berjalan terus sepanjang sumbernya tetap eksis. Persamaan Pemikiran Al-Ghazali dan Suhrawardi; Menurut Al-Ghazâli dan Suhrawardi hahekat wujud Tuhan sebagaimana dalam Al-Qur’an surat An-Nur [24] ayat 35, bahwa hakekat segala sesuatu adalah Cahaya, Tuhan adalah cahaya. Menurut Suhrawardi Tuhan memberikan pancaran (Illumination) yang tetap, di mana cahaya itu termanifestasikan dan membawa segala sesuatu menjadi maujûd, yang juga memberikan kehidupan bagi mereka dengan cahaya-cahayanya

    Sang pencerah pengetahuan dari Timur : Suhrawardi dan filsafat iluminasi

    No full text
    Pemikiran Suhrawardi bukanlah sebuah sistem teologi, teosofi, dan juga bukan sejenis sagesse oriental (hikmah dari Timur), melainkan sebuah konstruksi filsafat mistis sistematis yang mengabaikan dogmatisme dengan disposisi dinamis. Meski mengandung kearifan (sophia) dalam artian ketat, pemikiran Suhrawardi pada dasarnya adalah sebuah konstruksi filsafat yang bertujuan menelaah hakikat segala sesuatu berikut berbagai jawaban manusia atasnya, yang diungkapkan secara sistematis dan radikal

    Suhrawardi

    No full text
    Trained in Avicennan Peripateticism, Shihab al-Din al-Suhrawardi (1154–1191) has become the eponym of an ‘Illuminationist’ (ishraqi) philosophical tradition. Since none of his works was translated into Latin, he remained unknown in the West. However, a number of philosophical circles in the Islamic East studied his works from the 13th century onwards. Around the mid-20th century, Henry Corbin worked relentlessly to edit and publish Suhrawardi’s works, efforts that generated much interest in his novel philosophical system, which a new generation of scholars rekindled in the 1990s. Suhrawardi provides an original Platonic critique of the dominant Avicennan Peripateticism of the time in the fields of logic, physics, epistemology, psychology, and metaphysics. In so doing, he elaborates his own epistemological (logic and psychology) and metaphysical (ontology and cosmology) ishraqi notions, concepts and theories. He divided logic into three-parts, rejecting Avicenna’s Peripatetic essentialist definition, and reducing the number of forms of the syllogism. In physics, he rejected Avicenna’s hylomorphism, while bodies became magnitude with accidents. His new epistemological perspective led him to critique the Avicennan Peripatetic theory of definition, to introduce a theory of ‘presential’ knowledge (mirroring mystical intuition), to elaborate a complex ontology of lights, and to add a fourth ontological ‘world of images’ where imagination plays an innovative eschatological function, expanding on insightful allusions made by Avicenna

    MODEL EPISTEMOLOGI TEOSOFI SUHRAWARDI AL-MAQTUL DALAM ILUMINASI

    Get PDF
    Concept of Islamic epistemology according to Suhrawardi Al-Maqtul is light which has the highest energy source. Why light because light is something that doesn't need to be defined and doesn't need to be explained, because it is obvious. Therefore he became the source or the highest level of Suhrawardi philosophy of illumination. This article will examine the views Yahya Suhrawardi gave a new direction in the development of Islamic thought, apart from his self-acknowledgment that bridges the knowledge given by Allah directly and indirectly but through several stages, but this is also due to his thinking which combines intuition and reason
    corecore