8 research outputs found

    EVALUASI PROGRAM PENGEMBANGAN PROFESI GURU MATEMATIKA SMP PADA MUSYAWARAH GURU MATA PELAJARAN (MGMP)

    No full text
    Salah satu upaya meningkatkan profesionalisme guru, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan membuat kebijakan tentang Standar Pengembangan Kelompok Kerja Guru (KKG) Sekolah Dasar dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) SMP, SMA, dan SMK (Depdiknas, 2008). Kebijakan ini didasari oleh Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang diharapkan dapat memberikan kesempatan yang tepat bagi guru untuk mengikuti pelatihan, penulisan karya ilmiah, pertemuan pada KKG atau MGMP. Tujuan penelitian ini secara umum untuk memperoleh informasi tentang keefektifan program pengembangan profesi guru Matematika SMP pada MGMP di Kota Tangerang ditinjau dari perspektif model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) dan Kirkpatrick (Reaction, Learning, Behavior, Result). Metode penelitian menggunakan kombinasi komponen kedua model tersebut yang dibentuk menjadi empat komponen evaluasi, yaitu: (1) Perceptions: kombinasi Context-Input dan Reaction; (2) Experience: kombinasi Process dan Learning; (3) Continuity: kombinasi Product dan Behavior; dan (4) Impact: kombinasi Product dan Results. Temuan penelitian menunjukkan terdapat empat kegiatan yang dilakukan pada MGMP dari 13 standar program kegiatan, yaitu seminar, pelatihan, peer coaching, dan lesson study. Hasil evaluasi program pengembangan profesi guru Matematika SMP pada MGMP di Kota Tangerang memiliki dampak manfaat bagi lembaga sekolah berupa peningkatan kualitas pembelajaran. Program ini juga efektif meningkatkan profesionalitas guru dan berkontribusi positif meningkatkan hasil belajar peserta didik. Meskipun nilai hasil belajar masih dalam kategori kurang, namun terdapat perbedaan yang signifikan dari sebelumnya. Dengan demikian, kebijakan tentang pengembangan program kegiatan MGMP direkomendasikan dapat dilanjutkan dengan perbaikan, yakni perbaikan dalam hal dukungan pemangku kepentingan untuk pemenuhan melakukan 13 standar program kegiatan MGMP dan perbaikan kualitas pengelolaan MGMP berbasis permasalahan guru secara nyata dalam mengelola pembelajaran. **************************** One of the efforts to improve teacher professionalism, the Directorate General of Quality Improvement of Educators and Education Personnel makes policies on the Development Standards of Teachers Working Groups (TWG) for Elementary Schools and Subject Teachers’ Forum (STF) for Middle Schools, High Schools and Vocational Schools (Depdiknas, 2008). This policy is based on the Law of the Republic of Indonesia number 14 of 2005 concerning Teachers and Lecturers, which is expected to provide the right opportunity for teachers to attend training, writing scientific papers, meeting at TWG or STF. The purpose of this study in general is to obtain information about the effectiveness of the professional development program for junior high school mathematics teachers in STF in the region of Kota Tangerang from the perspective of the CIPP (Context, Input, Process, Product) and Kirkpatrick (Reaction, Learning, Behavior, Result) evaluation models. The research method uses a combination of the components of the two models formed into four evaluation components, namely: (1) Perceptions: a combination of Context-Input and Reaction; (2) Experience: a combination of Process and Learning; (3) Continuity: a combination of Product and Behavior; and (4) Impact: a combination of Product and Results. The research findings show that there are four activities carried out in the STF of 13 standard program activities, namely seminars, training, peer coaching, and lesson study. The results of the evaluation of the professional development program for junior high school mathematics teachers at STF in Kota Tangerang have a beneficial impact on school institutions in the form of improving the quality of learning. This program is also effective in increasing teacher professionalism and positively contributing to student learning outcomes. Although the score of learning assesssment is still in the less category, there are significant differences from before. Thus, the policy regarding the development of STF program activities is recommended to be continued with improvements, namely improvements in terms of stakeholder support for the fulfillment of 13 standard STF program activities and improvement in the quality of STF management based on teacher's real problems in managing learning

    INTEGRASI TEKNOLOGI DIGITAL PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA: SEBUAH SURVEI DENGAN IMPORTANCE-PERFORMANCE ANALYSIS

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif dengan tujuan untuk mengetahui gambaran kinerja integrasi teknologi digital pada pembelajaran Matematika dari perspektif kepentingan. Responden adalah Guru Matematika Sekolah Menengah Pertama sebanyak 159 sampel yang diambil secara acak. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan skala Likert. Skala terdiri dari lima skor kepentingan (1 = sangat tidak penting sampai dengan 5 = sangat penting) dan lima skor kinerja (1 = sangat tidak setuju sampai dengan 5 = sangat setuju). Analisis data menggunakan teknik Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil analisis diketahui tingkat kesesuaian antara kinerja dan tingkat kepentingan atribut sebesar 94% atau mendekati 100%. Kemudian hasil pemetaan posisi tujuh atribut pada diagram IPA terlihat pada kuadran I terdapat dua atribut dianggap guru sangat penting namun kenyataan kinerja guru rendah. Kuadran II ada tiga atribut dianggap sangat penting dan tingkat kinerja guru tinggi. Kuadran III hanya ada satu atribut dianggap tidak terlalu penting dan kinerja guru rendah. Kuadran IV juga ada satu atribut saja, dianggap tidak terlalu penting namun tingkat kinerja Guru tinggi. Dilihat dari besarnya tingkat kesesuaian di atas, maka kesimpulannya integrasi teknologi digital pada pembelajaran Matematika sudah baik, atau dapat dikatakan kinerja Guru telah memenuhi harapan. Rekomendasi hasil penelitian yang menjadi prioritas utama untuk diperbaiki adalah dua atribut pada kuadran I. Dalam hal ini pemangku kepentingan baik manajemen sekolah maupun Dinas Pendidikan perlu memfasilitasi peningkatan kompetensi Guru untuk atribut:  (1) Mengembangkan sendiri media pembelajaran berbasis digital menggunakan aplikasi (software) tertentu dan (2) Memiliki keterampilan menggunakan aplikasi untuk membuat media pembelajaran interaktif

    THE EFFECT OF MULTI-REPRESENTATION MATHEMATICS LEARNING MODEL ON STUDENTS' MATHEMATICAL CREATIVE THINKING ABILITY

    No full text
    The purpose of this study, was to determine the effect of the multi-representational mathematics learning model on students' mathematical creative thinking abilities. This research uses Quasi Experiment quantitative method. The population in this study were class VII students of SMP Dharma Siswa Kota Tangerang in semester 2 of the 2022/2023 academic year, a total of 360 students. The sample in this study were students of class VII.A, totaling 30 students as the experimental class and class VII.C, totaling 30 students as the control class. The learning model used in the experimental class is the Multi Representational Learning Model. The data collection technique is using a test instrument that has been adjusted based on indicators of creative thinking. The Abstract should be informative and completely self-explanatory, provide a clear statement of the problem, the proposed approach or solution, and point out major findings and conclusions. The Abstract should be 200 to 250 words in length. The Abstract should be written in the past tense. Standard nomenclature should be used, and abbreviations should be avoided. No literature should be cited. The keyword list provides the opportunity to add keywords used by the indexing and abstracting services, in addition to those already present in the title. Judicious use of keywords may increase the ease with which interested parties can locate our article

    EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MODEL BANGUN DATAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP SEGITIGA : EFEKTIVITAS PENGGUNAAN ALAT PERAGA MODEL BANGUN DATAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA DALAM MEMAHAMI KONSEP SEGITIGA

    No full text
    This study aims to analyze the effectiveness of using triangle-shaped teaching aids in improving students\u27 learning outcomes in geometry concepts, particularly triangles. The research employed a quasi-experimental approach with a "Nonequivalent Posttest-Only Control Group" design to evaluate differences in learning outcomes between the experimental and control groups. The sample comprised eighth-grade students at MTS Buaran Tangerang, divided into two groups: the experimental group using teaching aids and the control group following conventional methods. Data were analyzed using normality tests, Pearson correlation tests, and t-tests. The findings reveal that using triangle-shaped teaching aids significantly enhances students’ understanding of triangle concepts. The experimental group achieved higher average learning outcomes compared to the control group. Correlation analysis indicated a strong positive relationship between the use of teaching aids and students\u27 learning outcomes. This study concludes that triangle model teaching aids serve as an effective learning medium to facilitate understanding of abstract mathematical concepts. The findings underscore the importance of innovation in educational tools to support more interactive and meaningful learning processes.  ABSTRACT: This study aims to analyze the effectiveness of using triangle-shaped teaching aids in improving students\u27 learning outcomes in geometry concepts, particularly triangles. The research employed a quasi-experimental approach with a "Nonequivalent Posttest-Only Control Group" design to evaluate differences in learning outcomes between the experimental and control groups. The sample comprised eighth-grade students at MTS Buaran Tangerang, divided into two groups: the experimental group using teaching aids and the control group following conventional methods. Data were analyzed using normality tests, Pearson correlation tests, and t-tests. The findings reveal that using triangle-shaped teaching aids significantly enhances students’ understanding of triangle concepts. The experimental group achieved higher average learning outcomes compared to the control group. Correlation analysis indicated a strong positive relationship between the use of teaching aids and students\u27 learning outcomes. This study concludes that triangle model teaching aids serve as an effective learning medium to facilitate understanding of abstract mathematical concepts. The findings underscore the importance of innovation in educational tools to support more interactive and meaningful learning processes. Keywords: teaching aids; geometry; learning outcomes; innovation; interactive learning.   ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan alat peraga model bangun datar segitiga dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep geometri, khususnya segitiga. Penelitian menggunakan pendekatan kuasi-eksperimen dengan desain "Nonequivalent Posttest-Only Control Group" untuk mengevaluasi perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kontrol. Sampel terdiri dari siswa kelas VIII di MTS Buaran Tangerang yang dibagi ke dalam dua kelompok: kelompok eksperimen yang menggunakan alat peraga dan kelompok kontrol yang belajar secara konvensional. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji korelasi Pearson, dan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alat peraga model bangun datar segitiga secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep segitiga. Kelompok eksperimen menunjukkan rata-rata nilai hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Uji korelasi mengungkapkan hubungan positif yang kuat antara penggunaan alat peraga dengan hasil belajar siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa alat peraga model bangun datar segitiga dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang efektif dalam memfasilitasi pemahaman konsep matematika yang abstrak. Penelitian ini menegaskan pentingnya inovasi dalam media pembelajaran untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan bermakna. &nbsp

    PENGARUH MODEL SFE BERBANTUAN MEDIA MENTIMETER TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

    No full text
    Penelitian eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar matematika antara siswa yang diberikan model pembelajaran menggunakan student facilitator and explaining berbantuan media mentimeter dan model konvensional di kelas X SMAN 1 Cikande. Desain penelitian yang digunakan adalah Nonequivalent Control Group Design. Populasi penelitian yang digunakan adalah seluruh siswa kelas X SMAN 1 Cikande. Teknik pengambilan sampel menggunakan Purpossive Sample dimana diperoleh siswa kelas X-B sebanyak 47 siswa sebagai kelas eksperimen dan kelas X-C sebanyak 47 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Teknik analisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis menggunaan uji paired sample t-test dan uji independent sample t-test. Hasil uji hipotesis menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan yakni ada perbedaan antara hasil belajar matematika siswa kelas X-B melalui model pembelajaran student facilitator and explaining berbantuan media mentimeter dengan hasil belajar matematika siswa kelas X-C melalui model pembelajaran kovensional

    Efektifitas Model Pembelajaran Problem Posing Ditinjau dari Kemampuan Literasi Matematis Siswa SMP pada Materi Aljabar

    No full text
    The purpose of this research was to find out the effectiveness of the problem posing learning models in terms of students' mathematical literacy abilities. The sample of this study was 31 students of class VII.6 PGRI 2 Junior High School in Ciledug. Purposive sampling technique was purposed in this research. Indicators of this study include: (1) elements of algebraic form; (2) algebraic form operations, which consist of: addition and subtraction, multiplication and division, rank, and the LCM and GCD algebraic concepts. This research uses a quantitative descriptive approach. The method used was a quasi experiment, with a one-group pretest-posttest design. The research instrument used was a mathematical literacy ability test. The results of this study were categorized into 4: high, medium, low and very low. Data analysis used pretest and posttest score for each indicator. Based on the results of paired sample t-test shows that there is a significant increase in each indicator. The calculation result of Gain value of 0.42 shows an increase in the medium category. This it can be concluded that the problem posing learning model is effective

    Penguatan Literasi Numerasi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong

    No full text
    Literasi numerasi dibutuhkan dalam setiap aspek kegiatan, baik pada rumah, sekolah atau lingkungan masyarakat. pada kehidupan sehari-hari ketika mengatur waktu, memilih lama pekerjaan, berbelanja, merencanakan liburan atau aktivitas lainnya membutuhkan kemampuan literasi numerasi. menggunakan kemampuan literasi numerasi, para PMI akan bisa memecahkan permasalahan yang berkaitan menggunakan matematika. Kemampuan yg terkait ialah kemampuan mengaplikasikan konsep sapta, pengukuran, operasi hitung, geometri, data dan pola serta menginterpretasikan isu kuantitatif yang ada di sekeliling. Guna memperkuat kecakapan numerasi bagi PMI, perlu ditingkatkan aktivitas kegiatan yang sesuai dengan muatan numerasi yaitu dengan mengadakan pelatihan secara online bagi para PMI di Hong Kong. Metode aktivitas ini ialah menggunakan melaksanakan training dan pendekatan pada mitra yang dituju, melaksanakan pelatihan dan evaluasi. hasil evaluasi pelatihan menyatakan bahwa aktivitas pelatihan ini sangat bermanfaat bagi para PMI di Hong Kong
    corecore