1,721,172 research outputs found
Perlindungan Hukum Hak-Hak Narapidana Lansia: Studi Kasus Pada Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Sumedang
Correctional Institution is a place to conduct training on inmates and correctional students in Indonesia. Before it was known as Penitentiary in Indonesia, it was known as prison. As for the formulation of the problem that the author presents, namely; (1) How the training program is carried out for elderly inmates. (2) Any factors that are inhibited in the application of the rights of elderly inmates in Sumedang Class IIB Penitentiary. This research uses qualitative research methods that use qualitative methods that are descriptive. Data retrieval uses literature study techniques and field studies. This research was conducted at The Sumedang Class IIB Penitentiary located around Sumedang square. The results of research in the field obtained that in lapas accommodate 256 out of a capacity of 100 with a classification of 195 adult inmates, 61 prisoners, 2 female inmates, and 2 elderly inmates. Special treatment is only given to inmates with the elderly category because they already do not have enough ability to perform all activities, as well as the placement of rooms and toilets designed to facilitate them. In addition, spiritual development continues to be carried out and one of the mandatory activities for elderly inmates carried out every day and the separation of residential blocks of elderly inmates is also one of the special treatment given to elderly inmates who do need special treatment and attention
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Perempuan Hamil Di Balik Jeruji: Evaluasi Efektivitas Program Perlindungan Dalam Lapas
This article aims to review and evaluate the effectiveness of protection programs implemented in prisons for pregnant women in detention. In this context, we analyze aspects of physical and mental health, legal and reproductive rights, and alternatives available to pregnant women in prison. The evaluation is based on empirical data obtained through field studies, interviews with prison officials, and a review of existing policies. The results reveal the challenges faced by pregnant women in the prison system and provide a basis for improving more effective and human rights-oriented protection programs
Peranan Petugas Pemasyarakatan dalam Pengawasan Terpenuhinya Hak-Hak Kelompok Rentan Selama Proses Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peranan petugas pemasyarakatan dalam pengawasan terpenuhinya hak-hak kelompok rentan selama proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan sumber daya manusia bahwasanya tidak bisa setiap narapidana mendapatkan pengawasan 24 jam nonstop dari satu orang wali pemasyarakatan, dan keterbatasan sarana prasarana terletak dari masih banyaknya lembaga pemasyarakatan yang belum ramah disabilitas
BENTUK PSIKOLOGIS TERHADAP TINDAKAN NARAPIDANA ANAK PELAKU PEMBUNUHAN DI LEMBAGA PERMASYARAKATAN (LP)
Bentuk Psikolgis merupakan sebuah aspek psikologis dengan contok factor aksternal yang dapat mempengaruhi sehingga terjadi suatu prilaku yang menyebabkan tindak kriminalitas dalam kehidupan bermasyarakat, banyak terjadi kriminalitas anak maupun remeja yang menyebakan mereka menjadi prilaku yang sangat berbeda dari sebelumnya Bentuk gambaran aspek psikologis yang dapat membuat anak terpengaruh untuk melakukan sebuah tindakan criminal, salah satunya pembunuhan, factor penyebabnya merupakan kecenderungan gangguan serta kecemasan, dan bisa juga mengalami frustasi, tekanan terhadap keluarga atau teman bermainya, dan konfil serta bisa juga factor balas dendam. Salah satunya contohnya frustasi dasarnya yang menyebabkan gangguan dalam melakukan kegiatan dan usaha demi tercapainya tujuan yang telah direncanakan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengambarkan bagaiamana bentuk psikologi anak dalam melakukan tindakan yang sangat tidak bagus di contoh ini tampa terkeculi adalah dengan melakukan pembunuhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa yang dapat mempengaruhi mereka melakukan pembuhan tersebut antara lain adalah kecemasan, gangguan patologis, frustasi, tekanan, maupun fakto balas dendam. Yang membuat mereka terjerumus ke dalam lapas serta menjadi napidana dimasa umur yang belum cukup
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA UNTUK MEMOTIVASI SEMBUH PADA NARAPIDANA PEREMPUAN
Tingkat kejahatan di Indonesia semakin meningkat dengan peningkatan jumlah narapidana di Lembaga Permasyarakatan terutama narapidana perempuan. Unsur penting dalam proses penyembuhan narapidana perempuan dalam menjalani masa pidananya adalah dukungan keluarga. Peran penting dukungan keluarga dalam mempercepat proses penyembuhan narapidana salah satunya yaitu dengan memotivasi seorang narapidana dengan memotivasinya untuk sembuh. Tujuan penelitian ini guna mengenali hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi sembuh pada narapidana perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Klas IIA Medan. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasional. Kuantitatif korelasional ialah sesuatu jenis penelitian yang memandang ikatan antara satu ataupun sebagian ubahan dengan satu ataupun ubahan yang lain. Dalam penelitian ini yang jadi variable bebas X yaitu dukungan keluarga serta sebagai variable terikat Y yaitu dorongan sembuh. Pengumpulan keterangan yang dicoba dengan mengedarkan kuesioner pada narapidana perempuan. Dari penelitian yang dicoba ditemui hasil bahwa ada ikatan positif relevan antara dukungan keluarga guna memotivasi sembuh pada narapidana perempuan. Artinya semakin besar dukungan sosial keluarga yang dipunyai pribadi maka semakin besar motivasi diri pribadi
MODEL PEMBINAAN BAGI NARAPIDANA BERBASIS KOMUNITAS MASYARAKAT(COMMUNITY BASED CORECTION) DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS IIB KOTA AGUNG
Community Based Correction merupakan sebuah jenis program pembinaan yang diberikan kepada narapidana sebelum mereka dibebaskan atau menyelesaikan hukuman pidananya. Melalui program tersebut, narapidana akan diberikan kesempatan untuk bisa kembali dan berinteraksi di tenga-tenga masyarakat di bawah pengamanan dan pengawasan lembaga tertentu. Untuk melakukan program operasional tersebut, maka dibutuhkan 5 prinsip dasar dalam penjalanan program, antara lain: Prinsip untuk bisa memperoleh pekerjaan, prinsip penyeleksian narapidana terlebih dulu, prinsip tidak boleh mengeksploitasi narapidana, prinsip pengamanan yang minimum terhadap narapidana, dan prinsip pemberian tanggung jawab atas pemindahan narapidana
Kesiapan Aparat Penegak Hukum dalam Mendukung Implementasi Community Based Correction di Indonesia
Community based correction merupakan pendekatan pemasyarakatan yang menekankan pembinaan dan reintegrasi narapidana melalui keterlibatan masyarakat sebagai alternatif pemidanaan konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesiapan aparat penegak hukum di Provinsi Lampung dalam mendukung implementasi program tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi di Balai Pemasyarakatan Bandar Lampung serta institusi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun aparat penegak hukum memiliki komitmen dalam pelaksanaan community based correction, terdapat kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, kurangnya pelatihan khusus, serta minimnya sarana dan prasarana pendukung. Koordinasi lintas sektor yang masih bersifat formal juga menjadi hambatan dalam kolaborasi yang efektif. Di sisi lain, keterlibatan aktif masyarakat, seperti tokoh adat dan agama, memberikan kontribusi signifikan dalam proses reintegrasi sosial narapidana. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan kapasitas aparat, peningkatan sarana prasarana, perlindungan hukum, dan pemberdayaan komunitas secara terpadu sangat dibutuhkan untuk keberhasilan program community based correction di Lampung. Sinergi antara aparat dan masyarakat merupakan faktor kunci dalam menciptakan sistem pemasyarakatan yang efektif dan manusiawi.
 
Pengaruh Program Pembinaan Berbasis Komunitas terhadap Perilaku Narapidana
Program pembinaan berbasis komunitas merupakan pendekatan strategis dalam sistem pemasyarakatan yang menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam proses pembinaan narapidana. Program ini bertujuan untuk mengubah perilaku narapidana melalui pemberdayaan sosial dan ekonomi yang melibatkan partisipasi komunitas lokal, sehingga narapidana dapat menjalani masa pidana dengan dukungan lingkungan yang kondusif dan persiapan reintegrasi sosial yang lebih baik. Pendekatan ini menekankan prinsip-prinsip seperti seleksi narapidana yang tepat, pengawasan minimal, pemberian kesempatan kerja, serta larangan eksploitasi, yang dilaksanakan dengan metode pembinaan persuasif dan edukatif yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan potensi narapidana.Pelaksanaan program pembinaan berbasis komunitas tidak hanya berfokus pada aspek hukum dan pengamanan, tetapi juga pada pemberdayaan narapidana agar memiliki keterampilan dan sikap yang dapat mendukung kemandirian mereka setelah bebas. Melalui keterlibatan masyarakat dalam proses pembinaan, program ini memperkuat konstruksi sosial-politik yang positif, meningkatkan solidaritas, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama antara narapidana dan komunitas. Hal ini berkontribusi pada pengurangan angka residivisme dan kepadatan lembaga pemasyarakatan. Kajian literatur dan hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembinaan berbasis komunitas efektif dalam mengubah perilaku narapidana secara signifikan, terutama melalui pelatihan keterampilan, pembinaan sosial, dan pendampingan berkelanjutan. Selain itu, model ini juga memperkuat peran masyarakat sebagai agen perubahan yang turut serta dalam formulasi, implementasi, dan evaluasi program pembinaan, sehingga tercipta sinergi yang berkelanjutan antara narapidana dan komunitas. Dengan demikian, program ini tidak hanya menjadi alternatif pemidanaan yang humanis, tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan
- …
