1,720,958 research outputs found
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Tinjauan Ikonografi Bentuk-Ornamen Pada Candi Prambanan Sebagai Ide Penciptaan Elemen Estetis Interior
Candi Prambanan adalah salah satu lokasi yang dianggap sebagai warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai historis serta simbolis yang sangat berharga. Karakteristik arsitektur Candi Prambanan kaya akan detail dan makna dapat menjadi sumber inspirasi yang potensial dalam desain interior. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau bentuk-ornamen Candi Prambanan dengan pendekatan teori ikonografi sebagai rujukan. Ikonografi menginterpretasikan keserupaan objek tersebut dengan objek lain yang lebih sederhana. Metode penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data dari karakteristik bentuk-ornamen dengan studi literatur, prinsip, dan elemen desain interior. Penelitian ini memberikan gambaran pencarian sumber ide penciptaan elemen estetis interior yang berasal dari bentuk dan ornamen pada Candi Prambanan
Kajian Desain Sosial: Inspirasi Rumah Panggung Tradisional Bagi Solusi Modern Nusantara
Rumah atau hunian modern di Indonesia lambat laun dinilai tidak lagi sesuai dengan aspek sosial yang dimiliki masyarakat Indonesia, bahkan mulai memunculkan konflik ketidak-kontekstualan dengan fenomena sekarang. Hubungan harmonis sosial mulai sulit terbentuk pada masyarakat urban dibandingkan dengan pemukiman di pedesaan. Desain rumah modern tidak mampu mengakomodasi berbagai fungsi hunian masa kini seperti yang terjadi pada pemukiman padat penduduk atau bahkan pada perumahan ekslusif. Konflik kebudayan muncul sebagai dampak pembangunan modern yang didesain tanpa dasar ideologi masyarakat Nusantara tetapi bergeser kepada jebakan kapatialisme Barat. Paradigm shift ini berlangsung menggerus tatanan hunian hingga sub-urban dan pedesaan. Masa depan lingkungan yang dikawatirkan penggerak desain berkelanjutan semakin kritis akan terjadi di sini. Hal ini tidak dapat diabaikan oleh para perancang, sehingga sampailah pada saatnya untuk mengambil perannya yang penting, yakni sebagai ”žagen perubahan.”Ÿ Dipandang perlu untuk mencari kembali model rumah modern yang cocok dengan karakter sosial masyarakat Indonesia. Penelitian ini mencoba memberikan pilihan lain dari penggalian potensi vernakular rumah tradisional Nusantara yang diyakini sebagai akar budaya kita yang suitable.Rumah tradisional Nusantara biasanya berupa panggung dengan beragam fungsi. Keberadaaannya terbukti mampu beradaptasi dengan baik terhadap kondisi: cuaca, alam, tatanan sosial, dll. Sifat adaptif ini adalah potensi yang dapat diadop ke dalam bentuk rumah modern di Indonesia. Model bentuk panggung rumah modern diasumsikan dapat mengatasi masalah teknis dan non-teknis fungsi hunian masa kini. Secara teknis dapat menyelesaikan masalah fasilitas denngan menempatkan area publik dan servis di lantai bawah - digunakan untuk garasi, dapur, dan ruang tamu - sedangkan fasilitas hunian yang bersifat privat ditempatkan di lantai atasnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian analisis komparasi antara data penelusuran rumah tradisional dari berbagai referensi dengan karya arsitektur modern yang berbentuk panggung sehingga didapatkan penajaman dan pembuktian bahwa model rumah panggung dapat menjadi pilihan solusi masalah hunian masa kini. Bahkan model ini dapat menjadi salah satu rumah yang ramah lingkungan
THE AESTHETICS OF MISERY: AN INTERPRETATION AND COMPARATION IN CONTEMPORARY INTERIOR DESIGN
This paper discusses symbolic interior design and contemporary which are relevant to the experimental work called Aesthetics of Misery presented at the Milan Furniture Fair in April 2015. The exhibition presented sixteen works by students of the Interior Design Postgraduate Program at Politechnico di Milano Italia. This new approach to design was launched by Andrea Branzi and Michele de Lucchi, the two main designers at Milan. Viewed from aesthetics, the works on display have symbolic aesthetic elements. The works display a "social environment" based on the concept of suffering. Descriptive analysis method is used to explain the background and aesthetic goals of suffering. Observation in contemporary interior design is used as an interpretation of this concept as well as a comparative study. The aim is to find an implementation that what Andre Branzi and Michele de Lucchi call an aesthetic of suffering in various approaches and design styles, already in contemporary interior design work. The results showed that in an indirect form, the concept of misery in various approaches and design styles is existed or represented in industrial-style interior design work which in addition to using old factory-nuanced materials, symbolically showed the element of suffering. Keywords: ABSTRAK Paper ini membahas karya eksperimental yang disebut Aesthetics of Misery (Estetika Penderitaan) yang dipresentasikan di Milan Furniture Fair pada bulan April 2015. Pameran ini menampilkan enam belas karya mahasiswa Program Pascasarjana Desain Interior Politechnico di Milano Italia yang digagas oleh Andrea Branzi dan Michele de Lucchi, dua desainer utama di Milan. Selain membahas konsep dan interpretasi Aestethics of Misery, dalam paper ini juga dilakukan studi banding dengan fenomena dalam desain interior kontemporer. Metode analisis deskriptif dipakai untuk menjelaskan latar belakang dan tujuan. Observasi dalam desain interior dipakai sebagai interpretasi konsep ini sekaligus sebagai studi banding dengan konsep the Aesthetic of Misery. Tujuannya untuk menemukan implementasi bahwa sesuatu yang Andre Branzi dan Michele de Lucchi sebut sebagai Estetika Penderitaan dalam berbagai pendekatan dan gaya desain, telah ada dalam karya desain interior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bentuk tidak langsung, konsep penderitaan dalam berbagai pendekatan dan gaya desain ada atau direpresentasikan dalam karya desain interior gaya industrial yang selain menggunakan material bernuansa pabrik tua, secara simbolik menunjukkan unsur penderitaan. Kata Kunci: estetika, estetika penderitaan, lingkungan sosial, desain interio
Hibah Desain Rumah Bonggol Jagung bagi Masyarakat Pamekaran, Rancakalong, Sumedang
Desa Pamekaran, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, dengan bentang alam yang berbukit-bukit dan ladang jagung yang luas mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan menjadi tujuan wisata baru. Produk jagung yang melimpah setiap tahunnya juga menghasilkan limbah bonggol jagung yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai. Penelitian yang berkaitan dengan eksplorasi bonggol jagung diimplementasikan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani jagung di Pamekaran dengan mengembangkan Wisata Edukasi Jagung. Salah satu kebutuhannya adalah fasilitas akomodasi seperti homestay atau glamping house sederhana bagi para wisatawan. Untuk itu, hibah prototipe desain Rumah Bonggol Jagung ini ditujukan bagi masyarakat Pamekaran yang sebagian elemen bangunannya menggunakan material alternatif dari bonggol jagung sehingga dapat juga dijadikan sebagai display promosi berbagai produk olahan bonggol jagung hasil kerajinan masyarakat. Desainnya sederhana tetapi menarik dan cukup untuk kebutuhan menginap wisatawan dalam kelompok kecil. Lokasinya dipilih dengan mempertimbangkan panorama alam sekelilingnya yang indah dan mudah dijangkau. Harapannya, prototipe ini dapat diduplikasi secara mandiri oleh masyarakat sehingga terbangun lebih banyak lagi Rumah Bonggol Jagung dalam waktu singkat. Semakin banyak, tentu saja akan meningkatkan taraf hidup masyarakat petani di Pamekaran. Permasalahan yang ditemui di lapangan adalah belum adanya pengujian ketahanan material bonggol jagung sebagai elemen bangunan terhadap cuaca sehingga ini membutuhkan penelitian lanjutan. Namun, kesimpulan sementara yang dapat diambil bahwa penggantian material yang rusak dapat diatasi dengan membuat ulang dari ketersediaan limbah bonggol jagung yang berlimpah. Bahkan, ini secara tidak langsung menjadi media pelatihan yang berlangsung berulang-ulang untuk meningkatkan kemampuan pengolahan bonggol jagung
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
