1,720,969 research outputs found
Cerita Sri Huning dan Ikon Kota Tuban dalam Motif Batik Busana Evening
Di daerah Jawa Timur khususnya di Tuban, terdapat cerita rakyat yang mulai dilupakan yakni, kisah cinta pahlawan wanita dari Tuban yang berujung dramatis. Cerita Sri Huning melibatkan tiga Kadipaten, yaitu Kadipaten Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan. Berkaitan dengan politik, terdapat hal-hal yang berkaitan dengan perjodohan dan peperangan pada masanya. Sri Huning merupakan sosok pahlawan wanita yang berparas cantik, baik dan menjunjung tinggi negara. Visualisasi cerita Sri Huning ini menjadi sumber ide motif batik sebagai bahan pembuatan busana evenig. Dalam pembuatan karya menggunakan metode-metode yang dapat membantu dalam proses. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan estetika dan egronomi, serta menggunakan metode penciptaan yang meliputi: metode pengumpulan data, analisis data, perancangan, dan perwujudan. Metode estetika digunakan untuk mempelajari tentang keindahan dalam penciptaan motif visualisasi Sri Huning. Metode egronomi digunakan dalam pembuatan karya agar dapat mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan saat busana digunakan. Penerapan metode penciptaan digunakan untuk memperkuat konsep mulai dari observasi hingga perwujudan karya. Dalam penyelesaian Tugas Akhir ini membuat enam buah karya. Keseluruhan karya memiliki judul yang saling berkesinambungan dengan penggambaran sederhana dari kisah Sri Huning. Setiap karya memiliki bentuk dan karaktersitik yang berbeda-beda. Penerapan pada busana evening dengan tujuan menjadi wadah baru dan mengingat kembali kisah perjuangan Sri Huning.
Kata Kunci : Batik, Sri Huning, Busana Evenin
ANALISIS GAYA BAHASA KIAS DALAM KETOPRAK SISWOBUDOYO “ SRI HUNING MUSTIKA TUBAN “.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis gaya bahasa kias, fungsi dari gaya bahasa kias yang terdapat dalam ketoprak siswobudoyo dengan judul Sri Huning Mustika Tuban.
Penelitian ini berbentuk deskriptif kualitatif dengan metode content analisis atau analisis isi. Sumber data pada penelitian ini berupa cerita ketoprak siswobudoyo dengan judul Sri Huning Mustika Tuban yang terdapat dalam kaset pita.Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah mendengarkan dengan cermat, transliterasi dialog-dialog antar tokoh, kemudian mendeskripsikan data dalam table untuk mencari gaya bahasa. Teknik analisis data yang digunakan induktif komparatif, kategorisasi, dan inferensi atau kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui validitas semantic dan reliabilitas intrarater dan interater.
Dari hasil penetian dapat disimpulkan bahwa dalam cerita ketoprak Sri Huning Mustika Tuban digunakan beberapa gaya bahasa kias yaitu perumpamaan, hiperbola, dan personifikasi. Penggunaan bahasa kias yang paling dominan adalah gaya bahasa perumpamaan. Bahasa kias dalam cerita tersebut mempunyai beberapa fungsi antara lain (a) menjelaskan gambaran, (b) melukiskan perasaan tokoh, (c) memberikan penekanan penuturan atau emosi (d) memperindah bunyi atau penuturan (e) konkritisasi (f) menghidupkan gambaran dan (g) membangkitkan suasana tertentu. Dengan penggunaan bahasa kias pengarang cerita ingin menggambarkan dan menyampaikan maksud dengan menggunakan bahasa yang indah, dengan keindahan bahasa dan penggunaan gaya bahasa kias agar para pendengar lebih tertarik dan senang terhadap cerita ketoprak
ANALISIS KARAKTER TOKOH WAYANG THENGUL DALAM LAKON SRI HUNING GUGUR OLEH DALANG KI DARNO ASMORO PADA PAGUYUBAN MARGI UTOMO LARAS BOJONEGORO
Wayang Thengul adalah salah satu kesenian khas Bojonegoro. Terinspirasi dari berbagai kesenian terutama pada Wayang Golek sehingga terdapat akulturasi di dalamnya. Kesenian tersebut akhirnya ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro sehingga menjadi kesenian khas Bojonegoro dengan ciri yang berbeda . Paguyuban Margi Utomo Laras merupakan salah satu perkumpulan pegiat seni tradisi yang melestarikan Wayang Thengul Bojonegoro sejak tahun 1982 hingga kini. Sekian banyak pertunjukan yang dibawakan paguyuban tersebut, terdapat salah satu lakon yang paling ramai di kalangan masyarakat yaitu Sri Huning Gugur. Penyajian pertunjuakan tersebut perlu adanya kajian karakter pada wayang dengan karkakter tokoh. Maka kajian karakter tokoh pada lakon wayang diharapkan masyarakat mengerti bahwa wayang memiliki cerminan karakter manusia.Masalah Penelitian adalah bagaimana latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras, dan bagaimana karakter tokoh Wayang Thengul dalam lakon Sri Huning Gugur oleh Ki Dalang Darno Asmoro pada Paguyuban Margi Utomo Laras. Analisis Kualitatif menjadi penekatan peneliti dalam melakukan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan serta menggunakan teknis analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan analisis data lapangan.Hasil dari penelitian adalah menemukan keunikan latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras yang di ketuai oleh Ki Darno Asmoro serta menjadi dalang. Salah satunya yaitu visi dan misi yang sederhana namun menjadi daya mereka untuk tetap bertahan tanpa bermodalkan pendidikan yang lebih menjurus pada profesi seniman. Visi utamanya adalah melestarikan kesenian khas Wayang Thengul Bojonegoro dengan misi memenuhi tanggapan masyarakat dan melakukan promosi paguyuban disetiap tahunnya. Salah satu cerita lakon yang dibawakan oleh dalang Ki Darno Asmoro yaitu Sri Huning Gugur. Terdapat 7 tokoh dari 3 kota yaitu Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Pertama, Sri Huning menjadi tokoh Protagonis yang berani. Kedua, Raden Wiratmoyo termasuk tokoh Protagonis yang gugur bersama Sri Huning. Ketiga, Adipati Surolawe adalah ayah Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Protagonis yang tegas. Keempat, Raden Wiratmoko adalah adik Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Deutragonis yang berani. Kelima, Adipati Sosronegoro termasuk tokoh Deutragonis yang baik dan tidak ingkar. Keenam, Retno Kumolo adalah Anak Adipati Sosronegoro, termasuk tokoh Deutragonis yang cantik dan baik. Ketujuh, Adipati Surolawe termasuk tokoh Antagonis yang egois dan pemarah.Kata Kunci : Margi Utomo Laras, Karakter Tokoh, Wayang Thengul, Sri Huning Gugu
ANALISIS KARAKTER TOKOH WAYANG THENGUL DALAM LAKON SRI HUNING GUGUR OLEH DALANG KI DARNO ASMORO PADA PAGUYUBAN MARGI UTOMO LARAS BOJONEGORO
Wayang Thengul adalah salah satu kesenian khas Bojonegoro. Terinspirasi dari berbagai kesenian terutama pada Wayang Golek sehingga terdapat akulturasi di dalamnya. Kesenian tersebut akhirnya ditetapkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro sehingga menjadi kesenian khas Bojonegoro dengan ciri yang berbeda . Paguyuban Margi Utomo Laras merupakan salah satu perkumpulan pegiat seni tradisi yang melestarikan Wayang Thengul Bojonegoro sejak tahun 1982 hingga kini. Sekian banyak pertunjukan yang dibawakan paguyuban tersebut, terdapat salah satu lakon yang paling ramai di kalangan masyarakat yaitu Sri Huning Gugur. Penyajian pertunjuakan tersebut perlu adanya kajian karakter pada wayang dengan karkakter tokoh. Maka kajian karakter tokoh pada lakon wayang diharapkan masyarakat mengerti bahwa wayang memiliki cerminan karakter manusia.Masalah Penelitian adalah bagaimana latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras, dan bagaimana karakter tokoh Wayang Thengul dalam lakon Sri Huning Gugur oleh Ki Dalang Darno Asmoro pada Paguyuban Margi Utomo Laras. Analisis Kualitatif menjadi penekatan peneliti dalam melakukan penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan catatan lapangan serta menggunakan teknis analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan analisis data lapangan.Hasil dari penelitian adalah menemukan keunikan latar belakang Paguyuban Margi Utomo Laras yang di ketuai oleh Ki Darno Asmoro serta menjadi dalang. Salah satunya yaitu visi dan misi yang sederhana namun menjadi daya mereka untuk tetap bertahan tanpa bermodalkan pendidikan yang lebih menjurus pada profesi seniman. Visi utamanya adalah melestarikan kesenian khas Wayang Thengul Bojonegoro dengan misi memenuhi tanggapan masyarakat dan melakukan promosi paguyuban disetiap tahunnya. Salah satu cerita lakon yang dibawakan oleh dalang Ki Darno Asmoro yaitu Sri Huning Gugur. Terdapat 7 tokoh dari 3 kota yaitu Bojonegoro, Lamongan, dan Tuban. Pertama, Sri Huning menjadi tokoh Protagonis yang berani. Kedua, Raden Wiratmoyo termasuk tokoh Protagonis yang gugur bersama Sri Huning. Ketiga, Adipati Surolawe adalah ayah Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Protagonis yang tegas. Keempat, Raden Wiratmoko adalah adik Raden Wiratmoyo, termasuk tokoh Deutragonis yang berani. Kelima, Adipati Sosronegoro termasuk tokoh Deutragonis yang baik dan tidak ingkar. Keenam, Retno Kumolo adalah Anak Adipati Sosronegoro, termasuk tokoh Deutragonis yang cantik dan baik. Ketujuh, Adipati Surolawe termasuk tokoh Antagonis yang egois dan pemarah.Kata Kunci : Margi Utomo Laras, Karakter Tokoh, Wayang Thengul, Sri Huning Gugu
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
