1,720,962 research outputs found
Penerapan Konsep Green Manufacturing Pada Botol Minuman Kemasan Plastik.
Green Manufacturing merupakan proses inovatif karena potensi dan alasan yang bermanfaat seperti minimalisasi limbah, pencegahan polusi. Dalam green manufacturing tidak hanya melibatkan penggunaan desain produk, penggunaan bahan baku ramah lingkungan, tetapi juga kemasan yang ramah lingkungan, atau penggunaan kembali suatu produk. Penerapan green manufacturing dalam produksi minuman kemasan plastik seharusnya melalui beberapa tahap, yaitu proses pewarnaan, persiapan pembersihan, perbaikan ramah lingkungan, dan kondisi ramah lingkungan. identifikasi dilapangan menunjukkan bahwa perusahaan botol minuman kemasan plastik di Pandaan Kabupaten Pasuruan pada tahun 2011 berproduksi sebesar 1,65 juta ton. Dengan rincian 50% (8,25 juta ton) untuk kemasan air mineral, dan sisanya 20% untuk kemasan lainnya. Pengiriman limbah botol minuman kemasan plastik ke pabrik untuk didaur ulang mencapai ± 2-3 ton dalam satu kali kirim setiap minggu, sehingga kalau dirata-rata mencapai 8-12 ton per bulan untuk limbah botol dari semua merk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) mengetahui pengaruh antara pewarnaan dengan persiapan pembersihan, 2) Mengetahui pengaruh antara persiapan pembersihan dengan perbaikan ramah lingkungan, 3) Mengetahui pengaruh antara perbaikan ramah lingkungan dengan kondisi ramah lingkungan, 4) Mengetahui pengaruh antara pewarnaan dengan kondisi ramah lingkungan. Jenis penelitian ini adalah menguji hipotesis penelitian. Populasi penelitian adalah perusahaan botol minuman kemasan plastik yang ada di Kabupaten Pasuruan. Sampel penelitian ini sejumlah 7 perusahaan botol minuman kemasan plastik yang ada di Kabupaten Pasuruan. Penarikan sampel dengan menggunakan total sampling angket penelitian digunakan sebagai instrumen pengumpulan data primer. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis Partial Least Square (PLS). Variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pewarnaan, persiapan pembersihan, perbaikan ramah lingkungan, dan kondisi ramah lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) variabel pewarnaan berpengaruh tidak signifikan terhadap variabel persiapan pembersihan dengan nilai p-value sebesar 0,954, 2) variabel persiapan pembersihan berpengaruh signifikan terhadap variabel perbaikan ramah lingkungan dengan nilai p-value sebesar 0,001, 3) variabel perbaikan ramah lingkungan berpengaruh signifikan terhadap variabel kondisi ramah lingkungan dengan nilai p-value sebesar 0,028, 4) variabel pewarnaan juga berpengaruh tidak signifikan terhadap kondisi ramah lingkungan dengan nilai p-value sebesar 0,367. Kontribusi bagi perusahaan dalam pengolaan limbah hasil produksi dapat diminimalkan dengan menggunakan kembali limbah industri sebagai bahan baku dalam proses produksi atau sebagai bahan subtitusi yang efektif bagi produk yang komersial. Kata Kunci : Green Manufacturing, Limbah Botol Minuma
PENGARUH PENGELASAN SHIELDED METAL ARC WELDING (SMAW) PADA MILD STEEL S45C DI DAERAH HAZ DENGAN PENGUJIAN METALOGRAFI
Hasil pengelasan dapat mengalami kerusakan dan menyebabkan kualitas dari pengelasan buruk salah satunya sambungan yang kurang menyatu sehingga dapat mengakibatkan sambungan lepas atau keretakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil pengelasan di daerah Heat Affected Zone (HAZ) pada baja karbon rendah S45C. Heat Affected Zone (HAZ) adalah logam yang bersentuhan dengan logam lain pada proses pengelasan, dimana pada proses pengelasan akan terjadi siklus termal dan pendinginan cepat pada sambungan las sehingga akan mempengaruhi struktur mikro dan HAZ, di mana logam akan mengalami transformasi fasa selama proses pendinginan. Hasil penelitian diketahui bahwa pengelasan dengan kuat arus 110 Ampere pertumbuhan butir yang terjadi pada spesimen dimana ukuran butir yang terjadi membesar dari ukuran butir logam induk dengan daerah Heat Affected Zone (HAZ) sebesar 3mm, butir yang dihasilkan dari logam las memiliki ukuran relatif kecil, pengelasan dengan kuat arus 120 Ampere pertumbuhan butir yang terjadi pada spesimen dimana ukuran butir yang terjadi hampir sama dari ukuran butir logam induk dengan daerah Heat Affected Zone (HAZ) sebesar 2,6 mm, sedangkan butir yang dihasilkan dari logam las memiliki ukuran relatif kecil dan hasil pengelasan dengan kuat arus 130 Ampere pertumbuhan butir yang terjadi pada spesimen dimana ukuran butir yang terjadi hampir sama dari ukuran butir logam induk dengan daerah Heat Affected Zone (HAZ) sebesar 4 mm
PENGARUH ARUS PENGELASAN GMAW PADA PLAT BAJA ST 42 TERHADAP UJI KEKERASAN DAN MIKROSTRUKTUR
Pengelasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok menurut klasifikasi metode kerjanya, yaitu pengelasan cair, pengelasan tekanan dan mematri. Metode pengelasan yang paling banyak digunakan adalah las busur cair (las busur) dan las gas. Ada 4 jenis las busur, yaitu las busur elektroda, las pelindung gas (TIG, MIG, las busur CO2), las tanpa pelindung gas, dan las busur terendam. Salah satu jenis las pelindung gas adalah Gas Metal Arc Welding (GMAW). Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kuat arus pengelasan terhadap kekerasan dan struktur mikro plat baja ST.42 ketebalan 5 mm yang dibuat kampuh V dan dilas dengan arus 70A, 75A dan 80A dengan las GMAW. Pada hasil uji arus 70A meiliki nilai kekerasan rata-rata daerah HAZ 75,6 HRa. Pada arus 75A nilai kekerasan rata-rata daerah HAZ 75,3 HRa. Dan pada arus 80A nilai kekerasan rata-rata daerah HAZ 78,2 HRa. Dari hasil analisa yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa besar kuat arus pengelasan GMAW yang lebih baik terhadap sambungan las pada baja ST.42 yaitu pada kuat arus 80Ampere karena memiliki rata-rata tingkat kekerasan dan jumlah butir mikrostruktur yang tinggi. Hal ini diakibatkan karena pengaruh pengelasan terdistribusi sesuai jarak dan titik pusat las
PENGARUH MEDIA PENDINGIN PADA BAJA EKSTRA KNL MELALUI PROSES HARDENING PADA SUHU 1020°C
Pada proses produksi khususnya di proses pemesinan untuk membentuk sebuah produk perlu memahami material yang harus dibentuk. Dalam hal ini material yang dipakai yaitu Baja perkakas K110 KNL EXTRA (BOHLER) secara umum merupakan baja perkakas dengan karbon dan chromium tinggi, disertai dengan unsur paduan lain terutama molybdenum dan vanadium. Baja ini membutuhkan daya tahan aus yang tinggi, dengan ketangguhan yang sedang. Permasalahan yang terjadi pada saat proses pembentukan pengerolan dan proses pemesinan material ini akan cepat aus dan cacat, maka perlu dilakukan proses perlakuan Hardening dengan suhu 1020°C dengan media pendinginan udara terhadap peningkatan nilai kekerasan baja KNL EXTRA”. Untuk mengetahui perubahan kekerasan sebelum dan sesudah di lakukan hardening di perlukan sebuah hardness test atau alat ukur kekerasan untuk mengetahui kekerasan yang di miliki oleh suatu bahan. Ada berbagai macam cara mengetahui tingkat kekerasan Salah satunya adalah dengan metode Rockwell. Bahan uji baja KNL EXTRA dengan diameter 230 cm dengan panjang 220 cm dilakukan empat titik yang berbeda sebelum di hardening rata rata HRB 92,4 kemudian di uji dengan perlaku hardening dengan suhu 1020°C dengan pendinginan udara selama 12 jam, 24 jam dan 48 jam hasil kekerasan sama perubahan tidak signifikan yaitu rata-rata HRC 61,4 sesuai dengan rentang skala pada metode pengujian rockwell 20-100 HRB merupakan baja lunak sedangkan 20 -77 HRC baja keras hal ini menandakan bahwa bahan yang lebih keras dari HRB 100. Baja ini juga di uji coba setelah dihardening dengan pendinginan oli nilai kekerasannya meningkat rata-rata HRC 62,
ANALISA UJI TEKAN, KERAPATAN DENSITAS DAN MIKROSTRUKTUR TERHADAP KOMPOSIT BAHAN BAKU TEAKWOOD SERBUK GERGAJI KAYU
There are two problems in this research, the quantity of density and microstruckture of the composite raw material of teakwood from sawdust. So this research is for knowing the quantity of density and microstruckture of the composite raw material of teakwood from sawdust. This research is using quantitative method. The result of this research is quantity of density of the composite raw material of teakwood from sawdust is 5 grams of the teakwood sawdust has more density than another dust. For the microstruckture test said that the value of G, the sawdust mean every 5 grams is 60 mm, so more sawdust weight the density more high. The researcher suggest that next research should add another composition so that it can create more high structure and analize the structure Microskopic for knowing the content of the structure more intensive
Analisa Efektivitas Mesin Paletizer dengan Metode OEE dan FMEA
The manufacturing industry demands high production machine effectiveness to ensure smooth operations and maintain competitiveness. Issues related to machine effectiveness also occur at PT Tirta Fresindo Jaya, where the Palletizer machine recorded the highest downtime of 0.21%, compared to other production machines, indicating the need for a comprehensive performance evaluation. This study aims to analyze the effectiveness of the Palletizer machine using the Overall Equipment Effectiveness (OEE) method and to identify potential failures through Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). A quantitative approach was employed in this research, with primary data collected through direct observation and recording of machine operational variables, while secondary data were obtained from production reports and company maintenance records. The OEE analysis was conducted based on three main parameters: availability, performance, and quality rate, whereas FMEA was applied to identify failure modes using the Risk Priority Number (RPN) as the assessment indicator. The results reveal that the OEE value of the Palletizer machine ranged between 84.42% and 90.10%, with both availability and quality rate meeting international standards, while performance remained below the world-class OEE benchmark. The Six Big Losses analysis indicated that the largest loss was caused by equipment failure, contributing 1.72% of the total downtime. Furthermore, the FMEA results showed that the sleding conveyor had the highest RPN value (343), followed by the push box and hydraulic pallet (336). Based on these findings, improvement efforts are recommended to focus on preventive maintenance of the sleding motor, scheduled replacement of hydraulic components, and routine inspections of the push box to minimize failure risks. Therefore, the integration of OEE and FMEA not only evaluates machine effectiveness but also provides strategic recommendations to reduce downtime and enhance sustainable productivityIndustri manufaktur menuntut efektivitas mesin produksi yang tinggi agar dapat menjaga kelancaran proses dan daya saing perusahaan. Permasalahan terkait efektivitas mesin juga terjadi di PT Tirta Fresindo Jaya, mesin Paletizer tercatat memiliki downtime tertinggi sebesar 0,21% dibandingkan mesin produksi lainnya, sehingga perlu dilakukan evaluasi efektivitas secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas mesin Paletizer dengan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) serta mengidentifikasi potensi kegagalan menggunakan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui observasi langsung dan pencatatan variabel operasional mesin, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan produksi dan catatan perawatan perusahaan. Analisis OEE dilakukan melalui tiga parameter utama, yaitu availability, performance, dan quality rate, sedangkan FMEA digunakan untuk mengidentifikasi mode kegagalan berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai OEE mesin Paletizer berkisar antara 84,42% hingga 90,10%, dengan nilai availability dan quality rate yang sudah sesuai standar internasional, namun nilai performance masih berada di bawah standar world class OEE. Analisis Six Big Losses menemukan kerugian terbesar berasal dari equipment failure sebesar 1,72%. FMEA menunjukkan bahwa sleding conveyor memiliki nilai RPN tertinggi (343), diikuti push box dan hidrolik palet (336). Berdasarkan hasil tersebut, usulan perbaikan difokuskan pada perawatan preventif motor sleding, penggantian komponen hidrolik secara berkala, serta inspeksi rutin pada push box untuk menurunkan risiko kegagalan. Dengan demikian, kombinasi OEE dan FMEA tidak hanya mampu mengevaluasi efektivitas mesin, tetapi juga memberikan rekomendasi strategis untuk menekan downtime dan meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Metallographic Analysis Of Coil Springs Against Temperature Variations Using ASTM E-122 and ASTM E-562
All agricultural tools require key components in the manufacturing process, one of which is metal. The metal commonly used in the manufacture of agricultural machinery is a type of steel with a medium carbon content. This type of metal is found in many vehicle parts, so parts with moderate carbon content are spring parts. Therefore, this study was conducted to determine the effect of temperature variations on the manufacture of agricultural equipment products made from coil springs on their mechanical properties. In this study, an analysis of the coil spring steel was carried out. The research methods used included sample pieces, heat treatment with temperature changes of 815 OC, 830 OC and 850 OC, quenching with SAE 20-50 W oil cooling media, hardness test and metallographic test. From the results of the study, the highest percentage of martensite microstructure was at 850 OC temperature specimens with a value of 64% and the lowest percentage was at 830 OC temperature specimens with a value of 42%. The high percentage of bainite microstructure is at 830 OC temperature specimen with a value of 58% and the lowest percentage is at 850 OC temperature specimen with a value of 36%. Meanwhile, the highest percentage of ferrite microstructure is at 815 OC temperature specimens and the lowest percentage is in non heat treated specimens with a value of 40%. By comparison on non-heat treated specimens which have a value of 40% ferrite and 60% pearlite. The microstructure with the largest grain shape is found in the specimen at 850 OC temperature with grain number 4 and the micro structure with the smallest grain shape is found in the specimen at 815 OC having grain number 6 with a comparison of non-heat treated specimens having grain number 7. Obtained an average value – The highest average hardness with oil cooling media on coil spring steel has a hardness value of 76.75 HRC at a temperature of 850°C. While the lowest average hardness value with oil cooling media on coil spring steel has a hardness value of 75.4 HRC, namely at a temperature of 815 °C, with a hardness ratio of 71.3 HRC in the initial conditions without heat treatment
PENDAMPINGAN DALAM PEMASANGAN LAMPU TENAGA SURYA HEMAT ENERGI (LHSTE) UNTUK PENERANGAN KANDANG SAPI PERAH DI DUSUN SREBET, DESA PESANGGRAHAN, KOTA BATU, JAWA TIMUR
Upaya penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) hemat dan bersih coba diterapkan pada kandang sapi perah di Dusun Srebet, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Jawa timur. Pendampingan dalam pemasangan lampu tenaga surya hemat energi (LHSTE) untuk penerangan kandang sapi perah telah dilakukan. Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah lampu penerangan tenaga surya dapat menerangi kandang sapi perah dengan baik. Cahaya yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan peternak sapi perah, serta dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan dalam proses perawatan sapi dengan hemat energi
- …
