648 research outputs found
KONSEP KENDANGAN PEMATUT KARAWITAN JAWA GAYA SURAKARTA
INTISARI
Sigit Setiawan, 2015. Konsep Kendangan Pematut Karawitan Jawa
Gaya Surakarta. Tesis untuk Program Pengkajian Seni Musik,
Pasca Sarjana, Institut Seni Indonesia Surakarta. Kendangan
pematut adalah kendangan yang disajikan tanpa mengikuti
konvensi sistematika kendangan yang ada berdasarkan faktorfaktor
musikal pembentuknya sehingga menghasilkan kesan rasa
yang sesuai dan pantas. Kendangan pematut dalam karawitan
Jawa Gaya Surakarta berperan dalam hidup tidaknya sebuah
sajian gending. Ada dua jenis kendangan pematut yaitu, pertama
matut lagu berikut variasinya seperti kalimat lagu, ritme, cakepan
dan garap balungan serta kedua, matut solah baik dalam tari
maupun wayang. Konsep penyajian pematut secara hierarki adalah
(1) mengerti lagu gending dan solah, (2) menentukan variasi garap
kendangan berdasarkan faktor pembentuknya, (3) menentukan
porsi harus tidaknya disajikan dan (4) menyajikan kendangan
yang sesuai dengan faktor pembentuknya. Sifat-sifat yang dimiliki
kendangan pematut yakni individu dan insidental
'Resting' and 'Fremantle Terzinas' Poems by author Hersri Setiawan (Translation into English by David T. Hill)
In late February 1993, Indonesian author Hersri Setiawan arrived for a brief visit to Australia to participate in the Perth Writers' Festival at the Fremantle Arts Centre. A former political prisoner held for nine years in detention without trial, he managed to leave Indonesia several years ago and now lives in the Netherlands as a political exile. These poems have been translated by David T. Hill
Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok Disertai Media Audio Visual Pokok Bahasan Skala Pada Siswa Kelas 5 SDN Umbulsari 04 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010, Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Dengan Menggunakan Metode Diskusi Kelompok Disertai Media Audio Visual Pokok Bahasan Skala Pada Siswa Kelas 5 SDN Umbulsari 04 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010, Sigit Setiawan, 070210204197
Pendidikan dapat mengatasi masalah-masalah dalam kehidupan, baik pada
masa sekarang maupun masa yang akan datang. Perkembangan ilmu dan teknologi
juga membawa dampak yang sangat berarti dalam dunia pendidikan, karena
mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi
dalam proses belajar. Untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan, harus ditemukan
strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas, yang lebih
memberdayakan potensi siswa. Penggunaan dan pengaktifan media audio visual
(video) di kelas, diharapkan dapat merangsang dan mempermudah pemahaman
konsep-konsep matematika.
Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: (1) untuk menelaah
bagaimanakah aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika pokok
bahasan skala dengan menggunakan metode diskusi kelompok disertai media audio
visual pada siswa kelas 5 SDN Umbulsari 04 Kecamatan Umbulsari Kabupaten
Jember Semester II Tahun Pelajaran 2009/2010, (2) untuk menelaah bagaimanakah
hasil belajar siswa dalam proses pembelajaran matematika pokok bahasan skala
dengan menggunakan metode diskusi kelompok disertai media audio visual pada
siswa kelas 5 SDN Umbulsari 04 Kecamatan Umbulsari Kabupaten Jember Semester
II Tahun Pelajaran 2009/2010.
Pengambilan data dilaksanakan di SDN Umbulsari 04 mulai tanggal 09 Maret
sampai 20 Maret 2010. Sebagai subyek penelitian adalah siswa kelas V. Desain yang dipakai dalam penelitian ini adalah model skema spiral dari Hopkins dengan tahap
penelitian tindakan yang meliputi perencanaan (planning), tindakan (action),
pengamatan (observation), dan refleksi (reflection). Analisa data yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif. Pengumpulan data
menggunakan metode wawancara, tes, observasi. Penelitian ini dilaksanakan dua
siklus.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut: (1) aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan metode
diskusi kelompok disertai media audio visual pada siklus I dengan kriteria cukup aktif
dan siklus II dengan kriteria aktif. Hal ini dapat dilihat dari persentase aktivitas siswa
pada siklus I sebesar 55,42% dan pada siklus II sebesar 67,08%, (2) pembelajaran
matematika menggunakan metode diskusi kelompok disertai media audio visual dapat
meningkatkan hasil belajar siswa yang diperoleh dari persentase ketuntasan hasil
belajar siswa pada siklus I secara klasikal sebesar 45% dan siklus II secara klasikal
sebesar 85% atau dapat dikatakan tuntas
Financial Depth and Financial Access in Indonesia
This study is intended to analyse the current levels of financial depth and financial access in Indonesia and to analyse the factors affecting them. The analysis method used was a combination of descriptive quantitative, benchmarking, and literature reviews. The conclusion is that the financial depth in Indonesia has not shown a satisfactory level since it was the lowest, or the second lowest ranked country among the sampled countries. Meanwhile, the financial access in Indonesia is relatively better than its financial depth, especially for financial markets, in which Indonesia ranks in the lower average group. From literature reviews, it can be inferred that the main factor driving the poor financial depth in Indonesia is non-competitiveness of the institutions; whereas the driving force of poor financial access in Indonesia are geographical constraints, poverty, a high income gap, and a less than effective national financial development policy
PENGARUH PENGGUNAAN PIPA LAMBUNG PADA TUTUP ILEOSTOMI PADA BAYI DAN ANAK DINILAI DARI LAMA PERAWATAN PASKA OPERASI
ii
PENGARUH PENGGUNAAN PIPA LAMBUNG PADA TUTUP ILEOSTOMI PADA
BAYI DAN ANAK DINILAI DARI LAMA PERAWATAN PASKA OPERASI
Sigit Wijanarko, Ariandi Setiawan
ABSTRAK
Latar Belakang: Pemasangan pipa lambung setelah operasi tutup ileostomi sebagai
dekompresi usus merupakan dogma klasik pada pendidikan bedah. Pemasangan pipa
lambung setelah operasi tutup ileostomi akan berpengaruh pada lama perawatan paska
operasi.
Tujuan: Menilai pengaruh pemakaian pipa lambung pada operasi penutupan ileostomi,
dinilai dari lama perawatan paska operasi.
Metode: Penelitian ini merupakan Intact-Group Comparison pre-experimental design yang
dilakukan dengan menjadikan sampel menjadi 2 kelompok, dimana pada operasi penutupan
ileostomi pada kelompok pertama mendapat perlakuan dengan pemakaian pipa lambung dan
kelompok kedua tanpa pipa lambung. Hasil penelitian dilakukan analisa statistik dengan
menggunakan Two sample T-test.
Hasil: Sampel pada penelitian ini terdiri dari 9 orang laki-laki dan 5 orang perempuan. Uji
normalitas menggunakan metode Ryan-Joiner menunjukkan bahwa kedua data sampel
berdistribusi normal dengan signifikan (p > 10 %). Data yang digunakan juga memiliki
sebaran data yang homogen berdasarkan uji F, yaitu diperoleh nilai statistik F6,6 sebesar 2,33
(p = 0,326). Rata-rata lama perawatan dengan pemasangan pipa lambung selama 6 hari,
sedangkan tanpa pemasangan pipa lambung 4,6 hari. Berdasarkan hasil pengujian dengan
menggunakan uji T dua sampel diperoleh hasil bahwa pengujian tersebut menghasilkan nilai
T sebesar 3,87 (p = 0,003) dengan α sebesar 5 %, yang berarti bahwa lama perawatan pasien
dengan pemasangan pipa lambung signifikan lebih lama daripada pasien tanpa pemasangan
pipa lambung. Penelitian ini menunjukkan penggunaan pipa lambung pada tutup ileostomi
berpengaruh pada lama perawatan pasien paska operasi.
Kata Kunci : Pipa lambung, ileostomi, lama perawatan paska operasi
Slank, Musik, dan Kepentingan
Selama ini kita salah memandang musik hanya sebagai sebuah peristiwa seni yang netral dan tanpa bias. Musik sejak awal harus diklasifikasikan dalam dua kategoriberbeda. Pertama, ia adalah sebentuk karya seni bunyi yang dinikmati sisi estetisnya. Ide penciptaan bisa berasal dari mana saja, tapi tujuannya tetaplah memberi kenikmatan estetis pada pendengar. Kedua, karena kodratnya yang demikian, musik seringkali digunakan sebagai katalisator dalam menyampaikan pesan-pesan tertentu. Artinya musik tidak lagi netral, tapi berpihak. Hal itulah yang membedakan musik dengan kicauan burung. Sama-sama indah, tapi yang satu tak bisa disebut musik. Musik itu dilandasi dengan aspek kesengajaan, tidak hadir secara spasial. Kesengajaan maksud inilah yangdiperdebatkan, menempatkan musik “dalam bingkai kepentingan”. Tapi mari, walaupun sulit, kita lepaskan keterkaitan musik dengan penciptanya. Lepaskan musik dari beban-beban kepentingan musisinya. Biarkan bunyi musik itu mengalun, dinyanyikan, dan disenandungkan dalam peluh perjuangan mencari keadilan. Death of the author, adagium lawas bilang demikian. Tak ada salahnya kita tetap menyanyikan lagu-lagu Slank bertema sosial, kritikan, bahkan kebencian pada korupsi dengan lantang. Barangkali kini, yang menyanyikan itu semua bukan lagi Slank, tapi kita
Trade Liberalization, Consumption, and Real Exchange Rate in Seven ASEAN+6 Countries
Trade liberalization has been mushrooming in the globalization era. The trade liberalization policy adoption by one country will be followed shortly by another. Although trade liberalization policy is strongly advocated by international organizations, a few prominent economists argue there is no ‘one fits for all’ policy. Thus, the policy effect altogether with other relevant aspects still needs to be explored in case by case basis, including ASEAN+6 regions. This paper is intended to analyze the relationship of trade liberalization and consumption on the real exchange rate in seven ASEAN+6 countries – the most dynamic region during period 2000 – 2011, a period covering subprime mortgage crisis. With data panel approach, the paper investigates the relationship of trade liberalization and consumption on real exchange rate while taking into account level of country’s income and crisis effect. The resulted model finds significant relationship in the overall and individual effect of tariff and terms of trade change as proxies of trade liberalization, consumption, level of country’s income, and subprime mortgage crisis on real exchange rate.</jats:p
Rancang Bangun Alat Pengukur Tinggi Dan Volume Pohon Tegak Berbasis Mikrokontroler At-Mega 16
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh
pepohonan dan tumbuhan lainnya. Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi
dengan masa hidup bertahun-tahun. Pohon juga memiliki sebatang pokok tegak
berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas. Kayu
adalah bagian batang atau cabang serta ranting tumbuhan yang mengeras karena
mengalami lignifikasi (pengayuan). Salah satu kegiatan dalam inventarisasi hutan
adalah pengukuran untuk penaksiran massa tegakan yang berupa tabel isi dimana
jika dilakukan pengukuran pohon secara langsung memerlukan waktu serta biaya
yang banyak. Pengukuran volume tegakan dapat dilakukan secara langsung pada
pohon, tetapi memerlukan waktu, tenaga dan biaya yang besar. Pengukuran tinggi
secara tidak langsung pada dasarnya dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmu
ukur sudut. Alat pengukur tinggi dengan prinsip ini antara lain christens
hypsometer dan hagameter. Penggunaan hagameter tentunya memiliki beberapa
kelemahan, dimana hal ini dapat mempengaruhi ketepatan nilai pengukuran
tegakan pohon. Hal inilah yang mendasari pembuatan alat pengukur tinggi dan
volume pohon tegak berbasis mikrokontroler dengan harapan bahwa alat ini dapat
digunakan secara luas untuk melakukan pengukuran tinggi dan volume pohon
tegakan secara tepat dan akurat, serta mengurangi kesalahan operator dalam
melakukan penaksiran (taksasi) tinggi dan volume pohon.
Metode pengukuran yang digunakan yaitu, menggunakan prinsip
trigonometri dan segitiga sebangun. Untuk mendapatkan nilai volume pohon
digunuakan persamaan kerucut terpancung sebagai formula perhitungan Sensor
yang digunakan yaitu potensiometer sedangkan mikrokontrol yang digunakan
yaitu AT-MEGA 16. Program yang digunakan yaitu BASCOM AVR. Validasi
dilakukan pada berbagai jarak yaitu 5 m, 6 m, 7 m, 8 m, 9 m, dan 10 m.
Berdasarkan hasil pengujian tinggi diketahui bahwa alat mampu bekerja
sesuai fungsinya. Pengukuran pada berbagai jarak mampu menghasilkan data
yang linier, hal ini ditunjukkan dengan nilai R2 yang keseluruhan bernilai 0.9 dari
hasil validasi sudut yang telah dilakukan diketahui mempunyai persamaan y =
1.0041x + 0.8745 dimana ketepatan pengukuran sudut sebesar 99,88 %.
Sedangkan hasil validasi pengukuran tinggi pada berbagai jarak mempunyai
persamaan y = 1.217x – 0.1867 dengan ketepatan pengukuran tinggi sebesar
97,83 %
Pengaruh Media Tanam dan Konsentrasi ZPT Auksin terhadap Pertumbuhan Stek Kemukus (Piper cubeba L.)
Kemukus merupakan komoditas obat dan rempah bernilai tinggi. Kemukus menjadi salah satu komoditas ekspor yang diminati masyarakat luar negeri seperti bangsa Eropa. Permasalahan yang ditemukan dalam pengembangan kemukus yaitu produktivitasnya yang masih rendah. Guna meningkatkan produksi kemukus maka perlu penggunaan bibit yang berkualitas. Pembibitan kemukus dapat dilakukan secara vegetatif menggunakan klon unggul yang didukung dengan penggunaan media tanam dan konsentrasi ZPT auksin yang tepat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui media tanam dan konsentrasi ZPT auksin yang seusai untuk keberhasilan pembibitan stek stek batang kemukus.
Penelitian dilakukan di Desa Kalisalak Kecamatan Kebasen Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai September 2019 menggunakan rancangan factorial 3 x 4 yang disusun pada Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama yaitu media tanam (M) terdiri dari M0 (tanah + pupuk kotoran sapi), M1 (tanah + pupuk kotoran sapi + cocopeat), dan M2 (tanah + pupuk kotoran sapi + pasir). Faktor kedua konsentrasi ZPT yaitu A0 (0 ppm/tanpa ZPT), A1 (5.000 ppm), A2 (10.000 ppm) dan A3 (15.000 ppm). Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis ragam pada taraf 5% dan 1% dan jika berpengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) taraf kesalahan 5%.
Hasil penelitian menunjukkan macam media berpengaruh nyata terhadap bobot kering tunas. Media (tanah + pupuk kotoran sapi (1:1)) menghasilkan bobot kering tunas tertinggi (0,04 gram). Penggunaan ZPT auksin efektif meningkatkan panjang tunas (45,63%), jumlah daun (30%), jumlah akar (72,41%), panjang akar (89,62%), bobot kering tunas (33,33%) dan bobot kering akar (50%) dibanding kontrol. Konsentrasi ZPT auksin 10.000 ppm menunjukkan paling sesuai dalam meningkatkan pertumbuhan stek batang kemukus. Terjadi interaksi antara media tanam dan konsentrasi ZPT auksin terhadap persentase stek hidup kemukus. Penggunaan media tanam tanah + pupuk kotoran sapi (1:1) dan konsentrasi ZPT 10.000 ppm memberikan persentase stek hidup kemukus tertinggi sebesar 75%
Trade Liberalization, Consumption, and Real Exchange Rate in Seven ASEAN+6 Countries
Trade liberalization has been mushrooming in the globalization era. The trade liberalization policy adoption by one country will be followed shortly by another. Although trade liberalization policy is strongly advocated by international organizations, a few prominent economists argue there is no ‘one fits for all’ policy. Thus, the policy effect altogether with other relevant aspects still needs to be explored in case by case basis, including ASEAN+6 regions. This paper is intended to analyze the relationship of trade liberalization and consumption on the real exchange rate in seven ASEAN+6 countries – the most dynamic region during period 2000 – 2011, a period covering subprime mortgage crisis. With data panel approach, the paper investigates the relationship of trade liberalization and consumption on real exchange rate while taking into account level of country’s income and crisis effect. The resulted model finds significant relationship in the overall and individual effect of tariff and terms of trade change as proxies of trade liberalization, consumption, level of country’s income, and subprime mortgage crisis on real exchange rate
- …
