22 research outputs found
KARAKTER MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS TANAMAN NILAM DI BAWAH NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN
<p class="IsiabstrakIndonesia">Nilam (<em>Pogostemon cablin</em>) merupakan tanaman semak yang dapat tumbuh di tempat ternaungi maupun terbuka. Namun perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman pada naungan 55% yang mempengaruhi hasil belum diketahui. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai September 2015 di Kebun Percobaan Cimanggu, Bogor. Penelitian bertujuan untuk membandingkan perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman nilam yang mempengaruhi produksi dan mutu minyak nilam yang ditanam di bawah naungan 55% dan tanpa naungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 ulangan. Parameter yang diamati adalah morfologi (jumlah daun, luas daun spesifik, tinggi tanaman dan jumlah cabang) dan fisiologi (kandungan air nisbi, jumlah klorofil, laju fotosintesis dan transpirasi), serta produksi terna dan hasil minyak. Data dikumpulkan dari masing-masing 20 sampel tanaman, dianalisis rata-rata dan <em>standard error</em> untuk menguji perbedaan antar perlakuan dan diuji lebih lanjut dengan analisis berganda Spearman untuk mengetahui hubungan antara parameter dengan hasil. Hasil penelitian menunjukkan tanaman nilam yang ditanam di bawah naungan 55% memiliki tinggi 87,05 cm, jumlah daun (576 helai), kandungan klorofil total (0,62 mg g<sup>-1</sup>), luas daun spesifik (191,57 g cm<sup>-2</sup>) dan laju fotosintesis (12,2 μmol CO<sub>2</sub> m<sup>-2</sup> s<sup>-1</sup>) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman nilam yang ditanam tanpa naungan. Produksi terna kering 131,9 g tanaman<sup>-1</sup> meningkat 300% dibandingkan dengan tanpa naungan, dengan kadar minyak 2,3%.</p></jats:p
Adiabatic quantum pumping through surface states in 3D topological insulators
We investigate adiabatic quantum pumping of ballistic Dirac fermions on the surface of a strong three-dimensional topological insulator. Two different geometries are studied in detail, a normal metal–ferromagnetic–normal metal (NFN) junction and a ferromagnetic–normal metal–ferromagnetic (FNF) junction. Using a scattering matrix approach, we show that each time a new resonant mode appears in the transport window the pumped current exhibits a maximum and provide a detailed analysis of the position of these maxima. We also predict a characteristic difference between the pumped current in NFN- and FNF-junctions: whereas the former vanishes for carriers at normal incidence, the latter is finite due to the different nature of wavefunction interference in the junctions. Finally, we predict an experimentally distinguishable difference between the pumped current and the conductance.Quantum NanoscienceApplied Science
TINJAUAN KRITIS TERHADAP KONSEP IDEOLOGIS KEPENGARANGAN INDONESIA : KAJIAN SOSIOLOGIS
Indonesian writers continue to race across the ocean of globalization and technology. Those who come from various regions, fused into a large community as citizens of the world literature, sow among a number of mirage and cyberspace. An Indonesia poet or author has diverse languages, in accordance with the ideological background (worldview) authorship respectively. Ideology means a way of thinking or way of life of a person or a group. This paper assesses the ideology of Indonesia authorship in terms of sosilogi. Sociology is the study of society or community. Through this sociological theory discovered the concept of Indonesian author diverse ideologies. Indonesian author is able to create an ideology novelty literary language in conditions of globalization regime. Through literature, the authors of Indonesia express ideas and thoughts for the people of Indonesia
Alternatif Konsep Kelembagaan untuk Penajaman Operasionalisasi dalam Penelitian Sosiologi
EnglishThe experts have no the same perception regarding the term of “institution”. This leads to unworkable definitions and concepts. This paper reviews the existing thoughts, especially those related with the term of “organization”, and simplifies them to formulate an easier concept which enables scientists and practitioners to work with. Different meanings exist due to different points of views of the experts, especially in early stage of sociology development. Sine 1950’s, social institution and social organization have been distinguished strictly. The author proposes a solution, i.e., the term of “institution” to mention the social system in which it is classified into two important components, namely “institutional aspect” and “organizational aspect”. Through this differentiation, it is expected that the analysis becomes more detailed, signifies the strong and weak aspects, and enables to choose the strategy of developing it.IndonesianIstilah “kelembagaan” belum memperoleh kesamaan pengertian di kalangan para ahli. Hal ini menyebabkan munculnya beberapa pengertian dan konsep yang menyebabkan tidak dapat dioperasionalkan. Tulisan ini berusaha melakukan tinjauan (review) seluruh pemikiran yang berkembang, terutama kaitannya dengan istilah “organisasi”, untuk kemudian merumuskan satu konsep yang lebih mudah sehingga dapat dipergunakan baik untuk kalangan ilmuwan maupun praktisi. Ketidaksamaan pemaknaan terjadi karena setiap ahli memiliki titik pandang yang berbeda dalam membahasnya, terutama pda masa-masa awal perkembangan sosiologi. Namun, semenjak era 1950-an, sesungguhnya sudah terlihat adanya pembedaan yang tegas antara kelembagaan (social institution) dan organisasi (social organization). Sebagai solusinya, penulis menggunakan istilah “kelembagaan” untuk menyebut suatu sistem sosial dimaksud, yang didalamnya dapat dibagi menjadi dua komponen penting, yaitu “aspek kelembagaan” dan “aspek keorganisasian”. Dengan membedakan seperti ini, maka analisa dapat lebih mendalam, dapat diketahui aspek apa yang kuat dan lemah, serta dapat memilih strategi untuk pengembangannya
TANTANGAN PENGINTEGRASIAN JAMINAN KESEHATAN DAERAH KE DALAM JAMINAN KESEHATAN NASIONAL UNTUK MEWUJUDKAN CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN UNIVERSAL
This study is to review the facts in the health care field, where WHO has agreed to achieve Universal Health Coverage (UHC) in 2014. UHC is a health system that ensures every citizen in the population has fair access to a qualified promotive, preventive, curative, and rehabilitative health care at reasonable costs. Universal coverage contains two core elements namely equitable access to qualified health services for every citizen, and the protection of financial risks when people use health services. Indonesia is currently in transition towards UHC. Law No. 40 Year 2004 about National Social Security System (UU SJSN)' has answered the basic principles of UHC by requiring every citizen to have access to comprehensive health services that are needed through pre-effort system. Then, the author will formulate solutions to these problems which can be seen as a recommendation for the implementation of health care development. Problem solving methods used in formulating solutions to problems are policy analysis using William Dunn and Abidin's theory, and the Fishbone Diagram. Based on the analysis, the author advises the need to arrange a formulation that meets the demands of integration of Jamkesda into JKN. Formulation of policies which have been directed towards the centralization of health financing through JKN program must be balanced by providing a flexible space for local governments to participate in decision making processes dynamically. This formulation is called Centralized Dynamic Integration policy formulation.Â
Ketaksaan Padanan Kata dan Ungkapan Bahasa Asing dalam Bahasa Indonesia: sebuah Kajian Politik Bahasa untuk Penyempurnaan Pedoman Umum Pembentukan Istilah dan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV
Ketaksaan pemadanan kata dan ungkapan asing dalam kebijakan politik bahasa ditunjukkan dalam PUPI dan KBBI edisi IV, seperti: 1) peraturan Perubahan ejaan yang tidak mengatur ejaan ct→k dan hanya mengklaim ejaan k dari cc→k,ck→k, ch→k, dan c→k seperti pada kata abstrack, extrack, contrack, dan bentuk yang diatur dalam pembentukan ejaan hanya kata contrack, acclamation, check, dan cholera. Begitu juga dengan ejaan au→o tidak diatur, yang ditetapkan hanyalah ejaan au→au seperti pada kata automatic seharusnya automatis sesuai peraturan ejaan, tetapi dalam kbbi ditulis otomatis, 2) kerancuan pemaknaan imbuhan per- yang juga dapat bermakna sistem, seperti pada kosakata sistem perekonomian → perekonomian, sistem perpolitikan → perpolitikan, 3) tidak dapat memilah antara makna proses dan hasil dalam bahasa sumber, seperti erosion (proses dan hasil) →erosi/pengikisan (proses), seharusnya menjadi pengikisan (proses) dan kikisan (hasil) dan4) pemaknaan lema yang kerap dibolak-Balikkan, seperti tolol→tulu, tulu→tolo, tolo bukan tolol, perempuan→wanita, wanita →peremuan dan pada kata sepatu, cangkul tidak mengacu pada atributEsensial sehingga dapat menyulitkan penutur memahami bahasa Indonesia. Inilah alasan utama penulis mengangkat permasalahan kekaburan pemadanan atau pemaknaan lema. Sehubungan dengan itu, tulisan ini betujuan untuk mendeskri tentang kekaburan atau padanan kata (lema) dan ungkapan asing dalam bahasa Indonesia. Kontribusi kajian tersebut diharapkan dapat memberi input bagi upaya penyempurnaan pupi dan KBBI edisi IV
Efisiensi dan Pendapatan Usaha Gula Aren Cetak (Kasus pada Perajin Gula Aren Cetak di Desa Cimenga, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten)
Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas VII Smplb Karya Mulia Surabaya Menulis Buku Harian melalui Pemetaan Pikiran dengan Baling-Baling Berwarna
Writing a diary with colorful propeller mind mapping method is an innovative method to enhance the 7th grade hearing impaired students' capabilities and skills of writing in Karya Mulia Special Secondary School for Students with Disabilities (SMPLB) Surabaya. This innovative effort was based on the constraints or obstacles to teach hearing impaired students in developing the abilities and skills of writing a diary that were still far below the average of minimum completion criteria (KKM). To find out the extent of this innovative method's implementation's impact, the author wanted to do a class action research (PTK) that includes 3 cycles where two-time meetings were conducted in each cycle. The research was started from the pre action activities continued to a cycle-1, cycle-2, to cycle-3. The result indicates that there has been improvements in 7th grade student's learning outcome in writing a diary through mind mapping mehod using learn to write diary through colorful propeller mapping method AsbtrakMenulis buku harian melalui metode pemetaan pikiran (mind mapping) dengan menggunakan Baling-Baling berwarna merupakan metode inovatif untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan menulis buku harian siswa tuna rungu kelas VII SMPLB Karya Mulia Surabaya. Upaya inovatif ini beranjak dari kendala/hambatan sebelumnya dalam membelajarkan siswa tuna rungu mengembangkan kemampuan dan keterampilan menulis Buku Harian yang hasilnya berada jauh di bawah rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM). Untuk mengetahui sejauh mana dampak dari penerapan metode inovatif ini, penulis melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) yang mencakup 3 siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Penelitian dimulai dari kegiatan pra tindakan, dilanjutkan dengan siklus-1, siklus-2, sampai dengan siklus-3. Hasil penelitian tindakan kelas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMPLB Karya Mulia Surabaya dalam menulis buku harian melalui metode pemetaan pikiran dengan Baling-Baling berwarn
KARAKTER MORFOLOGIS DAN FISIOLOGIS TANAMAN NILAM DI BAWAH NAUNGAN DAN TANPA NAUNGAN
Nilam (Pogostemon cablin) merupakan tanaman semak yang dapat tumbuh di tempat ternaungi maupun terbuka. Namun perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman pada naungan 55% yang mempengaruhi hasil belum diketahui. Penelitian dilaksanakan sejak April sampai September 2015 di Kebun Percobaan Cimanggu, Bogor. Penelitian bertujuan untuk membandingkan perubahan karakter morfologis dan fisiologis tanaman nilam yang mempengaruhi produksi dan mutu minyak nilam yang ditanam di bawah naungan 55% dan tanpa naungan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 ulangan. Parameter yang diamati adalah morfologi (jumlah daun, luas daun spesifik, tinggi tanaman dan jumlah cabang) dan fisiologi (kandungan air nisbi, jumlah klorofil, laju fotosintesis dan transpirasi), serta produksi terna dan hasil minyak. Data dikumpulkan dari masing-masing 20 sampel tanaman, dianalisis rata-rata dan standard error untuk menguji perbedaan antar perlakuan dan diuji lebih lanjut dengan analisis berganda Spearman untuk mengetahui hubungan antara parameter dengan hasil. Hasil penelitian menunjukkan tanaman nilam yang ditanam di bawah naungan 55% memiliki tinggi 87,05 cm, jumlah daun (576 helai), kandungan klorofil total (0,62 mg g-1), luas daun spesifik (191,57 g cm-2) dan laju fotosintesis (12,2 μmol CO2 m-2 s-1) lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanaman nilam yang ditanam tanpa naungan. Produksi terna kering 131,9 g tanaman-1 meningkat 300% dibandingkan dengan tanpa naungan, dengan kadar minyak 2,3%
HYDRAULIC LIFT DAN DINAMIKA LENGAS TANAH HARIAN PADA PERTANAMAN JAMBU METE
<p class="IsiabstrakIndonesia">Produktivitas lahan kering dapat ditingkatkan bila periode ketersediaan lengas tanah pada musim kering dapat diperpanjang. <em>Hydraulic lift</em> sebagai proses redistribusi air tanah dari lapisan bawah yang lebih lembab ke lapisan dangkal yang cepat mengering oleh aktivitas akar tanaman, merupakan aspek ekologis yang layak diperhitungkan dalam mengelola tata air di lahan kering. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi kemampuan <em>hydraulic lift</em> tanaman jambu mete yang diindikasikan oleh nilai recovery lengas tanah harian (RLTH) pasca kehilangan lengas tanah oleh aktivitas evapotranspirasi pada siang hari. Penelitian dilakukan pada area terbuka berdampingan dengan blok koleksi jambu mete umur 20 tahun di Kebun Percobaan Cikampek, Jawa Barat. Penilaian RLTH dilakukan pada radius 1,0; 1,5; 2,0 dan 2,5 kali jari-jari kanopi dari pangkal jambu mete sebagai faktor perlakuan tunggal yang disusun dalam rancangan acak kelompok, enam ulangan. Hasil penelitian menunjukkan nilai RLTH jambu mete selalu positif dan lebih besar dari 0,010 MPa sebagai nilai ambang minimal suatu tanaman dinyatakan memiliki kemampuan <em>hydraulic lift</em>. Nilai rata-rata RLTH pada kedalaman tanah 25-75 cm tidak berbeda nyata diantara posisi dari pangkal jambu mete, dan mencapai sekitar 0,25-0,28% (w/w) atau setara 0,043–0,048 MPa. Berdasarkan nilai RLTH, hasil perhitungan volumetrik penambahan air tanah harian pada blok jambu mete mencapai kisaran 0,26-1,35 l air m<sup>-2</sup>. Status lengas tanah terdeteksi masih berada pada kisaran 40-60% air tersedia, kecuali untuk perlakuan 1,0 kali jari-jari kanopi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tanaman jambu mete terbukti memiliki kemampuan <em>hydraulic lift</em>, dan mengindikasikan turut berkontribusi memelihara kelengasan tanah pada musim kering.</p></jats:p
