35 research outputs found
Symbols in Robert frost’s poems
ENGLISH:
Poetry is one of the kinds of literature, rhyme and symbols on each poem. Symbol is the object looks or acts which indicate some further meaning in addition to her own. Symbol often contained in words that are not a common word to describe a meaning.
In this study the writer focuses to analysis the meaning of symbols in masterpieces of Robert Frost’s poems, which focus on symbol which taking by symbol in poem, The writer take the symbols which include in their poem, Three masterpiece of Robert Frost‘s poem are The Road not Taken, Fire and Ice, and Stopping by woods on a snowy evening. The writer use theory of Charles Sanders pierce semiotics theory, the most basic classes of signs in Peirce’s menagerie are icons, indices, and symbols that compatible with this thesis
This analysis found that symbol can be seen in the poem, as in the poem the road not taken, the writer found that this poem describes a person has two choices in life, and in the second poem Fire and Ice poem can be note that the poem implies the symbols that represent way of life in which the life has spirit or fire to struggle, the third poem of Robert frost, the author found that a Stopping by woods on a snowy evening implies symbols that represent what kinds of spirits we struggle.
In last, the writer can conclude that the masterpieces of Robert Frost's poem contains of different symbol and meaning that theories of Charles Sanders pierce can be used to determine the themes and symbols contained in the poetry of Robert Frost. After doing a discussion on poems in the Robert frost’s poems, the writer suggests for the next writers, especially who those are interested in analyzing symbol in poem, The next writer can compare the poems with other masterpieces, it is good to know what the symbol include in poems, and after that, writers can connect the symbol who includes in that poems.
INDONESIA:
Puisi adalah salah satu jenis sastra, sajak dan simbol pada setiap puisi. Simbol adalah penampilan objek atau tindakan yang menunjukkan makna lebih lanjut selain dirinya sendiri. Simbol sering terkandung dalam kata-kata yang bukan kata umum untuk menggambarkan arti.
Dalam penelitian ini penulis memfokuskan analisis makna simbol dalam karya puisi Robert Frost, yang berfokus pada simbol yang diambil oleh simbol dalam puisi, Penulis mengambil simbol yang termasuk dalam puisi mereka, Tiga karya puisi Robert Frost adalah The Road not Taken, Fire and Ice, dan Stopping by woods on a snowy evening. Teori penulis menggunakan Charles Sanders Pierce teori semiotika, kelas paling dasar dari tanda-tanda di kebun binatang Peirce adalah ikon, indeks, dan simbol-simbol yang kompatibel dengan tesis ini.
Analisis ini menemukan simbol yang dapat dilihat dalam puisi itu, seperti dalam puisi The Road not Taken,, penulis menemukan bahwa puisi ini menggambarkan seseorang memiliki dua pilihan dalam hidup, Fire and Ice puisi kedua dapat diketahui bahwa puisi menyiratkan simbol yang mewakili cara hidup di mana kehidupan memiliki semangat atau kebakaran berjuang, puisi ketiga Robert es, penulis menemukan bahwa Stopping by woods on a snowy evening menyiratkan simbol-simbol yang mewakili apa jenis roh kita berjuang.
Dalam terakhir, penulis dapat menyimpulkan bahwa karya puisi Robert Frost mengandung simbol yang berbeda dan makna bahwa teori Charles Sanders Pierce dapat digunakan untuk menentukan tema dan simbol yang terkandung dalam puisi Robert Frost. Setelah melakukan diskusi tentang puisi dalam puisi Robert es itu, penulis menyarankan untuk penulis berikutnya, terutama yang mereka tertarik untuk menganalisis simbol dalam puisi, Penulis selanjutnya dapat membandingkan puisi dengan karya lain, itu baik untuk mengetahui apa simbol termasuk dalam puisi, dan setelah itu, penulis dapat menghubungkan simbol yang mencakup dalam puisi itu
Psidium guajava Leaves n-Hexane Fraction Antibacterial Activity and the Inhibition of Gene Expression of gtfB and gtfC in the Combination Streptococcus mutans ATCC 25175 and Veillonella parvula ATCC 10790T
Ame Suciati Setiawan,1,2 Anas Subarnas,3 Ariadna Adisatya Djais,4 Tiana Milanda,5 Solachudin Jauhari Arief Ichwan6 1Doctoral Program Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Padjadjaran University, Bandung, West Java, Indonesisa; 2Department of Oral Biology, Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, Bandung, West Java, Indonesia; 3Department of Pharmacology and Clinical Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Padjadjaran University, Bandung, West Java, Indonesia; 4Department of Oral Biology Faculty of Dentistry, University of Indonesia, Jakarta, Indonesia; 5Department of Biological Pharmacy, Faculty of Pharmacy, Padjadjaran University, Bandung, West Java, Indonesia; 6PAPRSB Institute of Health Sciences, University of Brunei Darussalam, Brunei, DarussalamCorrespondence: Ame Suciati Setiawan, Email [email protected]: Oral biofilm is an extracellular polymeric matrix produced by Streptococcus mutans as the early colonizer in the formation of an oral biofilm. Glucosyltransferase (Gtfs) enzyme is a virulence factor for S. mutans in biofilm that is resistant to antibacterial agents. Veillonella parvula influences S. mutans to increased quantities of Gtfs, thereby accelerating the growth of oral biofilms. Decreasing the production of Gtfs by the use of additional materials is necessary to inhibit biofilm formation.Objective: The study was determined the inhibitory activity of the Psidium guajava leaves n-hexane fraction on the production of Gtfs by a single and combination of S. mutans and V. parvula.Methods: Antibacterial effect of the P. guajava leaves n-hexane fraction against S. mutans and V. parvula was examined by the inhibition zone and, and MBC. The antibiofilm was examined on the expression of gtfB and gtfC in S. mutans, V. parvula, and their combination using qRT-PCR. The results were analyzed with Kruskal–Wallis test and Mann–Whitney U-test.Results: P. guajava leaves inhibited the growth of S. mutans and V. parvula at the lowest concentration (3.125%), with the inhibition zones are larger than chlorhexidine (CHX). The effect on the Gtfs activity shown the gene expression of gtfB remained unchanged in both single S. mutans and combined species, while it was decreased in the single V. parvula at a concentration of 0.78%, but itdoes not exhibit a significant difference between single and double species. Conversely, gtfC gene expression in the dual-species was reduced 90.43% by the n-hexane fraction at a concentration of 0.78%.Conclusion: The P. guajava leaves n-hexane fraction exhibited antibacterial activity against S. mutans and V. parvula. It may exhibit antibiofilm formation, as it could reduce the expression of the gtfC in the double species bacteria.Keywords: V. parvula, S. mutans, glucosyltransferase, P. guajava, antibiofil
Nilai Rasio Gesek Permukaan Tanah Laterit - Geotekstile
Kalimantan Selatan banyak ditemukan ketersediaan jenis-jenis tanah yang dapat digunakan untuk kegiatan konstruksi. Ketersediaan jenis tanah banyak digunakan pada konstruksi bangunan jalan raya sebagai bahan tanah timbunan sebagai pengganti tanah asli yang memiliki daya dukung yang masih kurang menguntungkan bagi konstruksi diatasnya. Salah satu bahan material yang paling banyak digunakan sebagai tanah timbunan pada proyek konstruksi jalan di Kalimantan Selatan yaitu tanah laterit. Tanah laterit ini memiliki keuntungan karena harganya murah dan sangat cocok digunakan sebagai bahan urugan karena miliki daya dukung yang cukup baik. Cukup banyak proyek pembangunan di kalimantan selatan yang menggunakan bahan geotekstil terutama yang menggunakan tanah laterit sebagai bahan tanah timbunan. Interaksi butiran tanah pada permukaan Geotekstil sangat berpengaruh terhadap nilai daya dukung tanah, akan tetapi interaksi permukaan tanah – Geotekstil (d) bisa saja berbeda-beda tergantung dari jenis tanah yang digunakan sebagai bahan tanah timbunananya. Penelitian gaya gesek permukaan tanah laterit-geotekstil masih kurang di temui terutama daam pembahasan gaya gesek permukaan tanah laterit dengan permukaan geotekstil. Tujuan penelitian ini adalah agar menjadi bahan referensi dalam ilmu pengetahuan dan perencanaan dibidang pembangunan yang menerapkan bahan geotekstil sebagai bahan perkuatannya. Penelitian dilakukan dengan meninjau gesekan atau kohesi dan nilai sudut gesek yang terjadi antara permukaan tanah laterit-geotekstil. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen yang dilakukan laboratorium mekanika tanah dengan menggunakan alat uji geser langsung. Bahan uji geotekstil di selipkan diantara penahan dan tanah laterit. kemudian, benda uji akan di geser dengan gaya T yang besarnya dinaikkan secara bertahap. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa nilai rasio geser permukaan tanah laterit-geotekstil ter tinggi terjadi pada kondisi sampel tidak terendam air dengan menggunakan Geotekstil berjenis on Woven. Sedangkan nilai rasio geser permukaan tanah laterit-geotekstil terendah terjadi pada kondisi sampel tidak terendam air menggunakan geotekstil Woven
Aplikasi pengenalan Golongan DArah untuk proses pengenalan Golongan Darah menggunakan Metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation
Aplikasi pengenalan Golongan Darah adalah hasil dari implementasi metode jaringan syaraf tiruan tersebut, aplikasi ini dapat mengenali golongan darah manusia sesuai dengan data pelatihan yang di ajarkan padanya melalui pengenalan pola pembekuanya.
kata kunci: Metode Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagatio
Improving students' speaking skill using australansia parliemantary system debate at senior vocational school Brantas Malang
ANALISIS GAYA INTERFACE TANAH - GEOTEKSTILE (STUDI TANAH LEMPUNG BERPASIR BANJARMASIN)
Banyak masalah yang ditimbulkan dalam pembangunan proyek bangunan sipil pada tanah lempung. Berbagai jenis tanah lempung banyak ditemukan di daerah Kota Banjarmasin dan dibeberapa daerah di Kalimantan Selatan maupun disekitarnya salah satunya yaitu tanah lempung berpasir terutama pada tanah lempung berpasir untuk menambahkan daya dukung dari tanah tersebut. Interaksi tanah dengan geotekstil bisa saja berbeda tergantung jenis tanahnya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui nilai kohesi, sudut gesek, dan rasio gesek (d/f) antar muka tanah lempung berpasir-geotekstil dalam kondisi tidak terendam air dan kondisi terendam air. Berdasarkan penelitian sebelumnya Kekuatan Geser Antarmuka Laterit Palangkaraya Dan Geotekstil Berdasarkan Uji Geser Langsung diketahui rasio δ/f tanah laterit Palangkaraya dengan geotekstil secara umum adalah woven HRX 250 (halus) sebesar 0,81 hingga 0,90, woven HRX 300 (agak kasar) sebesar 0,75 hingga 0,77.Metode yang digunakan adalah metode eksperimen skala laboratorium dengan kondisi benda uji tidak terendam dan terendam air. Geotekstil yang digunakan yaitu woven (HRX250) dan non woven (TS600). Hasil pengujian diketahui tanah lempung berpasir memiliki kohesi (c) 0,0033 dan sudut gesek 20,50 untuk kondisi tidak terendam air, sedangkan kondisi terendam air memiliki kohesi (c) 0,0027 dan sudut gesek 17,70. Gesek antar muka tanah lempung berpasir - geotekstil woven (HRX250) kondisi tidak terendam air 21,70 dengan rasio (d/f) 1,06 dan kondisi terendam air 18,10 dengan rasio (d/f) 1,02. Gesek antar muka tanah lempung berpasir - geotekstil non woven (TS600) kondisi tidak terendam air 20,90 dengan rasio (d/f) 1,01 dan kondisi terendam air 18,40 dengan rasio (d/f) 1,04.Cukup banyak proyek pembangunan di Kalimantan Selatan yang menggunakan bahan geotekstil terutama pada tanah lempung berpasir untuk menambahkan daya dukung dari tanah tersebut. Interaksi tanah dengan geotekstil bisa saja berbeda tergantung jenis tanahnya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui nilai kohesi, sudut gesek, dan rasio gesek (d/f) antar muka tanah lempung berpasir-geotekstil dalam kondisi tidak terendam air dan kondisi terendam air . Metode yang digunakan adalah metode eksperimen skala laboratorium dengan kondisi benda uji tidak terendam dan terendam air. Geotekstil yang digunakan yaitu woven (HRX250) dan dan non woven (TS600). Hasil pengujian diketahui tanah lempung berpasir memiliki kohesi (c) 0,0033 dan sudut gesek 20,50 untuk kondisi tidak terendam air, sedangkan kondisi terendam air memiliki kohsi (c) 0,0027 dan sudut gesek 17,70. Gesek antar muka tanah lempung berpasir-geotekstil woven (HRX250) kondisi tidak terendam air 21,70 dengan rasio (d/f) 1,06 dan kondisi terendam air 18,10 dengan rasio (d/f) 1,02. Gesek antar muka tanah lempung berpasir-geotekstil non woven (TS600) kondisi tidak terendam air 20,90 dengan rasio (d/f) 1,01 dan kondisi terendam air 18,40 dengan rasio (d/f) 1,04
KAJIAN HUKUM KESEPAKATAN PARA PIHAK DALAM MENCAPAI PENETAPAN PUTUSAN VERSTEK PERKARA PERCERAIAN (Riset Studi Kantor Hukum Arif Sasongko SH & Partners)
In divorce cases in court, the defendants and plaintiffs cannot always attend court proceedings in accordance with legal determinations. Absence on the appointed day can cause the divorce to be decided by way of verstek by the judge. This research intends to identify and explain how agreements outside the court are formed before a petition or application is submitted from one of the parties (the plaintiff or the plaintiff) to obtain a collective agreement to reach a verstek decision in divorce matters. The research method used is empirical law research with a qualitative research type. The result of the discussion is that a mutual agreement before the divorce trial is needed to facilitate the implementation of the divorce trial. With the existence of a mutual agreement, the divorce trial can be carried out in the absence of the applicant and the respondent which is finally decided by way of verstek by the court judge. It is hoped that all parties related to the enforcement of divorce issues should fight for peace before the implementation of the divorce trial so that they can reduce divorce cases which are increasing day by day
Kajian Yuridis Terkait Hak-Hak Tersangka Menurut Hukum Positif
The institution appointed to tackle crimes or violations that occur in the community is the police agency. As stated in the criminal procedure code (KUHAP), the police agency is given the authority to conduct investigations. The investigation process is carried out on the suspects who are suspected of having committed a criminal act that occurred. In an effort to prove that a person is suspected of having committed a criminal act, law enforcement officials must pay attention to the rights of suspects as stipulated in applicable law. Based on the above, the problem that will be discussed in this writing is about what rights are obtained by suspects according to the Criminal Procedure Code and Human Rights as a manifestation of protecting dignity and dignity as human beings. As for the research method used is a normative research method which of course focuses on literature research to obtain secondary data from legal materials. The normative approach is carried out by reviewing the provisions or applicable laws and regulations. The results of the study that the rights of suspects in the Criminal Justice System in Indonesia have officially received legal recognition as stipulated in Law Number 39 of 1999 concerning Human Rights and Law Number 8 of 1981 concerning Criminal Procedure Law known as the Code of Criminal Procedure (KUHAP) as respect as a complete human being, who has dignity and dignity
PERBANDINGAN PENUNTUTAN PADA SISTEM PERADILAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT
Didasarkan pada sudut pandang sistem peradilan pidana dalam pilihan dan pada hukum acara pidana (formeel strafrecht / strafprocesrecht) secara khusus, pembuktian itu berfungsi menentukan dalam menegaskan kesalahan seseorang sehingga hukuman dijatuhkan oleh hakim. penulis ingin tahu tentang perbandingan sistem peradilan pidana di Indonesia dan Amerika Serikat. AS menganut perangkat kedaulatan ganda, dengan mempertimbangkan klaim dengan bantuan setiap kedaulatan yang dianutnya, terutama kedaulatan federal dan negara bagian. setiap penguasa dapat menuntut tersangka dalam suatu peristiwa yang sesuai dengan yurisdiksi setiap hukum yang berdaulat tanpa melanggar prinsip Nebis in Idem. Indonesia tidak menganut kedaulatan ganda. Jika amerika memiliki jaksa penuntut umum yaitu kejaksaan federal dan kejaksaan negara yang mewakili kedaulatannya, di Indonesia hanya ada kejaksaan tunggal sebagai perwakilan negara dalam sistem peradilan pidana
PERBANDINGAN PENUNTUTAN PADA SISTEM PERADILAN HUKUM PIDANA DI INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT
Didasarkan pada sudut pandang sistem peradilan pidana dalam pilihan dan pada hukum acara pidana (formeel strafrecht / strafprocesrecht) secara khusus, pembuktian itu berfungsi menentukan dalam menegaskan kesalahan seseorang sehingga hukuman dijatuhkan oleh hakim. penulis ingin tahu tentang perbandingan sistem peradilan pidana di Indonesia dan Amerika Serikat. AS menganut perangkat kedaulatan ganda, dengan mempertimbangkan klaim dengan bantuan setiap kedaulatan yang dianutnya, terutama kedaulatan federal dan negara bagian. setiap penguasa dapat menuntut tersangka dalam suatu peristiwa yang sesuai dengan yurisdiksi setiap hukum yang berdaulat tanpa melanggar prinsip Nebis in Idem. Indonesia tidak menganut kedaulatan ganda. Jika amerika memiliki jaksa penuntut umum yaitu kejaksaan federal dan kejaksaan negara yang mewakili kedaulatannya, di Indonesia hanya ada kejaksaan tunggal sebagai perwakilan negara dalam sistem peradilan pidana
