152 research outputs found
Gending Sandyagita Karya I Wayan Senen Tinjauan Bentuk dan Fungsi
Umat Hindu Bali tetap menerapkan prosesi upacara mereka di Yogyakarta seperti apa yang sudah mereka jalankan sejak masih tinggal di Bali. Menyajikan gending dengan gita secara bersamaan namun tidak terkait satu sama lain. Hal ini dirasa tidak cocok dengan umat Hindu Yogyakarta yang juga mengikuti prosesi upacara, karena umat Hindu Jawa sudah terbiasa menyajikan atau mendengar gending dengan tembang yang menjadi satu kesatuan. Fenomena ini I Wayan Senen pada akhirnya menciptakan gending sandyagita. Hal ini dirasa Senen perlu dilakukan agar umat Hindu Yogyakarta tidak merasa terganggu dengan penyajian gending dan gita yang dipersembahkan oleh umat Hindu Bali. Terdapat pula gending sandyagita karya Senen yang sengaja diciptakan karena sebuah permintaan dari penyelenggara Festival Seni Sakral. Pada acara tersebut sangat diperhatikan nilai estetikanya. Interaksi sosial Senen dengan masyarakat Yogyakarta pun menjadi salah satu alasan dalam penciptaan gending sandyagita ini. Hal-hal yang telah disebutkan diatas merupakan beberapa faktor eksternal terciptanya gending sandyagita karya Senen. Terdapat faktor lainnya dalam penciptaan karya Senen ini. Faktor-faktor tersebut yaitu faktor internal berupa keinginan berprestasi, ingin menyumbang hasil karya untuk masyarakat Yogyakarta, dan ingin mengadopsi cara penciptaan idolanya yaitu Wayan Beratha. Gending sandyagita karya Senen ini pada akhirnya memiliki beberapa fungsi di Yogyakarta. Beberapa yang sudah disebutkan, yaitu sebagai sarana ritual umat Hindu di Yogyakarta. Disajikan sebagai presentasi estetis yang dapat diperhatikan nilai keindahannya, dan juga sebagai sarana hiburan pribadi bagi penikmat musik ataupun bagi sang penciptanya sendiri yang melahirkan suatu kepuasan dalam mencipta. Setelah melakukan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnomusikologis, ditemukan perpaduan antara karawitan Bali dan karawitan Jawa dalam gending sandyagita karya Senen. Senen menggunakan karawitan Jawa sebagai salah satu sumber perancangan penggarapan gending sandyagita ini. Karawitan Jawa tersebut yaitu terdiri dari bentuk gending sampak, melodi vokal macapat pangkur, melodi pokok vokal panjang ilang, dan pola tabuhan gamelan sekaten. Melodi vokal yang diadopsi dari karawitan Jawa, selanjutnya dibuatkan lirik baru yang berasal dari mantram-mantram kitab Weda.
Kata kunci : gending sandyagita, I Wayan Senen, sumber perancangan, fungsi kontekstual
Wayan Beratha : pembaharu gamelan Kebyar Bali
Penulisan buku ini merupakan satu usaha untuk mengetahui biografi seorang tokoh pembaharu Gamelan Kebyar bernama Wayan Beratha
GENDING SANDYAGITA KARYA I WAYAN SENEN TINJAUAN BENTUK DAN FUNGSI
I Wayan Senen is a composer who has a created of the gending sandyagita as a religious gending for Hinduist activities in Yogyakarta. There are several factors of the created gending-gending sandyagita is internal factors and external factors. Which included in internal factors is the desire of achivement, would like to adoption the creation method of Wayan Beratha, and donate the result of artworks. Which included in external factors is birth of a phenomenon, social interaction and a request from an event. In the creation gending sandyagita of Senen, has a mix of karawitan Jawa dan karawitan Bali. Karawitan Jawa is used as a source of design among other forms of gending sampak, vocal melody macapat pangkur, pattern of tabuhan gamelan sekaten, and the main melody vocal panjang ilang. The gamelan creation that used in sandyagitafor Senen is gamelan Semarandana. The method of used in this research is qualitative research. Gending sandyagita has three function, there are ritual ceremoni, entertaiment, and estetic presentation
Wayan Beratha tokoh pembaruan gamelan kebyar di Bali.
Penelitian in merupakan suatu usaha untuk mengetahui biografi seorang tokoh pembaruan gamelan kebyar bernama Wayan Beratha, pemberuannya yang dilakukan terhadap gamelan kebyar cukup banyak. Ada dua faktor yang mendorong Beratha dalam mengadakan pembaruan yaitu faktor internal yang terdiri dari motif berprestasi, keinginan mengadaptasi karya orang lain dan keinginan untuk menyumbangkan karya kepada masyarakat dan faktor eksternalnya meliputi pesanan, pengaruh budaya dan insentif
Aspek organologis dalam gamelan sekati ISI Yogyakarta.
Penelitian ini mengambil obyek sentral gamelan Semaradana karya I Wayan Beratha, aspek-aspek yang akan diteliti meliputi faktor-faktor yang melatar belakangi kelahiran gamelan Semaradana, gamelan semar pagulingan dan gong kebyar sebagai sumber pijakan kelahiran ensambel tersebut. Pendekat yang digunakan adalah multi dimensional terutama sejarah, psikologi dan musikologi
DUNIA MAGIS DALAM CERPEN LEAK PEMOROAN KARYA I WAYAN SADHA
of the occult not only lived in the past but penetrated freely until Era 4.0. Although the development of the world has advanced in such a way as with the sophistication of its technology, the belief in supernatural and magical things cannot be erased. The magical world has its own charms and problems in the lives of Balinese people. Undeniably, the attractiveness often invites the attention of the author in welcoming and recording the phenomenon into literary works. In this paper examines modern Balinese literary works in the form of short stories. The short stories studied were taken from a collection of Leak Pemoroan stories written by I Wayan Sadha. This study examines three short stories in a collection of Pemoroan Leak short stories entitled Jeg Pragat Ka Balian, Pemoroan Leak and Walik Sumpah. The focus of the discussion in this paper is to raise the magical aspects contained in the three short stories that have been mentioned. The magical aspects to be discussed are the Pangiwa aspect and the Panengen aspect contained in the short story.Keywords: Magic, Pangiwa, Panengen, Short Story, modern Balinese literatur
Inovasi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik dalam Penerapan Sistem Check-In dan Boarding Pass pada PT KAI DAOP I Jakarta (Studi Kasus Layanan Check In dan Boarding Pass di Stasiun Senen Jakarta)
Abstract
The purpose of this study is to analyze and examine the innovations in improving the quality of public services in the application of the check-in and boarding pass systems at Pasar Senen Jakarta Station. As for the background of the implementation of the check-in and boarding pass system is to remember the need for people to use train services every year is increasing, while the fact is that many people take advantage of this situation with the practice of brokering fake tickets. Besides that, PT. KAI wants to increase its work productivity by implementing innovations to improve the quality of public services that prioritize modern technology. The research method used in this study is a qualitative method using descriptive research. The focus of this study uses indicators according to Zeithamal Parasuraman Berry's theory (in Hariyanto (2013: 17) there are five dimensions of public service quality that can be used to measure the quality of public services, namely: a) Direct evidence (tangibles). B) Reliability (reliability) .c ) Responsiveness. d) Guarantee and. e) Empathy. Data collection techniques used were observation, interviews and documentation. Based on the results of this study indicate that innovation in improving public services in the application of the Check-In and Boarding Pass system is quite good, when compared to self-ticket printing (CTM) it can be seen from interviews with service officers and service users that an increase in the quality of public services every year. Besides that, in terms of the efficiency of the prospective train passengers will feel facilitated by the service that is fast and precise and not convoluted, so that prospective train passengers feel quite satisfied with the results of services provided by PT. KAI DAOP I, Pasar Senen Station Jakarta.Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengkaji mengenai inovasi peningkatan kualitas pelayanan publik dalam penerapan sistem check-in dan boardng pass pada Stasiun Pasar Senen Jakarta. Adapun yang melatar belakangi diterapkannya sistem check-in dan boarding pass ini adalah mengingat kebutuhan masyarakat akan menggunakan jasa kereta api setiap tahunnya semakin meningkat, sementara faktanya banyak oknum yang memanfaatkan situasi ini dengan praktik percaloan tiket palsu. Selain itu PT. KAI ingin meningkatkan produktivitas kerjanya dengan melaksanakan inovasi peningkatan kualitas pelayanan publik yang lebih mengedepankan teknologi modern. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Fokus penelitian ini menggunakan indikator menurut teori Zeithamal Parasuraman Berry (dalam Hariyanto (2013 : 17) terdapat lima dimensi kualitas pelayanan publik yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan publik yaitu : a) Bukti langsung (tangibles).b) Keandalan (reliability).c) Daya tanggap (responsiveness). d) Jaminan (assurance) dan. e) Empati. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa inovasi peningkatan pelayanan publik dalam penerapan sistem Check-In dan Boarding Pass sudah cukup baik, jika dibandingkan dengan cetak tiket mandiri (CTM) hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan petugas layanan maupun pengguna layanan bahwa terjadi peningkatan kualitas pelayanan publik di setiap tahunnya. Selain itu dilihat dari segi efisiensi calon penumpang kereta api akan merasa dimudahkan dengan adanya pelayanan yang cepat dan tepat serta tidak berbelit-belit, sehingga calon penumpang kereta api merasa cukup puas dengan hasil pelayanan yang diberikan oleh PT. KAI DAOP I, Stasiun Pasar Senen Jakarta
Aspek Organologis Dalam Gamelan Sekati ISI Yogyakarta
Gamelan Semaradana adalah sebuah ensambel gamelan pelog saptanada yang dicipta oleh I Wayan Beratha pada tahun 1984. Dilihat dari bentuk (shape) dan nama instrumennya tampak bahwa gamelan Semarandana banyak mirip dengan gamelan Kebyar. Bentuk tatakan (selawah/rancakan) dari masing-masing instrumen adalah sama. Bentuk dan nadanya juga sama yaitu ada yang berbentuk bilah (gangsa, jegogan, jublag, panyacah), pencon (gong, kempul, kenong, reyong, kajar, trompong), gula aren (cengceng), bulat panjang (kendang), buluh (suling) dan cacandian (rebab). Meskipun banyak hal tampak sama antara ensambel gamelan Semarandana dengan Semar Pagulingan dan Gong Kebyar, akan tetapi banyak pula terdapat perbedaan atau pengembangan yang terjadi
- …
