228 research outputs found

    PENGEMBANGAN MODUL DIGITAL BERBASIS NILAI KEPAHLAWANAN GUSTI KETUT JELANTIK UNTUK MENUNJANG MOTIVASI BELAJAR DAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS 11 IPS DI SMAN 2 BUSUNGBIU

    Full text link
    This article is written developed with the first objective, produce digital modules based on I Gusti Ketut Jelantik's heroic values to support motivation and lerning outcomes at SMAN 2 Busungbiu. Second, testing effectiveness of digital module products for support motivation and learning outcomes in class 11 IPS at SMAN 2 Busungbiu. TIn this research useding development model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjects experiment in this research is  11 IPS 1 as control class and 11 IPS 2 as experimental class. Material developed use Kurikulum 2013 with Subject History in KD 3.2. for 11th grade.  Digital modules that have been developed and tested show data on improvements in learning motivation and learning outcomes. increased motivation using digital modules reached 85.5 percent6% with the criteria of "Highly Motivated". Data on improving learning outcomes has score 83.87 percent% that is category "satisfactory". Analyze effectiveness of digital modules in general through validation of teaching materials experts and material experts is known to reach 90 percent % and 92.4 percent% which are categorized as "Valid" with a little revision. The small group tryout was conducted on 9 people as a sample, showing data acquisition of 90.78 percent% which was categorized as "practical" as a teaching material. Meanwhile, average score in large trial is 87.77 percent. %. Effectiveness data analysis results used evaluation test with multiple choice is 20 items. There was an incrase after given treatment using digital module based on I Gusti Ketut Jelantik's heroic values.Artikel ini ditulis dengan tujuan dengan tujuan Pertama, menghasilkan produk dalam bentuk modul digital berbasis nilai kepahlawanan Gusti Ketut Jelantik untuk menunjang motivasi belajar dan hasil belajar peserta didik di SMAN 2 Busungbiu. Kedua, menguji keefektifan produk modul digital dalam menunjang motivasi belajar dan hasil belajar di kelas 11 IPS pada SMAN 2 Busungbiu. Adapun model pengembangan yang digunakan mengacu pada model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Adapun subjek coba pada penelitian dan pengembangan ini adalah menggunakan kelas kontrol yakni 11 IPS 1 dan kelas eksperimen yakni 11 ips 2. Materi yang dikembangkan menggunakan kurikulum 2013 mata pelajaran sejarah dengan KD 3.2. untuk kelas 11. Modul digital yang telah dikembangkan dan diujicobakan menunjukkan data peningkatan pada motivasi belajar dan hasil belajar. peningkatan motivasi dengan menggunakan modul digital mencapai angka 85,5 persen dengan kriteria “Sangat Termotivasi”. Hasil belajar peserta didik diperoleh data dengan skor 83,87 persen  yang dikategori “memuaskan”. Adapun analisa keefektifan modul digital secara umum melalui validasi ahli bahan ajar dan ahli materi diketahui mencapai angka 90 persen  dan 92,4 persen yang dikategorikan “Valid” dengan sedikit revisi. Uji coba kelompok kecil dilakukan pada 9 orang sebagai sampel menunjukkan perolehan data sebesar 90,78 persen yang dikategorikan “praktis” sebagai bahan ajar. Sedangkan rerata skor pada uji coba kelompok besar menunjukkan persentase angka 87,77 persen. Analisa data keefektifan diperoleh dari hasil tes evaluasi dengan mengerjakan soal sebanyak 20 butir pilihan ganda. Setelah diberikan perlakuan dengan menggunakan modul digital berbasis nilai kepahlawanan I Gusti Ketut Jelantik terdapat peningkatan

    REVITALISASI DALEM PADMOSUSASTRA SEBAGAI RUMAH SASTRA DI SURAKARTA

    Full text link
    Revitalisasi Dalem Padmosusastra Sebagai Rumah Sastra Di Surakarta. (Sayono Hadi Putro, 2023). Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Desain Interior, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta. Sastra merupakan karya lisan atau tulisan yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaian, selain itu sastra juga menampilkan gambaran tentang kehidupan manusia. Sastra berisi tentang ajaran-ajaran, petunjuk luhur Jawa. Kota Surakarta merupakan kota pusat sastra Jawa dahulu. Banyaknya karya pujangga sastra Jawa kota Surakarta perlu diperkenalkan pada masyarakat sehingga mendukung untuk sebuah Revitalisasi Dalem Padmosusastra sebagai Rumah Sastra di Surakarta. Revitalisasi Dalem Padmosusastra sebagai Rumah Sastra di Surakarta merupakan tempat publik untuk melestarikan dan mengembangkan sastra khususnya karya Ki Padmosusastra. Revitalisasi ini memfasilitasi masyarakat Kota Surakarta untuk lebih mengenal sejarah dan sastra karya pujangga Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran.Tempat ini memfasilitasi museum naskah, perpustakaan digital, cafe, dan Pendopo.Revitalisasi Dalem Padmosusastra sebagai Rumah Sastra di Surakarta akan menggunakan tema Batik Kawung karena selaras dengan semangat Ki Padmosusastra. Pada revitalisasi ini menggunakan skema warna Jawa mengambil dari konsep sedulur papat lima pancer yaitu warna kuning, merah, hitam dan putih. Gaya yang digunakan adalah gaya eklektik yang mengambil konsep etnik-modern sehingga membuat ruang terasa lebih dinami

    Penggunaan Zoom Meeting Terintegrasi Google Classroom pada Pembelajaran Geografi

    Full text link
    Pembelajaran geografi secara daring menggunakan platform Google Classroom menunjukkan minat belajar dan hasil belajar yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat dan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran georgafi menggunakan Google Classroom yang diintegrasikan dengan Zoom Cloud Meetings. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas dengan menggunakan instrument pengumpulan data berupa tes berupa soal pilihan ganda dan nontes berupa angket. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan minat belajar dan hasil belajar peserta didik baik pada siklus pertama maupun siklus kedua

    PENGARUH MODIFIKASI OVITRAP TERHADAP JUMLAH NYAMUK AEDES YANG TERPERANGKAP

    Full text link
    1 PENGARUH MODIFIKASI OVITRAP TERHADAP JUMLAH NYAMUK AEDES YANG TERPERANGKAP SAYONO*, LUDFI SANTOSO**, M SAKUNDARNO ADI** * Staf Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang ** Program Magister Epidemiologi Universitas Diponegoro Semarang ABSTRACT BACKGROUND; Aedes mosquitoes are the arboviruses diseases vectors, including Yellow Fever, Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever, and Chikungunya, that often cause an epidemic. One of the Aedes control methods is the use of lethal ovitrap. However, ovitrap modifications by using both attractant and gauze have not conducted in Semarang city. OBJECTIVE: to understand the effect of applying modified LO to the number of trapped-Aedes mosquitoes. METHOD: this study involves the quasi experiment and post test only control group design. Subject of the study is Aedes mosquitoes in nature. LO is made from discarded milk tin, black colored and covered by gauze. LO is added by hay infusion, rinse of shrimp, and rain water. Study area is the neighbourhood group (RW) I Kelurahan Pedurungan Tengah Semarang; it consists of 200 houses . Data are analyzed descriptively and analytically by using Mann-Whitney and Kruskal- Wallis statistical methods. RESULT : The number of trapped-Aedes mosquitoes during the period of study are 7.055, and distributed in indoors as many as 4.015 and outdoors as many as 3.040, respectively (p<0,0001). The mean of trapped-Aedes mosquitoes by type of attractant is 13,19 in LO with shrimp rinse water, 4,20 in LO with hay infusion, and 3.02 in LO with rain water respectively (p<0,0001). CONCLUSION; the number of trapped-Aedes mosquitoes in LO that placed in outdoors is higher than those in indoors, and shrimp rinse water is the most attractive attractant. SUGESTION; LO with shrimp rinse water can be used as the alternative method to control Aedes mosquito by communities. Key words : Aedes, lethal ovitrap, attractant, hay infusion, shrimp rinse water. PENDAHULUAN Aedes aegypti dan Aedes albopictus memiliki peran penting di bidang kesehatan. Kedua spesies merupakan vektor penyakit demam kuning (Yellow Fever; YF), demam dengue (Dengue Fever; DF), demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever; DHF) dan Chikungunya(1-4) yang sering menimbulkan epidemi dan kejadian luar biasa (KLB),(5) di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia.(1-4) Masalah mendasar dalam penanggulangan infeksi arbovirus, khususnya dengue dan chikungunya, adalah pengendalian vektor, terutama Ae aegypti.(6) Data yang ada menunjukkan kepadatan populasi Aedes (Indeks premis) di Indonesia tinggi; diperkirakan 20% atau 5% di atas ambang batas penularan,(7) bahkan di beberapa kota jauh lebih tinggi. HI di Kota Palembang 44,7%,(8) di Jakarta Utara 27,3%.(9) Indeks ovitrap (ovitrap index = OI) di Kota Semarang 36.6%, dengan persentase spesies Ae aegypti sebesar 72,78% dan Ae albopictus 27,22%.(10) Angka bebas jentik (ABJ) di Simongan dan Manyaran Semarang Barat sebesar 52,7% dan 46,51%(11) atau HI 47,3% dan 53,49%. Akibatnya, Kota Semarang menjadi daerah endemis tinggi DBD. Tahun 2006 terjadi 1.845 kasus (IR 13,0 per 10.000 penduduk), meningkat menjadi 2.924 kasus (IR 20,6/10.000) pada tahun 2007.(12) Hingga periode Januari – April 2008 kejadian kasus DBD di Kota Semarang urutan kedua di Jawa Tengah, setelah Kabupaten Jepara.(13) Program pengendalian vektor kurang berhasil di berbagai negara –termasuk Indonesia , karena terlalu bergantung pada pengasapan (fogging). Cara ini perlu biaya besar (5 milyar per tahun)(14), menimbulkan resistensi vektor akibat dosis yang tidak tepat, dan tidak berdampak panjang karena jentik nyamuk tidak mati. Resistensi Ae aegypti terhadap organofosfat di Salatiga berkisar antara 16,6 – 33,3 persen, sedangkan terhadap malathion 0,8% mencapai 66 – 82 persen.(15) Di Bandung, Ae aegypti juga resisten terhadap d-Allethrin, Permethrin, dan 2 Cypermethrin dengan Lethal Time 90% (LT90) antara 9 – 43 jam.(16) Oleh karena itu, program reduksi sumber larva dan menggalang partisipasi sektor non kesehatan menjadi sangat penting.(17) Pemanfaatan perangkap telur (ovitrap)untuk pengendalian Aedes telah berhasil dilakukan di Singapura dengan memasang 2.000 ovitrap di daerah endemis DHF.(17,18) Zeichner dan Perich (1999) memodifikasi ovitrap menjadi perangkap mematikan (lethal ovitrap; LO) larva dan nyamuk dewasa dengan menambah insektisida pada ovistrip dan menyebabkan kematian nyamuk Ae aegypti 45% - 100%.(19) Pengujian lapangan LO di Brazil dapat mereduksi densitas Ae aegypti (indeks kontainer) larva dan pupa secara nyata.(20) Sithiprasasna et al (2003) memodif ikasi ovitrap menjadi perangkap larva-auto (auto - larval trap) dengan memasang kassa nylon pada permukaan air.(21) Hal serupa juga dilakukan Tarmali di Yogyakarta dengan ovitrap yang ditutup kassa nylon yang diapungkan dengan gabus. Ovitrap ditaruh di dekat tandon air bersih. Cara ini berhasil menurunkan HI, CI, dan BI masing-masing sebesar 61,49%, 50,91%, dan 53,62%.(22) Modifikasi ovitrap dengan atraktan air rendaman jerami 10% dapat meningkatkan jumlah telur terperangkap delapan kali lipat(23,24) Atraktan air cucian kerang karpet (Paphia undulata) dan udang windu juga menarik nyamuk Ae aegypti gravid dalam memilih tempat bertelur, baik di laboratorium maupun di lapangan.(25) Fermentasi daun P maximum 15 – 20 hari juga meningkatkan jumlah telur nyamuk terperangkap secara signifikan(26) Atraktanatraktan tersebut terbukti menghasilkan CO2, ammonia, dan octenol yang mempengaruhi saraf penciuman nyamuk.(27-32) Kombinsi modifikasi ovitrap dengan atraktan dan kasa nylon belum pernah dilakukan di Semarang, dan perlu diketahui pengaruhnya terhadap jumlah nyamuk Aedes terperangkap. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai modifikasi LO terhadap jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap. METODE Penelitian ini termasuk eksperimental quasi, disebut juga preventive (community) trial karena dilaksanakan pada komunitas atau bertujuan untuk menghasilkan tindakan pencegahan(33,34) Rancangan yang digunakan yaitu post test only control group.(33) Subjek, Unit, Lokasi, dan Variabel Subjek penelitian adalah nyamuk Aedes (Ae aegypti dan Ae albopictus) di alam. Unit penelitian adalah rumah atau bangunan rumah yang ada di RT II dan VI RW I kelurahan Pedurungan Tengah, Semarang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis atraktan pada modifikasi LO, sedangkan variabel terikat adalah jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap. Variabel luar yang diperhitungkan adalah musim dan keadaan cuaca, ukuran LO, tindakan/program pengendalian vektor, khususnya fogging focused (pengasapan terfokus). Hal ini dikendalikan dengan disain waktu, tempat, dan alat yang sama, sedangkan bila ada tindakan fogging focused, maka akan diukur dan dianalisis secara statistik untuk memperluas informasi dalam pembahasan hasil penelitian. Pengumpulan Data Data primer adalah jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap, indeks tradisional Aedes, dan fogging focused. Data ini diperoleh dengan memasang ovitrap standar pada unit penelitian. Data jumlah nyamuk Aedes terperangkap diambil 4 kali ulangan dengan selang waktu satu minggu. Data lain adalah kerapatan rumah, jarak antar rumah, kondisi fisik rumah dan sistem penyediaan air bersih. Data ini diamati secara umum sebagai informasi tambahan. LO dibuat dari bekas kaleng susu kental manis, dibuka bagian atas, serta dicat berwarna hitam. Untuk menghilangkan bau cat, kaleng direndam dalam air dan ditiriskan beberapa minggu. Kaleng diisi air hujan, air rendaman jerami, atau air rendaman udang 2/3 bagian, dan ditutup dengan kasa yang diapungkan spons keras (dibuat dalam bentuk donat). Atraktan air rendaman jerami dan udang dibuat dengan merendam 1 kg jerami pada 15 liter air dan 1kg udang pada 1 liter air, masing-masing diencerkan menjadi 10%. Pengolahan dan Analisis Data Data jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap dianalisis secara diskriptif dan analitik , kemudian dilakukan analisis analitik 3 dengan uji Analisis Varians satu jalan dan dua jalan (bila berdistribusi normal) atau Kruskal-Wallis (bila tidak berdistribusi normal), sedangkan perbedaan berdasarkan letak pemasangan LO dianalisis dengan Student t test (bila berdistribusi normal) atau Mann-Whitney (bila tidak berdistribusi normal). Indeks-indeks Aedes didiskripsikan berdasarkan kelompok perlakukan dan waktu pengamatan, dilanjutkan dengan menilai penurunan indeks, lalu dibandingkan dengan kategori nilai patokan HI < 5%, CI < 10% dan BI < 5%.(35) HASIL PENELITIAN Indeks Aedes (HI) dan angka bebas jentik (ABJ) di RW I Kelurahan Pedurungan Tengah berfluktuasi dari waktu ke waktu. Pada bulan Maret 2008 HI tertinggi terjadi pada minggu kedua (28,6%) dan terendah pada minggu kelima (4,8%) dengan rerata 14,2%. Tabel 2 Hasil PJB Puskesmas Tlogosari Wetan di RW I Kelurahan Pedurungan Tengah Maret – Mei 2008 Hasil PJB (%) Minggu I Minggu II Minggu III Minggu IV Minggu V Rerata Bulan HI ABJ HI ABJ HI ABJ HI ABJ HI ABJ HI ABJ Maret 14,3 85,7 28,6 71,4 4,8 95,2 18,6 71,4 4,8 95,2 14,22 83,78 Arpil 47,6 52,4 23,8 76,2 9,5 90,5 19,1 80,9 19,1 80,9 23,82 76,18 Mei 4,8 95,2 4,8 95,2 19,0 81,0 9,5 90,5 9,5 90,5 9,52 90,48 Sumber: Laporan Pemberdayaan Masyarakat dalam PSN Puskesmas Tlogosari (36) Pada bulan April 2008 HI tertinggi pada minggu kesatu (17,6%) dan terendah pada minggu ketiga (9,5%) dengan rerata 23,8%. Pada bulan Mei 2008 HI tertinggi terjadi pada minggu ketiga (19,0%) dan terendah pada minggu kesatu dan kedua (4,8%) dengan rerata 9,5%. Secara umum, indeks Aedes di wilayah tersebut menurun pada bulan Mei, dari 23,8% menjadi 9,5%, tetapi masih berada di atas ambang batas yang diperbolehkan, yaitu 5%. Indeks Aedes (HI) pada bulan Mei 2008 relatif le bih rendah dan stabil. Pada bulan Maret terjadi fluktuasi walaupun ada kecenderungan menurun, dan pada awal bulan April justeru tinggi sekali, menurun tajam pada minggu ketiga, dan meningkat lagi pada minggu keempat dan kelima. ABJ terendah terjadi pada minggu kesatu bulan April (52,4%) dan tertinggi pada minggu kesatu dan kedua bulan Mei, serta minggu ketiga dan kelima bulan Maret (95,2%). ABJ tertinggi telah mencapai angka yang diharapkan yaitu lebih dari 95%. Namun demikian, kondisi terakhir justeru mengalami penurunan, yakni hanya mencapai 90,5% yang berarti masih di bawah ambang batas bebas penularan penyakit, khususnya DBD. Tabel 3 Rerata Nyamuk Terperangkap pada Keseluruhan Hasil Pengamatan Jenis Atraktan Letak LO Min Maks Rerata Jumlah Std. Deviasi Dalam rumah 0 50 3,64 630 7,887 Luar rumah 0 50 4,77 816 8,105 Air rendaman jerami Total 0 50 4,20 1.446 8,004 Dalam rumah 0 92 11,83 2.034 18,789 Luar rumah 0 88 14,75 2.537 17,982 Air rendaman udang Total 0 92 13,29 4.571 18,421 Dalam rumah 0 35 2,20 376 5,174 Luar rumah 0 54 3,83 662 8,275 Air hujan (tanpa atraktan) Total 0 54 3,02 1.038 6,948 Dalam rumah 0 92 5,89 3.040 12,838 Luar rumah 0 88 7,78 4.015 13,281 Total Total 0 92 6,84 7.055 13,090 4 Hasil seluruh pengamatan menunjukkan bahwa nyamuk Aedes yang terperangkap pada semua LO sebanyak 7.055 ekor. LO berisi atraktan air rendaman udang menghasilkan nyamuk Aedes terperangkap paling banyak (4.571 ekor) dibanding LO berisi air rendaman jerami (1.446 ekor) dan air hujan (1.038 ekor). Nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO yang dipasang di luar rumah lebih banyak daripada LO yang dipasang di dalam rumah. Hal ini terjadi pada semua LO dengan jenis atraktan yang berbeda-beda. Jumlah total nyamuk yang terprangkap pada LO di luar rumah mencapai 4.015 ekor sedangkan di dalam rumah sebanyak 3.040 ekor. Hasil uji statistik Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0,0001). Rerata nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO berdasarkan jenis atraktan menunjukkan gambaran yang berbeda. LO yang berisi atraktan air rendaman udang terdapat nyamuk Aedes terperangkap paling banyak (rerata 13,29 dan standar deviasi 18,42) dibanding LO yang berisi air rendaman jerami (rerata 4,20 dan standar deviasi 8,00) dan air hujan (rerata 3,02 dan standar deviasi 6,95). Hasil uji statistik Kruskall-Wallis menunjukkan adanya perbedaan signifikan (p<0,0001). Rerata nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO berisi atraktan air rendaman jerami berbeda secara signifikan dengan rerata nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO berisi air rendaman udang (p<0,0001 dan 95% interval kepercayaan = -11,68 – [- 6,49]), dan tidak berbeda secara signifikan dengan nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO yang berisi air hujan (p=0,111 dan 95% interval kepercayaan =-0,18 – 2,55). Rerata nyamuk yang terperangkap pada LO berisi air rendaman udang berbeda secara signifikan terhadap LO yang lain, baik yang berisi air rendaman jerami (p <0,0001 dan 95% interval kepercayaan 6,49 – 11,68) maupun air hujan (p<0,0001 dan 95% interval kepercayaan 7,73 – 12,81). Rerata nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO yang berisi air hujan hanya menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan LO berisi air rendaman udangi (p<0,0001 dan 95% interval kepercayaan -12,81 – [-7,73]). HI, CI dan BI Berdasarkan hasil pemeriksaan rumah dan TPA yang ditemukan di lingkungan rumah dapat dihitung indeksindeks tradisional Aedes (Tabel 4.23). Tabel 4 Indeks-indeks Kepadatan Aedes Kelompok Perlakuan Pra Intervensi (%) Pasca Intervensi (%) Penurunan (%) HI 30 23 7 CI 15 10 5 BI 48 46 2 Kelompok Pembanding HI 33 29 4 CI 24 18 6 BI 67 65 2 Indeks Aedes pada kelompok intervensi maupun pembanding tampak mengalami penurunan. Penurunan HI pada kelompok intervensi berbeda (7%) dengan kelompok pembanding (4%), dengan selisih 3%. Indeks lainnya tidak berbeda antara kelompok intervensi dan pembanding. Indeks Ovitrap (Ovitrap Index) Indeks ovitrap menurun seiring waktu pengamatan. Pada akhir minggu kesatu diperoleh OI sebesar 65,% (60,5% di dalam dan 70,5% di luar rumah). Pada minggu kedua OI turun menjadi 52,7% (54,0% di dalam dan 55,0% di luar rumah). Pada minggu ketiga, OI naik menjadi 56,6% (50,4% di rumah dan 62,8% di luar rumah), tetapi pada minggu keempat turun lagi menjadi 45,0% (36,4% di dalam dan 53,6% di luar rumah). Hasil seluruh pengamatan menunjukkan penurunan OI sebesar 20,5%. Nilai OI dari seluruh hasil pengamatan sebesar 54,9% (49,4% di dalam dan 60,9% di luar rumah). 5 Tabel 5 Persentase Isi LO Berdasarkan Letak Pemasangan dan Waktu Pengamatan Minggu Letak LO Statistik Isi LO Total p Positif Negatif Kesatu Dalam rumah n 78 51 129 0,116 % 60,5 39,5 100, 0 Luar rumah n 91 38 129 % 70,5 29,5 100,0 Jumlah n 169 89 258 % 65,5 34,5 100,0 Kedua Dalam rumah n 65 64 129 0,533 % 50,4 49,6 100,0 Luar rumah n 71 58 129 % 55,0 45,0 100,0 Jumlah n 136 122 258 % 52,7 47,3 100,0 Ketiga Dalam rumah n 65 64 129 0,06 % 50,4 49,6 100,0 Luar rumah n 81 48 129 % 62,8 37,2 100,0 Jumlah n 146 112 258 % 56,6 43,4 100,0 Keempat Dalam rumah n 47 82 129 0,009 % 36,4 63,6 100,0 Luar rumah n 69 60 129 % 53,5 46,5 100,0 Jumlah n 116 142 258 % 45,0 55,0 100,0 Keseluruhan Dalam rumah n 255 261 516 0,000 % 49,4 50,6 100,0 Luar rumah n 312 204 516 % 60,5 39,5 100,0 Jumlah n 567 465 1032 % 54,9 45,1 100,0 PEMBAHASAN Secara umum, jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap selama empat minggu (empat kali) pengamatan mencapai 7.055 ekor, dengan rerata 6,84 ekor per LO. Namun demikian, tidak semua LO terdapat nyamuk Aedes terperangkap. Indeks ovitrap mencapai 56%. Pembahasan tentang nyamuk Aedes yang terperangkap dibedakan berdasarkan jenis atraktan, letak pemasangan LO dan waktu pengamatan. Jumlah nyamuk Aedes terperangkap menurut jenis atraktan LO yang berisi atraktan air rendaman udang menghasilkan nyamuk Aedes yang terperangkap paling banyak pada setiap periode pengamatan. Meskipun terjadi fluktuasi jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap, namun ada konsistensi dominasi rerata jumlah nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO yang berisi air rendaman udang. Hasil pengamatan secara keseluruhan menunjukkan rerata nyamuk Aedes yang terperangkap pada LO yang berisi air rendaman udang 13,29 ekor, sedangkan pada LO berisi air rendaman je rami 4,20 dan pada LO berisi air hujan (tanpa atraktan) 3,02 ekor. Atraktan air rendaman udang menghasilkan nyamuk Aedes terperangkap 3 - 4 kali lebih banyak daripada air rendaman jerami maupun air hujan. Hasil uji statistik Kruskall-Wallis membuktikan adanya perbedaan rerata nyamuk Aedes yang terperangkap secara signifikan (p<0,0001) berdasarkan jenis atraktan pada LO. Banyaknya nyamuk Aedes yang terperangkap menunjukkan jumlah telur yang diletakkan, menetas menjadi larva dan pupa, serta berkembang menjadi nyamuk dewasa juga lebih banyak. Hal ini berarti pula bahwa nyamuk betina gravid yang bertelur pada LO berisi air rendaman udang lebih banyak daripada LO yang berisi jenis atraktan lainnya. Dengan kata lain, atraktan air rendaman udang memiliki daya tarik (atraktansi) yang lebih kuat daripada air rendaman udang dan air hujan. Air rendaman atau cucian udang dan 6 kerang mengandung sisa hasil metabolisme seperti feses, dan senyawa kimia lain, dalam bentuk gas maupun cair. Udang windu misalnya, mengekskresi feses, ammonia dan karbon dioksia. Ekskresi ammonia berkisar antara 26 – 30 gram per kilogram pakan yang mengandung 35% pellet, sedangkan ekskresi CO2 1,25 kali dari konsumsi oksigen.(37) Kedua senyawa merupakan atraktan yang baik bagi nyamuk Aedes. Selain disekresi udang, CO2 dan Amonia juga dihasilkan dari fermentasi (rendaman) bahan organik seperti jerami dan rumput P maximum, namun mungkin memiliki kuantitas dan kualitas yang berbeda sehingga menimbulkan dayatarik yang berbeda terhadap nyamuk Aedes. Kemungkinan lain adalah adanya zat, senyawa atau bahan atraktif lain yang terkandung dalam air rendaman udang yang tidak terdapat pada air rendaman jerami dan air hujan. Atraktan adalah sesuatu yang memiliki daya tarik terhadap serangga (nyamuk) baik secara kimiawi maupun visual (fisik). Atraktan dari bahan kimia dapat berupa senyawa ammonia, CO2, asam laktat, octenol, dan asam lemak. Zat atau senyawa tersebut berasal dari bahan organik atau merupakan hasil proses metabolisme mahluk hidup, termasuk manusia. Atraktan fisika dapat berupa getaran suara dan warna, baik warna tempat atau cahaya. Atraktan dapat digunakan untuk mempengaruhi perilaku, memonitor atau menurunkan populasi nyamuk secara langsung, tanpa menyebabkan cedera bagi binatang lain dan manusia, dan tidak meninggalkan residu pada makanan atau bahan pangan. Efektifitas penggunaannya membutuhkan pengetahuan prinsipprinsip dasar biologi serangga. Serangga menggunakan petanda kimia (semiochemicals) yang berbeda untuk mengirim pesan. Hal ini analog dengan rasa atau bau yang diterima manusia. Penggunaan zat tersebut ditandai dengan tingkat sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Sistem reseptor yang mengabaikan atau menyaring pesanpesan kimia yang tidak relevan disisi lain dapat mendeteksi pembawa zat dalam konsentrasi yang sangat rendah. Deteksi suatu pesan kimia merangsang perilakuperilaku tak teramati yang sangat spesifik atau proses perkembangan.(38) Air rendaman jerami (hay infusion) dibuat dari 125 gram jerami kering, dipotong dan direndam dalam 15 liter air selama 7 hari (Polson et al, 2002).(23) Selanjutnya, penggunaan air rendaman ini dicampur dengan air biasa (tap water) dengan konsentrasi yang diinginkan. Polson et al (2002) menggunakan konsentrasi 10%, sedangkan Santos et al (2003) dengan berbagai konsentrasi.(24) Namun demikian, baik Polson maupun Santos menyimpulkan bahwa konsentrasi 10% menghasilkan telur terperangkap paling banyak. Sant’ana et al (2006)(26) menggunakan air fermentasi daun rumput P. maximum 15 – 20 hari secara anaerobik juga menghasilkan telur Aedes terperangkap lebih banyak daripada air biasa (tap water). Air rendaman jerami dan fermentasi rumput P. maximum meng-hasilkan CO2 dan ammonia; senyawa yang terbukti mempengaruhi saraf penciuman nyamuk Aedes.(25,30) CO2, asam laktat, dan octenol merupakan atraktan yang dikenali dengan sangat baik. Sekresi kulit lain juga hal penting karena aroma dari host hidup selalu lebih memiliki dayatarik daripada kombinasi dari bahan-bahan kimia tersebut dalam keadaan panas dan lembab. Asam lemak yang dihasilkan dari flora normal kulit merupakan atraktan yang efektif. Aroma ini efektif sampai jarak 7 – 30 meter, tetapi dapat mencapai 60 meter untuk beberapa spesies.(1) Penggunaan atraktan bervariasi antara lain air rendaman jerami(23,24) dan jenis rerumputan(26) tertentu, air rendaman kerang-kerangan dan udang.(25) Air rendaman bahan-bahan tersebut mengandung kadar CO2 dan Amonia yang cukup tinggi sehingga dapat menarik penciuman dan mempengaruhi nyamuk dalam memilih tempat bertelur. Senyawa tersebut dihasilkan dari proses fermentasi zat organik atau merupakan hasil ekskresi proses metabolisme.(37) Jumlah nyamuk Aedes terperangkap menurut lokasi penempatan LO LO yang dipasang di luar rumah terbukti menghasilkan lebih banyak nyamuk Aedes yang terperangkap (p<0,0001). Hal ini terjadi pada kelompok LO dengan atraktan yang berbeda-beda pada setiap periode pengamatan. Fenomena ini mengindikasikan bahwa aktifitas bertelur (oviposition) nyamuk Aedes lebih banyak terjadi di luar rumah. 7 Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Damar TB et al (2006) dan Widiarti et al (2006) yang menemukan bahwa ovitrap yang dipasang di dalam rumah menghasilkan telur yang terperangkap lebih banyak.(15,39) tetapi sesuai dengan penelitian Utomo M et al (2005) yang m

    Deposisi Lapisan Tipis Zno:al Pada Substrat Alumina Untuk Bahan Sensor Gas

    Full text link
    DEPOSISI LAPISAN TIPIS ZnO:Al PADA SUBSTRAT ALUMINA UNTUK BAHAN SENSOR GAS. Telah dilakukandeposisi lapisan tipis ZnO:Al pada substrat alumina menggunakan teknik DC Sputtering untuk aplikasi sensor gas.Deposisi lapisan tipis ZnO:Al dilakukan dengan parameter proses sputtering tegangan elektroda DC sebesar 2.2 kV,arus 10 mA dan suhu substrat 250oC, waktu deposisi divariasi 30 - 150 menit dengan interval 30 menit dan tekanandivariasi masing-masing : 1 ´ 10-2 atm, 2 ´ 10-2 atm, 3 ´ 10-2 atm, 4 ´ 10-2 atm dan 5 ´ 10-2 atm. Dari hasilkarakterisasi diperoleh nilai resistansi terendah sebesar 64 kΩ diperoleh pada kondisi waktu deposisi 90 menit dantekanan operasi 4 ´ 10-2 atm. Hasil pengukuran sensitivitas menunjukkan bahwa sensor gas dari bahan ZnO:Almempunyai sensitivitas tertinggi terhadap gas sensor C2H5OH sebesar 24%, untuk gas NH3 sebesar 19,77% danuntuk gas SO2 sebesar 17,53% pada 141,54 konsentrasi/volume

    PENGARUH POSISI DAN WARNA IMPREGNATED CORD TERHADAP JUMLAH LALAT YANG TERPERANGKAP

    Full text link
    Beberapa spesies lalat merupakan vektor penyakit bagi manusia. Musca  domestica dapat menularkan agen penyakit seperti telur cacing, bakteri, protozoa, dan virus. Fannia sp dapat menularkan penyakit  surra, anthrax, tetanus, dan demam kuning. Lalat juga  menyebabkanmiasis. Kentampuan reproduksinya yang sangat tinggi menyebabkan  kepadatan populasi lalat meningkat dengan cepat. Lalat (terutama  Musca domestica) mampu terbang 6 - 9 km sehingga sangat berpotensi  menyebarkan penyakit pada area yang luas. Oleh karena itu perlu ditelitimetode pengendalian yang efektif dan aman bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh interaksi posisi dan warna impregnated cord (tali  perangkap) terhadap jumlah lalat  yang  terperangkap.Penelitian eksperimen ini menerapkan rancanganfaktorial untuk  mengujicobakan disain impregnated cord yang terdiri dari tiga warna,  dipasang dalam tiga posisi, dan masing-masing direplikasi  tiga  kali.  Percobaan diulang pada tiga waktu yang berbeda dalam sehari.  Subjekpenelitian adalah lalat di TPA Jatibarang, Mijen, kota Semarang.Hasil pengamatan menunjukkan indeks kepadatan lalat  31,8 (sangat  padat). Rerata lalat terperangkap pada posisi tegak  29,15,  datar 25,93,  lenghmg  40,56.  Berdasarkan  worna, rerata lalat  terperangkap  pada  warna  putih 34,85,  kuning  45,96,  biru  14,81 ekor.  Uji  Anova dua  jalan interaksi posisi-warna menunjukkan  F : 3,511 dan  p :  0,011.  Artinya interaksi  posisi-warna impregnated  cord  berpengaruh  terhadap  jumlah lalat yang terperangkap

    INFEKSI CACING USUS YANG DITULARKAN MELALUI TANAH PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI PERKOTAAN DAN PEDESAAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS UNGARAN I

    Full text link
    ABSTRAKSI Background: Soil Transmitted Helminthes (STH) consist of Ascaris lumbtricoides, Trichuris trichiura, Necalor americanus, Ancylostoma duodenale, and Strogiloides stercoralis. These species grow well in Indonesia because have suitable climate. The characteristics of these helminthes are the adult worm is constant in digestion canal and the eggs with be infective when live in the ground, except Strogtloides stercoralis species. The life cycle of these species will be can if communities applied the healthy behavior, especially using foot barrier, permanent water closed, washing hand before eating, cutting and cleaning nail. Objective: to analyze differences about prevalence of soil transmitted helminthes infection based on daily behavior of elementary students. Method: This explanatory study used the us sectional design. The population study is the third class of elementary school students of Ungaran l, III, and VII (in urban) and Kawengen I and II Madrasah lbtidaiyah I and II (in rural), work area of Puskesmas Ungaran l. The number of samples is 162 students, choose randomly. The observed variables are soil transmitted helminthes infection, using permanent water closed, washing hand before eating, and nail cleaning. Data be analyzed by Chi Square test at the significant level 5%. Results: prevalence of STH infection in urban l4,8 % and in rural 65,43%, and also found 8 cases of cacing tambang. These are different Significantly base on using of permanent water closed and washing hand before eating habit (p0,05). Conclusion: STH infection in rural higher than in urban, using permanent water closed and washing hands before eating will decrease prevalence of infection. Keyword: soil transmitted helminthes, foot barrier, washing hands, water close

    EFEK APLIKASI KALENG PERANGKAP NYAMUK TERHADAP DENSITAS AEDES

    Full text link
    Background; Aedes mosquitoes are the arboviruses diseases vectors, including Yellow Fever, Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever, and Chikungunya, that often cause an epidemic. The main control methods for those disease is conducted the vector control program, to reduce the Aedes indices. Various ovitrap modification resulted the productive lethal trap, such as mosquito trap tin (MTT), but the evaluation of intervention impact of this model to the Aedes indices is needed. Objective: to understand the impact of MTT intervention to the Aedes indices. Method: the lethal mosquito trap-tin were made from the discharge-tin, covered by mosquito net proper in the water surface. The brood water was made from 10% of the shrimp rinse water. Every house were placed 4 tin; indoor and outdoor for 4 week. Aedes indices were calculated every week. Results: indoor OI reduced consistently from 60,5% to 36,4%, respectively. Overall, reducing of OI were   20,5%. Reduction of HI in treatment group was higher then the control one, while CI and BI were not induced. Conclusion: Using of MTT can reduce the Aedes density up to 20,5%. This model can be an alternative property in arboviruses vector control, especially DHF, but the advance experiment is needed. Key words: mosquito trap tin, Aedes index,arboviruses, ovitrap

    Pengaruh Tekanan Dan Waktu Deposisi Sputtering Terhadap Sensitivitas Sensor Gas Sno2pengaruh Tekanan Dan Waktu Deposisi Sputtering Terhadap Sensitivitas Sensor Gas Sno2

    No full text
    PENGARUH TEKANAN DAN WAKTU DEPOSISI SPUTTERING TERHADAP SENSITIVITAS SENSOR GAS SnO2. Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh variasi tekanan dan waktu deposisi sputtering terhadap sensitivitas sensor gas SnO2 yang difabrikasi dengan metode DC sputtering. Variasi tekanan dimulai dari 3×10-2, 4×10-2, 5×10-2, 6×10-2 dan 7×10-2 Torr serta variasi waktu dimulai dari 30, 60, 90 dan 120 menit dengan tegangan tinggi DC sebesar 2 kV dan suhu deposisi 250 °C. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa lapisan tipis SnO2 yang dideposisi dengan parameter sputtering : tegangan 2 kV, arus 10 mA, tekanan 7×10-2 Torr, waktu 120 menit dan suhu 250 °C mempunyai sensitivitas optimun untuk mendeteksi gas C2H5OH, NH3, CO dan HNO3. Dari hasil pengujian sensitivitas menunjukkan bahwa sensor gas dari bahan SnO2 mempunyai sensitivitas tertinggi terhadap gas C2H5OH dengan sensitivitas 46,96 % dan gas NH3 dengan sensitivitas 41,91 % pada konsentrasi 5.529 ppm. Kemudian dari hasil analisa unsur dan tebal lapisan SnO2 pada kondisi optimum menggunakan SEM–EDS diperoleh Sn sebesar 30,68% dan O sebesar 69,32 % dan tebal lapisan SnO2 sebesar ± 4,5 μm

    Pengaruh Strategi Pengajaran Menyimak Gambar Dan Lingkungan Media Terhadap Kemahiran Menyimak Gambar: Studi Eksperimental Pada Anak Sekolah Dasar Di Kotamadya Dan Kabupaten Madiun (1984)

    Full text link
    Program pengajaran menyimak gambar memakai Metoda Pertolongan dan Metoda Penggiatan diduga dapat meningkatkan kemahiran menyimak gambar. Metoda Penggiatan merupakan penerapan langsung kaidah Teori Penyajian Komponen (CDT) dari M. David Merrill. Dengan metoda ini anak dipaksa untuk memproses rotasi ruang secara mental memakai cara "bergiat diri". Hal ini tidak menguntungkan anak yang mempunyai fungsi berfikir nonlinguistik yang rendah. Untuk menolong anak dari golongan ini dipakai metoda lain yang didisain agak berbeda, yang diberi nama Metoda Pertolongan. Pada hakekatnya,metoda ini adalah Hetoda Penggiatan yang menyediakan fasilitas pertolongan mental bagi anak. Fasilitas dan prosedur pertolongan ini dikembangkan dari kaidah pengajaran adaptif, teori Kognisi, dan teori pemrosesan lambang. Sarana ini diduga dapat mengkompensasi kekurangan fungsi berfikir nonlinguistik yang disandang oleh sementara anak. oengan memperbaiki fungsi berfikir nonlinguistiknya diharapkan dapat meningkatkan kemahiran menyimak gambar dari anak. Masing-masing dari kedua strategi ini secara umum diduga lebih efektif dibandingkan dengan Metoda Konvensional(Kontrol) , dengan catatan bahwa metoda Pertolongan lebih efektif dari Metoda Penggiatan. Efektivitas kedua metoda ini dipengaruhi oleh lingkungan media, di mana dalam lingkungan media Jarang, Metoda Pertolongan sama efektifnya dengan metoda Penggiatan. Sedangkan dalam lingkungan media Padat, Metoda Pertolongan diduga lebih efektif dibandingkan dengan Metoda Penggiatan. Hal ini menyimpulkan dugaan adanya interaksi antara strategi pengajaran dan lingkungan media. Hipotesis-hipotesis ini diuji lewat penelitian eksperimen, pada 216 anak klas VI Sekolah Dasar di Kotamadya dan Kabupaten Madiun, dalam tahun 1983-1984, dengan mempergunakan rancangan faktorial 3 x 2 yang mempunyai model tetap. Data.yang terkumpul kemudian dianalisis memakai teknik Analisis Kovarians (ANAKOVA) dan uji Scheffe, pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa secara keseluruhan Metoda Pertolongan (X = 19,84 dan sx1= 5, 93) dan metoda Penggiatan (X2 = 19,44 dan sx2 = 5,47) lebih efektif dari Metoda Konvensional (X3 = 16,46 dan sx3 = 5,16), akan tetapi hipotesis bahwa Metoda Pertolongan lebih efektif dari Metoda Penggiatan belum berhasil diuji. Dalam lingkungan media Padat hasil penelitian menunjukkan, bahwa Metoda Pertolongan (x4 = 22,32 dan sx4 =5,68) dan Metoda Penggiatan (x5 = 22,16 dan sx5 = 5,67) lebih efektif dari Metoda Konvensional (x6 = 17,84 dan sx6 = 5,17), akan tetapi hipotesis bahwa metoda Pertolongan lebih efektif dari Metoda Penggiatan juga belum berhasil diuji. Dalam lingkungan media Jarang hasil penelitian menun) ukkan, bahwa Metoda Pertolongan (X7 = 17,36 dan sx7 = 5,25) dan metoda Konvensional (X9 = 14,93 dan sx9 = 4,05) sama efektifnya denqan Metoda Penggiatan (X8 = 16,87 dan sx8 = 4,57) akan tetapi hipotesis bahwa Metoda Pertolongan sama efektifnya dengan Metoda Konvensional belum berhasil diuji
    corecore