1,721,018 research outputs found
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN EXPLICIT INSTRUCTION DALAMMENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBUAT WAYANG SISWA KELAS XII PAKET KEAHLIAN DESAIN DAN PRODUKSI KRIA KULIT SMK NEGERI PACITAN
AbstrakPenyusunan Penelitian Tindakan Kelas ini bertujuan untuk Meningkatkan kemampuan membuat wayang melalui Pembelajaran Explicit Instruction kelas XII Paket Keahlian Desain dan Produksi Kria Kulit SMK Negeri Pacitan, di semester gasal Tahun pelajaran 2014/2015. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran oleh guru; dan (2) Mengetahui kemampuan siswa dalam membuat wayang setelah menggunakan Pembelajaran Explicit Instruction. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, di mana masing-masing-masing siklus terdiri 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Masing-masing siklus terdiri dari empat pertemuan. Hasil data penelitian diperoleh melalui praktek produktif membuat wayang kulit disertai dengan lembar pengamatan siswa. Data pengelolaan pembelajaran oleh Guru diperoleh dari lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran. Hasil penelitian siklus 1 menunjukkan bahwa dari jumlah 22 siswa yang sudah memperoleh nilai ketuntasan belajar 80 baru sejumlah 7 siswa. Rata-rata nilai pada evaluasi formatif tersebut adalah 74,61. Dari angket motivasi siswa diperoleh total skor sebanyak 562, rata-rata skor sebesar 31,09. termasuk dalam kriteria suka.Pembelajaran pada siklus 2 dengan menerapkan Pembelajaran Explicit Instruction diperoleh data dari jumlah 22 siswa seluruhnya sudah memperoleh nilai ketuntasan belajar. Rata-rata nilai pada evaluasi formatif tersebut adalah 83,43. Dari data skor yang diberikan oleh Observer yaitu 42 yang berarti masuk dalam kriteria Sangat Baik. Angket motivasi siswa diperoleh total skor sebanyak 818 rata-rata skor sebesar 37,18. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran pada siklus 2 termasuk dalam kriteria sangat suka sehingga tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian maka hipotesis yang menyatakan bahwa Pembelajaran Explicit Instruction sangat efektif dalam meningkatkan kemampuan membuat wayang pada siswa Kelas XII Paket Keahlian Desain dan Produksi Kria Kulit SMK NegeriPacitan tahun pelajaran 2014/2015 terbukti kebenarannya. Kata Kunci:Efektifitas, Kemampuan, Wayang
MOTIVASI BERPRESTASI DAN PERCEPATAN KARIR PUSTAKAWAN AHLI DALAM PRESPEKTIF GENDER (Studi di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada)
One of the most important elements in a library is librarians. The profession of librarians in Indonesia is divided into two. namely skilled and expert librarians. Based on the existing niles, the promotion of functional level of libraritms is achieved by credit rate collecfions without age and gender difference. As a result, the functional position of expert librarians can be done quicker and earlier to develop the careers. The achievemel/l motivation of the expert librarums at the Library of Gadjah Mada University in developing their career is imeresting to explore as it has 35 librarians.
This is a qualitative study by using a descriptive analytical approach with in-depth interviews and direct observation to describe the characteristics of the study objects. The informants were expert librarians at GMU Library. The data were collected through librmy research, observations, interviews atUI documentation study and were anayzed qualitatively. The data analysis was conducted by reduction and display data, conclusion and verification.
The result shows that the motivation to become a librarian exists after the informants worked in the library as they understand the advantages of librarian position. The motivation of achievemem qllibrarians may be caused by the challenges, happiness etc. The motivation may also comeji-om themselves and the influences ql outside factors such as supervisors' encourt1gement, fimt ily and environment support.
The barriers mostly found among librarians were the ability to write scientific writings.
untidy and lazy. Meanwhile, the dual role is not a barrier because of time management and family
support.
There are different motivations af achievement among male and female librarians. The female librarians show more development. In fact, there are more female librarians who have a responsibility to manage faculty libraries. The high educational level of female librarians may provide high motivation on themselve
Kajian Perencanaan Peran Fly Over Soekarno Hatta - Tuanku Tambusai Pakanbaru Dalam Mengatasi Kemacetan Arus Lalu Lintas
Fly Over construction at the junction of Jl. Soekarno Hatta - Jl. Tuanku Tambusai has not fully overcome the impact of the congestion at the Jl. Soekarno Hatta - Jl. Tuanku Tambusai, because there are still queues and delays that occur at the intersection. It is known that the degree of saturation at the intersection of Jl. Soekarno Hatta - Jl. Tuanku Tambusai at a peak of 0.83 in the west direction with an average delay of 90.07 sec / pcu, so that congestion still occurs due to delays and unstable intersection performance. The purpose of this study is to determine the performance of the Tuanku Tambusai - Soekarno Hatta intersection, to know the supporting infrastructure that will be installed on the Tuanku Tambusai - Soekarno Hatta flyover and to know the application of traffic engineering management at the Tuanku Tambusai - Soekarno Hatta flyover. Soekarno Hatta. This research was carried out by carrying out an inventory of intersections, a survey of turning movements, observing and observing the conditions of supporting infrastructure, then analyzed and discussed with MKJI 1997 analysis, vissim applications and guided by Government Regulation Number 79 of 2013 concerning Road Traffic and Transportation Networks. At the time the flyover had not yet been built, data from the Pekanbaru City Transportation Agency obtained a queue length of 400 to 600 meters at the Tuanku Tambusai intersection on the west side and 300 meters to 550 meters at the intersection. Furthermore, the results of the analysis when awakened with a fly over in the North-South direction, of course only decreased the degree of saturation in the north-south direction to 0.3, which was originally 0.5, while the west and east did not decrease the degree of saturation at all. Furthermore, when the development simulation is carried out, ideally the degree of saturation should decrease to an average of 0.4. engineering management is needed in built conditions by installing traffic signs, 4 units of traffic light warning signs, 4 units of prohibited rotating signs, 2 units of traffic directing signs and 2 units of speed limiting signs, closing the nearest U turn, namely: U turn Mandiri, which is 162 m away and implements engineering management by arranging traffic lights from 4 phases to 3 phases in order to reduce waiting times and queues at intersections and to change the function of tunnels to crossings of people
Analysis of Economic Growth Factors in West Pantura Areas of Central Java
There are six factors of economic growth which influence on the economic growth level is analyzed in this research. The factors are: General Allocation Fund, government expenditure, investment, quality of human resources, agglomeration, and labor. The analysis tool used ist the regression of data panel/pooled data with the approach of Least Square Dummy Variable (lSDV). This approach is used because it is in accordance with the aim of research, which is to know the role of the economic growth factors to the GDP and to know the rate of economic growth from 2004 to 2013 in the West Pantura (northern coastal) areas of Central Java. From the estimation, it is known that the economic growth factor of human resource is the one that influence the GDP ipm with coefficient of 0.199316 percent, followed by the labor factor with coefficient of 0.165086 percent, an investment of 0.0013066 percent and the government expenditure with coefficient of minus 0.019731 percent. However, the General Allocation Funds does not have much influence on the economic growth, only at 0.009572 percent. Whereas, the agglomeration has no influence on the role of the GDP and on the economic growth in the West Pantura areas of Central Java. The regression result indicates -0.013514 percent.</p
ANALISIS PENGARUH KETRAMPILAN, PENDIDIKAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA DI PT. SERIBU SATU CABANG SEMARANG
BATIK WONOGIREN KONSEP ESTETIKA BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Batik Wonogiren adalah batik dengan babaran cara Kanjeng Wonogiren. Pada perkembangannya babaran Wonogiren digemari oleh masyarakat pengguna kain batik pada saat kekuasaan KGPAA Mangkunagara VII – VIII. Batik Wonogiren merupakan salah satu motif untuk memberi ciri khas dan menandai daerah kekuasaannya di daerah Wonogiri. Tirtomoyo di Kabupaten Wonogiri, mempunyai kaitan erat dengan sejarah masuknya seni kerajinan batik dari budaya Mataram di Surakarta ke dalam konsep batik Wonogiren. Peran masyarakat Kecamatan Tirtomoyo dalam pengembangan desain Batik Wonogiren adalah menghasilkan motif-motif Batik Kreasi Baru dengan efek remukan pada motif batik. Inspirasi motif batik tersebut berasal dari tradisi dari Surakarta, kondisi alam Wonogiri, masyarakat pendukung atau pesanan konsumen, dan fenomena masyarakat. Batik Wonogiren hasil kreasi para perajin batik di Kecamatan Tirtomoyo memberi peran nyata dalam membangun perekonomian masyarakat sekitar, dan peran tidak langsung dari aktivitas pengembangan desain tersebut adalah menjaga keberadaan batik.
Disertasi ini dengan judul Batik Tradisi Wonogiren (Konsep Estetika dan Makna Berbasis Kearifan Lokal) memiliki tujuan untuk membahas batik Wonogiren dalam estetika bentuk dan makna berdasar kearifan local dalam kontribusi untuk menemukan serta membangun konsep. Pendekatan penelitian menggunakan interpretasi budaya, estetika dan simbol dalam batik Wonogiren.
Visualisasi Batik Wonogiren dipengaruhi oleh pengalaman dan wawasan penciptanya. Faktor sejarah keberadaan para pembatik Pura Mangkunagaran yang mengembangkan usaha di Wonogiri, menjadi awal tumbuhnya keahlian para pengusaha dan perajin di Kecamatan Tirtomoyo dalam menghasilkan motif-motif batik untuk membangun konsep dengan menemukan aspek-aspek estetik. Aspek estetik yang dibangun meliputi pertimbangan latar belakang budaya, lingkungan, teknik sebagai cirri khas, material, fungsi dan pasar dalam konsep estetika bentuk dan makna. Makna dalam budaya Jawa memiliki nilai tentang tuntunan, peuah, ajaran dan etika.Pada umumnya perajin Batik Wonogiren memvisualisasikan karya atau mengekspresikan idenya ke dalam bentuk dua dimensi secara instingtif, bahkan hanya menuruti kepekaan rasa yang terlatih karena kebiasaan membatik. Budaya dan sosial adalah pertimbangan yang saling terkait dan mempengaruhi pengembangan desain Batik Wonogiren. Faktor budaya bersifat makro yang secara langsung mempengaruhi visualisasi motif Batik Wonogiren. Faktor tersebut meliputi kontak antar daerah pembatikan, kepercayaan, adat istiadat yang dipengaruhibudayatradisi Surakarta, letak geografis daerah pembuat batik, dan keadaan alam sekitar. Faktor sosial bersifat mikro yang memberi sumbangan pengembangan estetika Batik Wonogiren, hidup dalam masyarakat berupa sifat dan tata aturan kehidupan di daerah. [Kata kunci: Pengembangan Batik, Kearifan Lokal, Batik Klasik, Remukan
BATIK WONOGIREN Estetika Berbasis Kearifan Lokal
ABSTRAK
Batik Wonogiren adalah batik dengan babaran cara Kanjeng Wonogiren. Pada perkembangannya babaran Wonogiren digemari oleh masyarakat pengguna kain batik pada saat kekuasaan KGPAA Mangkunagara VII – VIII. Batik Wonogiren merupakan salah satu motif untuk memberi ciri khas dan menandai daerah kekuasaannya di daerah Wonogiri. Tirtomoyo di Kabupaten Wonogiri, mempunyai kaitan erat dengan sejarah masuknya seni kerajinan batik dari budaya Mataram di Surakarta ke dalam konsep batik Wonogiren. Peran masyarakat Kecamatan Tirtomoyo dalam pengembangan desain Batik Wonogiren adalah menghasilkan motif-motif Batik Kreasi Baru dengan efek remukan pada motif batik. Inspirasi motif batik tersebut berasal dari tradisi dari Surakarta, kondisi alam Wonogiri, masyarakat pendukung atau pesanan konsumen, dan fenomena masyarakat. Batik Wonogiren hasil kreasi para perajin batik di Kecamatan Tirtomoyo memberi peran nyata dalam membangun perekonomian masyarakat sekitar, dan peran tidak langsung dari aktivitas pengembangan desain tersebut adalah menjaga keberadaan batik.
Disertasi ini dengan judul Batik Tradisi Wonogiren (Estetika dan Makna Berbasis Kearifan Lokal) memiliki tujuan untuk membahas batik Wonogiren dalam estetika bentuk dan makna berdasar kearifan local dalam kontribusi untuk menemukan serta membangun konsep. Pendekatan penelitian menggunakan interpretasi budaya, estetika dan simbol dalam batik Wonogiren.
Visualisasi Batik Wonogiren dipengaruhi oleh pengalaman dan wawasan penciptanya. Faktor sejarah keberadaan para pembatik Pura Mangkunagaran yang mengembangkan usaha di Wonogiri, menjadi awal tumbuhnya keahlian para pengusaha dan perajin di Kecamatan Tirtomoyo dalam menghasilkan motif-motif batik untuk membangun konsep dengan menemukan aspek-aspek estetik. Aspek estetik yang dibangun meliputi pertimbangan latar belakang budaya, lingkungan, teknik sebagai cirri khas, material, fungsi dan pasar dalam konsep estetika bentuk dan makna. Makna dalam budaya Jawa memiliki nilai tentang tuntunan, peuah, ajaran dan etika. Pada umumnya perajin Batik Wonogiren memvisualisasikan karya atau mengekspresikan idenya ke dalam bentuk dua dimensi secara instingtif, bahkan hanya menuruti kepekaan rasa yang terlatih karena kebiasaan membatik. Budaya dan sosial adalah pertimbangan yang saling terkait dan mempengaruhi pengembangan desain Batik Wonogiren. Faktor budaya bersifat makro yang secara langsung mempengaruhi visualisasi motif Batik Wonogiren. Faktor tersebut meliputi kontak antar daerah pembatikan, kepercayaan, adat istiadat yang dipengaruhi budaya tradisi Surakarta, letak geografis daerah pembuat batik, dan keadaan alam sekitar. Faktor sosial bersifat mikro yang memberi sumbangan pengembangan estetika Batik Wonogiren, hidup dalam masyarakat berupa sifat dan tata aturan kehidupan di daerah
.
Kata kunci: Pengembangan Batik, Kearifan Lokal, Batik Klasik, Remukan
ABSTRACT
Wonogiren batik is the batik babaran with the style product of Kanjeng Wonogiren. On its development, the society wearing batik cloth in Babaran Wonogiren within the authority of KGPAA Mangkunegaran VII, VIII era is found of the batik style product of Wonogiren.
Wonogiren Batik is one of motif batik for giving and identifying mark is authority of Wonogiri regency , where it is one area and the best batik workship Tirtomoyo Wonogiri regency.
Tirtomoyo district in Wonogiri regency has strong relationship with the history of the entering of the batik handycraft art of Mataram culture in Surakarta into the concept of batik Wonogiren. Batik Wonogiren designed by Tirtomoyo cratsmen has read effect to the economical deep understanding of their society and the development of batik design indirectly from its development of these design where the society of Wonogiri to focus in existence in batik.
The title of dissertation Batik Wonogiren (Estetika Berbasis Kearifan Lokal), it has direction for discussing Wonogiren batik in aesthetics and symbol based on local wisdom, and it contributes of consept building.
The debating of research is using culture interpretation, aesthetics, and symbol in Wonogiren batik.
The visualization of batik babaran Wonogiren was very much influenced by author’r experience and knowledge. Existence of the history factor, the worker of batik in Mangkunegaran palace which is to develop effort in Wonogiri. It is the first start growing of entrepreneur its skill of craftman at Tirtomoyo subdistrict in the motif result with them.
The factor of existence history of the batik maker of Mangkunegaran Palace who developed their business in Wonogiri had become the begining of the expectory growth of the businessmen and produces in Tirtomoyo subdistrict. When producting batik motif in finding aesthetic aspect which was built based on the background of culture art studies, environment, techniques is as identifying mark, material and the function of aesthetics shape and concept sense. Consept sense have culture value of Java about guidance, decision and interpretation of teaching and ethics.
The culture factor have characteristic of micro can directly influence in visualization in Wonogiren batik motif, those are cover area inter countries of batik workshop, trust, custom which is influenced from tradition culture of Surakarta, and so it can be influenced batik workers geography site.
On generally, the batik Wonogiren craftmen express their creation and idea into two dimention, it was as a consideration influenced social factor is as giving contribution of micro in developing of aesthetic Wonogiren batik , where the society have characteristic in regulation system.
Key Word: Development of Batik, Local Wisdom, Classical Batik, Remuka
MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR DAN DISIPLIN SISWA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI
Passive and undisciplined behavior of students on the learning process implemented physical education is a frequent problem encountered by the teachers, especially for young teachers. In fact, an experienced teacher also still encounter students who are undisciplined and passive behavior of students in learning. Various efforts and strategies to improve student learning activities and disciplines need to be owned by the teachers as to increase its efforts to avoid these problems become more severe. Some of the guidance system of discipline is more emphasis on extrinsic motivation, while others emphasize the intrinsic motivation. Regardless of the coaching system selected by the teacher disciplined by the teacher, the application development needs to be done consistently disciplined, rigorous, and still appreciate the feelings and self-esteem
HUBUNGAN MINAT BEKERJA DI INDUSTRI DENGAN PRESTASI PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) ( Studi Kasus Pada Siswa Teknik Sepeda Motor SMK Negeri 5 Sidrap)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; (1)Gambaran minat bekerja di industri (2)
Gambaran prestasi praktik kerja lapangan(PKL)dan (3) hubungan antara minat bekerja di
industri dengan prestasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) siswa pada jurusan Teknik Sepeda Motor
SMK Negeri 5 sidrap Kabupaten Sidrap. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan
populasi berjumlah 101 siswa. Melalui metode purposive sampling diambil sebanyak 55 siswa
sebagai sampel penelitian. Adapun data minat bekerja menggunakan teknik angket sedangkan
prestasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) diperoleh dengan menggunakan teknik dokumentasi atau
nilai sertifikat. Data kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dan analisis
inferensial. Analisis ini digunakan untuk mengetahui hubungan variabel minat kerja dan variabel
prestasi akademis sebagai variabel independen baik secara simultan maupun secara parsial
terhadap variabel kesiapan kerja sebagai variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan
bahawa (1) minat bekerja di industri berada pada kategori sangat tinggi 100%. (2) prestasi
praktik kerja lapangan (PKL) berada pada kategori baik sebanyak 65 %. (3) Ada hubungan yang
positif dan signifikan antara minat bekerja di industri siswa Teknik Sepeda Motor SMK Negeri 5
Sidrap dengan prestasi praktik kerja lapangan (PKL). Dimana r
sebesar 0,560 Kemudian
harga r
hitung
dikonsultasikan dengan r
tabel
hitung
pada taraf signifikansi 5% dengan n = 55 sebesar 0,266
sehingga r
hitung
lebih besar dari r
tabel
atau (r
hitung
0,560> r
0.266). dan nilai signifikansi sebesar
0.000 yang berarti kurang dari 0.05 (0.000< 0.05) yang koefisien korelasinya termasuk dalam
kategori sedang.
Kata Kunci: Minat Bekerja dan Prestasi Praktik Kerja Lapangan (PKL).
tabe
- …
