112 research outputs found
Analisis Permintaan Dan Penawaran Udang Windu (Studi Kasus: Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kotamadya Medan, PropinSi Sumatera Utara)
KARMILA SARI NST (940304094/SEP) ANALISIS PERMINTAAN DAN
PENAWARAN UDANG WINDU" Studi Kasus Kelurahan Belawan Sicanang,
Kecamatan Medan Belawan, Kotamadya Medan, Propinsi Sumatera Utara.
Udang Windu (Tiger Prawn) merupakan salah satu komoditi primadona di subsektor perikanan yang dapat meningkatkan devisa negara disektor non migas. Perkembangan dari harga udang windu yang selalu berfluktuasi dan didukung oleh peningkatan jumlah permintaan udang windu untuk pasar domestik dan pasar ekspor mendorong petambak untuk membuka usaha pertambakan udang windu. Pada kenyataannya permintaan yang selalu meningkat khususnya untuk pasar ekspor membuat pihak eksportir merasa kewalahan untuk memenuhinya karena pada saat ini yang menjadi masalah bagi eksportir adalah kurangnya bahan baku yang tersedia dengan perkataan lain permintaan tinggi sementare penawaran rendah.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan luas areal pertambaken. 2. Mengetahui faktor yang mempengaruhi perubahan produktivitas tambak udang windu.
3. Mengetahui faktor yang mempengaruhi volume dan nilai ekspor udang windu.
4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi pertumbuhan permintaan eksportir.
5. Mengetehul faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen.
6. Mengetahui keadaan keseimbangan permintaan dan penawaran udang windu dalam
pasar domestik dalam jangka panjang dan jangka pendek.130Skripsi Sarjan
A bilayer diffusion barrier of Ru/WSixNy for advanced Cu interconnects
Bilayers of Ru (7 nm)/WSixNy (8 nm) prepared by sputtering were investigated as diffusion barriers between Cu and Si for direct-platable Cu interconnects. Four different WSixNy films were prepared by using various N-2/Ar flow rate ratios during sputtering of a WSi2.7 target. Sheet resistance measurements and X-ray diffractometry analysis showed that Ru/WSixNy bilayer diffusion barriers prevented Cu diffusion during 30 min of annealing at temperatures of up to 550-750 degrees C, while the Ru single layer of the same thickness (15 nm) failed after annealing at 400 degrees C by the formation of copper silicide due to the diffusion of Cu into Si. It was shown that the performances of bilayer diffusion barriers were improved as the nitrogen content in the WSixNy films was increased, which can be explained based on the results from transmission electron microscopy and X-ray photoelectron spectroscopy analysis of WSixNy films deposited with different N-2/Ar flow rate ratios. From the results, the Si-N and W-N chemical bonds are strengthened as the N contents in the WSixNy films are increased by increasing the N-2 flow rate during the deposition. The results indicate that the formation of both Si-N and W-N bonds will give an effective diffusion barrier against Cu diffusion. (C) 2012 Elsevier B.V. All rights reserved
Peran Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Bandeng (Chanos chanos) dalam Menghambat Bakteri Vibrio sp. pada Budidaya Udang Windu (Penaeus monodon) dengan Konsep IMTA
Budidaya udang dengan konsep integrated multi trophic aquaculture
(IMTA) merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk mengelola kualitas air dan
menghambat kemungkinan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh bakteri.
Ikan nila dan bandeng sebagai organisme sekunder pada budidaya dengan konsep
IMTA mengeluarkan mukus yang dapat menghambat pertumbuhan Vibrio sp.
pada air budidaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran ikan nila
dan bandeng terhadap penurunan jumlah bakteri Vibrio sp., laju pertumbuhan, dan
kelulushidupan (SR) udang windu. Metode penelitian yang dilakukan adalah
metode eksperimental dengan rancangan penelitian menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan yaitu A (udang windu 80
ekor/m
3
), B (udang windu 80 ekor/m
2
dan ikan nila 300 g/m
3
) dan C (udang
windu 80 ekor/m
3
dan ikan bandeng 300 g/m
3
). Penelitian dilakukan selama 30
hari. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah bakteri total, jumlah bakteri Vibrio
sp., ratio bakteri total dengan Vibrio sp., zona hambat mukus ikan nila dan
bandeng, pola kematian, RGR, SGR, bobot mutlak dan SR udang windu, kualitas
air dan bahan organik substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila (O.
niloticus) dan bandeng (C. chanos) dapat menghambat Vibrio sp. Rata-rata Vibrio
sp. perlakuan A sebesar 2,26 x 10
4
CFU/mL, perlakuan B sebesar 1,2 x 10
4
CFU/mL dan perlakuan C sebesar 1,3 x 10
4
CFU/mL. Perlakuan A didominasi
oleh bakteri Vibrio sp. sebesar 70,41%. Perlakuan B dan C bakteri Vibrio sp. tidak
mendominasi, dengan persentase Vibrio sp. masing-masing sebesar 16,82% dan
37,01%. Zona hambat mukus ikan nila sebesar 4,3 mm dan zona hambat mukus
ikan bandeng sebesar 2,7 mm. Perlakuan yang diterapkan berpengaruh nyata
terhadap laju pertumbuhan relatif (RGR), laju pertumbuhan spesifik (SGR) dan
bobot mutlak udang windu (P. monodon) dengan rata-rata RGR, SGR, dan bobot
mutlak udang windu terbaik pada perlakuan B sebesar 54,82 ± 2,92%/30 hari,
9,53 ± 0,17%/hari dan 0,80 ± 0,04 g. Perlakuan yang diterapkan tidak
berpengaruh terhadap kelulushidupan (SR) udang windu
PENGGUNAAN GEN PENYANDI TUMBUH CEPAT DALAM PRODUKSI BENIH UDANG WINDU Penaeus monodon
Dalam upaya mengembalikan kesuksesan produksi udang windu P. monodon maka langkah perbaikan dan antisipasi mengatasi kegagalan terus dilakukan. Di antara kegagalan yang terjadi adalah penurunan sifat genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan gen penyandi tumbuh cepat pada benih udang windu yang diproduksi melalui pembenihan. Pembenihan menggunakan sistem yang mengaplikasikan biosecurity, probiotik, pakan alami, dan buatan. Ada 35 populasi benih F-1 (PL 12-15) yang dapat diproduksi dengan jumlah yang bervariasi. Gen penyandi tumbuh cepat yang telah diperoleh pada locus PmMS-11A dari mikrosatelit/SSRs (Simple Sequence Repeats), selanjutnya digunakan sebagai indikator tumbuh cepat pada benih-benih yang diproduksi melalui amplifikasi PCR dan dikonfirmasi dengan metode SSCP (Single Strand Confirmation Polyacrilamide). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa gen penyandi tumbuh cepat dapat ditunjukkan oleh locus PmMS11-A pada benih udang windu. Tingkat keakuratan gen penyandi tumbuh cepat tersebut pada benih udang windu turunan F-1 terekspresi pada allel 144 bp. Hal ini juga ditunjukkan keakurasian prediksi dari karakter fenotipnya setelah budidaya di tambak. Produk benih yang dihasilkan sebanyak 838.021 ekor (tumbuh cepat) dan kontrol 172.526 ekor
DEWI MANGROVE SARI, GADIS CANTIK YANG LAHIR DI TENGAH BENCANA
Awalnya, penduduk di Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, terdampak abrasi sebagai akibat pembabatan hutan mangrove yang dialihfungsikan sebagai tambak. Ketika terjadi krisis di periode 1990-an, yang menyebabkan harga udang merosot, para penduduk memilih merantau keluar desa dan menjadi pekerja kasar. Bersamaan dengan merosotnya harga udang windu, bencana gelombang air laut dan rob datang merusak tambak dan pemukiman warga. Melihat kerusakan yang terjadi, warga kemudian tergerak untuk kembali menanam mangrove di sepanjang pesisir pantai guna menekan laju abrasi dan kerusakan lebih lanjut. Upaya konservasi lahan mangrove yang dilakukan ternyata tidak hanya berhasil dalam mengurangi kerusakan akibat abrasi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekosistem di Dukuh Pandansari. Desa Kaliwlingi kemudian menjadi salah satu daerah yang masuk dalam rencana DINPARBUDPORA Kabupaten Brebes sebagai lokasi pengembangan wisata mangrove dengan nama Desa Wisata Mangrove Sari (Dewi Mangrove Sari). Kelompok sasaran pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan adalah para pemilik pondok wisata, pengusaha bidang kuliner, dan penanggung jawab bidang pemasaran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Mangrove Sari. Dengan metode lokakarya dan mentoring, kelompok sasaran didampingi untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan di bidang pariwisata. Salah satu luaran adalah pembenahan situs web yang dimiliki oleh Pokdarwis
ANALISIS BEBAN KERJA KARYAWAN PADA DEPARTEMEN FINANCE DAN ACCOUNTING PT DASA WINDU AGUNG
Tujuan dari penelitian ini adalah; 1). Untuk menganalisis secara mendalam beban kerja yang dialami oleh karyawan di dalam organisasi; 2). Mengetahui dampak beban kerja yang terjadi dan; 3). Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat beban kerja karyawan pada Departemen Finance dan Accounting PT Dasa Windu Agung. Tempat pelaksanaan penelitian ini yaitu di PT Dasa Windu Agung, dengan waktu kegiatan observasi dari mulai bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2023. Metode yang digunakan oleh penulis yaitu metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Informan dari penelitian ini adalah karyawan yang berada di Departemen Finance dan Accounting PT Dasa Windu Agung yang mempunyai salah satu tugas yang dikerjakan adalah mengarsipkan dokumen. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari tingginya beban kerja terhadap kinerja
karyawan yaitu adanya prokrastinasi, karena tingginya beban kerja karyawan, salah satu pekerjaan mengarsipkan dokumen tidak segera dilakukan dan menyebabkan menumpuknya dokumen yang mengakibatkan sulitnya dalam penemuan kembali dokumen.
Kata Kunci: Beban Kerja, Kinerja Karyawan, Dampak Beban Kerja
*****
The objectives of this study are; 1). To analyze in depth the workload experienced by employees in the organization; 2). Knowing the impact of workload that occurs and; 3). Knowing the factors that can affect the level of employee workload in the Finance and Accounting Department of PT Dasa Windu Agung.The place of implementation of this research is at PT Dasa Windu Agung, with the time of observation activities from January to March 2023. The method used by the author is a qualitative research method with the type of research used is a case study. The informants of this research are employees in the Finance and Accounting Department of PT Dasa Windu Agung who have one of the tasks done is archiving documents. Based on the results of the study, it shows that there is an influence of high workload on employee performance, namely the existence of procrastination, because of the high workload of employees, one of the jobs of archiving documents is not done immediately and causes a pile of documents which results in difficulty in finding documents again.
Keywords: Workload, Employee Performance, Impact of Workloa
MARKA GENETIK UNTUK VARIABILTTAS PERTUMBUHAN UDANG WINDU, Penaeus monodon DARI SUMBER INDUK BERBEDA MELALUI ANALISIS MT-DNA-RFLP
Dalam rangka perbaikan mutu genetik udang, diperlukan informasi marka genetik untuk mengetahui variabilitas pertumbuhan sebagai salah satu dasar seleksi individu. Tujian penelitian ini adalah untuk memperoleh marka genetir dari variabilitas pertumbuhan uoang windu yang nantinya dapat digunakan sebagai indikator dalam seleksi induk
Pengembangan Gerang Pedet Melalui Metode Enthrepreneurship Capasity Building (ECB)
Tujuan dalam pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan penjualan Gerang Pedet dengan inovasi produk, penjualan berbasis internet marketing, meningkatkan jiwa entrepreneurship dan meningkatkan pengetahuan di bidang keuangan untuk kelompok Nelayan Windu Sari Desa Banjar. Metode yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan yaitu ceramah, diskusi dan demonstrasi. Pelaksanaan pengabdian pada masyarakat ini berjalan dengan lancar. Hal tersebut dapat dilihat dari keantusiasan mereka mengikuti kegiatan sampai akhir. Dapat disimpulkan bahwa program ini mampu memberikan manfaat dan nilai tambah bagi pengembangan produk Gerang Pedet kelompok Nelayan Windu Sari di Desa Banjar.
Kata Kunci: Gerang Pedet, Inovasi, Desa Banja
Pengaruh Kepemimpinan Otoriter terhadap Kinerja Karyawan UD Sumber Windu Melalui Pengembangan Sumber Daya Manusia
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepemimpinan otoriter terhadap kinerja karyawan melalui pengembangan sumber daya manusia sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 35 orang karyawan UD Sumber Windu Kota Sorong. Teknik pengumpulan data dengan membagikan dan menyebarkan kuesioner kepada sampel yang telah ditentukan. Selanjutnya data diolah dengan menggunakan program analisis PLS (Partial Least Square). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Kepemimpinan otoriter memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan, pengaruh ini tidak signifikan, (2) Kepemimpinan otoriter memiliki pengaruh positif terhadap pengembangan sumber daya manusia, pengaruh ini tidak signifikan, (3) Pengembangan sumber daya manusia memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan, (4) Pengembangan sumber daya manusia memiliki efek positif pada pengaruh kepemimpinan otoriter terhadap kinerja karyawan, pengaruh ini tidak signifikan. Sehingga di simpulkan bahwa hipotesis 3 pada penelitian ini diterima sedangkan hipotesis 1,2 dan 4 tidak diterima
Analisis Perbedaan Kualitas Air Pada Budidaya Polikultur Rumput Laut (Gracilaria Verrucosa), Ikan Bandeng (Chanos Chanos) Dan Udang Windu (Penaeus Monodon) Dengan Budidaya Polikultur Ikan Bandeng (Cha
Air merupakan sumber daya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu sumber daya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengendalian kondisi lingkungan budidaya agar tetap stabil dan optimal bagi organisme perairan termasuk ikan sebagai hewan budidaya menjadi sangat perlu dilakukan. Sehingga secara khusus pengelolaan air sebagai tempat budidaya perlu dilakukan, karena kualitas air yang baik adalah air yang cocok untuk kegiatan budidaya, dimana jenis komoditas bisa hidup dan tumbuh dengan normal. Salah satu sentral tambak budidaya berada di Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Sidoarjo. Di daerah ini terdapat tambak polikultur yang membudidayakan lebih dari satu jenis komoditas seperti ikan bandeng, udang windu dan rumput laut yang dikembangkan secara tradisional. Tambak polikultur di dearah ini merupakan tambak yang mendapatkan aliran air dari Sungai Porong dan air laut. Adanya masukan limbah dari kegiatan industri yang masuk ke sungai Porong dapat mempengaruhi kondisi perairan tambak Tanjung Sari. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan mengetahui perbedaan kualitas air pada tambak polikultur yang berbeda di Tambak Tanjung Sari, Desa Kupang, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode diskriptif. Dimana pengambilan sampel dilakukan di dua tambak yang berbeda yaitu tambak polikultur 1 terdapat 2 komoditas yang dibudidayakan (bandeng dan udang windu) dan tambak polikultur 2 terdapat 3 komoditas yang dibudidayakan (rumput laut, bandeng, dan udang windu). Pengambilan sampel penelitian dilakukan di tambak Tanjung Sari pada 3 titik pengambilan sampel yaitu inlet/outlet, tengah dan tepi/caren tambak sebanyak 4 kali pengambilan sampel dengan selang waktu pengambilan selama 7 hari sekali. Analisis kualitas air meliputi parameter fisika (suhu, kecerahan, dan tekstur tanah), parameter kimia yaitu (pH, oksigen terlarut, CO2, TOM, orthofosfat, nitrat nitrogen, dan bahan organik tanah), dan parameter biologi (plankton, pengukuran panjang dan berat ikan bandeng, udang windu, serta berat rumput laut). Data dianalisis menggunakan indeks STORET. Indeks STORET merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk menentukan status mutu air. Dengan metoda tersebut dapat diketahui parameter-parameter yang telah memenuhi atau melampaui baku mutu air. Hasil penelitian ini yaitu kualitas air pada tambak polikultur 1 suhu perairan tambak berkisar antara 27-31 oC, sedangkan pada tambak polikultur 2 suhu perairan tambak berkisar antara 27-30 oC. Kecerahan pada tambak polikultur 1 berkisar antara 20-29,5 cm, sedangkan pada tambak polikultur 2 kecerahan berkisar antara antara 31-40,5 cm. pH pada tambak polikultur 1 berkisar antara 8-10; sedangkan pada pada tambak polikultur 2 pH berkisar antara 8-9. Salinitas pada tambak polikultur 1 berkisar antara 25-31 ppt, sedangkan pada tambak polikultur 2 salinitas berkisar antara 25-30 ppt. Oksigen terlarut pada tambak polikultur 1 berkisar antara 3,45-7,49 mg/l, sedangkan pada tambak polikultur 2 ii oksigen terlarut berkisar antara 4,97-7,22 mg/l. Karbondioksida (CO2) pada tambak polikultur 1 berkisar antara 6,79-10,89 mg/l, sedangkan pada tambak polikultur 2 karbondioksida (CO2) berkisar antara 1,99-5,99 mg/l. Nitrat pada tambak polikultur 1 berkisar antara 0,68-1,94 ppm, sedangkan pada tambak polikultur 2 nitrat berkisar antara 0,52-1,45 ppm. Orthopospat pada tambak polikultur 1 berkisar antara 0,011-0,042 ppm, sedangkan pada tambak polikultur 2 orthopospat berkisar antara 0,013-0,044 ppm. TOM pada tambak polikultur 1 berkisar antara 14,16-27,43 mg/l, sedangkan pada tambak polikultur 2 TOM berkisar antara 18,21-35,89 mg/l. Plankton yang ditemukan pada tambak polikultur 1 dan tambak polikultur 2 terdiri dari 4 divisi yaitu Chlorophyta, Chrysophyta, Cyanophyta, dan Arthropoda. Hasil pengukuran panjang dan berat Ikan Bandeng (Chanos chanos) pada tambak polikultur 1 didapatkan nilai b berkisar antara 1,83-2,04 dan pada tambak polikultur 2 berkisar antara 1,46-2,07. Hasil pengukuran panjang dan berat Udang Windu (Penaeus monodon) pada tambak polikultur 1 didapatkan nilai b berkisar antara 1,02-1,97 dan pada tambak polikultur 2 berkisar antara 1,56-2,07. Hasil faktor kondisi ikan bandeng pada tambak polikultur 1 berkisar antara 0,97-1,05 dan pada tambak polikultur 2 faktor kondisi ikan bandeng berkisar antara 0,99-1,04. Hasil faktor kondisi udang windu pada tambak polikultur 1 berkisar antara 0,99-1,03 dan pada tambak polikultur 2 faktor kondisi udang windu berkisar antara 0,99-1,02. Hasil analisis pengukuran berat rumput laut Gracilaria verrucosa mengalami peningkatan dari setiap minggu selama 30 hari dan mempunyai laju pertumbuhan sebesar 4,1%. Hasil laju pertumbuhan berat rata-rata ikan bandeng dan udang windu pada tambak polikultur 1 sebesar 4,03 % dan 5,57 %. Sedangkan pada tambak polikultur 2 laju pertumbuhan berat rata-rata ikan bandeng dan udang windu sebesar 4,47 % dan 4,57 %. Hasil analisis bahan organik tanah, didapatkan nilai bahan organik tanah pada tambak polikultur 1 sebesar 2,25%. Sedangkan nilai bahan organik tanah pada tambak polikultur 2 sebesar 3,03%. Hasil pengamatan tekstur tanah pada tambak polikultur 1 yaitu lempung berliat dengan perbandingan persentasenya antara lain 33% pasir, 24% debu, dan 43% liat. Sedangkan pada tambak polikultur 2 yaitu liat dengan perbandingan persentasenya antara lain 11% pasir, 36% debu, dan 53% liat. Hasil analisis indeks STORET berdasarkan baku mutu air melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 28 tahun 2004 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan status perairan antara tambak polikultur 1 dan tambak polikultur 2. Hasil status periaran pada tambak polikultur 1 dikategorikan status perairan sedang, sedangakan pada tambak polikultur 2 dikategorikan status perairan baik
- …
