11 research outputs found
Gusti Asnan, Memikir ulang regionalisme Sumatera Barat tahun 1950-an. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia and KITLV Jakarta, 2007, xxvi + 264 pp. ISBN 978- 979-461-640-6. Price: IDR 63,000 (soft cover).
Gagasan dan aktiviti wartawan wanita Minangkabau pada masa kolonial Belanda
Orang Minangkabau yang sebahagian besarnya tinggal di Sumatera Barat dan Sumatera Tengah merupakan penganut sistem sosial matrilineal yang meletakkan wanita sebagai memainkan peranan utama dalam aktiviti sosiopolitik dan kehidupan bangsa Indonesia. Sejak abad ke-20 misalnya, kaum wanita Minangkabau sudah menunjukkan kebolehan mereka sebagai wartawan, pengarang, guru dan ahli politik. Sebagai wartawan, wanita Minangkabau adalah sangat berpengaruh dalam media massa di Indonesia, khususnya di Sumatera. Bahkan surat khabar wanita pertama di dunia Melayu, Soenting Melajoe (1912) dan Soeara Perempoean (1914), diterbitkan oleh wanita Minangkabau. Penerbitan ini, antara lain, berperanan dalam membangkitkan gerakan nasionalis dan menyuarakan emansipasi wanita. Artikel ini meneroka penerbitan akhbar pada awal abad ke-20 untuk melihat peranan wanita Minangkabau dalam kehidupan sosial dan politik di Sumatera dan Indonesia
RIAU PASCAKELUAR DARI SUMATERA TENGAH 1957-1985
Penelitian ini mengungkapkan sejarah pemerintahan daerah Provinsi Riau. Batasan awal penelitian ini dimulai dari tahun 1957, karena pada tahun tersebut keluar Undang-Undang mengenai pembentukan Daerah Tingkat I. Keluarnya Undang-Undang ini dengan demikian Riau resmi keluar dari Sumatera Tengah, dan berdiri sebagai sebuah Provinsi. Batas akhir penelitian tahun 1985, ditandai dengan timbulnya sebuah peristiwa yang merupakan gerakan perlawanan terhadap hegemoni pemerintahan pusat yang berlangsung pada saat Orde Baru dan ABRI (TNI) Tengah berjaya. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menggunakan metode sejarah yang dibagi dalam empat tahap yaitu heuristik, kritik sumber interpretasi, dan penulisan sehingga berbentuk tulisan sejarah yang bersifat ilmiah deskritif dan analisis. Hasil penelitian menunjukan bahwa keadaan Riau pascakeluar dari Sumatera Tengah sama saja ketika berada di bawah kekuasaan pemerintahan Sumatera Tengah. Hanya terjadi peralihan kekuasaan dari Pemerintahan Sumatera Tengah ke tangan pemerintahan pusat yang sentralistik. Tuntutan masyarakat Riau masa tahun 1950-an untuk dipimpin oleh putera daerahnya juga tidak terwujud setelah Riau berdiri menjadi provinsi sendiri. Pemerintahan pusat sangat berperan dalam pengambilan keputusan atas pengangkatan Gubernur Riau. Gubernur Riau yang menjabat didominasi oleh orang di luar Riau (bukan putra daerah) dan juga sebagian besar berasal dari militer
Ruang Poligami dalam Budaya Minangkabau: Tinjauan Historis
Penelitian ini membahas tentang ruang poligami dalam budaya Minangkabau dengan tinjauan historis. Penulisan ini akan menggunakan metode sejarah yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi, serta menggunakan ilmu-ilmu sosial lainnya sebagai alatnya. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah dalam budaya Minangkabau dapat memberi peluang untuk poligami. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sistem sosial dan budaya Minangkabau telah memberi peluang untuk orang berpoligami serta pihak-pihak yang berpoligami. Hal ini disebabkan oleh dua faktor, pertama karena laki-laki dalam adat Minangkabau setelah menikah hanya berstatus sumando, di mana tidak boleh menetap lama-lama di rumah sang istri. Laki-laki yang berstatus sumando hanya untuk tujuan biologis/keturunan atau menghasilkan keturunan. Jadi tidak bisa menetap lama-lama di rumah sang istri. Faktor kedua yaitu karena kebutuhan ekonomi. Faktor kedua ini, biasanya untuk kedudukan laki-laki yang berstatus penghulu atau datuak. Hal ini untuk menaikkan prestise penghulu, di mana memiliki istri lebih dari satu menjadikan posisinya makin tinggi di dalam masyarakat.
Asjraq Magazine 1925–1928: Minangkabau Women and Modernity
This research aims to examine the progression of Minangkabau women during the 20th century as reflected through modern education represented in the women's press. As historical research, this research uses the historical method, which includes heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The focus is on the progress and development of Minangkabau women as represented in Asjraq magazine, published in Padang, West Sumatra. Asjraq was one of the women’s magazines actively advocating for the advancement and empowerment of Minangkabau women. The exploration of women’s ideas consistently colored every issue of Asjraq, presenting concepts that contributed to redefining women’s roles in an evolving modern world. These ideas also provoked reactions from Minangkabau society. Elements and expressions of modernity found in Asjraq include education, participation in associations and mass media, as well as artistic expression
SAWAHLUNTO DULU, KINI, DAN ESOK: Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya
Kehadiran buku Sawahlunto Dulu, Kini, dan Esok Menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya edisi revisi ini telah lama kita nantikan. Harapan itu kiranya tidaklah berlebihan mengingat buku ini berkisah tentang proses sejarah yang telah dilalui oleh masyarakat dan kota Sawahlunto sejak masa penjajahan hingga masa sekarang. Sehingga dengan itu dapat pula dikenali bagaimana identitas kota Sawahlunto.
Bagi para orang tua, yang hidup dalam tiga zaman dan ikut terlibat dalam proses sejarahnya, akan selalu dapat mengingat dan menceritakan mengenai pengalaman mereka akan Sawahlunto. Akan tetapi, bagi generasi muda sudah tentu tidak banyak yang dapat mereka ketahui. Sementara generasi muda tersebutlah yang diharapkan dapat mewujudkan visi kota Sawahlunto tahun 2020 sebagai Kota Wisata Tambang yang Berbudaya.
Bukan hanya itu saja, untuk mewujudkan visi tersebut pada saat ini Sawahlunto juga telah berada dalam wacana Warisan Budaya Dunia sebagai World (Herritage ) UNESCO. Pemerintah kota Sawahlunto beserta masyarakatnya saat ini berusaha untuk memenuhi tujuan dan impian tersebut.  
Sejarah orang Tionghoa di nusantara
Sejarah orang tionghoa di nusantara dapat diselesaikan dalam yang relatif singkat. buku ini dimaksudkan untuk menjadi buku refrensi bagi para guru sejarah yang memerlukan bahan ajar untuk muatan lokal disetiap provensi diindonesia. oleh karna bahan yang ditulis sangat singkat. setiap provensi hanya berkisar 15 hingga 25 halaman, materi buku ini harus dikembangkan lebih lanjut oleh sejerawan, anggota tim penulis buku.xii, 432 hlm, 25 x 17,5 c
