101,568 research outputs found
Tindak Tutur Direktif dalam Sinema Salahuddin Al-batal Al-Ustūrah
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk dan fungsi “Tindak Tutur Direktif Dalam Sinema Salahuddin Al-Batal Al-Ustūrah Episode 23-25”.Penelitian ini menggunakan teori tindak tutur dari Searle. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode simak dengan teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik sadap, teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat.Sedangkan metode analisisnya menggunakan metode padan, metode padan yang peneliti gunakan yaitu metode padan pragmatis yang mana alat penentunya adalah lawan atau mitra wicara. Teknik analisis datanya menggunakan teknik pilah unsur tertentu. Hasil akhir dari penelitian ini yaitu ditemukan tuturan direktif dalam sinema Salahuddin Al-Batal Al-Ustūrah Episode 23-25 sebanyak 104 tuturan. Adapun pembagiannya sebagai berikut: 18 tuturan berbentuk permintaan, 32 tuturan berbentuk pertanyaan, 34 tuturan berbentuk perintah, tujuh tuturan berbentuk pemberian izin, tujuh tuturan berbentuk nasihat dan enam tuturan berbentuk larangan. Dari keenam bentuk tindak tutur direktif dalam Sinema Salahuddin Al-Batal Al-Ustūrah Episode 23-25 bentuk perintah paling banyak ditemukan, sedangkan bentuk larangan paling sedikit ditemukan. Adapun fungsi tindak tutur direktif dalam sinema Salahuddin Al-Batal Al-Ustūrah Episode 23-25, ditemukan sebanyak 27 dari 38 macam fungsi tindak tutur direktif. Penelitian ini berkontribusi untuk menambah khazanah mufrodat bagi mahasiswa bahasa dan sastra arab yang mana dapat diambil dari dialog teks sinema salahuddin
Perang salib dan kejayaan salahuddin al-ayubi mengembalikan Islamicjerusalem kepada umat Islam
Perang Salib merupakan satu peristiwa yang telah mencatatkan bahawa golongan Kristian telah berjaya menawan Islamicjerusalem (Baitul Maqdis) dari pemerintahan umat Islam. Ia menjadi lambang kejatuhan umat Islam bermula tahun 1099. Pada tahun 1187 Salahuddin al-Ayyubi telah berjaya membebaskan Islamicjerusalem dari pihak Tentera Salib. Ia menjadi bukti keagungan Salahuddin al-Ayyubi di dalam memimpin pasukannya. Makalah ini membincangkan mengenai kejayaan Salahuddin al-Ayyubi mengembalikan Islamicjerusalem kepada umat Islam. Kajian ini dilakukan berdasarkan kaedah pensejarahan dengan analisis terhadap peristiwa tersebut. Makalah ini menjelaskan bahawa perancangan yang bermula pada zaman Nuruddin al-Zinki telah berjaya diteruskan pada zaman Salahuddin al-Ayyubi sehingga terbebasnya Islamicjerusalem dari tangan Tentera Salib
Sejarah Salahuddin Al-Ayyubi
The Ayyubid Dynasty, established by Salahuddin al-Ayyubi, played a significant role in Islamic history through complex socio-political transformations. Salahuddin faced substantial challenges in replacing the influence of the Fatimid Dynasty and Shia doctrine with Ahlusunnah Waljamaah as the official state doctrine. To achieve this goal, he implemented reforms in education, politics, and the military, including transforming Al-Azhar University into a Sunni educational center and establishing Sunni-based madrasas in Egypt. This study employs a qualitative approach with content analysis, examining books, journals, and historical documents to explore Salahuddin's leadership strategies. The findings reveal that Salahuddin successfully strengthened Ahlusunnah Waljamaah through the establishment of educational institutions, the appointment of Sunni scholars, and political and structural reforms that promoted socio-political stability. In the socio-cultural domain, he supported the formation of public institutions, such as hospitals, and encouraged cultural dialogue during the Crusades. This analysis underscores that Salahuddin's success was not limited to his military achievements but also included the socio-religious transformations that reinforced political stability and legitimacy. The study highlights the relevance of Salahuddin's strategies in building an inclusive and sustainable Islamic civilization, making his legacy a model for leadership focused on advancing civilization. These findings demonstrate the importance of synergy between religious vision and structural reforms in creating sustainable socio-political stability, offering significant contributions to contemporary Islamic leadership discourse
Ulnar collateral ligament injuries of the thumb- An overview of the injury and treatment
Ketekunan dan semangat juang tinggi kunci kejayaan Raja Salahuddin raih Anugerah Kecemerlangan Akademik MUIP
GAMBANG, 7 November 2025 – Ketekunan dan semangat juang yang tinggi menjadi kunci kejayaan Raja Salahuddin Raja Muda, 25, apabila beliau dinobatkan sebagai penerima Anugerah Kecemerlangan Akademik Majlis Ugama Islam dan Adat Resam Melayu Pahang (MUIP) sempena Majlis Konvokesyen Universiti Malaysia Pahang Al-Sultan Abdullah (UMPSA) Ke-20
ETIKA PERANG SALAHUDDIN AL-AYYUBI DALAM PERANG SALIB 1174-1192 M.
Terdapat beberapa cerita berkenaan dengan kemasyhuran etika/ akklak Salahuddin al-Ayyubi terhadap lawannya, salah satunya adalah kisah rivalitas sehat antara dirinya dengan Raja Richard. Dalam upaya merebut Jerussalem dari tangan kekuasaan Salahuddin, Raja Richard memenangkan pertempuran Asur, namun ketika berusaha untuk melanjutkan penyerangan ke Jerussalem Raja Richard menderita kelelahan yang sangat dan kekuarangan suplai makanan. Salahuddin kemudian dengan sukarela mengirimkan bantuan makanan dan mengirim dokter pribadi untuk memeriksa kesehatan Raja Richard. Kisah rivalitas sehat ini yang kemudian masyhur di kalangan Barat. Penelitian ini berusaha menggali data berkenaan tentang individu Salahuddin dan etika yang ia terapkan selama Perang Salib. Batasan 1174-1192 M. adalah batasan ketika Salahuddin mulai memerintah dan mendirikan Daulah Abbasiyah sampai ketika ia meninggal di tahun 1192 M.. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Pendekatan yang digunakan adalah penedekatan multidimesional yang meliputi pendekatan sejarah, agama dan politik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan dalam pengambilan keputusan oleh Salahuddin selama Perang Salib selalu ia hubungkan dengan pemahaman maupun kepatuhan keagamaannya. Ia berpegang kepada al-Qur’an maupun Hadis serta senantiasa berpegang kepada uswah hasanah Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi jawaban terhadap etika perang yang dianut oleh Salahuddin al-Ayyubi
Kehidupan masyarakat Bima pada masa Kepemimpinan Sultan Muhammad Salahuddin Tahun 1915-1951
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang peranan Sultan Muhammad Salahuddin dalam perkembangan Islam di daerah Bima. Masalah yang diteliti dalam tulisan ini difokuskan pada beberapa hal yaitu: 1) Bagaimana kondisi Bima pra Sultan Muhammad Salahuddin? 2) Bagaimana Usaha-usaha Sultan Muhammad Salahuddin dalam mengembangkan Islam di Bima? 3) Bagaimana tantangan dan peluang yang dihadapi Sultan Muhammad Salahuddin dalam mengembangkan Islam di Bima. Untuk mengkaji permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode sejarah, untuk mengungkapkan fakta sejarah tentang biografi Sultan Muhammad Salahuddin dan peranannya dalam perkembangan Islam di daerah Bima. Untuk menganalisis fakta tersebut peneliti menggunakan pendekatan yang sering digunakan dalam penelitian sejarah, yaitu pendekatan politik, sosiaologi, antropologi, agama dan pendidikan. Penelitian ini menemukan: 1) Muhammad Salahuddin lahir dalam lingkungan istana dan dibesarkan oleh para ulama. Dari didikan ulama inilah sehingga membentuk kepribadian sultan sampai tumbuh dewasa. Muhammad Salahuddin di nobatkan menjadi Sultan setelah kematian saudaranya Abdul Azis dan mendapatkan pelajaran dari ulama di daerah dan luar daerahnya sehingga pada masa kepemimpinanya Islam di Bima mengalami perkembangan. 2) dalam mengembangan Islam di daerah Bima Sultan melakukan pembaharuan sehingga pada masanya Islam di derah Bima mengalami kejayaan. Adapun hal-hal yang dilakukan oleh Sultan adalah membagun lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun non formal, dan masjid-masjid. 3) dalam menunjang kemajuan daerah Bima Sultan membiayai dan memberikan beasiswa kepada remaja yang sekolah di timur tengah dan bagi mereka yang memiliki kemampuan dalam bidang agama
Membincang Pemikiran Salahuddin Al-Adlabi (Analisis Metodologi Kritik Matan Hadis)
Pasca masa Nabi saw sampai dengan memasuki abad sekarang, keadaan hadis sudah sedemikian rupa, yang membuka tabir melihat keberadaannya sebagai otoritas keagamaan. Oleh karena itu, sangatlah beralasan jika era sekarang banyak para pencinta hadis termotivasi mengkaji, mendalami, mengkritisi, membincang pemikiran-pemikiran para pakar hadis. Salahuddin Al-Adlabi mengemukakan faktor mendasar perlunya dilakukan kritik matan hadis yaitu: munculya pemalsuan hadis, dan sesudah Masa Nabi Sepeninggal Rasulullah saw., kedustaan terhadap beliau mengambil bentuk yang lebih berat. Salahuddin al-Adlabi dalam hal ini ada empat kriteria dalam mempraktikkan kritik matan. Pertama, matan yang bersangkutan tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Kedua, tidak bertentangan dengan hadis dan sirah Nabawiyah yang telah diterima secara luas kebenarannya. Ketiga, tidak bertentangan dengan akal, indra, dan sejarah. Dan keempat, mirip degan sabda ke-Nabia
Strategi Salahuddin Al-Ayyubi dalam Mempersatukan Dunia Muslim Di Tengah Tekanan Perang Salib
This research aims to explain the strategies of Salahuddin Al Ayyubi in uniting the Muslim world amidst the pressure of the Crusades. This research uses historical research consisting of heuristics, source criticism, interpretation and historiography. This approach uses religious, political, and social approaches. The results of this research reveal that Salahuddin Al Ayyubi's strategy in uniting Muslims was by uniting Muslim forces which lead to the conquest of cities like Amid, Syria, Aleppo, Acre, Asqalan and various other cities. Additionally, Salahuddin built positive relationships with other Muslim rulers, namely the Abbasid Dynasty, to secure support from the Caliphate. He also suppressed the Shia movement in Egypt, Syria, and Yemen, as it posed a threat to Islamic unity. After unifying Egypt and Sham under his rule, Salahuddin Al-Ayyubi focused his attention on attacking the Christian Europe and successfully defeated the Crusader forces captured the city of Jerusalem in 1187 AD
- …
