197,341 research outputs found

    Safar.

    No full text
    Buku ini mengupas dan menerangkan berbagai hukum dan etika yang mesti menjadi pegangan setiap musafir muslim kapan pun dan di mana pun.iv, 106 hlm.: ilus.; 21 cm

    MAKNA RIHLAH DAN SAFAR DALAM AL-QUR’AN STUDI PENAFSIRAN IBNU KAṠIR DAN M. QURAISH SHIHAB

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research), yang fokus kajiannya tentang penelitian makna yakni dengan kata atau istilah yang berbeda namun memiliki makna hampir sama. Beberapa hal yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui apa makna dari kata rihlah dan safar serta makna yang membedakan dari kedua kata tersebut, mengetahui bagaimana perbedaan kedua makna kata tersebut melalui penafsiran Ibnu Kaṡir dan M. Quraish Shihab serta implementasinya dalam al-Qur‟an. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka yang bersifat deskriptif - analisis komparatif. Pada tahap deskriptif akan dijelaskan dengan detail tentang segala hal yang berkaitan dengan kata rihlah dan safar, terutama tentang pemaknaannya yang dalam hal ini akan diuraikan atau di ambil melalui buku-buku atau kamus-kamus arab seperti; Lisan al-„Arab, kamus al-Munawwir, mu’jam mufradat fi Gharib al-Qur’an, dll. Sedangkan pada tahap analisis komparasi akan diselesaikan dengan cara menyajikan penafsiran dari kedua mufasir yakni Ibnu Kaṡir dan M. Quraish Shihab yang merupakan sumber data primer, kemudian untuk buku-buku, artikel, jurnal, dan sebagainya adalah data sekunder yang digunakan. Dari data-data tersebut kemudian akan ditemukan dan diuraikan sebuah analisis dari penulis. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa dari berbagai bentuk makna baik rihlah maupun safar yang paling sering digunakan dan lebih tepat adalah bepergian atau perjalanan. Untuk penafsirannya ditemukan bahwa pada kata rihlah Ibnu Kaṡir dan M. Quraish Shihab sama-sama memaknai dengan perjalanan secara umum, maksudnya semua perjalanan yang jauh dengan maksud tujuan tertentu. Maka dari itu implementasi kata rihlah lebih pada rihlah ilmiah, kunjungan di tempat-tempat wisata, ziarah di makam-makam wali atau dalam buku perjalanan keliling dunianya Ibnu Bathuthah juga dinamakan rihlah. Dan pada kata safar Ibnu Kaṡir dan M. Quraish Shihab sama-sama memaknai dengan perjalanan yang lebih spesifik yaitu proses gerakan selama dalam perjalanannya menempuh jarak dan masih berkaitan dalam hal-hal yang berakaitan dengan fiqh baik fiqh ibadah maupun muamalah. Maka dari itu implementasi kata safar lebih pada sesuatu yang dialami selama dalam perjalanan seperti; seseorang yang dalam perjalanan mendapatkan keringanan shalat, boleh berbuka ketika puasa, tayammum sebagai pengganti wudhu (karena tidak menemukan air)

    Nilai pendidikan pada prosesi tradisi mandi safar masyarakat banjar di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur

    No full text
    Latar belakang penelitian ini ialah tradisi Mandi Safar merupakan salah satu tradisi yang unik yang ada di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, pada pelaksanaannya sebagian masyarakat sekedar ikut namun tidak memahami makna yang terkandung pada tradisi mandi Safar, oleh karena itu penelitian ini mengetahui dan mendeskripsikan nilai pendidikan yang terkandung pada prosesi tradisi mandi Safar masyarakat Banjar di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana prosesi serta nilai pendidikan pada tradisi mandi Safar masyarakat Banjar di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur. Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah lapangan (field research), dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan Ethnografi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui prosesi serta nilai pendidikan pada tradisi mandi Safar. Adapun subjek penelitian adalah masyarakat Banjar di Kota Sampit, Kotawaringin Timur. Data dalam penelitian ini meliputi (1) Nilai pendidikan religius, (2) Nilai pendidikan moral, (3) Nilai pendidikan sosial. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi mandi Safar dalam pelaksanaannya memiliki proses yaitu: (1) Mempersiapkan daun Sawang, (2) Merajah daun Sawang, (3) Membaca niat mandi, (4) Mandi di sungai Mentaya, (5) Do’a Bersama. Adapun nilai yang terkandung adalah nilai pendidikan religius, moral dan nilai pendidikan sosial. Dalam praktek secara nyata pada pelaksanaannya dari masyarakat Banjar di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur. ABSTRACT The background of this research is that the Mandi Safar tradition is one of the unique traditions that exist in Sampit City, East Kotawaringin Regency, in its implementation some people just participate but do not understand the meaning contained in the Safar bathing tradition, therefore this study knows and describes the value of education. contained in the Safar bathing tradition procession of the Banjar community in Sampit City, Kotawaringin Timur Regency, as for the formulation of the problem in this study is to see how the procession and the value of education in the Safar bathing tradition of the Banjar community in Sampit City, Kotawaringin Timur Regency. This type of research conducted by researchers is field (field research), with a descriptive qualitative method using an ethnographic approach. The purpose of this study is to determine the procession and educational value of the Safar bathing tradition. The research subjects were the Banjar people in Sampit City, East Kotawaringin. The data in this study include (1) the value of religious education, (2) the value of moral education, (3) the value of social education. The data collection techniques used observation, interviews and documentation. The results of this study indicate that the Safar bathing tradition in its implementation has a process, namely: (1) Preparing Sawang leaves, (2) Merajah Sawang leaves, (3) Reading bathing intentions, (4) Bathing in the Mentaya river, (5) Praying Together . The values contained are the values of religious education, moral and social education values. In actual practice, the implementation of the Banjar community in Sampit City, Kotawaringin Timur Regency

    PENGGUNAAN AYAT AL-QUR’AN DALAM TRADISI MANDI SAFAR DI DESA BANGLAS BARAT KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI

    No full text
    Pembahasan ini dilatar belakangi oleh keingintahuan penulis terhadap mandi safar yang telah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Banglas Barat, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai permasalahan tersebut. Penelitian skripsi ini membahas mengenai penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an ketika mandi safar yang menunjukkan pada persepsi sosial masyarakat terhadap Al-Qur’an dalam hal ini masyarakat di Desa Banglas Barat Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Kepulauan Meranti memakai ayat-ayat tertentu di dalam Al-Qur’an yang digunakan ketika mandi safar. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana pengunaan ayat Al-Qur’an pada proses tradisi mandi safar di Desa Banglas Barat, dan bagaimana pemahaman masyarakatnya. Penulis menggunakan metode penelitian lapangan (field research) yang menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan penedekatan fenomenologi. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Selanjutnya peneliti mengelompokkan data yang terkumpul dan di olah melalui tiga tahap yaitu reduksi data, display dan vrifikasi data. Hasil penelitian dalam penulisan ini yaitu 1) Saat prosesi mandi safar, ayat al-qur’an tertentu di tulis yang di beri rajah menggunakan tinta yang mudah terhapus lalu di rendam di sumur atau tempat minum (tempayan) di gunakan untun mandi dan minum. 2) Pemahaman dan keyakinan masyarakat dari penggunaan ayat-ayat tersebut ialah supaya hidup menjadi berkah, keselamatan, diberi kemudahan, sehat jasmani dan rohani

    Analisis pemahaman dan kualitas hadis pada khutbah Jum’at di masjid Shiratal Mustaqim Samarinda pada bulan Safar 1445 h/ 2023 m

    No full text
    Hadis memiliki peranan sentral dalam agama Islam. Berbeda dengan al-Qur’an yang merupakan wahyu yang isi dan sumbernya berasal dari Allah swt serta terjamin kemurniannya, sedangkan hadis merupakan sumber yang harus dilakukan pengecekan validitasnya terlebih dahulu. Maka dari itu analisis kualitas hadis menjadi penting untuk memastikan informasi yang disampaikan (hadis) benar bersumber dari Rasulullāh Saw. Khotbah jumat merupakan salah-satu situasi dimana kerap sekali dibacakan hadis-hadis Rasulullah, salah satunya adalah pelaksanaan khotbah juamat di Masjid Shirathal Mustaqim Samarinda. Dalam khutbah Jumat di Masjid Shirathal Mustaqim Samarinda selama bulan safar 1445/2023, di temukan 9 hadis yang digunakan, akan tetapi tidak dijelaskan kualitas hadisnya. Jenis penelitian ini merupakan penelitian library research yang dikolaborasikan dengan penelitian lapangan. Analisa data diawali dengan metode Takhrīj al-hadis yaitu analisis sanad menggunakan pendekatan M. Syuhudi Ismail. Asapun untuk menganalisis pemahaman Khatib peneliti menggunakan teori tekstual dan kontekstual M. Syuhudi Ismail. Hasil penelitian dari 9 buah hadis pada khutbah jumat di Masjid Shirathal Mustaqim Samarinda selama bulan safar 1445/2023 adalah terdapat (6) hadis yang berkualitas Shahih, diantaranya hadis riwayat Muslim nomor 2586,55, 118, 2948, hadis riwayat al-Tirmidzi nomor 2317, dan hadis riwayat Ahmad nomor 15416. Terdapat (2) Hadis yang berkualitas Dha’if, diantaranya , hadis riwayat al-Timidzi nomor 2417 dan hadis riwayat Ibnu Majah nomor 4036, serta terdapat satu redaksi yang merupakan bukan hadis. Terkait analisis pemahaman dapat disimpulkan bahwa seluruh khatib di Masjid Shirathal Mustaqim Samarinda menjelaskan hadis dengan pendekatan tektual, kecuali pada jumat Jumat 15 Safar/01 September 2023 oleh Ustadz Sofyan, dari tiga hadis yang dibawakan Ustaz Sofyan salah satunya beliau menggunakan pendekatan pemahaman tekstual dan kontekstual pada hadis riwayat al-Tirmiżi nomor hadis 2317

    Study of Atmospheric Forcing and Responses (SAFAR) campaign: overview

    No full text
    Study of Atmospheric Forcing and Responses (SAFAR) is a five year (2009–2014) research programme specifically to address the responses of the earth's atmosphere to both natural and anthropogenic forcings using a host of collocated instruments operational at the National Atmospheric Research Laboratory, Gadanki (13.5° N, 79.2° E), India from a unified viewpoint of studying the vertical coupling between the forcings and responses from surface layer to the ionosphere. As a prelude to the main program a pilot campaign was conducted at Gadanki during May–November 2008 using collocated observations from the MST radar, Rayleigh lidar, GPS balloonsonde, and instruments measuring aerosol, radiation and precipitation, and supporting satellite data. We show the importance of the large radiative heating caused by absorption of solar radiation by soot particles in the lower atmosphere, the observed high vertical winds in the convective updrafts extending up to tropopause, and the difficulty in simulating the same with existing models, the upward traveling waves in the middle atmosphere coupling the lower atmosphere with the upper atmosphere, their manifestation in the mesospheric temperature structure and inversion layers, the mesopause height extending up to 100 km, and the electro-dynamical coupling between mesosphere and the ionosphere which causes irregularities in the ionospheric F-region. The purpose of this communication is not only to share the knowledge that we gained from the SAFAR pilot campaign, but also to inform the international atmospheric science community about the SAFAR program as well as to extend our invitation to join in our journey

    Nilai Pendidikan Pada Prosesi Tradisi Mandi Safar Masyarakat Banjar di Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur

    No full text
    Abstrak: Jenis penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah lapangan (field research), dengan metode kualitatif deskriptif menggunakan pendekatan Ethnografi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui prosesi serta nilai pendidikan pada tradisi mandi Safar. Adapun subjek penelitian adalah masyarakat Banjar di Kota Sampit, Kotawaringin Timur. Data dalam penelitian ini meliputi (1) Nilai pendidikan religius, (2) Nilai pendidikan moral, (3) Nilai pendidikan sosial. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tradisi mandi Safar dalam pelaksanaannya memiliki proses yaitu: (1) Mempersiapkan daun Sawang, (2) Merajah daun Sawang, (3) Membaca niat mandi, (4) Mandi di sungai Mentaya, (5) D

    Visit-to-visit variability: Prognostic significance?

    No full text
    Hypertension is the most prevalent treatable risk factor for stroke. Treatment of hypertension is based on usual blood pressure, which is evaluated by repeated measurement. When only few measurements show high blood pressure, this is considered as a background noise generally due to white coat effect. Rothwell et al. challenged this notion and presented data from post-hoc analyses of three randomized trials and one meta-analysis, where 3 parameters are strongly associated with the risk of stroke: visit-to-visit variability of systolic blood pressure, increased residual variability in treated patients, and episodic hypertension. These findings are not proof of a causal link between variability and vascular risk. However, a new window has been opened in clinical practice, giving new implications in the choice of treatment, and, for next trials, highlighting the importance of including variability and patients with episodic hypertension. © 2012 Elsevier Masson SAS

    Dr. Duane M. Jackson, Morehouse College, July 2011

    No full text
    This video is a conversation with Dr. Duane M. Jackson. Dr. Jackson talks about his paper, "Recall and the Serial Position Effect: The Role of Primacy and Recency on Accounting Students' Performance." Jackie Daniel, AUC Woodruff Library, is the interviewer

    A new technique to measure shear fracture toughness of adhesives using tensile load

    No full text
    The end notched flexure (ENF) test is the most common method for measuring the mode II fracture energy of adhesives which provides reliable results but has some inherent problems. The shear fracture energy calculated using ENF for brittle adhesives is often based on a single data point (corresponding to the fracture load) obtained from the test where the crack grows catastrophically and the results are significantly sensitive to pre-crack tip conditions. The aim of the current study is to introduce a new pure mode II fracture test suitable for measuring the shear fracture energy of adhesives. A new technique for measuring the mode II critical strain energy release rate (SERR) of brittle adhesives is proposed based on the central cut ply (CCP) configuration. Fracture tests were carried out on adhesively bonded steel CCP specimens. It is shown that the crack growth in CCP joints is more stable, and the failure develops in multiple steps that generates more experimental data point during the crack propagation. The mode II fracture energy of a brittle epoxy-based adhesive is extracted using CCP method and is compared with the shear fracture energy obtained from the ENF tests. The effect of adhesive thickness on the obtained fracture energies is also analyzed. The CCP technique can be used to find both the crack initiation and crack propagation toughness values whereas the ENF method only provides the crack initiation fracture energy
    corecore