196,600 research outputs found

    Konsep Sabar Menurut Hamka dan M. Quraish Shihab: Analisis Tasawuf

    No full text
    Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti mengalami kesulitan. Berbagai macam ujian yang dihadapi, salah satunya adalah musibah. Cara untuk menyikapinya yaitu dengan bersabar. Penulis memilih topik tentang sabar karena rasa ingin tahu tentang kurang tepatnya pemahaman masyarakat muslim Indonesia tentang sabar yang hakiki. Penulis sering menemukan pengertian sabar yang diidentikkan dengan bertahan hidup dalam kemiskinan dan kemalangan atau terpaksa menerima musibah. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui konsep sabar menurut tafsir Hamka dan M. Quraish Shihab dan menganalisis sabar Hamka dan M. Quraish Shihab dalam analisis tasawuf. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan library research atau penelitian kepustakaan. Metode yang digunakan ialah metode analisis deskriptif yang menguraikan konsep pemikiran sang tokoh yaitu Hamka dan M. Quraish Shihab yang di peroleh dari data primer. Sumber data primer yang di peroleh menjadi bahan utama dalam penelitian ini berupa buku Yang Hilang dari Kita: Akhlak karya M. Quraish Shihab dan Tafsir Al-Azhar Juz 1 karya Hamka. Adapun sumber data sekunder sebagai data pelengkapnya berupa buku, artikel, dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah koleksi data, yaitu mengumpulkan data yang terkait dengan masalah yang di teliti. Data-data yang di peroleh kemudian di analisis agar mudah di pahami Hamka selalu menyebutkan kata sabar dengan diikuti kata tabah, tahan hati dan teguh. Sikap sabar adalah kunci ketika sedang dihadapkan dengan suatu ujian. Ketika sabar telah ada pada jiwa seseorang maka mereka tidak akan merasa takut dalam menghadapi musibah karena ada Allah yang selalu membantunya. Adapun konsep sabar yang diuraikan oleh M. Quraish Shihab adalah bila seseorang ditimpa musibah, dia akan menerima dengan sabar pada musibah yang terjadi itu agar semuanya bisa diterimanya, dengan berharap sesuatu yang lebih baik di kemudian hari

    Inhibitory and excitatory neurotransmission in the rat cerebellum

    No full text
    Extracellular recordings were made from Purkinje cells of the rat cerebellum in vitro and in vivo. Gamma-aminobutyric acid (GABA) and related amino acids were applied to the in vitro preparation by superfusion. GABA, muscimol, taurine, β-alanine and &delta;-aminolaevulinic acid had inhibitory actions on cell activity. Their potencies in terms of EC50 values (concentration to inhibit cell firing by 50%) were 0.29 ± 0.5mM, 0.22 ± 0.01&mu;M, 0.69 ± 0.07mM, 0.66 ± 0.12mM and 1.03 ± 0.13mM respectively. Studies with the antagonists bicuculline methiodide (BMI), picrotoxin and pitrazepin indicated that the inhibitory effects of these drugs were by an action at the GABAA receptor site. Submaximal inhibitory responses to ionophoresed GABA (0.1M, 50nA) were potentiated by the RU32007 and flurazepam when applied by ionophoresis (0.1M, 50nA). This enhancement was blocked by the antagonist Ro15-1788 (10&mu;M) applied by superfusion. Pressure application of L-glutamate and L-aspartate showed these compounds to have potent excitatory actions on Purkinje cell activity. Kainate and quisqualate produced pure excitatory actions which were antagonised by CNQX (10&mu;M) applied by superfusion. NMDA was found to exert either a pure inhibitory action or a biphasic action of excitation followed by inhibition. Both actions could be blocked by (-)APV (10&mu;M) applied by superfusion. The inhibitory actions of NMDA could also be blocked by BMI (1&mu;M), indicating the involvement of GABA receptor in mediating this response. An endogenous inhibitory and excitatory mechanism was also demonstrated in the slice preparation by stimulation of the white matter (0.1-1.0mA, 0.1-1.0ms). Construction of post-stimulus time histograms revealed a short latency excitation followed by a period of inhibition of cell activity. The stimulus evoked inhibition was blocked by the BMI (1&mu;M) and picrotoxin (10&mu;M). The inhibitory period was also blocked by (-)APV (10&mu;M), indicating the involvement of NMDA receptors in mediating the inhibition evoked by stimulation. Theexcitation was antagonised CNQX (10&mu;M),indicating that the endogenous excitatory neurotransmitter, mediating the stimulus evoked excitation, works mainly through kainate/quisqualate receptors. The basal firing rate of Purkinje cells in vitro was not significantly affected by the benzodiazepine receptor agonists (RU32007 and Ro19-0528), antagonist (Ro15-1788) or inverse agonists (DMCM, β-CCE, Ro15-3505, Ro15-4513 and Ro19-4603) at 10&mu;M. At these concentrations a bi-directional modulation of the stimulus evoked inhibition of cell activity was demonstrated. The agonists enhanced the inhibitory period and the inverse agonists reduced the period of inhibition. Both effects were reversed by Ro15-1788 (10&mu;M). In vitro, the agonist RU32007 (1-4mg/Kg i.v.) was found to significantly reduce Purkinje cell firing whereas the inverse agonists DMCM, β-CCE, β-CCM and Ro15-4513 (1-5mg/kg i.v.) were found to increase cell firing in most cells studied. In addition, these ligands also had an effect on the period of inhibition caused by stimulation of the cerebellar cortex. The agonist RU32007 increased the period of inhibition and the inverse agonists decreased the period of inhibition. In most cases however, these changes were no more then would be expected as a result of increase or decrease in the firing rate, since it was shown that there was an exponential relationship between the firing rate and the period of inhibition. These changes in firing rate and period of inhibition are thought to be mediated by an action of benzodiazepines outside the cerebellum. Firing rate independent changes in the period of inhibition were observed in three experiments. These changes in inhibition are thought to be due to direct modulation of a GABAergic mechanism within the cerebellum.</p

    KONSEP SABAR DALAM AL-QUR’AN

    No full text
    Penelitian ini berjudul: “Hakikat Sabar dalam Al-Quran”, mencoba mengangkat studi komparatif penafsiran Prof. HAMKA di dalam Tafsir Al-Azhar dan Prof. M. Quraish Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah. Penulis memilih topik tersebut didorong oleh rasa ingin tahu tentang kurang tepatnya pemahaman masyarakat muslim Indonesia tentang sabar yang hakiki. Dalam banyak kesempatan, penulis sering menemukan pengertian sabar yang diidentikkan dengan “bertahan hidup dalam kemiskinan dan kemalangan”, atau “terpaksa” menerima musibah”. Dalam konteks ini, sabar dimasukkan ke dalam wilayah yang “pasif” atau “terpaksa”. Akan tetapi, ketika penulis mencermati beberapa ayat tentang sabar, antara lain perintah Allah Swt untuk meminta pertolongan dengan sabar dan shalat (QS al-Baqarah: 45), penulis berpendapat bahwa ayat tersebut dan ayat-ayat sabar yang lain, semestinya dipahami dengan kerangka “sabar yang aktif dan produktif”. Hasil penelitian tesis ini menunjukkan bahwa sabar ialah suatu karakter atau perangai budi yang sangat utama dimiliki oleh setiap muslim untuk mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai muslim yang unggul. Sabar semestinya dimiliki oleh setiap muslim ketika mendapatkan nikmat maupun ujian, dalam keadaan lapang maupun sempit, senang atau susah. Baik Prof. Hamka dan Prof. Dr. M. Quraish Shihab memandang hakikat sabar adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi agar mampu bertahan dalam kebaikan dan keburukan. Sabar menurut HAMKA adalah suatu sikap dari jiwa yang besar dan terlatih, yang akan diperoleh dengan jalan mengendalikan diri, tabah dalam menghadapi segala ujian, dengan disertai bersyukur kepada Allah dan memegang teguh ketakwaan, sedangkan menurut M. Quraish Shihab adalah keberhasilan menahan gejolak hati demi maencapai sesuatu yang baik dengan jalan mensucikan Tuhan

    Konsep sabar menurut M. Quraish Shihab dan hubungannya dengan kesehatan mental

    No full text
    Permasalahan skripsi ini adalah bagaimana pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar? Bagaimana relevansi pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar dengan kesehatan mental? Dalam pengumpulan data melalui riset kepustakaan (library research). Sumber datanya yaitu pemikiran M. Quraish Shihab tentang sabar yang menjadi obyek pembahasan tersebut dalam buku (1) Secercah Cahaya Ilahi; dan (2) Menjemput Maut Bekal Perjalanan Menuju Allah SWT. Data sekundernya yaitu sejumlah literatur yang relevan dengan judul ini. metode analisis data menggunakan metode deduktif dan interpretasi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa menurut M. Quraish Shihab seseorang yang ditimpa malapetaka, bila mengikuti kehendak nafsunya, akan meronta, menggerutu dalam berbagai bentuk dan terhadap berbagai pihak: terhadap Tuhan, manusia, atau lingkungannya. Akan tetapi, bila dia menahan diri, dia akan menerima dengan penuh kerelaan malapetaka yang terjadi itu, mungkin, sambil menghibur hatinya dengan berkata, "Malapetaka tersebut dapat terjadi melebihi yang telah terjadi" atau, "Pasti ada hikmah di balik yang telah terjadi itu," dan lain sebagainya, sehingga semuanya itu diterimanya sambil mengharapkan sesuatu yang lebih baik di kemudian hari. Di sini sabar diartikan sebagai "menerima dengan penuh kerelaan ketetapan-ketetapan Tuhan yang tidak terelakkan lagi". Kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Berdasar kesimpulan tersebut, para agamawan merumuskan pengertian sabar sebagai "menahan diri atau membatasi jiwa dari keinginannya demi mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik (luhur)". Konsep M. Quraish Shihab yang menyuruh manusia untuk sabar sangat relevan dengan kesehatan mental karena dengan sabar maka dapat membentuk manusia yang bermental sehat. Al-Quran mengajak kaum muslimin agar berhias diri dengan kesabaran. Sebab, kesabaran mempunyai faedah yang besar dalam membina jiwa, memantapkan kepribadian, meningkatkan kekuatan manusia dalam menahan penderitaan, memperbaharui kekuatan manusia dalam menghadapi berbagai problem hidup, beban hidup, musibah, dan bencana, serta menggerakkan kesanggupannya untuk terus-menerus berjihad dalam rangka meninggikan kalimah Allah SWT. Apabila seseorang bersabar dalam memikul kesulitan dan musibah hidup, bersabar dalam gangguan dan permusuhan orang lain, bersabar dalam beribadah, dan taat kepada Allah SWT, maka mentalnya akan sehat. Sabar dalam melawan syahwat, bersabar dalam bekerja dan berkarya, ia tergolong orang yang memiliki kepribadian yang matang, seimbang, paripurna, kreatif, dan aktif. Selain itu, ia juga menjadi orang yang terlindung dari kegelisahan dan aman dari gangguan-gangguan kejiwaan

    fikrah Dr.Salam: Sabar hadapi dugaan

    No full text
    Soal jawab 1 - Sabar hadapi dugaan 2 - Kakak jadi ibu mertua 3 - Artis yang baik boleh dicontohi 4 - Suami tertekan masalah bati

    REPRESENTASI SABAR DALAM FILM PRETTY BOYS (ANALISIfS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES)

    No full text
    Penelitian ini menganalisis representasi sabar dalam film Pretty Boys dengan analisis semiotika Roland Barthes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan indikator-indikator sabar dari setiap tanda atau simbol yang menandakan sikap sabar pada tokoh utama di film Pretty Boys. Dimana sabar merupakan salah satu nilai-nilai Islam yang penting untuk ditampilkan dan dipahami oleh masyarakat melalui media film karena dalam perjalanan hidup manusia tidak selamanya dalam keadaan senang ataupun sukses namun bisa juga berada dalam posisi susah dan gagal kapan saja. karena itulah Allah memerintahkan kepada manusia agar selalu sabar dalam mengahadapi cobaan-cobaan yang diberikan. Penelitian ini menggunakan metode analisis semiotik Roland Barthes dengan jenis penelitian kualitatif. Fokus dari penelitian ini adalah sikap sabar yang diperankan oleh tokoh utama dalam film Pretty Boys. Teknik pengumpulan datanya adalah dengan teknik dokumentasi yang sumber primernya telah didownload yaitu film Pretty Boys. Hasil dari penelitian ini adalah pada film Pretty Boys terdapat enam indikator sabar yang ditampilkan oleh tokoh utama yaitu 1) sikap sabar dalam aspek ulet, 2) sikap sabar dalam aspek tekun, 3) sikap sabar dalam aspek aktif 4) sikap sabar dalam aspek progresif, 5) sikap sabar dalam aspek optimis, dan 6) sikap sabar dalam aspek kreatif

    PENAFSIRAN SABAR DALAM TAFSIR FAID AL-RAHMA><N FI< TARJAMAH KALA<M MALIK AL-DAYYA<N KARYA MUHAMMAD SHA>LIH BIN UMAR AL-SAMARANI

    No full text
    ABSTRAK Skripsi dengan judul ” Sabar dalam Perspektif Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani dalam tafsir Faid} al-Rah}ma>n fi> Tarjamah Kala>m Malik al-Dayya>n ini ditulis oleh Hani Rifa’ah, NIM 2831133013, Pembimbing Dr. Abad Badruzzaman, Lc, M. Ag dan Dr. Zainal Abidin, M. Ag. Kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari cobaan dan rintangan. Dalam menjalani cobaan tersebut, manusia sangatlah beragam dalam merespon datangnya cobaan. Banyak dari mereka yang menganggap bahwa solusi menghadapinya adalah dengan sabar. Akan tetapi, banyak juga yang belum dapat memahami makna dari sabar tersebut hanya sabar yang bersifat imitatif. Penelitian ini dilatar belakangi oleh ketertarikan penulis dengan tafsir ini khususnya dengan hal ibadah. Dalam tafsir ini termuat penafsiran yang menyinggung fiqh dan tasawuf. Dengan backround ini muncullah inisiatif pembuatan tafsir yang dikemas dengan penjelasan yang mudah dipahami menggunakan tulisan pegon yang menjadi trend di kalangan pesantren saat itu. Penulis mengambil tema sabar mengingat pada saat ini orang menginginkan sesuatu dengan cara yang cepat dan salah memahami tentang sabar. Kajian ini menarik memandang pemikiran Shalih Darat lebih cenderung pada fikih dan tasawuf yang diaktualisasikan dalam zaman ini. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana pandangan umum tentang sabar menurut al-Qur’an? (2) Bagaimana penafsiran ayat-ayat sabar menurut Shalih Darat dalam tafsir Faid} al-Rah}ma>n fi> Tarjamah Kala>m Malik al-Dayya>n?. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini: (1) untuk mengetahui pandangan al-Qur’an membicarakan mengenai sabar, (2) untuk mengetahui bagaimana penafsiran Shalih Darat mengenai ayat-ayat sabar. Kajian ini menggunakan penelitian library Research (kepustakaan) yang sasarannya adalah penafsiran Shalih Darat terkait ayat-ayat sabar. Sedangkan sumber datanya bersumber dari dua data: primer dan sekunder. Sumber primernya adalah tafsir Faid} al-Rah}ma>n fi> Tarjamah Kala>m Malik al-Dayya>n, dan sumber sekundernya adalah buku, kitab, jurnal yang terkait dengan masalah sabar. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konsep sabar dalam kitab tafsir Faid} al-Rah}ma>n fi> Tarjamah Kala>m Malik al-Dayya>n yaitu: (1) Yang dinamakan sabar ialah bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi cobaan yang diberikan Allah kepada hambanya serta berusaha untuk mencari jalan keluar, (2) Sabar menurut pemikiran Shalih Darat, dapat disimpulkan sebagai upaya atau realisasi menahan nafsu untuk menampakkannya. Sabar bisa dilaksanakan jika adanya usaha dari komponen dhahir dan batin seseorang dengan menggabungkan antara iman, islam dan ihsan untuk mencapai keimanan yang sempurna menjadi seseorang yang ah}san al-Taqwi>

    Hikmah dan sabar dalam Tafsir al-Mishbah menurut M. Quraish Shihab dan relevansinya terhadap kesehatan mental

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi dengan fenomena yang berkembang di zaman modern ini, Dimana semakin berkembangnya zaman masalah yang dihadapi juga semakin bertambah. Hal ini menjadikan manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan permasalahan yang semakin kompleks, Sebagian bertahan tapi juga Sebagian tidak. Kebanyakan yang tidak bertahan akan mengalami gangguan kesehatan. Maka bagaimana makna sebenarnya dari hikmah dan sabar ini, lalu bagaimana hubungan keduanya terhadap Kesehatan mental. Berdasarkan itu penelitian ini di fokuskan untuk mencari dan menganalisis ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung redaksi lafadz hikmah dan sabar dengan mengambil penafsiran M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah. Kemudian hasilnya digunakan untuk membaca konsep kesehatan mental yang menjadi kebutuhan umat manusia di zaman modern ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, juga tergolong dalam penelitian Pustaka (library research). Adapun pendekatan yang digunakan melalui pendekatan analisis tokoh dan analisis kebahasaan. Hasil penelitian ini adalah 1.Konsep hikmah dan sabar dalam al-Qur’an menurut perspektif M. Quraish Shihab pada Tafsir al-Misbah mengacu pada berbagai cangkupan makna yang dikandungnya. Meskipun kedua lafadz tersebut terulang beberapa kali di dalam ayat-ayat al-Qur’an, namun pada dasarnya pemaknaan yang terkandung di dalamnya mengacu pada bentuk-bentuk tertentu yang konsisten. Konsep hikmah yang diwujudkan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah melingkupi hikmah sebagai bentuk dari sunnah untuk mensucikan jiwa, wujud pengetahuan dan aktivitas berfikir ilmiah, manifestasi penguat sosial, dan kontrol kekuasaan. Sedangkan konsep sabar yang diwujudkan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mencangkup ketabahan dalam menghadapi musibah, dalam rangka untuk mencapai ketaatan dalam beribadah kepada Allah Swt, dalam menghadapi gangguan dan cobaan dari manusia, dan dalam menghadapi kefakiran dan kesulitan di dunia. 2. Sedangkan relevansi konsep hikmah dan sabar dalam al-Qur’an menurut perspektif M. Quraish Shihab pada Tafsir al-Misbah bisa dilihat dari dua konteks; ruang lingkup kesehatan mental dan pendekatan kecerdasan (quotient) dalam kesehatan mental. Jika dihubungkan dengan ruang lingkup kesehatan mental, maka konsep hikmah dan sabar dalam al-Qur’an relevan dalam penerapannya pada ruang keluarga, sekolah/pendidikan, lingkungan kerja dan politik, serta ruang keagamaan. Sedangkan jika dihubungkan melalui pendekatan kecerdasan (quotient) dalam kesehatan mental, maka konsep hikmah relevan dengan bentuk kecerdasan intelektuan (IQ) dan kecerdasan sosial (SQ). Adapun konsep sabar dalam al-Qur’an relevan dengan bentuk kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan transendental (TQ). ABSTRACT: This research is motivated by the phenomenon observed in the modern era, where problems continue to grow alongside technological advancements. As humans face increasingly complex challenges, some adapt and persevere, while others struggle. Those who cannot endure often experience mental health issues. The saying “patience has its wisdom” serves as a backdrop for this study, highlighting the magical qualities of patience and wisdom. But what do these concepts truly mean, and how do they relate to mental health? The research focuses on analyzing verses from the Qur’an containing the terms “hikmah” (wisdom) and “sabar” (patience), interpreted through M. Quraish Shihab’s Tafsir Al-Misbah. The findings are then used to explore the concept of mental health, a crucial need in our modern society. This study use kualitatif methode, this study also use library research, combining character analysis and linguistic analysis. The key findings are as follows: Concept of Hikmah and Sabar in the Qur’an: According to M. Quraish Shihab’s perspective in Tafsir Al-Misbah, both “hikmah” and “sabar” encompass various meanings. Hikmah (Wisdom): Represents the sunnah (tradition) for purifying the soul, acquiring knowledge, engaging in scientific thinking, strengthening social bonds, and exercising control over power. Sabar (Patience): Encompasses endurance in the face of adversity, obedience in worship to Allah, resilience against human disturbances and trials, and coping with poverty and life’s difficulties. The relevance of the concepts of wisdom (hikmah) and patience (sabar) in the Qur’an, according to M. Quraish Shihab's perspective in Tafsir al-Misbah, can be seen from two contexts: the scope of mental health and the approach of quotient in mental health. When connected to the scope of mental health, the concepts of wisdom and patience in the Qur’an are relevant in their application to the family, educational settings, work environment and politics, as well as religious settings. Meanwhile, when connected through the quotient approach in mental health, the concept of wisdom is relevant to forms of intellectual intelligence (IQ) and social intelligence (SQ). As for the concept of patience in the Qur’an, it is relevant to forms of emotional intelligence (EQ) and transcendental intelligence (TQ)

    STUDI KOMPARATIF KONSEP SABAR DALAM ISLAM DAN ETIKA SENECA

    No full text
    Sabar merupakan sikap terhadap berbagai kesulitan yang menimpa seseorang. Ajaran semacam ini bisa kita temukan di berbagai tempat entah dalam agama, adat dan kepercayaan masyarakat, bahkan dunia psikologi, khususnya pada penelitian ini sabar sebagai ajaran moral dalam Islam. Konsep sabar dalam dunia Islam dipahami sebagai ibadah, tanda ketaatan, dan bukti kepercayaan seseorang terhadap Tuhan, sehingga kerapkali melupakan aspek rasional moral di dalamnya, berbeda dengan etika yang lebih menekankan aspek tersebut. Penelitian ini mencoba untuk mengkomparasikan konsep sabar sebagai ajaran moral dalam Islam dan etika. Tepatnya etika Seneca yang berpusat pada penggunaan akal pikiran dan juga pengendalian diri. Oleh karena itu pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah seperti apa tepatnya konsep etika Seneca? Serta seperti apa konsep sabar dalam Islam, persamaannya serta perbedaanya dengan etika Seneca? Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif atau library research yang menggunakan literatur agama Islam seperti Al-Qur’an, hadis, dan buku-buku karya Seneca sebagai sumber primer, serta buku-buku lain dan artikel dalam jurnal yang berkaitan dengan pembahasan ini sebagai data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep sabar sebagai ajaran moral dalam Islam memiliki aspek rasional moral yang sejalan dengan pandangan etika Seneca. Keduanya merupakan sikap terhadap hal-hal sulit yang berada di luar kendali manusia. Sabar dalam Islam dan etika Seneca sama-sama memiliki kepercayaan pada sosok penguasa yang menciptakan dan memberikan ketentuan-ketentuan untuk hidup manusia. Keduanya memiliki tujuan untuk memudahkan hidup seseorang terlepas dari perbedaan posisi sabar sebagai konsep yang bersifat teologis dan etika Seneca yang menitikberatkan aspek etis

    Hubungan sikap sabar dengan makna hidup : Studi kasus pada family caregiver pasien hemodialisa di RSAU dr. M. Salamun

    No full text
    Pasien yang terkena penyakit ginjal memiliki keterbatasan anggota gerak, sehingga memerlukan caregiver untuk mengurusi semua keperluan. Banyaknya kebutuhan pasien yang harus dipenuhi menyebabkan munculnya beban caregiver yang berat, terutama dalam beban psikologis. Besarnya beban yang dipikul oleh caregiver ini perlu diredakan dengan sikap sabar dalam menemukan penghayatan dan makna hidup. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan hubungan antara sikap sabar dan makna hidup pada family caregiver pasien hemodialisa di RSAU dr. M. Salamun, sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner atau angket yang disebarkan kepada family caregiver pasien hemodialisa di RSAU dr. M. Salamun. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 47 orang family caregiver. Berdasarkan hasil uji deskriptif, 62% family caregiver berada pada klasifikasi sikap sabar yang baik dan 38% berada pada klasifikasi sikap sabar yang sangat baik. Dan 98% family caregiver memiliki makna hidup yang baik, 2% memiliki makna hidup yang sangat baik. Adapun hasil dari uji hipotesis yang telah dilakukan mendapatkan nilai korelasi sebesar 0,000 < 0,05, dari perhitungan tersebut, hipotesis H0 ditolak dan H1 diterima maka terdapat hubungan antara sikap sabar dengan makna hidup. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,815 menunjukkan hubungan yang kuat artinya terdapat hubungan yang kuat antara dua variable; yang diteliti, dan hasil koefisien korelasi yang positif menunjukkan hubungan yang positif artinya Ketika salah satu variabel meningkat, variabel lainnya juga cenderung meningkat dalam penelitian ini. Hasil tersebut menunjukan bahwa mayoritas family caregiver mampu menghadapi tekanan dan tantangan dengan cara yang baik dan efektif. Kesadaran caregiver akan pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup dan upaya untuk menemukan makna hidup melalui sikap sabar membuat caregiver tetap tenang dan tabah dalam menghadapi berbagai cobaan. Untuk meningkatkan dan mempertahankan hal tersebut caregiver perlu diberikan dukungan baik berupa materi edukasi atau program pelatihan yang fokus pada pengembangan sikap sabar
    corecore