1,721,487 research outputs found
Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil
"Man wijf!" begitu Sutan Sjahrir kepada Sukarno karena tak bernyali memproklamasikan kemerdekaan Indonesia segera setelah berita kekalahan Jepang beredar. Sjahrir ialah salah seorang yang paling keras mendesak Sukarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945.
Sjahrir termasuk Bapak Bangsa yang radikal, namun tidak suka melawan musuh dengan kekerasan. Sjahrir percaya pada perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Prinsip ini lah yang membuat Sjahrir berseberangan dengan Tan Malaka dan Jenderal Soedirman. Kendati demikian, kemasyhurannya terpateri dalam nama Sjahrirstraat di Leiden, Netherlands.
Masih banyak laporan menarik Majalah Berita Mingguan TEMPO yang mengisi buku tentang perjuangan, sampai kematian tragis salah satu Bapak Bangsa Indonesia in
Strategi Politik Sutan Sjahrir 1927-1947
Sjahrir adalah salah satu fenomena sejarah revolusi nasional Indonesia yang masih banyak diperdebatkan. Sebagian menganggap bahwa Sjahrir adalah tokoh yang mampu menyelamatkan bayi republik melalui jalan diplomasi. Sebagian lagi menganggap Sjahrir dengan dibantu oleh Hatta telah menyelewengkan UUD 1945, dan berupaya untuk menyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan. Selain itu Sjahrir juga dianggap arsitek yang membatasi kekuasaan Soekarno dan menentang kebijakan Soekarno untuk membuat partai tunggal, dia mencetuskan sistem multi partai dan memperbesar kewenangan parlemen. Ideologi Sosialis Demokrat yang didapat Sjahrir ketika menempuh pendidikan di Belanda mempengaruhinya dalam strategi politik dan kebijakan yang dikeluarkannya selama menjabat sebagai Perdana Menteri. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah latar belakang sosial - politik Sjahrir. (2) Bagaimanakah posisi Sjahrir pada masa penjajahan Belanda. (3) Bagaimanakah posisi Sjahrir pada masa pendudukan Jepang sampai masa Proklamasi. (4) Bagaimanakah kebijakan politik Sjahrir setelah Proklamasi. (5)Bagaimanakah kejatuhan Sjahrir dari puncak perpolitikan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui latar belakang sosial politik Sjahrir. (2) Untuk mengetahui posisi Sjahrir pada masa penjajahan Belanda. (3) Untuk mengetahui posisi Sjahrir pada masa pendudukan Jepang sampai masa Proklamasi. (4) Untuk mengetahui kebijakan politik Sjahrir setelah Proklamasi. (5) Untuk mengetahui kejatuhan Sjahrir dari puncak perpolitikan Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian historis dengan pendekatan politik. Adapun langkah-langkah dari penelitian ini meliputi Heuristik, kritik, interpretasi dan historigrafi. Sumber data dalam penelitian mengenai strategi politik Sutan Sjahrir 1927-1947 adalah sumber tertulis berupa data-data Arsip, Koran yang diterbitkan pada pada kurun waktu 1945-1947 , buku-buku karangan Sjahrir sebagai sumber primer. Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku dan tulisan yang relevan dengan permasalahan di atas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Latar belakang sosial-politik Sjahrir berpengaruh dalam menjalankan strategi politiknya, terutama pengalamannya ketika belajar di Belanda. (2) Strategi politik Sjahrir pada masa penjajahan Belanda bersifat non-kooperatif, yang mengakibatkan dia dibuang ke Digul dan kemudian dipindah ke Banda Neira. (3) Strategi Sjahrir pada masa pendudukan Jepang masih bersifat non-kooperatif yang ditandai dengan memimpin gerakan bawah tanah untuk melawan bahaya fasis. (4) Strategi Sjahrir berubah pada masa pasca proklamasi, dia memilih untuk berunding dengan Belanda. Strategi politik Sjahrir cukup sukses, terbukti dia mampu manjabat sebagai Perdana Menteri tiga kali berturut-turut. Kesuksesan Sjahrir juga tidak terlepas dari peluang-peluang politik yang timbul saat itu. Kebijakan politik yang dikeluarkan oleh Sjahrir selama menjadi Perdana Menteri sebagian besar sesuai dengan garis ideologinya yaitu Sosialis Demokrat, dia memilih jalur untuk diplomasi dari pada perang fisik melawan Belanda. Kebijakan Sjahrir ini mendapatkan tantangan dari banyak pihak, terutama mereka yang tidak se-aliran dengan Sjahrir. (5) Kabinet Sjahrir I jatuh karena oposisi dari Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Tan Malaka yang menginginkan kemerdekaan 100%. Kabinet Sjahrir II jatuh karena diculiknya Sjahrir oleh pihak oposisi. Kabinet Sjahrir III jatuh karena mosi tidak percaya dari pihak oposisi dan para pendukungnya terutama Sayap Kiri, yang berakibat memudarnya dukungan pada Sjahrir. Sutan Sjahrir yang tidak lagi menjabat sebagai Perdana Menteri kemudian tersingkir dari arus utama perpolitikan Indonesia saat it
Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil
"Man wijf!" begitu Sutan Sjahrir kepada Sukarno karena tak bernyali memproklamasikan kemerdekaan Indonesia segera setelah berita kekalahan Jepang beredar. Sjahrir ialah salah seorang yang paling keras mendesak Sukarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945. Sjahrir termasuk Bapak Bangsa yang radikal, namun tidak suka melawan musuh dengan kekerasan. Sjahrir percaya pada perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Prinsip ini lah yang membuat Sjahrir berseberangan dengan Tan Malaka dan Jenderal Soedirman. Kendati demikian, kemasyhurannya terpateri dalam nama Sjahrirstraat di Leiden, Netherlands. Masih banyak laporan menarik Majalah Berita Mingguan TEMPO yang mengisi buku tentang perjuangan, sampai kematian tragis salah satu Bapak Bangsa Indonesia ini.xx+222hlm.;16x23c
Sjahrir : Peran Besar Bung Kecil
Mendesak Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan, Sutan Sjahrir justru absen dari peristiwa besar itu. Dia memilih jalan elegan untuk menghalau penjajah: jalur diplomasi cara yang ditentang tokoh lain yang lebih radikal. Ideologinya, antifasis dan antimiliter, dikritik hanya untuk kaum terdidik. Ia dituduh elitis.Sejatinya, Sjahrir juga turun ke gubuk-gubuk, berkeliling Tanah Air menghimpun kader Partai Sosialis Indonesia. Sejarah telah menyingkirkan peran besar Bung Kecil begitu Sjahrir biasa disebut. Meninggal dalam pengasingan, Sjahrir adalah revolusioner yang gugur dalam kesepian.xx+222hlm.;16x23c
Strategi Politik Sutan Sjahrir 1927-1947
ABSTRAKKirom, Bustanul. 2007. Strategi Politik Sutan Sjahrir 1927-1947. Skripsi,Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Sastra UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hariyono M.Pd.(II) Najib Jauhari S.Pd, M.Hum.Kata-kunci: Strategi, Politik, Sutan Sjahrir, 1927-1947.Sjahrir adalah salah satu fenomena sejarah revolusi nasional Indonesia yang masihbanyak diperdebatkan. Sebagian menganggap bahwa Sjahrir adalah tokoh yang mampumenyelamatkan bayi republik melalui jalan diplomasi. Sebagian lagi menganggap Sjahrirdengan dibantu oleh Hatta telah menyelewengkan UUD 1945, dan berupaya untukmenyingkirkan Soekarno dari kursi kepresidenan. Selain itu Sjahrir juga dianggap arsitekyang membatasi kekuasaan Soekarno dan menentang kebijakan Soekarno untuk membuatpartai tunggal, dia mencetuskan sistem multi partai dan memperbesar kewenanganparlemen. Ideologi Sosialis Demokrat yang didapat Sjahrir ketika menempuh pendidikandi Belanda mempengaruhinya dalam strategi politik dan kebijakan yang dikeluarkannyaselama menjabat sebagai PerdanaMenteri.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah latar belakangsosial - politik Sjahrir. (2) Bagaimanakah posisi Sjahrir pada masa penjajahan Belanda. (3)Bagaimanakah posisi Sjahrir pada masa pendudukan Jepang sampai masa Proklamasi. (4)Bagaimanakah kebijakan politik Sjahrir setelah Proklamasi. (5)Bagaimanakah kejatuhanSjahrir dari puncak perpolitikan Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untukmengetahui latar belakang sosial politik Sjahrir. (2) Untuk mengetahui posisi Sjahrir padamasa penjajahan Belanda. (3) Untuk mengetahui posisi Sjahrir pada masa pendudukanJepang sampai masa Proklamasi. (4) Untuk mengetahui kebijakan politik Sjahrir setelahProklamasi. (5) Untuk mengetahui kejatuhan Sjahrir dari puncak perpolitikan Indonesia.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian historis denganpendekatan politik.Adapun langkah-langkah dari penelitian ini meliputi Heuristik, kritik,interpretasi dan historigrafi. Sumber data dalam penelitian mengenai strategi politikSutan Sjahrir 1927-1947 adalah sumber tertulis berupa data-dataArsip, Koran yangditerbitkan pada pada kurun waktu 1945-1947 , buku-buku karangan Sjahrir sebagaisumber primer. Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah buku-buku dan tulisan yangrelevan dengan permasalahan di atas.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : (1) Latar belakang sosial-politik Sjahrirberpengaruh dalam menjalankan strategi politiknya, terutama pengalamannya ketikabelajar di Belanda. (2) Strategi politik Sjahrir pada masa penjajahan Belanda bersifat nonkooperatif,yang mengakibatkan dia dibuang ke Digul dan kemudian dipindah ke BandaNeira. (3) Strategi Sjahrir pada masa pendudukan Jepang masih bersifat non-kooperatifyang ditandai dengan memimpin gerakan bawah tanah untuk melawan bahaya fasis. (4)Strategi Sjahrir berubah pada masa pasca proklamasi, dia memilih untuk berundingdengan Belanda. Strategi politik Sjahrir cukup sukses, terbukti dia mampu manjabatsebagai PerdanaMenteri tiga kali berturut-turut. Kesuksesan Sjahrir juga tidakterlepas dari peluang-peluang politik yang timbul saat itu. Kebijakan politik yangdikeluarkan oleh Sjahrir selama menjadi PerdanaMenteri sebagian besar sesuai dengangaris ideologinya yaitu Sosialis Demokrat, dia memilih jalur untuk diplomasi dari padaperang fisik melawan Belanda. Kebijakan Sjahrir ini mendapatkan tantangan dari banyakpihak, terutama mereka yang tidak se-aliran dengan Sjahrir. (5) Kabinet Sjahrir I jatuhkarena oposisi dari Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh TanMalaka yangmenginginkan kemerdekaan 100%. Kabinet Sjahrir II jatuh karena diculiknya Sjahrir olehpihak oposisi. Kabinet Sjahrir III jatuh karena mosi tidak percaya dari pihak oposisi danpara pendukungnya terutama Sayap Kiri, yang berakibat memudarnya dukungan padaSjahrir. Sutan Sjahrir yang tidak lagi menjabat sebagai PerdanaMenteri kemudiantersingkir dari arus utama perpolitikan Indonesia saat itu
DINAMIKA POLITIK PEMERINTAHAN SUTAN SJAHRIR 1945 – 1947
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data seputar peristiwa politik
yang terjadi pada masa pemerintahan Sutan Sjahrir sebagai Perdana Menteri
Republik Indonesia yang pertama antara tahun 1945-1947. Penelitian ini juga
bertujuan untuk menjelaskan keterkaitan dan dampak peristiwa politik nasional
di awal masa kemerdekaan Indonesia dengan berjalannya kabinet Sjahrir.
Dari data ini maka diketahui bahwa ada beragam jenis peristiwa politik
yang terjadi pada masa awal kemerdekaan, mulai dari yang bersifat diplomatik,
hingga berujung pada pertempuran berdarah seperti halnya yang terjadi di
Surabaya, Ambarawa, Bandung, dan Jakarta.
Selain itu diketahui pula bahwa kabinet Sjahrir memang memiliki banyak
program politik nasional seperti penstrukturan birokrasi daerah, dan normalisasi
mata uang. Namun karena keadaan yang genting dan dibawah bayang – bayang
pendudukan militer oleh sekutu, kabinet memaksimalkan kinerjanya pada bidang
diplomasi.
Selain itu, terjadi pula pertikaian di dalam birokrasi pemerintahan sebagai
akibat dari kebijakan diplomasi tersebut, yang kemudian menjatuhkan kabinet
sjahrir dan menyulut pertikaian dalam koalisi politik Persatuan Perjuangan. Pada
akhirnya Sjahrir kehilangan konsesi dan pengaruh politiknya, dan semenjak
kegagalan kabinet ketiganya, menjadi penonton di pinggir gelanggang politik.
Dengan demikian disimpulkan bahwa pemerintahan Sjahrir memiliki
dampak yang cukup signifikan dalam membentuk fondasi diplomasi internasional
Indonesia, namun memiliki kekurangan dalam proyek nasional yang disebabkan
oleh kesibukan hampir semua elemen perjuangan bangsa untuk mengusir
penjajah.
This research aim to collect data about political occurence during the time
of the governance of Sutan Sjahrir as the first Prime Minister of Republik
Indonesia during 1945 – 1947. This research also aim to explain the connection
and impact of national political occurence during the early era of Indonesian
independence with Sjahrir’s cabinet.
From this data it is known that there are variety of political occurence in
the early indepedence era, starting from the diplomatic and goes to bloody tragedy
such that happens in Surabaya, Ambarawa, Bandung, and Jakarta.
Beside that it is also known that Sjahrir’s cabinet also have national
political program such as regional bureaucracy restructurisation, and currency
nomalisation. But, because of the danger of the military situation and imminent
possibility of Allied military occupation, the cabinet is forced to maximized their
efforts in diplomacy.
Also, there are clash on the government bureaucracy that were caused by
the same diplomacy policy that were practiced by the cabinet, which in turn
destroy Sjahrir cabinet and ignites political conflict inside the biggest opposition
group “Persatuan Perjuangan”. In the end, Sjahrir lose his political concession and
influence. Since the failure of his third cabinet, Sjahrir became a mere spectator
on national politics.
In conclusion, Sjahrir’s cabinet government bring significant impact in
forming the foundation of Indonesia international diplomation, but also have
weakness on national project which caused by the different focus of every
governmental element on the issue of diplomacy
Rudolph Mrazek, Sutan Sjahrir
Siegel James. Rudolph Mrazek, Sutan Sjahrir. In: Archipel, volume 48, 1994. pp. 216-221
Sjahrir : peran besar Bung kecil
Sjahrir termasuk Bapak Bangsa yang radikal, namun tidak suka melawan musuh dengan kekerasan. Sjahrir percaya pada perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Prinsip ini lah yang membuat Sjahrir berseberangan dengan Tan Malaka dan Jenderal Soedirman. Kendati demikian, kemasyhurannya terpateri dalam nama Sjahrirstraat di Leiden, Netherlands
- …
