360 research outputs found
Penentuan Spektrum Neutron Di Pesawat Linear Accelerator Menggunakan Passive Single Sphere Spectrometer Dengan Detektor Aktivasi Keping Emas Atau Keping Indium
Ketersediaan spektrum neutron di pesawat linear accelerator (LINAC) dengan tegangan masukan diatas sama dengan 10 MV sangat diperlukan dalam kegiatan proteksi radiasi neutron. Penentuan spektrum neutron salah satunya dengan passive Single Sphere Spectrometer (passive SSS) menggunakan detektor aktivasi. Penggunaan passive SSS karena merupakan jenis metode pengukuran tidak langsung sehingga keamanan terhadap radiasi lebih baik jika dibandingkan dengan pengukuran metode aktif dan dalam pengukurannya tidak dipengaruhi oleh karakter waktu iradiasi LINAC yang sangat singkat. Tujuan dari penelitian ini yang pertama untuk mendapatkan matrik respon passive SSS menggunakan detektor keping indium atau keping emas yang terkalibrasi, yang kedua untuk studi tentang penggunaan passive SSS dengan detektor keping indium atau keping emas dalam menentukan spektrum neutron di pesawat LINAC, dan yang ketiga untuk menganalisis spektrum neutron di pesawat LINAC dengan variasi tegangan masukan 10 MV dan 15 MV. Pemilihan keping indium atau keping emas sebagai detektor aktivasi mempertimbangkan 3 faktor yaitu waktu paruh bahan, tampang lintang, dan nilai kelimpahan E. Penelitian ini terbagi atas 4 tahapan, yang pertama adalah tahap persiapan yang meliputi persiapan passive SSS dengan detektor keping aktivasi, penentuan matrik respon dan kalibrasi alat pencacah sinar gamma. Tahap kedua adalah kalibrasi passive SSS dengan Active Bonner Sphere Spectrometer (Active BSS) di Laboratoriun Neutron menggunakan sumber neutron 252Cf untuk mendapatkan nilai faktor kalibrasi (FK). Tahap ketiga adalah penenetuan spektrum neutron di pesawat LINAC dengan variasi tegangan masukan 10 MV dan 15 MV. Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data matrik respon passive SSS menggunakan detektor keping indium atau keping emas, dikalibrasi dengan Active BSS yang menghasilkan spektrum dan nilai fluks neutron 252Cf mendekati sama, dengan nilai faktor kalibrasi untuk keping indium 0,9422 dan keping emas 1 dalam kondisi fluks neutron rendah, sedangkan spektrum dan nilai fluks neutron LINAC 10 MV yang dihasilkan dari passive SSS antara vi menggunakan detektor keping indium dengan detektor keping emas adalah sama, dengan perbedaan fluks neutron total yaitu 1 %. Dari hasil pengukuran di LINAC 10 MV dan LINAC 15 MV menghasilkan spektrum dengan bentuk pola yang sama, tetapi untuk nilai fluks neutron yang dihasilkan dari LINAC 10 MV lebih kecil dengan fluks neutron total 5,78 104 0,01 104 n/cm2.s dari pada LINAC 15 MV dengan fluks neutron total 9,44 105 0,22 105 n/cm2.s
Environmental NGOs in China - partners in environmental governance
This paper is a snapshot of the potential of Chinese environmental NGOs1 to effectively address environmental problems and needs, alone and in partnership with others. As environmental NGOs have only be on stage for the last ten years or so and as they undergo dynamic changes, a thoroughly conducted scientific analysis about the strengths, weaknesses, opportunities and risks is not possible yet. However, as the author has more than six years working experience with different Chinese environmental NGOs across the country, some empiric findings can be given, and some trends and tendencies be predicted. The paper starts with a look at the history of NGOs in China with a specific focus on environmental NGOs, followed by problems and chances caused by the present legal status of the groups. It then describes the main working areas of Chinese environmental NGOs, illustrating them by giving some representative examples. After a brief analysis, the paper proposes current trends and tendencies about the development of China’s environmental NGOs. The main trend is that Chinese NGOs, independently on their origin (grass root, semistate organizations or Government-organized non-profit environmental organizations) will gain more respect and influence in both environmental awareness raising and as competent partners in policy formulation and law enforcement, if the State institutions concerned will involve them in planning and developing processes in an early stage and assist them in their capacity building. --
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA MELALUI MEDIA KEPING KATA BERGAMBAR PADA SISWA TUNARUNGU DI SDLB
The study aimed at describing (1) the use of pictorial words pieces media in improving simple sentence writing skills for the 2nd grader students with hearing impairment in SDLB Negeri Jombatan 7 Jombang, and (2) the improved simple sentence writing skills for the 2nd grade students with hearing impairment use of pictorial words pieces media in SDLB Negeri Jombatan 7, Jombang. This research used Class Action Research (CAR) method. The subjects of this research were the 2nd grade student with hearing impairment in SDLB Negeri Jombatan 7 Jombang. The data collecting technique included: observation, interview, and test of the students’ learning results. The findings showed that in the pre-action, the classical completes only reached 40% of the students’ total numbers. The finding showed that in cycle I, after the media were used, the degree of completeness increased by 60%. In cycle II, the students’ skills increased by 80% which met the completeness setting. It could be concluded that the use of pictorial words pieces could improve the students’ learning result in writing simple sentence. Tujuan dari penelitian ini mendiskripsikan penggunaan media keping kata bergambar dalam meningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana pada siswa tunarungu dan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis kalimat sederhana melalui media keping kata bergambar pada siswa tunarungu. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi, wawancara, tes hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di siklus I sudah ketuntasan meningkat sebesar 60%, namun belum mencapai 80%. Pada siklus II kemampuan siswa mengalami peningkatan 80%. Penelitian ini berhasil mencapai indikator keberkhsilan yang ditentukan
Deteksi dan Identifikasi Kecurangan Skema Pembagian Rahasia Linear Berbasis Skema Shami
Skema pembagian rahasia (SPR) adalah metode kriptografi yang bertujuan
untuk menjaga keamanan dari suatu rahasia. Metode ini pertama kali
dikemukakan oleh Adi Shamir, yang kemudian dikenal dengan SPR (k, n) Shamir.
SPR Shamir adalah skema yang sempurna dengan asumsi bahwa semua
pemegang keping rahasia adalah jujur dan semua pemegang keping rahasia
menyerahkan keping rahasia yang asli pada tahap rekonstruksi rahasia, sehingga
rahasia s dapat dipulihkan. Namun, jika ada pemegang keping rahasia yang tidak
jujur dengan menyerahkan keping rahasia palsu maka pemegang keping rahasia
yang jujur tidak mendapatkan apapun kecuali rahasia palsu dan para pelaku
kecurangan dapat merekonstruksi rahasia s secara eksklusif. Skema linear (k, n)
adalah generalisasi dari skema Shamir, dan merupakan salah satu skema yang
dapat mendeteksi dan mengidentifikasi pelaku kecurangan.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) mengonstruksi SPR
linear untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kecurangan pada SPR Shamir; (2)
menghitung batas dari kemampuan deteksi dan identifikasi dari skema yang
diusulkan; (3) menganalisis keamanan skema yang diajukan; (4) menerapkan
penggunaan dari SPR linear berbasis SPR Shamir untuk mendeteksi dan
mengidentifikasi kecurangan.
Skema linear (k, n) yang berbasis skema Shamir ini dibagi menjadi dua
tahapan. Tahap pertama adalah tahap pembagian keping-keping rahasia dan tahap
kedua adalah tahap rekonstruksi rahasia. Tahap pembagian rahasia pada skema ini
menyerupai skema Shamir sedangkan tahap rekonstruksi rahasia tediri dari dua
algoritma, yaitu algoritma deteksi kecurangan dan algoritma identifikasi pelaku
kecurangan. ... ds
DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON TERMAL DAYA 2 MW PADA POSISI IRADIASI B-6, D-9 DAN G-7 REAKTOR RSG-GAS
DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON TERMAL DAYA 2 MW PADA POSISI IRADIASI B-6, D-9 DAN G-7 REAKTOR RSG-GAS. Distribusi fluks neutron termal telah dilakukan pada tiga posisi iradiasi (B-6, D-9 dan G-7) teras 83 reaktor RSG GAS. Pengukuran dilakukan dengan metode aktivasi keping emas. lradiasi keping dilakukan pada daya menengah dengan mengoperasikan sistem pendingin primer. Aktivitas keping diukur dan dihitung pada saat keluar dari reaktor. Distribusi fluks neutron termal dapat dihitung dari aktivitas keping yang terukur tersebut. Dari hasil analisis diperoleh fluks neutron termal di posisi B-6 pada daya 2 MW, posisi ditengah sebesar 9,70.10+13 n/cm2.s., fluks neutron termal di posisi iradiasi D-9, pada posisi ditengah sebesar 9,79.10+13 n/cm2.s. Fluks neutron termal di posisi iradiasi G-7 pada posisi ditengah 9,81.10+13 n/cm2.s. Dengan pengukuran ini diperoleh data fluks neutron termal terkini untuk mendukung produksi radioisotop, pengembangan elemen bakar dan komponen reaktor, penelitian dalam bidang sains materi dan berbagai litbang lain dalam bidang industri nuklir.Kata kunci: distribusi fluks neutron termal, posisi iradiasi, RSG-GA
Energy efficient subchannel and power allocation for the software defined heterogeneous VLC and RF networks
Visible light communication (VLC) is considered as a promising candidate to improve the performance of indoor communication as the complement of wireless radio frequency (RF) communications due to the scarcity of RF resources. Combining VLC with software-defined small cell networks will substantially improve the user data rates in indoor heterogeneous networks. In this paper, we introduce the software defined philosophy into orthogonal frequency division multiple access (OFDMA) based heterogeneous software-defined and twinned VLC and RF small-cell networks. The pivotal issues of energy efficient subchannel and power allocation are investigated in the context of software-defined VLC and RF small-cell networks. We formulate the energy efficient resource allocation problem as a non-convex optimization problem, and then transform it into a convex one using Dinkelbach&#x2019;s method. Additionally, distributed subchannel and power allocation algorithms for both VLC and RF are proposed for solving the problem based on the powerful alternative direction method of multipliers (ADMM). Simulation results verify the effectiveness of resource allocation algorithms conceived for heterogeneous software-defined twinned VLC and RF small-cell networks in terms of its good convergence and overall performance.</p
Analisa fluks neutron pada beamport tidak tembus radial sebagai fasilitas pengembangan subcritical assembly for molybdenum production (SAMOP) reaktor kartini
Telah dilakukan pengukuran fluks neutron pada beamport tidak tembus radial reaktor Kartini. Nilai fluks terukur dapat dijadikan salah satu dasar pengambilan keputusan menentukan layak tidaknya reaktor Kartini dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas Subcritical Assembly For Molybdenum (SAMOP). Metode penelitian yang digunakan adalah pengukuran tidak langsung dengan analisis aktivasi neutron (AAN) keping 197Au. Pada penelitian ini digunakan dua macam keping 197Au yaitu keping yang dibungkus 113 Cd dan yang tidak dibungkus dengan 113Cd dan diletakkan di beamport tidak tembus radial. Fluks neutron total dideteksi menggunakan keping tidak terbungkus dan fluks neutron cepat dideteksi menggunakan keping yang terbungkus. Besarnya fluks neutron termal diperoleh dari selisih fluks neutron total dengan fluks neutron cepat. Hasil pengukuran untuk fluks neutron total, cepat dan termal berturut-turut sebesar (2,0±0,2)×〖10〗^6 〖 n cm〗^(-2) s^(-1), (0,50±0,12)×〖10〗^6 〖 n cm〗^(-2) s^(-1) dan (1,5±0,4)×〖10〗^6 〖 n cm〗^(-2) s^(-1). Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan reaktor Kartini dapat dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas SAMOP. Kata kunci : Fluks Neutron, Beamport, SAMOP, AAN, Reaktor Kartini
PERAJANG MEKANIK KRIPIK
Proses pembuatan kripik tempe dengan perajangan manual mempunyai banyak kelemahan yaitu waktu proses lama, tebal sayatan tidak bisa seragam, permukaan sayatan bergelombang. Perajangan dengan penyayatan manual dapat digantikan menggunakan perajang mekanik yang prinsip kerjanya berdasarkan mekanisme gerak engkol peluncur dengan pemotong sirkel (circle cutter). Penelitian ini bertujuan mencari cutting speed dan feeding speed yang optimum pada pemotongan tempe menjadi kripik tempe dengan ketebalan tertentu. Penelitian dilakukan dengan membuat alat perajang mekanik yang menggunakan prinsip kerja mekanisme engkol peluncur, circle cutter diputar oleh sebuah motor listrik yang dapt diatur putarannya dengan mengganti pulley transmisi. Sedangkan putaran engkol yang merupakan gerak feeding diputar oleh sebuah motor listrik yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grafik hubungan antara cutting speed dan kuantitas sayatan menunjukkan bahwa peningkatan cutting speed menghasilkan peningkatan kuntitas sayatan. Percobaan dengan lima variasi kecepatan cutting speed mendapatkan hasil kualiatas sayatan yang sama yaitu secara visual permukaan keping hasil sayatan halus, sedangkan kuantitas terbesar dicapai pada cutting speed 19.927 mm/s. Diperkirakan kuntitas hasil keping sayatan akan terus meningkat dengan ditingkatkannya cutting speed. Percobaan dihentikan sampai cutting speed 19.927 mm/s karena muncul serpihan sayatan yang berbentuk slurry dan mengotori sekeliling alat. Hasil yang optimum pada penelitian ini dicapai pada cutting speed 18.394 mm/s dengan kuantitas sayatan 11 keping, pada kondisi ini serpihan sayatan belum mengganggu operasional. Ukuran bahan tempe yang disayat memiliki ketebalan 20 mm, bila hasil sayatan dibuat setebal 1,5 mm, maka satu buah bahan tempe kotak akan dihasilkan sayatan, 20/1,5 = 13 keping
- …
