95 research outputs found

    The Teaching of Speaking in Big Classes

    No full text
    Speaking is the most important language skill. The language user’s capability will be immediately understood and measured through the skill because this is the most visible proficiency. Difficulties of teaching speaking vary dependent upon the class size. Teaching speaking in big classes is more difficult than teaching of it in small classes. The main constraint is the time allotment. To answer the problem, speaking teachers should be creative to set the intensive classroom activities. If this is true, they need to identify students speaking skill to understand their alertness for the following language instructions. Besides that, they are also responsible to identify their basic need in the class whether this is only for question and answer, dialog, discussion, debate, or others. To anticipate the time constraints, the teachers engage to select the possible methods and strategies for presenting the interesting instructional materials. At the end, teachers should divide the time allotment adjust and proportionally for their students so they are able to self-express and share ideas in those interactive classroom situations

    The Existence of Learners in Language Learning

    No full text
    Caring of students in teaching-learning process should be one of the most important attentions of teachers. They should be the central body by which the measurement of success or failure is underpinned. Teachers will be considered successful when their students get scores above the passing grade. However, they must fail when the students get unsatisfactory achievements. Even though students’ success is the end of the aim of teaching-learning process but their involvement is not taken into account accordingly. To achieve such a goal, their internal potentials should be revitalized. The inner potentials include attitude, motivation, aptitude, and intelligence. The successful study can be achieved when the four internal potential are well managed. For that reason, teachers’ attention should be addressed to intensify the potentials to get the significant yield

    TEACHERS’ COMPREHENSIONS, PERCEPTIONS, AND ATTITUDES TOWARDS INCLUSIVE EDUCATION

    No full text
    This study aims at finding out 1) the comprehensions of Islamic Elementary School Teachers (MI) in Salatiga to inclusive education; 2) their perceptions; and 3) their attitudes to the inclusive education. This is a survey research. The primary data collection method used in this research was questionnaires, besides structural interviews. Based upon the calculation of the questionnaires, the writer found out that 1) the teachers’ comprehension to inclusive education is still low (88.1 %) and only 4.7 % feels having a little knowledge about it. In addition, 50.02 % have negative perceptions, and are only 21.46 % who have positive perceptions to it. Even though, 43.89 % have positive attitudes and 37.81 have negative attitudes to the inclusive education

    IMPLEMENTASI SUPERVISI KLINIS DALAM PEMBELAJARAN FIQIH DI MADRASAH ALIYAH TARBIYATUL MUBTADIIN WILALUNG GAJAH DEMAK

    No full text
    Clinical supervision is carried out by the teacher with the hope of creating conducive and memorable learning conditions. Learning that is too monotonous or teacher-centered makes children less enthusiastic. Therefore, this study has the following to find and analyze processes, constraints, and solutions to obstacles that arise in the implementation of clinical supervision. Researchers use a type of qualitative research. Data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The validity of the data was obtained through a triangulation process, including triangulation of data, sources, techniques, and time. data analysis techniques through the process of data collection, data reduction, data display, then drawing conclusions and data verification. The findings in this study are: 1) the process of implementing clinical supervision with the aim of obtaining quality learning with indicators of suitability, attractiveness, effectiveness, efficiency, and learning productivity; 2) Obstacles experienced: teachers have difficulties formulating competency indicators, determining the right method, making minimal use of media, and evaluating properly; 3) solution: teachers are more active and diligent in participating in MGMP; supervisors provide motivation to teachers, consult with peer tutors, seek facilities and infrastructure, apply teacher discipline, and conduct staff evaluations. The implication of this research is that education managers will have a better understanding of the role and function of supervision in the successful implementation of education.Supervisi klinis dilakukan oleh guru dengan harapan dapat menciptakan kondisi belajar yang kondusif dan berkesan. Pembelajaran yang terlalu monoton atau teacher centered menjadikan anak kurang bersemangat. Maka dari itu, penelitian ini mimiliki tujuan untuk menemukan dan menganalisis proses, kendala dan solusi dari hambatan yang muncul dalam implementasi supervisi klinis. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologis. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Keabsahan data diperoleh melalui proses triangulasi baik triangulasi data, sumber, teknik, maupun waktu. Teknik analisis data melalui proses pengumpulan data, reduksi data, display data, kemudian penarikan kesimpulan dan verifikasi data. Hasil temuan dalam penelitian ini: 1) Proses implementasi supervisi dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh pembelajaran yang berkualitas dengan indikator kesesuaian, memiliki daya tarik, efektifitas, efisiensi, dan produktifitas pembelajaran; 2) hambatan yang dialami: guru kesulitan dalam merumuskan indikator kompetensi, menentukan metode yang  tepat, pemanfaatan media yang minim, mengevaluasi dengan tepat; 3) solusi: guru lebih giat dan rajin dalam mengikuti MGMP, supervisor memberikan motivasi kepada guru, konsultasi dengan tutor sebaya, mengupayakan sarana dan prasarana, penerapan disiplin tata tertib guru, dan melakukan evaluasi ketenagaan. Implikasi dari penelitian ini adalah pengelola Pendidikan akan lebih memahami Kembali terhadap peran dan fungsi supervisi dalam keberhasilam implementasi Pendidikan

    INTERNALISASI NILAI NASIONALISME MELALUI PEMBELAJARAN KE-NU-AN PADA SISWA KELAS VIII DI MTs TARBIYATUL MUBTADIIN WILALUNG DEMAK TAHUN 2022

    No full text
    Internalization of Nationalism through NU learning is considered capable of having a good impact on students, schools and the community by creating a nationalist environment. This research method uses a field approach which is descriptive qualitative in nature involving resource persons from the Madrasah Head, Curriculum, Teachers, and students. Data collection was obtained through observation, interviews, and document studies. The results of this study found that: 1) Internalization steps include planning, implementing and evaluating by formulating core competencies and basic competencies, formulating competency achievement indicators, formulating learning objectives, selecting learning materials, selecting learning methods, determining learning steps, choose the media or learning resources, determine the evaluation of learning. 2) The difficulties in the internalization process include: Difficulties in formulating competency achievement indicators, difficulties in choosing learning methods, limitations of learning media, difficulties in implementing learning evaluations. 3) The solution to internalizing the value of Nationalism through NU-ness learning includes: Being active in Subject Teacher Consultations (MGMP) activities, participating in teacher training, creating active learning. The implication of this research is that the internalization of nationalism values ​​can be increased through the implementation of NU-ness learning activities.Internalisasi Nasionalisme melalui pembelajaran Ke-NU-an dianggap mampu memberikan dampak yang baik bagi siswa, sekolah dan lingkungan masyarakat dengan terciptanya lingkungan yang nasionalis. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan lapang yang bersifat deskriptif kualitatif yang melibatkan narasumber Kepala Madrasah, Kurikulum, Guru, dan siswa. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menemukan, bahwa: 1) Langkah-langkah internalisasi meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dengan merumuskan Kompetensi inti dan kompetensi dasar, merumuskan indicator pencapaian kompetensi, merumuskan tujuan pembelajaran, memilih materi pembelajaran, memilih metode pembelajaran, menentukan langkah-langkah pembelajaran, memilih media atau sumber belajar, menentukan evaluasi pembelajaran. 2) Kesulitan-kesulitan dalam proses internalisasai antara lain: Kesulitan dalam merumuskan indikator pencapaian kompetensi, kesulitan dalam memilih metode dalam pembelajaran, keterbatasan media pembelajaran, kesulitan dalam menerapkan evaluasi Pembelajaran. 3) Solusi dalam internalisasai nilai Nasionalisme melalui pembelajaran Ke-NU-an antara lain: Aktif dalam kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), mengikuti pelatihan guru, menciptakan pembelajaran yang aktif. Implikasi dari penelitian ini adalah internalisasi nilai nasionalisme dapat ditingkatkan melalui kegiatan implementasi pembelajaran ke-NU-an

    Konfesionalisasi dalam Relasi Keberagamaan ( Studi tentang Konsep Keberagamaan Mahasiswa Program Kelas Internasional Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga).

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk 1) menganalisis model pendidikan keberagamaan yang dikembangkan Program Kelas Internasional IAIN Salatiga terkait dengan konfesionalisasi dalam relasi keberagamaan; 2) menganalisis konsep keberagamaan mahasiswa sebelum dan sesudah mengikuti program pendidikan yang terkait dengan konfesionalisasi dalam relasi keberagamaan; serta 3) menganalisis refleksi mahasiswa tentang pendidikan keberagamaan dan konfesionalisasi dalam relasi keberagamaan. Penelitian ini adalah penelitian fenomenologis dengan menggunakan pendekatan interpretif-refleksif dalam perspektif pendidikan agama. Responden inti penelitian ini adalah mahasiswa Program Kelas Internasional IAIN Salatiga dan mahasiswa Program Kelas Reguler sebagai pembanding. Obyek kajian dalam penelitian ini adalah konsep keberagamaan mahasiswa dan konfesionalisasi dalam relasi keberagamaan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam yang didukung dengan teknik pengumpulan data sekunder yakni observasi dan dokumentasi. Selanjutnya data-data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan pendekatan interpretif-refleksif dalam perspektif pendidikan agama. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasannya dapat disimpulkan bahwa 1) Model pendidikan keberagamaan yang dikembangkan Program Kelas Internasional IAIN Salatiga adalah post segregation model dengan karakteristik: a) peserta didik memperoleh pendidikan agama sesuai dengan keyakinan yang dianut; b) peserta didik bersifat homogen; c) tema-tema yang dikupas dalam pendidikan agama tersebut bersifat interdisipliner; d) pendidikan agama segregasi tersebut bertujuan untuk memperkuat keyakinan peserta didik sesuai dengan agama yang dianut; e) peserta didik siap melakukan interaksi dengan pemeluk agama yang berbeda-beda. Sementara itu model pendidikan keberagamaan Program Kelas Reguler adalah segregation model dengan empat karakteristik pertama serta belum adanya perencanaan terprogram dan kesempatan untuk melakukan interaksi dengan pemeluk agama yang berbeda-beda; 2) Terjadi konfesionalisasi konsep keberagamaan responden sesudah menjadi mahasiswa pada Program Kelas Internasional IAIN Salatiga dari closed-dependent menjadi opened-independent dengan memposisikan eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme secara proporsional; 3) Post segregation model dapat diterapkan dalam pendidikan agama di Indonesia karena memberikan dua keuntungan yakni menguatnya keyakinan seseorang terhadap agama yang dianutnya (personal) dan menguatnya interaksi dengan pemeluk agama yang berbeda-beda (interpersonal). Eksklusivisme, inklusivisme, dan pluralisme harus dilihat berdasarkan sudut pandang masing-masing pemeluk agama yang berbeda-beda. Pendekatan yang melihat eksklusivisme, inklusivisme dan pluralisme berdasarkan sudut pandang grass-roots tersebut disebut pendekatan interaktif-fenomenologis

    PENGARUH SIKAP TOLERANSI DAN KEBUTUHAN RASA AMAN TERHADAP KEPUTUSAN MEMAKAI CADAR DI PONDOK PESANTREN DARUSY SYAHADAH SIMO KABUPATEN BOYOLALI

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) pengaruh toleransi terhadap keputusan bercadar, (2) pengaruh perlunya rasa aman terhadap keputusan bercadar, (3) pengaruh toleransi dan perlunya rasa aman terhadap keputusan bercadar di Pondok Pesantren Darusy Syahadah. Kabupaten Simo Boyolali Tahun 2021. Jenis penelitian kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan dalam metode pengumpulan data dengan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu menggunakan kuesioner sebagai alat atau instrumen yang disebarkan. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 102 siswi bercadar, sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 50 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling. Kemudian dalam pengujian data menggunakan model regresi linier berganda dan uji asumsi klasik pada aplikasi SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) sikap toleransi tidak berpengaruh terhadap keputusan bercadar dengan hasil uji t (parsial) sebesar -0,146 nilai signifikansi sebesar 0,884 dan nilai koefisien parameter sebesar -0,029 ke arah negatif. Berdasarkan uji t terbalik keputusan bercadar terhadap sikap toleransi mempunyai pengaruh dengan hasil uji t terbalik (parsial) = 2,566 dengan nilai koefisien sebesar 0,257 dan nilai sig = 0,013 dalam a arah positif. Jadi belum tentu mereka yang mempunyai sikap toleransi memilih atau memutuskan untuk berjilbab. Sebaliknya muslimah yang berjilbab mempunyai sikap toleransi atau yang berjilbab bersifat toleran. (2) Kebutuhan akan rasa aman mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan bercadar dengan nilai uji parsial (uji t) sebesar 4,068 dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan nilai koefisien parameter sebesar 0,650 dengan arah positif. (3) Sikap toleransi dan kebutuhan rasa aman mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan bercadar di Pondok Pesantren Darusy Syahadah Simo Kabupaten Boyolali Tahun 2021 dengan nilai uji simultan (uji F) = 12,635 sig = 0,000 <0,05

    Model Pendidikan Entrepreneurship di Pondok Pesantren

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetaui konsep pendidikan entrepreneurship di pesantren; pelaksanaan pendidikan entrepreneurship; dampak pendidikan entrepreneurshipdi pesantren; problematika yang dihadapi dan solusi untuk mengatasinya.Penelitian ini termasuk jenis kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study). Analisis data penelitian menggunakan model interaktif Miles Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) pendidikan entrepreneurship diarahkan untuk mempersiapkan santri dalam menghadapi kehidupan setelah lulus. Urusan pekerjaan sebenarnya sudah diatur Allah, namun manusia harus  mempersiapkan diri dengan keterampilan secukupnya; 2) kegiatan entrepreneurship di pesantren dilaksanakan melalui jalur program khusus unggulan, kurikuler, ekstrakurikuler, dan jalur non-kurikuler; 3) kegiatan kewirausahaan di pesantren mampu memberi dampak ekonomi dan life skill kepada para santri; 4) masalah yang muncul dalam kegiatan kewirausahaan di pesantren berasal dari human resources, masalah teknologik, manajemen. Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak pesantren selalu melakukan kordinasi dengan pihak terkait dan berusaha memperbaiki manajemen kewirausahaanny

    Al-Farabi dan Filsafat Kenabian

    No full text
    Artikel ini mengulas pemikiran al-Farabi tentang konsep kenabian dalam Islam. Masalah berawal dari adanya pemikiran yang menolak konsep kenabian pada umumnya dan kenabian Nabi Muhammad SAW khususnya. Sebagaimana yang dilontarkan oleh Muhammad Ahmad ibn al-Ruwandi. Ia mengatakan bahwa nabi sebenarnya tidak diperlukan manusia karena Tuhan telah mengaruniakan akal kepada manusia tanpa terkecuali. Dengan akal ini, manusia dapat mengetahui Tuhan beserta segala nikmat Nya dan dapat pula mengetahui perbuatan baik dan buruk, menerima suruhan dan larangan-Nya. Dengan demikian, nabi dengan segala fungsinya tidak diperlukan lagi. Bahkan, kitab suci pun tidak berguna untuk dibaca. Lebih berguna membaca buku filsafat Epicurus, Plato, Aristoteles, dan buku astronomi, logika, serta obat-obatan. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan yang diajarkan dalam Islam. Beriman kepada nabi nabi merupakan hal inti dalam ajaran agama ini. Atas dasar itu al-Farabi bereaksi keras. Baginya, pandangan Ibn al-Ruwandi di atas tidak dapat dibenarkan, khususnya dari sisi akidah Islam. Sebagai al-Mu‘allim al-Tsani (Guru Kedua), karena prestasinya dalam menjelaskan dan mengulas-ulang filsafat Aristoteles, al-Farabi mengkritik secara sistematik pandangan menyimpang al-Ruwandi di atas

    Efektivitas Penggunaan Ice Breaking dalam Pembelajaran Daring pada Mata Kuliah Ilmu Tauhid

    No full text
    Online learning impacts students' lack of motivation to learn as daily learning is spent in front of the gadget. That causes student saturation, so a way is needed to have a strong motivation in learning. The study aims to determine the use, effectiveness, and impact of ice breaking in online learning of Tauhid courses. Data collection techniques used were in-depth interviews, observations, and documentation. At the same time, the interactive data analysis model technique popularized by Miles and Huberman was used. This research found that the ice breakings used in online learning of Tauhid courses were: ice breaking based on clapping the limbs, ice breaking based on exercise, and ice breaking based on humour. In addition, the use of ice breaking in online learning of Tauhid courses was considered adequate. It also positively impacted more fluid online learning, increased student interest in learning, and pushed student activity
    corecore