1,720,968 research outputs found
Leadership Communications of Prabowo Subianto in Facebook Fanpage
Kehadiran media sosial memudahkan setiap orang untuk berkomunikasi dengan konstituennya. Media sosial tidak terhalangi oleh persoalan ruang dan waktu. Sehingga setiap orang bisa berkomunikasi dengan siapapun dan di manapun. Tak terkecuali bagi (calon) pemimpin. Sebagai pemimpin, Prabowo Subianto membuka saluran komunikasi melalui media facebook dan twitter. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah bagaimana komunikasi yang dilakukan oleh Prabowo Subianto. Menggunakan metode penelitan analisis naratif, penulis meneliti teks pernyataan Prabowo Subianto tanggal 17 Agustus 2014 menjelang pelantikan presiden periode 2014-2019. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa pola berkomunikasi Prabowo Subianto yang dianalisis berdasarkan pernyataan-pernyatannya dalam menyikapi situasi politik selalu berpijak kepada UUD 1945 serta keutuhan bangsa (NKRI). Sedangkan dalam menarasikan sebuah peristiwa kebangsaan Prabowo Subianto juga sangat menekankan bagaimana kepentingan bangsa harus diutamakan dari kepentingan individu dan golongan. Sehingga, kekecewaan yang bersumber dari situasi emosional kelompok menjadi tidak berarti dibandingkan kepentingan dalam menjaga keutuhan bangsa.Social media presence allows every person to communicate with the others. It was not deterred by the problems of space and time. So that every person can communicate with anyone, anywhere. No exception for (candidate) leaders. As a leader, Prabowo open channels of communication through the medium of Facebook and Twitter. The problem of this study is how communication is done by Prabowo. Using narrative analysis research methods, the author examines the text Prabowo statement (August 17, 2014) ahead of the Presidential inauguration period 2014-2019. From the conclusion, that the way of communicating Prabowo analyzed based on the statements in response to the political situation always adheres to the 1945 Constitution and the integrity of the nation. While in narrating a national event Prabowo also emphasizes how the interests of the nation must take precedence over the interests of individuals and groups. Thus, the disappointment that comes from an emotional situation becomes a meaningless group than in the interests of preserving the integrity of the nation
Preman Pensiun dan Kuasa Agama: Semiotika Visual Komunikasi Religius dalam Episode “Kembali Ke Fitriâ€
The Preman Pensiun cinema in the episode Return to Fitri has vital elements of the pull of religion so that humans return to Him. The purpose of this study is to interpret cultural signs visually. Using a critical paradigm with a visual semiotic method that is both structural and poststructural, the researcher uses a post-semiotic approach rooted in postmodernism to interpret the image that the author refers to from the Sinema Preman Pensiun episode of Return to Fitri. The study\u27s results, from the perspective of structural visual semiotics, show that the power of religion is clearly depicted in the scenes played by Muslihat and Ujang figures. However, in the post-semiotic perspective, the pull of religion is a method of capitalism to influence or grip the minds of the audience so that they are interested in being part of the film (the audience). This research is expected to impact researches on communication semiotics that continue to develop and on da\u27wah communication in general, which the authors define as religious communication in the context of a critical paradigm
Pencitraan Politik Daring: Strategi Memenangkan Massa Digital Menjelang Pemilu 2014
Menurut Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2014, pengguna internet di Indonesia akan mencapai 107 jutaan. Jumlah ini menjadi salah satu potensi bagi peserta Pemilu baik secara lembaga ataupun individu dalam menjaring massanya melalui media baru. 100 juta massa tersebut akan diperebutkan oleh calon-calon yang akan berlaga di pentas politik nasional untuk Pemilu presiden. Oleh karena itu, para calon yang akan maju pada pencalonan presiden melakukan pencitraan politik digital. Pencitraan dilakukan melalui berbagai taktik: fanpage, twitter, blog, publikasi media online arus utama, dan media sosial lainnya. Melalui tulisan ini, penulis akan melakukan analisis dengan melakukan penelusuran informasi digital (literasi) bagaimana setiap bakal calon presiden melakukan pencitraannya melalui media daring. Dari literasi yang dilakukan, salah satu calon cenderung kuat pada satu saluran media daring tertentu tetapi lemah di media daring lain. Begitu juga sebaliknya, namun dari 14 calon yang ada, Pramono Edie dan Megawati merupakan calon yang paling lemah merek politik daringnya dibandingkan dengan calon lain karena tidak membangun saluran komunikasi melalui media-media daring yang ada seperti website, twitter, official fanpage, termasuk juga media arus utama online
Analisis Wacana Pesan Komunikasi Dakwah Ali Syari’ati
The purpose of this study is to explore the hidden message in the message of communication (da\u27wah) and the rhetoric conveyed by someone is a response from the social reality of the community that surrounds a Muballigh who shows his attitude and character. This gave birth to a distinctive character, different from other people\u27s messages. It also refers to the social, political, economic, social and cultural context in which a person lives. This can be found from the preaching messages of Ali Shariati. Using the Teo A. Van Dijk model discourse analysis method, the researcher described the da\u27wah message based on the framework of the discourse elements; first, macro structure, Second; superstructure, third; micro structure. The use of the Discourse model is intended to interpret the latent intent of the message. The results of the study concluded that Ali Shari\u27ati\u27s message of preaching emphasized a lot of aspects of aqeedah and morals, with the following characteristics; (1) The content of Shari\u27ati\u27s message of preaching uses the historical sociological analysis methodology using reasoning or logic of comparison, (2) Tawhid becomes the basis of every content of Shari\u27ati\u27s message, (3) The message is always progressive, this is characterized by new interpretations and meanings, (4) have a commitment to the culture and traditions of the local community, (5) Islam must be the basis of movement and side with the weak, (6) More emphasis on moral character.AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pesan tersembunyi di dalam pesan komunikasi (dakwah) dan retorika yang disampaikan seseorang merupakan respon dari realitas sosial masyarakat yang melingkupi seorang Muballigh yang menunjukan sikap dan karakternya. Hal tersebut melahirkan karakter pesan yang khas, berbeda dari pesan orang lain. Hal tersebut merujuk pula pada konteks sosial politik, ekonomi, sosial, dan budaya dimana seseorang hidup. Hal ini dapat ditemukan dari pesan-pesan dakwah Ali Syariati. Dengan menggunakan metode analisis wacana model Teo A. Van Dijk, peneliti menguraikan pesan dakwah berdasarkan kerangka elemen-elemen wacana; pertama, struktur makro, Kedua; superstruktur, ketiga ; struktur mikro. Penggunaan model Wacana dimaksudkan untuk menafsirkan maksud laten dari pesannya. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pesan dakwah Ali Syari’ati banyak menekankan aspek akidah dan akhlak, dengan ciri-ciri sebagai berikut; (1) Isi pesan dakwah Syari’ati menggunakan metodologi analisis sosiologi sejarah dengan menggunakan penalaran atau logika komparasi, (2)Tauhid menjadi basis dalam setiap isi pesan dakwah Syari’ati, (3) Isi pesannya selalu menggungah dan progresif, hal ini dicirikan dengan penafsiran dan pemaknaan baru, (4) mempunyai komitmen terhadap budaya dan tradisi masyarakat setempat, (5) Islam harus menjadi basis pergerakan dan memihak kaum lemah, (6) Lebih menekankan aspek akidah akhlak
Analisis kedisiplinan kerja pegawai di Kantor Kecamatan Ujungberung Kota Bandung
Peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pegawai dalam menciptakan kedisiplinan yang baik di perusahaan. Dengan kedisiplinan yang baik, semangat kerja, moral kerja, efisiensi, dan efektifitas kerja pegawai akan meningkat. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan perusahaan, pegawai, dan masyarakat. Jelasnya perusahaan sulit mencapai tujuannya, jika pegawainya tidak mematuhi peraturan-peraturan perusahaan tersebut. Kedisiplinan perusahaan dikatakan baik, jika sebagian besar pegawai mentaati peraturan-peraturan yang ada. Adapun pegawai yang tidak mentaati peraturan perusahan akan dikenakan hukuman sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dari Alek S. Nitisemito yang dikutip oleh Gilang menyatakan disiplin kerja dapat diukur dengan 3 hal, yaitu mematuhi peraturan, tidak menunda pekerjaan, bertanggung Jawab
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, dikarenakan relevan dengan permasalahan yang ada dan untuk menggambarkan objek penelitian yang akan diteliti oleh peneliti yaitu berkaitan dengan kedisiplinan Pegawai. Menurut Ulbert Silalahi dalam buku metode penelitian sosial (2012; 77)
Dalam penetapan jenis hukuman disiplin yang akan dijatuhkan kepada pegawai yang melanggar, hendaknya dipertimbangkan dengan cermat, teliti, dan seksama bahwa hukuman disiplin yang akan dijatuhkan tersebut setimpal dengan tindakan dan perilaku yang diperbuat. Tujuan hukuman disiplin adalah untuk memperbaiki dan mendidik Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran disiplin. Oleh sebab itu, setiap pejabat yang berwenang wajib memeriksa lebih dahulu atas tindakan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti mengenai kedisiplinan Kineirja Pegawai mengenai penelitian yang dilakukan, bahwa setelah dihubungkan dengan teori dari Alek S. Nitisemito yang dikutip oleh Gilang menyatakan indikator-indikator disiplin kerja ada 3 hal yaitu mematuhi Peraturan, bertanggung Jawab, adanya Sanksi, kedisiplinan kinerja sudah berjalan dengan baik, namun belum optimal. Hal tersebut bisa dilihat dari kondisi lapangan dan data yang peneliti dapatkan, bahwa masih adanya kesalahpahaman antar pegawai maupun pemimpin dan pegawai juga pegawai dengan pegawai, adanya sifat egois dari sebagian pegawai, kurangnya keterbukaan antar pegawai, dan tingkat kedisiplinan pegawai yang masih kurang
Komunikasi Religius Waria
Waria dalam faktanya dianggap sebagai sampah masyarakat karena melakukan hal-hal yang bertentangan dengan pandangan umum. Namun sebagai manusia ia juga memiliki kebutuhan yang bersifat fitrah, kebutuhan beragama. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana makna agama bagi waria ditinjau dari sudut pandang komunikasi. Melalui paradigm penelitian kualitatif, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologi dengan analisis data interpretasi subjektif. Teori fenomenologi, teori konstruksi sosial dan interaksi simbolik sebagai alat untuk melakukan analisis. Penelitian dilakukan di kota Bandung. Sebagai sesuatu yang fitrah, pada dimensi keyakinan, waria memaknai agama secara positif; keyakinan agama sebagai sumber kekuatan, pondasi, aturan, solusi, makanan, identitas, pelarian, dan privasi
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Postkomodifikasi Media Sosial Ridwan Kamil dan Ganjar Pranowo dalam Perspektif Wacana Foucaldian
Ahead of the 2024 election, some figures are familiar with mediating themselves with social media. The purpose of this study is to understand the persona and analyze the post-commodification of social media on Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo\u27s uploads through Michel Foucault\u27s critical media discourse approach. The data collection technique uses textual observation techniques through the Instagram pages of the two figures. The results show that in the post-commodification perspective of social media, Ridwan Kamil and Ganjar Pranowo\u27s uploads have content and relations with power. The discourses of these two figures have a strong relationship with the practice of management either as themselves or as public officials. The research impacts the theoretical output of practical activities carried out by political figures so that it can be a reference in learning critical communication in social media. Another effect, this analysis can contribute ideas and knowledge in the context of new media discourse that can be used as a reference in communication and media studies
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
