182 research outputs found
Analisis Strategi Peningkatan Kualitas Produk “Sambal Bu Rusdan” Berdasarkan Harapan Konsumen (Studi Kasus Di Ukm. Sari Mustika Bu Rusdan Malang, Jawa Timur).
Salah Satu Komoditi Pertanian Yang Memiliki Potensi Besar Untuk Dikembangkan Yaitu Komoditas Cabai. Hal Ini Dikarenakan Produktivitas Cabai Di Indonesia Setiap Tahunnya Cenderung Tinggi Sehingga Cukup Untuk Memenuhi Ketersediaan Bahan Baku Untuk Melakukan Pengolahan Cabai Menjadi Produk Jadi Yang Siap Dikonsumsi. Selain Itu, Beberapa Hasil Penelitian Menunjukkan Cabai Tergolong Sayuran Yang Mudah Rusak Dan Sulit Dipertahankan Dalam Bentuk Segar. Sehingga Strategi Mengurangi Resiko Dan Ketidakpastian Dalam Pengembangan Komoditas Cabai Yang Dimaksudkan Untuk Lebih Meningkatkan Daya Simpan Dan Nilai Tambah Cabai Dapat Dilakukan Dengan Agroindustri Yang Dapat Menjadi Alternatif Usaha. Dalam Melakukan Usaha Atau Agroindustri Pada Produk Sambal Kemasan Perusahaan Harus Mampu Menciptakan Inovasi Baru Terhadap Produk Dengan Memanfaatkan Teknologi Yang Semakin Berkembang Saat Ini. Hal Ini Dikarenakan Kebutuhan Manusia Yang Semakin Beragam Dan Unsur Ketidakpuasan Dari Manusia Membuat Suatu Perusahaan Harus Melakukan Pengembangan Terhadap Produknya Agar Kebutuhan Konsumen Yang Semakin Beragam Tersebut Dapat Terpenuhi. Selain Itu, Perusahaan Perlu Melakukan Perubahan-Perubahan Dan Peningkatan Kualitas Produk Dengan Harapan Peningkatan Kualitas Produk Dapat Menyaingi Produk Pesaing. Salah Satu Home Industry Yang Melakukan Pengolahan Produk Sambal Kemasan Yaitu Ukm. Sari Mustika "Bu Rusdan", Dimana Perusahaan Memproduksi Berbagai Jenis Sambal Kemasan Yang Terdiri Dari Sambal Bawang, Sambal Terasi, Sambal Edan Dan Sambal Lombok Ijo. Selain Itu Perusahaan Juga Memproduksi Sambal Kanton, Bumbu Rujak Manis, Petis Bumbu Siap Makan, Bumbu Soto Solo, Bumbu Soto Lamongan, Bumbu Opor, Dan Bumbu Nasi Goreng. Produk-Produk Yang Dihasilkan Merupakan Bukti Bahwa Usaha Tersebut Terus Berkembang Dan Selalu Berusaha Untuk Meningkatkan Kualitas Produk Dengan Menghasilkan Produk Yang Sesuai Dengan Kebutuhkan Konsumen Saat Ini. Tujuan Penelitian Ini Adalah (1) Menganalisis Harapan Konsumen Sambal Bu Rusdan Yang Dapat Digunakan Dalam Rangka Melakukan Peningkatan Kualitas Produk Sambal Bu Rusdan, (2) Menganalisis Respon Perusahaan Dalam Memenuhi Harapan Konsumen Terhadap Produk Sambal Bu Rusdan, (3) Menganalisis Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Penurunan Kualitas Sambal Bu Rusdan Dan (4) Menganalisis Strategi Peningkatan Kualitas Produk Sambal Bu Rusdan. Metode Yang Digunakan Dalam Penelitian Ini Menggunakan Metode Deskriptif, Metode Kualitatif Dan Deskriptif Kuantitatif. Metode Deskriptif Digunakan Untuk Mendeskripsikan Karakteristik Dari Responden Konsumen, Responden Perusahaan, Hasil Dari Kuisioner, Dan Mengkaitkan Hasil Pembahasan Dengan Keadaan Real Yang Sesungguhnya. Metode Kualitatif Digunakan Untuk Dapat Mengembangakan Kualitas Produk Sambal Dengan Menggunakan Metode Quality Function Deployment (Qfd) Yaitu Suatu Alat Analisis Yang Dapat Digunakan Untuk Mengubah Harapan Konsumen Terhadap Suatu Produk Menjadi Kebenaran Yang Akan Diwujudkan Oleh Perusahaan, Metode Pengendalian Kualitas Dengan Menggunakan Diagram Sebab Akibat Sehingga Faktor Yang Menyebabkan Penurunan Terhadap Kualitas Sambal Dapat Diketahui. Kemudian Metode Deskriptif Kuantitatif Digunakan Dengan Tujuan Mengidentifikasi Faktor Internal Dan Eksternal Produk Sambal Bu Rusdan Yang Kemudian Dianalisis Dengan Matriks Ife, Efe, Swot Dan Qspm Untuk Dapat Memberikan Strategi Terbaik Yang Perlu Dilakukan Perusahaan Sambal Untuk Meningkatkan Kualitas Produknya. Hasil Penelitian Menunjukan Bahwa Harapan Konsumen Terhadap Produk Sambal Kemasan Bu Rusdan Yaitu Terdiri Dari Daya Tahan 3 Bulan, Warna Asli Cabai, Rasa Sambal Original, Penggunaan Bahan Kemas Yang Aman Dan Rapat, Netto Yang Sesuai Dengan Volume Perkemasan, Pengajun Ijin Bpom, Aroma Segar Sambal, Tekstur Sambal Perlu Disesuaikan Tekstur Sedikit Kasar Dan Penyesuaian Harga. Kemudian Untuk Respon Teknik Yang Perlu Dilakukan Perusahaan Menanggapi Harapan Konsumen Yaitu Penggunaan Bahan Baku Berkualitas 19,39% Menjadi Prioritas 1, Penggunaan Bahan Utama 14,44% Prioritas 2, Penyesuaian Harga 12,99% Prioritas 3, Penggunaan Bahan Kemas 11,86% Prioritas 4, Penggunaan Bahan Penyedap 10,29% Prioritas 5, Penyesuaian Volume Perkemasan 9,98% Prioritas 6, Tanpa Pengawet Kimia 8,71% Prioritas 7, Pengaturan Ukuran Tekstur 7,52% Prioritas 8 Dan Pengajuan Ijin Bpom Sambal 4,77% Prioritas 9. Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Kualitas Produk Sambal Kemasan Bu Rusdan Terdiri Dari Kualitas Cabai Yang Menurun Saat Musim Hujan, Kompor Yang Kurang Perawatan, Bahan Kemas Kurang Rapat, Kadar Minyak Yang Terlalu Banyak, Pemberian Bahan Penyedap Tidak Sesuai Takaran, Penyesuaian Volume Pengemasan Tidak Konsisten Dan Tenaga Kerja Yang Kurang Terampil Dan Kurang Disiplin. Strategi Yang Tepat Untuk Perusahaan Sambal Kemasan Bu Rusdan Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Produk Terdiri Dari Menggunakan Bahan Pengawet Yang Tidak Berbahaya, Penanganan Proses Produksi Sesuai Standar, Menyiapkan Prasyarat Lab Bpom Dan Label Halal, Memberikan Varian Rasa Sambal Yang Berbeda Sesuai Harapan Konsumen
ANALISIS PENGALAMAN INFORMASI SPIRITUAL DALAM MEMBACA AL QURAN
Rusdan Kamil. (1600820). Analisis Pengalaman Informasi Spiritual dalam Membaca Al Quran. Skripsi. Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, Departemen Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2020
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya minat penelitian mengenai fenomena informasi dan hal-hal yang lebih tinggi (information and higher things) di komunitas ilmuwan perpustakaan dan sais informasi. Fenomena informasi dan hal-hal yang lebih tinggi dalam perilaku informasi keagamaan dalam membaca Al Quran yang berfokus pada pada aktivitas informasi, pengalaman informasi dan pemahaman yang dibangun berdasarkan tipe pembacaan religius menjadi tujuan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, wawancara semi terstruktur dan wawancara lanjutan, serta dianalisis dengan metode fenomenologi intrepretatif terhadap 5 (lima) orang partisipan pembaca Al Quran. Dua tahap dalam analisis yaitu case by case dan cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Tahap analisis case by case analysis dilakukan dengan membaca dan membaca ulang data, menulis catatan awal serta mengembangkan tema yang dilakukan terhadap data individual untuk menemukan gambaran umum dan keunikan pengalaman informasi pada setiap partisipan. Selanjutnya, tahap analisis cross-sectional dengan mencari koneksi di seluruh tema yang muncul untuk menggambarkan fenomena secara keseluruhan yang bertujuan menjawab rumusan masalah penelitian. Penelitian ini mengungkapkan 3 (tiga) tema pengalaman informasi yang ditemukan pada partisipan yaitu membaca dan memahami bacaan, internalisasi pengalaman membaca, dan pengalaman komunikasi transendental. Penelitian ini juga menunjukkan adanya eksistensi internet sebagai lanskap informasi keagamaan untuk mempermudah pencarian informasi bahkan sampai membagikan informasi dengan media sosial.
Kata Kunci: Aktivitas informasi, Membaca Al Quran, Pemahaman, Pengalaman Informasi, Perilaku Informasi keagamaan
------------
Rusdan Kamil. (1600820). An Analysis of The Experience Spiritual Information in Reading Al Quran. Skripsi. Library and Information Science Study Program, Department of Curriculum and Educational Technology, Faculty of Education. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2020.
This research is motivated by the emergence of research interest in the phenomenon information and higher things in the community of library and information scientists. The phenomenon of information and higher things in the information behavior of religious matters in reading the Koran that focuses on information activities, information experiences, and understandings that are built based on the type of religious reading are the objectives of this study. Data collection was carried out with questionnaires, semi-structured interviews, and follow-up interviews, and analyzed using interpretive phenomenological methods for 5 (five) participants who read the Koran. Two stages in the analysis, namely case by case and cross-sectional, were used in this study. The case by case analysis phase is carried out by reading and rereading data, writing preliminary notes and developing themes that are carried out on individual data to find a general picture and the unique experience of information in each participant. Next, the cross-sectional analysis phase looks for connections across themes that emerge to describe the widespread phenomenon aimed at answering the research problem formulation. This study revealed 3 (three) themes of information experiences found in participants, namely reading and understanding reading, internalizing reading experiences, and transcendental communication experiences. This research also shows the existence of the internet as an information landscape of religious matters to facilitate information searching and sharing with social media.
Keywords: Information Activities, Reading Al Quran, Understanding, Information Experience, Religious Information Behavio
Insurance hold youths’ future / Nurul Sabrina Rusdan Teo ... [et al.]
The younger generation nowadays, particularly students, are unaware of the significance it is for them to have insurance. Anyone wanting to protect their family, assets, property, and oneself from financial danger or losses would benefit from insurance coverage. Youth and students are not aware of the value and advantages of having insurance. Therefore, we made the decision to increase their awareness of these topics by using TikTok, an app that has lately been popular among social media users. Since most insurance firms use YouTube advertisements for marketing their goods, however, kids frequently overlook them, so we decided to advertise using TikTok. The primary goal of this invention is to educate children and students about the value of having insurance. Other than that, it is also to practice the TikTok platform as an educational platform. Besides that, to make sure the efficiency of the insurance sector is well promoted. Then, about the uniqueness of the product, we promote it by using TikTok as the platform. We create short videos to promote on TikTok. This is due to the fact that, in our view, more Tik Tok users prefer viewing short videos and never grow tired of doing so. Additionally, the videos we upload to TikTok will also show up in people's user feeds. They will consequently monitor and develop an interest in our goods. This will guarantee the protection of the financial and medical goals. Additionally, it can lessen the danger that individuals may face, allowing them to relax and not worry about unforeseen circumstances in the future. This concept aims to make the young person realize how crucial having insurance is to their future
Urgensi Manajemen Pengawasan Risiko Bank Syariah
Perbankan, tak terkecuali Bank Syariah, memiliki posisi strategis sebagai lembaga intermediasi dan penunjang sistem pembayaran. Sebagai lembaga intermediasi, perbankan dapat memberikan kemudahan untuk mengalirkan dana dari pihak yang memiliki kelebihan dana (savers) dengan kedudukan sebagai penabung ke pihak yang memerlukan dana (borrowers) untuk berbagai kepentingan. Selain itu, bank juga sebagai agent of development, yang dapat mendorong kemajuan pembangunan melalui fasilitas kredit dan kemudahan-kemudahan pembayaran dan penarikan dalam proses transaksi yang dilakukan para pelaku ekonomi. Dalam melakukan fungsinya tersebut, sektor perbankan memiliki eksposur terhadap berbagai macam risiko. Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sektor perbankan dituntut untuk mampu secara efektif mengelola risiko-risiko yang dihadapinya agar dapat memelihara kesinambungan proses bisnisnya sehingga proses intermediasi keuangan dalam perekonomian dapat berkelanjutan dan berjalan dengan efisien. Ada beberapa macam risiko yang perlu diidentifikasi, diukur, dipantau, dan dikendalikan oleh perbankan syariah dalam menjalankan kegiatan USAhanya meliputi: risiko pembiayaan (financing risk), risiko pasar (market risk), risiko likuiditas (liquidity risk), risiko operasional (operational risk), risiko hukum (legal risk), risiko reputasi (reputation risk), risiko strategis (strategic risk), risiko kepatuhan (compliance risk) dan sebagainya
BIROKRASI PEMERINTAH DAN SPIRITUALITAS KERJA
Masalah utama birokrasi pemerintah sampai saat ini masih diwarnai dengan sikapambivalensi masyarakat dalam menerima keberadaan birokrasi, disatu sisi sangat dibutuhkanuntuk memenuhi kepentingan masyarakat yang berlegitimasi, tapi pada sisi lain dianggapsebagai penghambat, karena pada saat tertentu menunjukkan kinerja yang bersifatmenghalangi pemenuhan kepentingan masyarakat sebagai pihak pengguna. Artinya, secarafaktual birokrasi pemerintah harus menjadikan gambaran tersebut sebagai cara untukmemperbaiki diri. Salah satu cara yang dapat digunakan meningkatkan kualitas birokrasimelalui penguatan sistem nilai internal, yakni menumbuhkan spiritualitas kerja, sehinggamemunculkan semangat kerja yang dipenuhi makna dan bertujuan, bukan pola kerjatokenisme yang dilekatkan masyarakat terhadap cara kerja biirokrasi pemerintah. Dengantumbuhnya spiritualitas tempat kerja yang mengandung makna bahwa dalam diri manusia adapekir dan jiwa yang mendorong dan pada akhirnya menjadi pemicu munculnya hubungankerja yang sarat dengan nilai-nilai kesadaran manusiawi menjadi nilai bersam
Anatomi Zakat Mal (antara Ibadah Mahdhah dan Mu’amalah Maliyyah)
There is a general view that is developing among the jurists' that zakat is a mahdhah worship which contains the side of mu'amalh maliyah ijtima'iyyah. As a mahdhah worship, zakat is ta'abbudi. At this point, submission and obedience are put forward so that there is no room for innovation and creation. While in its position as mu'amalh maliyah ijtima'iyyah it is ta'aqquli, so it is possible to make innovations and creations, both regarding the object of zakat, miqdar zakat (nishab and percentage of zakat), or other things that surround the zakat. The data used in this research is secondary data which is collected and obtained from literature studies, documents and other scientific publications. While the data analysis method used is a qualitative descriptive method, which is intended to comprehensively explain and analyze the position of zakat as mahdhah worship which contains mu'amalah maliyyah ijtima'iyyah which cannot be separated from the socio-economic aspects. Although it is understood that zakat mal contains aspects of mu'amalah maliyah ijtima'yyah, in addition to aspects of mahdhah worship which are ritual nuances and are ta'aqquli in nature, in practice the nuances of worship are more dominant, both at the theoretical-normative and practical-policy level. This is evident from the lack of progressive ijtihad to develop zakat miqdar (nishab and zakat percentage), zakat objects, and state policies. So far, the object of zakat has almost no development other than what the jurists have discussed in fiqh books which usually only revolves around a few commodities / business fields, such as zakat on gold and silver, zakat on livestock (usually limited to camels, cows, and goat), zakat on agriculture and certain fruits, zakat on commerce, and zakat for mining goods and hidden assets
POLITIK HUKUM PERBANKAN SYARIAH DI INDONESIA (ANALISIS KRITIS REGULASI PENYELESAIAN SENGKETA PERBANKAN SYARIAH)
Dewasa ini perkembangan Perbankan Syariah semakin pesat. Dengan demikian, maka tidak menutup kemungkinan timbulnya sengketa antara Perbankan Syariah dengan nasabahnya, baik dalam kapasitasnya sebagai Shahibul Maal (penyandang dana) maupun Mudharib (pengelola dana). Berkaitan dengan itu, Pasal 49 huruf i Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama melimpahkan kewenangan kepada Peradilan Agama untuk menyelesaikan sengketa tersebut secara absolut. Namun pada sisi lain Peradilan Umum juga diberi kewenangan untuk menyelesaikan sengketa yang sama melalui Penjelasan Pasal 55 ayat (2) huruf d Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Dalam konteks itulah artikel ini menelaah ketidaksinkronan kedua peraturan perundang-undangan tersebut serta mencari format penyelesaian yang lebih maslahah. Solusi terbaik yang diajukan dalam artikel ini adalah dengan mengamandemen UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah oleh lembaga yang berwenang, khususnya menyangkut dimungkinkannya Pengadilan Negeri menyelesaikan sengketa Perbankan Syariah. Untuk memperkuat ide tersebut dipaparkan empat alasan logis yang mencakup: (1). Untuk menjamin kepastian hukum penyelesaian sengketa Perbankan Syariah; (2). Untuk mengakhiri konflik yurisdiksi antara Peradilan Agama dengan Peradilan Umum; (3). Hakim Pengadilan Negeri tidak kompeten untuk menyelesaikan sengketa Perbankan Syariah; dan (4). Untuk meluruskan paradigma pengelompokan litigasi dan non litigasi yang keliru. Kata Kunci: Politik Hukum, Perbankan Syariah, Regulas
SELUK BELUK PENGATURAN RAHASIA BANK SYARIAH
Bank syariah merupakan lembaga keuangan yang eksistensinya sangat tergantung pada kepercayaan para nasabah (penyimpan maupun pengguna dana) yang telah mempercayakan dana serta jasa-jasa lainnya pada bank itu. Oleh karena itu, bank sangat berkepentingan agar kadar kepercayaan masyarakat tersebut terpelihara dengan baik. Salah satu faktor untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank adalah kepatuhan bank terhadap kewajiban rahasia bank seperti yang diamanatkan undang-undang.Dasar Hukum ketentuan rahasia bank di Indonesia, mula-mula tertuang dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan yang kemudian disempurnakan menjadi Undang-Undang No.10 Tahun 1998. Khusus untuk bank syariah telah diatur secara tersendiri dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah. Pada intinya, ruang lingkup rahasia bank syariah yang diatur dalam undang-undang perbankan syariah sama persis dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 sebagai revisi atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. Dalam konteks ini, bank dan pihak terafiliasi hanya diwajibkan merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya serta nasabah investor dan investasinya. Hal ini berarti pula bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan nasabah penerima fasilitas atau nasabah peminjam (debitor) tidak termasuk ke dalam katagori rahasia bank yang wajib dirahasiakan oleh bank syariah dan pihak terafiliasi.Namun demikian, dalam kondisi-kondisi tertentu bank syariah dan pihak terafiliasi dibolehkan bahkan diwajibkan untuk memberikan keterangan mengenai nasabahnya berserta simpanan atau investasinya kepada pihak-pihak yang secara yuridis normatif diberi hak atau wewenang. Kata Kunci: Rahasia Bank, Bank Syariah, Pihak Terafiliasi, Wewenan
AKSELERASI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA
Pada prinsipnya tulisan ini berusaha memotret pertumbuhan dan perkembangan bank syariah yang dari tahun ke tahun menunjukkan laju pertumbuhan yang cukup signifikan. Data tersebut kemudian digunakan sebagai pijakan untuk melihat efektifitas kebijakan pengembangan perbankan syariah yang tertuang dalam Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia yang disusun Bank Indonesia. Kecuali itu, dibahas pula landasan hukum perbankan syariah yang dalam kenyataannya berevolusi seiring perjalanan perbankan syariah itu sendiri.Pertumbuhan bank syariah dari tahun ke tahun memang menunjukkan angka yang sangat fantastis. Pada tahun 2011 saja pertumbuhannya menembus angka 48,6% dari tahun sebelumnya, sementara perbankan nasional hanya 21,4%. Namun demikian, hingga akhir 2011 market share-nya baru menyentuh angka 4,0 % terhadap perbankan nasional. Padahal dalam Cetak Biru Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia yang disusun oleh otoritas moneter dicanangkan pada tahun 2011 market share perbankan syariah minimal berada pada kisaran angka 5,0%. Kata Kunci: Bank Syariah, Pertumbuhan, Market Shar
MEWUJUDKAN BIROKRASI PEMERINTAH TERHUBUNGKAN SEBAGAI PELAYAN PUBLIK
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan keniscayaan yang tak dapat dibendung dan ditentang, termasuk birokrasi pemerintah harus mampu beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan beradaptasi tersebut dengan melakukan upaya penggunaan teknologi untuk mengefektifkan kerja birokrasi pemerintah sebagai pelayan publik, sesuai dengan tuntutan perubahan yang ada di dalam masyarakat, yang sudah banyak bersentuhan dengan teknologi digital dalam bertransaksi. Era digitalisasi menghendaki unit-unit kerja menggunakan teknologi digital agar terwujud sistem kerja terintegrasi yang dikenal dengan birokrasi pemerintah terhubungkan, agar dapat mewujudkan pelayanan optimal yang cepat, mudah, murah dan akurat. Namun untuk mewujudkan hal tersebut membutuhkan kondisi yang harus terpenuhi dalam diri birokrasi, yakni adanya kemampuan mengadaptasi secara struktural -fungsional maupun kesiapan sumberdaya manusianya
- …
