15 research outputs found

    PERMAINAN ALAT MUSIK PERKUSI SEBAGAI METODE BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK KASAR

    No full text
    Dalam upaya meningkatkan kemampuan motorik anak, penggunaan alat musik perkusi merupakan salah satu dari upaya yang layak untuk menjadi perhatian guru dalam mendidik anak-anaknya terutama siswa TK. Musik merupakan bahasa yang di ucapkan pada semua budaya, sehingga menawarkan cara stimulasi yang penting setiap negara. Anak-anak umumnya tertarik untuk memainkan alat musik dan menciptakan irama yang selaras sehingga ia akan menikmati ketika memainkannya. Menciptakan dan memainkan musik akan membawa kepuasan dan kegembiraan besar bagi anak.

    UPAYA GURU MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM MATERI RUKUN ISLAM MATERI SHOLAT LIMA WAKTU MELALUI METODE ROLE PLAYING DI KELAS II SDN 19 TANJUNG RAJA KECAMATAN TANJUNG RAJA KABUPATEN OGAN ILIR

    No full text
    Tugas guru bukan sekedar mengajar atau menyampaikan materi pelajaran di depan kelas saja, tetapi guru memiliki tugas sebagai fasilitator, motivator, inspirator, komunikator dan sebagainya. Di mana tugas-tugas tersebut tidak hanya menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berilmu pengetahuan, tetapi juga menjadikan peserta didik yang berkepribadian mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan tersebut harus didukung oleh setiap komponen pendidikan termasuk pemilihan metode yang efektif. Berdasarkan identifikasi masalah, maka penelitian ini mempunyai rumusan permasalahan apakah dengan metode Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa materi mengenal Rukun Islam materi sholat lima waktu di kelas II SDN 19 Tanjung Raja Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir? Dari masalah ini maka tujuanya adalah untuk mengetahui penerapan metode Role Playing dalam meningkatan hasil belajar siswa materi mengenal Rukun Islam materi sholat lima waktu di kelas II SDN 19 Tanjung Raja Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas II SDN 19 Tanjung Raja Kecamatan Tanjung Raja Kabupaten Ogan Ilir yang berjumlah 24 orang siswa dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, dokumentasi dan tes formatif. Sementara tindakan dilakukan sebanyak 2 siklus, yang di lakukan pada bulan Februari untuk Pra Siklus dan Siklus I serta bulan bulan Maret untuk Siklus II. Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan melalui 2 siklus, maka dapat di ambil kesimpulan bahwa metode Belajar Role Playing dapat meningkatkan hasil belajar siswa SD Negeri 19 Tanjung Raja pada mata pelajaran PAI materi Rukun Islam. Hal ini dapat di lihat dari : capaian skor total, pada pratindakan skor total hanya mencapai 1340, kemudian siklus 1 naik menjadi 1615 kemudian di siklus 2 naik lagi menjadi 1860, kemudian dari nilai rata-rata, pada pratindakan nilai tes rata-rata siswa hanya mencapai 55.8. Dari 55.8 di pratindakan kemudian naik menjadi 67.2 di siklus 1, naik lagi menjadi 77.5 di siklus 2 dan dari ketuntasan belajar dapat dikemukakan bahwa pada pratindakan ketuntasan belajar hanya 12.5%, kemudian di siklus 1 naik drastis menjadi 54.1%%, kemudian di siklus 2 naik dengan signifikan menjadi 100% dengan demikian terjadi peningkatan

    Ideologi Feminisme dalam Kaba Cindua Mato

    No full text

    UNGKAPAN EMOSI NEGATIF MASYARAKAT MULTIETNIS PANDALUNGAN JEMBER

    No full text
    Ekspresi emosi lintas kultur ini mengambil data pada ranah pasar karena banyak ditemukan pemakaian ungkapan emosi negatif. Masalah penelitian ini adalah bentuk pemakaian ungkapan emosi negatif pada etnis Jawa, Madura dan Osing dalam ranah pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk ungkapan emosi negatif di daerah Pandalungan meliputi (1) kata tunggal, (2) kata kompleks, berupa kata majemuk, kata ulang, dan berimbuhan, (3) bentuk frasa, dan (4) bentuk klausa. Bentuk ungkapan emosi negatif tersebut mengekspresikan tujuh kategori, yakni kategori hewan, keadaan, makhluk halus, profesi/pekerjaan, bagian tubuh, aktivitas seksual, dan kekerabatan. Kata Kunci: ungkapan; emosi negatif; multietnis pandalunga

    Pendidik dalam perspektif Al-Qur’an

    No full text
    Pendidikan adalah seorang yang memiliki ilmu dan profesi keahlian khusus dalam mentransformasikan ilmu-ilmu pengetahuan kepada para peserta didik sehingga peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang belum di mengerti dan dengan keikhlasan, ketaqwaan dan tanggung jawabnya dapat memberi teladan yang baik bagi anak didiknya dan bagi masyarakat.Tetapi masih banyak orang yang merasa kebingungan dalam menempatkan arti seorang pendidik yang sebenarnya dalam perspektif Al-Qur’an. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana pendidik dalam Perspektif Al- Qur’an. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta mengkaj ilebih dalam bagaimana pendidik dalam persfektif Al-Qur’an. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an al-Baqarah: 31, 129, dan 269, al-Kahfi: 66-70, al-Imran: 164, surat Luqman 12-15, danThahaa: 114. Jenispenelitian yang akandigunakanadalahpenelitianpustaka (library research). Metodepe ngumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode tafsir maudhu’i. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan, pendidik dalam perspektif Al-Qur’an bersifat komprehensif yang mengarah pada aspek pembinaan terhadap peserta didik, yaitu tertera dalam surat Luqman dimana seorang guru harus memiliki potensi dan mengajar yang baik kepada orang lain, pada surat Al-Kahfi, seorang guru harusmemilikiketegasandalammengajar, sedangkandalamsurat Al-Baqarah, memberikan pengajaran tentang mengenal nama-nama benda, mengajarkan membaca serta menulis dan memberikan arahan serta nasihat-nasihat sesuai keterangan yang adadalam Al-Qur’an. Surat Al-Imran dijelaskan dimana guru harus dapat menyampaikan amalan-amalan baik sesuai pedoman. Serta dijelaskan pula dalam surat Thaaha dimana guru untuk selalu mengikuti aturan tanpa tergesa-gesa dalam menyampaikan pelajaran kepada peserta didik. Oleh karenanya pendidik dalam perspektif Al-Qur’an merupakan suatu acuan dimana guru atau pendidik harus memiliki ketegasan emosional dan spiritual dalam membina serta mengarahkan peserta didiknya pada tujuan yang lebih baik

    ISU GENDER PADA TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL NAYLA KARYA DJENAR MAESA AYU

    No full text
    This writing is done to know how for the gender issues affects the female characters in the novel Nayla of Djenar Maesa Ayu. The effect of inequality will appears subordination and violence against to women. Subordination and violence are events that affects the female characters in the novel Nayla of  Djenar Maesa Ayu. The author tries to raise the position of women from gender inequality. The figure of Nayla tries to find the self-awareness and the existence of gender inequality. Keywords : Gender, subordination, and violenceCopyright © 2012 by Kafa`ah All right reservedDOI : 10.15548/jk.v2i2.5

    Strategy for influencing through Indonesian persuasive motivator

    No full text
    The ability to persuade is a valuable communication skill that cannot be acquired easily. When used with confidence, persuasive speech possesses power, triggers change, and can inspire action. Speaking persuasively is a strategy that a motivator must master; this skill aims to influence, suggest, bring about positive change, and create attraction when speaking to an audience. This study aims to analyze the strategies used by motivators to influence participants in motivational seminars. The research employs a qualitative method with a pragmatic approach, as this approach provides strong tools for uncovering the hidden meanings in the motivator\u27s speech. The data sources are derived from twenty (20) videos of Indonesian motivators Ary Ginanjar Agustian and Ippho Sentosa, focusing on aspects such as the topic and context of their talks. The overall findings reveal that the success of a motivator in influencing seminar participants is closely tied to three persuasive strategies used. These strategies are: i) commitment and consistency, ii) social proof, and iii) authority. The implications of this study support Robert B. Cialdini\u27s persuasive theory, showing that the three motivators successfully persuaded, changed attitudes, and reinforced the intentions of seminar participants. Practically, the study suggests that organizations or individuals aiming to organize motivational events should select motivators with strong rhetorical skills
    corecore