1,721,056 research outputs found
Semua Berawal dengan Keteladanan : Catatan kritis Rosihan Anwar
Rosihan Anwar wartawan senior yang muncul di semua zaman, hadir pada beragam bidang, nampak di setiap peristiwa. Dia tidak sekedar mengamati, tetapi mencatat, mengkritisi, dan melaporkan langsung kepada khalayak, dengan keberanian luar biasa oleh karena fakta adalah suci. Rosihan mengungkap segalanya yang ber atau ter sembuny
ROSIHAN ANWAR: SUMBANGAN DAN PERSPEKTIF MENGENAI SEJARAH INDONESIA (1945-2011)
Skripsi ini berjudul “Rosihan Anwar: Sumbangan dan Perspektifnya Mengenai Sejarah Indonesia (1945-2011)”. Skripsi ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana perjuangan Rosihan Anwar menjadi seorang wartawan, sastrawan, dan sejarawan yang hebat serta pandangan-pandangan yang beliau berikan dalam karya-karya. Skripsi ini termasuk dalam kategori sejarah Intelektual karena mengkaji tentang pemikiran-pemikiran Rosihan Anwar yang terdapat di dalam karya-karya yang ditulis.
Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan melalui empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.. Tahap awal dari penelitian ini adalah pengumpulan sumber (heuristik) berupa karya-karya sejarah Rosihan Anwar yang dimuat dalam bentuk buku. Setelah semua sumber terkumpul, maka dilakukan kritik intern dan esktern. Tahap ketiga ialah interpretasi data-data yang telah ditemukan dalam sumber-sumber penelitian. Tahap akhir adalah historiografi atau penulisan sejarah.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Rosihan Anwar merupakan seorang wartawan, sastrawan, dan juga sejarawan yang memiliki banyak prestasi. Karya-karya sejarah Rosihan Anwar menjadi sumbangan untuk bangsa Indonesia, diantara karyanya yaitu buku Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 1, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 2, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 3, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 4, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 5, “Sukarno, Tentara, PKI, Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965”, Kisah-Kisah Zaman Revolusi, Rosihan Anwar juga menulis Autobiografi dengan judul Menulis Dalam Air Sebuah Otobiografi.
Rosihan Anwar menuangkan segala pemikirannya kepada surat kabar maupun karya-karya sejarah yang ditulisnya, karya-karya Rosihan Anwar ini merupakan bentuk perjuangan dan sumbangan yang diberikan oleh Rosihan Anwar untuk pemerintah Republik Indonesia
Sejarah kecil petite histoire Indonesia : kisah-kisah zaman revolusi kemerdekaan, Jilid 7
Rosihan Anwar kembali berkisah tentang zaman revolusi kemerdekaan 1945-1949. Sebagai seorang wartawan, tiap sisi sejarah memiliki keunikan tersendiri. Dikisahkan bagaimana suasana Jakarta setelah proklamasi, Jakarta menjelang clash ke-1, dan peristiwa lainnya pada saat revolusi. Selain berisi laporan historis dari peristiwa-peristiwa seputar periode perang kemerdekaan, juga dikisahkan pengalaman pribadinya selama zaman revolusi. Antara lain, kisah Rosihan saat menjadi pelayan Lord Killearn di Linggajati, 10 November 1946; saat berkesempatan mengikuti sidang kabinet di Yogyakarta, 5 Februari 1947; menjadi penyiar laporan pandangan mata untuk RRI kala penandatanganan Persetujuan Linggajati, 25 Maret 1947; sampai saat ikut menjemput Jenderal Sudirman, 7 Juli 1949. Inilah kenang-kenangan wartawan senior Rosihan Anwar dalam merekam tahun-tahun pertama perjuangan bangsa dalam menegakkan kemerdekaan
Gaya penulisan tema sejarah Rosihan Anwar dalam penulisan sejarah di Indonesia (1979-2010)
Penulisan tema sejarah sangat penting, karena dapat mengenalkan peristiwa masa lampau melalui sebuah tulisan dan narasi bahwa sejarah tidak akan diketahui hingga berabad-abad tanpa adanya tulisan atau karya ilmiah. Jika sejarah menggunakan cerita turun-temurun saja, kemungkinan anak cucu kita kelak tidak akan ada yang tahu mengenai peristiwa sejarah di masa lampau dan sekarang. Namun dalam menuliskan setiap peristiwa sejarah pun perlu mempunyai teknik yang baik untuk menarasikannya seperti halnya seorang tokoh yang bernama H. Rosihan Anwar yang lebih dikenal di dunia Wartawan dan Sastrawan, yang memiliki hobi menulis salah satunya yang berkaitan dengan tema sejarah, baik dalam bentuk tulisan feature untuk surat kabar dan majalah, maupun dalam bentuk narasi skenario film dokumenter atau reportase untuk televisi. Dari latar belakang berikut mengahasilkan Rumusan Masalah, (1) Bagaimana Riwayat hidup H. Rosihan Anwar?, (2) Bagaimana gaya bahasa Penulisan tema sejarah H. Rosihan Anwar?, (3). Bagaimana gaya penulisan tema sejarah H. Rosihan Anwar?.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui riwayat hidup seorang tokoh dari dunia pers yang mempunyai keinginan agar sejarah tidak hilang begitu saja, dan bermanfaat bagi generasi muda, oleh karena itu penulis mengumpulkan beberapa tulisan Rosihan Anwar yang berkaian dengan tema sejarah untuk dianalisis dan dikaji baik dalam metode, corak dan ruang lingkup penulisannya.
Metode yang digunakan adalah eksistensialisme teistik yang dikemukakan oleh Mohammad Iqbal untuk menganalisis Penulisan Sejarah H. Rosihan Anwar. Tesis ini mengunakan metode penelitian History.
Hasil dari penelitian ini adalah sebagai wartawan Rosihan Anwar terpikir untuk mengombinasikan kiat-kiat jurnalistik dengan persyaratan ilmiah. Yang berpikir tentang bagaimana caranya membuat sejarah menarik bagi generasi muda. Sejarah yang tidak terdiri dari hanya rangkaian tahun atau jaartallen untuk dihafalkan, tetapi yang dirasakan hidup dan bermakna untuk kehidupan zaman sekarang. Sejarah yang bukan barang ”kering” semata-mata, melainkan suatu realitas yang terus bergerak dan layak dipahami dengan baik melalui karya-karyanya dan dalam penulisan Sejarahnya mengunakan Bahasa yang mudah dimengerti, padat, ringkas, lugas, menarik, pendek kata bersifat human interest. Seperti dalam menulis buku Petite Histoire yang ditulis dengan gaya dan teknik komposisi yang khas sehingga pembaca bisa membacanya mulai dari tengah atau belakang atau awal, di mana saja, kapan saja dan yang membedakan dari penulisan sejarah lainnya yaitu H. Rosihan Anwar banyak menulis peristiwa sejarah yang langsung di alami oleh dirinya sendiri
Rosihan Anwar Dan Pers Indonesia (Studi Eksploratif Pada Pemikiran Rosihan Anwar Terkait Pers Di Indonesia)
Rosihan Anwar adalah salah satu tokoh jurnalis angkatan ‘45 yang berpengaruh di masanya. Melalui surat kabar yang dipimpin yakni Pedoman, ia banyak menyuarakan kritik pada pemerintah dengan tajam dan keras namun konstruktif. Bahkan setelah Pedoman benar-benar berhenti beroperasi karena dibredel pada masa Orde Baru, Rosihan masih menjadi wartawan lepas dan menyuarakan ide-idenya di berbagai media, ia juga menulis berbagai judul buku yang hingga kini masih diterbitkan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih jauh pemikiran-pemikiran Rosihan sebagai seorang praktisi media di masa awal kemerdekaan hingga orde baru. Sehingga implikasinya, dapat memperjelas sejarah pers di masa tersebut, yang lebih lanjut dapat membantu memetakan perkembangan sejarah komunikasi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan perspektif komunikasi historis, sociology of knowledge, dan sociology of media, dengan metode grounded theory. Data dari hasil penelitian yang didapat, menunjukkan pola terkait pemikiran Rosihan Anwar. Hal-hal yang menjadi perhatian utama Rosihan antara lain mengenai jurnalisme untuk upaya pembangunan, modernisasi, kode etik dan pers bebas bertanggung jawab, kesejahteraan wartawan dan industri media, kecenderungan pada aspek sejarah dan agama juga menjadi poin yang turut mendominasi pemikirannya. Dikaji menggunakan pendekatan sosiologi pengetahuan, pemikiran Rosihan Anwar mengenai jurnalisme pembangunan jelas berkaitan erat dengan konteks sosial masa Orde Baru yang dikenal sebagai era pembangunan. Beberapa upaya Rosihan untuk menyukseskan pembangunan yakni menggagas ide rural broadcast, Karya Latihan Wartawan (KLW), dan menghimbau wartawan daerah melakukan reportase. Sedangkan, perspektif Sociology of Media nampak kental dalam pandangan Rosihan terhadap aspek pengelolaan media, yang mengutamakan bagi hasil tanpa memandang posisi dalam perusahaan media. Selain itu, pemikiran Rosihan yang mengedepankan kesejahteraan wartawan dan pembangunan SDM nampak sejalan dengan visi AMIC, organisasi yang ia gagas bersama rekan-rekannya dari berbagai negara di Asia
PANDANGAN ROSIHAN ANWAR DAN MOCHTAR LUBIS DALAM PERKEMBANGAN POLITIK INDONESIA TAHUN 1950-1965
Skripsi ini berjudul “Pandangan Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis dalam Perkembangan Politik Indonesia Tahun 1950-1965”. Latar belakang penelitian ini didasarkan kepada iklim politik Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan dalam periode tersebut. Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis sebagai wartawan yang aktif mengikuti perkembangan politik Indonesia tahun 1950-1965 memiliki sikap dan tindakan tersendiri dalam merespon perkembangan politik pada waktu itu. Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah Bagaimana Pandangan Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis dalam Perkembangan Politik Indonesia Tahun 1950-1965?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yang menguji dan menganalisis secara kritis berbagai data peninggalan dan peristiwa masa lampau dengan melakukan empat tahap penelitian yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Teknik penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah studi dokumentasi dan studi literatur berupa buku-buku yang relevan, arsip-arsip surat kabar Indonesia Raya dan Pedoman dengan menggunakan pendekatan interdisipliner. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa keduanya baik Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda baik ditinjau dari pendidikan dan adat istiadat yang berbeda. Mochtar Lubis berasal dari suku Mandailing yang memegang teguh peraturan adat istiadat yang berlaku dan Rosihan Anwar berasal dari suku Padang tetapi masih ada keturunan Jawa sehingga keluarganya lebih demokratis. Hal tersebut telah mempengaruhi karakter mereka dalam mengambil suatu keputusan. Awal tahun 1950-an merupakan harapan bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh kehidupan lebih baik di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pers yang juga ikut merasakan kebebasannya. Namun hal tersebut tidak bertahan lama karena pemerintah menerapkan Staat van Oorlog en Beleg (SOB) atau negara dalam keadaan darurat perang, yang telah menunjukan ciri-ciri pemimpin otoriter. Perubahan politik yang terjadi direspon oleh kedua tokoh ini melalui berbagai media yang dapat mereka gunakan seperti surat kabar dan buku catatan pribadinya. Sebagai seorang wartawan Rosihan Anwar menyambut baik pemberlakuan Konsep Demokrasi Liberal, namun Mochtar Lubis memandang pesismis pemberlakuan konsep tersebut karena sumber daya manusia di Indonesia masih belum siap. Hal tersebut terlihat dalam kebebasan pers, awal tahun 1950-an, pers memiliki kebebasan dalam memberitakan suatu informasi kepada masyarakat tetapi setelah adanya SOB maka Pers diawasi secara ketat oleh penguasa. Rangkaian peristiwa yang terjadi selama tahun 1950-1965 telah membentuk orientasi politik keduanya, Rosihan Anwar memberikan dukungannya kepada Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan pengagum tokoh sentral PSI yaitu Sjahrir. Sedangkan Mochtar Lubis hanya sebatas bersimpati saja kepada partai tersebut. Ia menyadari bahwa cita-cita PSI menginginkan agar rakyat Indonesia sejahtera tetapi para politikus tersebut memiliki perilaku yang tidak mencerminkan cita-citanya. Ia juga dekat dengan tokoh Masyumi secara pribadi seperti Natsir terutama ketika Natsir mempin partai tersebut dan ketika memiliki jabatan dalam pemerintahan. Mochtar Lubis juga dekat dengan perwira militer dan disisi lain ia juga memiliki sikap politik yang menentang kekuasaan Soekarno.; This paper entitled “Rosihan Anwar and Mochtar Lubis’s view on Indonesian Political Development in 1950-1965”. The background of this research based on political climate in Indonesia. Rosihan Anwar and Mochtar Lubis as a journalist who actively followed the political development in Indonesia in 1950-1965 has their own demeanor and action in response to the problem at that time. The main issues that raised in this research is how Rosihan Anwar and Mochtar Lubis sees the political development in Indonesia in 1950-1965. The main problem is limited to the research questions: (1) How are Rosihan Anwar and Mochtar Lubis life background? (2) How are Rosihan Anwar and Mochtar Lubis view concerning the concept and the implementation of liberal democracy and guided democracy? How Rosihan Anwar and Mochtar Lubis view the press freedom in Indonesia? (4) How is the political orientation of Rosihan Anwar and Mochtar Lubis in 1950-1965?. This research employed historical method that critically tested and analyzed several facts and events in the past heritage by conducting four research stages that are heuristic, critic, interpretation, and historiography. The research technique used documentation study and literature study in the form of relevant book, Indonesia Raya and Pedoman with using interdisciplinary approach. Based on the historical research, both of Rosihan Anwar and Mochtar Lubis had different surround such as educational background and custom. Mochtar Lubis came from Mandailing family who hold their tradition while Rosihan Anwar came from Padang but have a Javanese descendant so his family was more democratic. Mochtar Lubis from the tribe Mandailing strictly observing applicable customs and Rosihan Anwar was of the tribe of Padang but there are still descendants of Java so that his family is more democratic. It has affected their characters in the decision. Beginning in the 1950s was the hope for Indonesia to obtain a better life in various fields, including in the field who are feeling the press freedom. However, it did not last long as the government implements Staat van Oorlog en Beleg (SOB) or a state of emergency of war, which has shown the characteristics of an authoritarian leader. The political changes that occurred responded by these two characters through various media that they can use as a newspaper and notebook personal. As a journalist, Rosihan Anwar welcomed the enactment of the Liberal Democratic concept, but Mochtar Lubis looked pesismis enforcement of the concept of human resources in Indonesia is still not ready. It is seen in the freedom of the press, the early 1950s, the press have freedom in reporting any information to the public, but after the SOB then press closely monitored by the authorities. The series of events that occurred during the years 1950 to 1965 have formed the political orientation of the two, Rosihan Anwar gives support to the Indonesian Socialist Party (PSI) PSI central figures and admirers that Sjahrir.While Mochtar Lubis merely sympathetic to the party alone. He realized that the ideals of the people of Indonesia PSI wants peace, but the other politicians have behavior that does not reflect his ideals. He is also close to the figure Masjumi personally like Natsir especially when Natsir mempin the party and when have positions in the government. Mochtar Lubis had been close with military officers and he also had a political stance against Soekarno
ROSIHAN ANWAR SEBAGAI SEJARAWAN
This study discusses the historian, journalism figure in Indonesia, Rosihan Anwar. He can be called a historian because he has applied historical methods in a number of his works. His specialty as a historian is his ability to collect oral sources in the form of interviews with the perpetrators or eyewitnesses to the event. Despite having weaknesses in the use of written sources because the journalist profession has a deadline for publishing writings, Rosihan's historical writing has strength in its rhetoric which is capable of presenting information in an interesting way and easily understood by a wide audience. His presence as a history recorder during the Indonesian Independence Revolution resulted in works which contributed to Indonesian historiography in the form of an alternative historical writing approach known as a petite histoire
Kiprah H Rosihan Anwar dalam pers nasional 1960-2011
Rosihan Anwar atau yang biasa dipanggil dengan Rosihan, merupakan seorang tokoh Pers Nasional. Rosihan lahir di Kubang Nan Dua, Sumatra Barat pada tanggal 10 Mei 1922. Ia memulai karirnya sebagai wartawan surat kabar pada saat setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta pada tahun 1942 tepatnya pada zaman penjajahan Jepang (1943-1945). Pada saat itu Rosihan memuat tulisannya pada salah satu surat kabar. Pada tahun 1943 Rosihan mendirikan surat kabar tersebut, surat kabar tersebut pada penghujung orde lama (1959-1961) tepatnya pada pemerintahan Presiden Soekarno mengalami pembredalan. Diterbitkan lagi pada masa orde baru (1968-1973). Pada tahun 1974 terjadi pemredelan surat kabar yang kedua kalinya.
Berdasarkan uraian diatas, terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu bagaimana dunia pers di Indonesia dan biografi H. Rosihan Anwar, serta bagaimana kiprah H. Rosihan Anwar dalam pers nasional 1960-2011. Adapun tertujuan penelitianini untuk mengetahui dunia pers di Indonesia dan biografi H.Rosihan Anwar, serta untuk mengetahui kiprah H.Rosihan Anwar dalam pers nasional 1960-2011.
Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pendekatan kuantitatif dan bersifat disktiptif. Dengan mengunakan metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik, interpretansi serta historiografi.
Berdasarkan penelitian ini penulis dapat simpulkan. Pertama, Pers merupakan suatu institusi atau lembaga yang berada didalam kemasyarakatan yang berfungsi untuk memenuhi hak masyarakat dalam menyatakan pikiran dan pendapat, Dalam penelitian ini berfokus kepada salah satu tokoh pers yaitu Rosihan Anwar, ia merupakan seorang tokoh pers nasional yang bergerak dibidang kewartawanan. Ia lahir pada tanggal 10 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Sumatra Barat. Rosihan merupakan anak ke empat dari sepuluh bersaudara. Kedua, Kiprah Rosihan dalam pers nasional 1960-2011 Rosihan memulai karirnya sebagai sebagai reporter majalah Asia Raya pada tahun 1943. Kemudian, Rosihan mendirikan salah satu perusahaan surat kabar yaitu Pedoman. Tahun 1961 beberapa surat kabar dibredel saat pemerintahan Soekarno. Diijinkan terbit kembali pada tahun 1968, pada masa Presiden Soeharto, dan kembali keberangusan oleh pemerintahan Soeharto. Keunikan dalam tulisan Rosihan, menulis reportase tidak perlu bertele-tele, cukup dengan perpoin yang berisi fakta-fakta. Selain itu Rosihan dalam memimpin sesuatu Rosihan cenderung bersikap personal management, dimana sikap ini sebagai seorang jurnalistik yang lebih mengedepankan unsur-unsur pribadi atau subjektifitas, cenderung bekerja secara sendiri. Begitu pun dalam memperjuangkan pers dari beberapa kali terjadinya pembredelan dari kedua masa pemerintahan di Indonesia baik era orde lama maupun orde baru. Selama pembredalan itu terjadi Rosihan tidak berhenti menulis dan meliput suatu berita. Beliau pun menjadi seorang kosresponden dan kolumnis dari berbagai media
Kisah-kisah Zaman Revolusi Kemerdekaan , Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 7
Selain berisi laporan historis dari peristiwa-peristiwa seputar periode perang kemerdekaan, juga dikisahkan pengalaman pribadinya selama zaman revolusi. Antara lain, kisah Rosihan saat menjadi pelayan Lord Killearn di Linggajati, 10 November 1946; saat berkesempatan mengikuti sidang kabinet di Yogyakarta, 5 Februari 1947; menjadi penyiar laporan pandangan mata untuk RRI kala penandatanganan Persetujuan Linggajati, 25 Maret 1947; sampai saat ikut menjemput Jenderal Sudirman, 7 Juli 1949.Inilah kenang-kenangan wartawan senior Rosihan Anwar dalam merekam tahun-tahun pertama perjuangan bangsa dalam menegakkan kemerdekaan
- …
