8 research outputs found
Retracking waveform Data Satelit Altimeter dengan Sistem Logika Fuzzy di Perairan Natuna dan Sekitarnya.
Retracking waveform telah terbukti dapat meningkatkan akurasi data estimasi tinggi paras laut (sea surface height (SSH)) dari data satelit altimeter di perairan pesisir. Akan tetapi, pada masing-masing algoritma retracking memiliki kelebihan dan kelemahan sehingga tidak ditemukan algoritma yang dominan yang dapat diterapkan pada setiap kondisi perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan estimasi SSH terbaik dari data satelit altimeter menggunakan metede retracking waveform dengan sistem logika fuzzy. Sistem logika fuzzy digunakan untuk memilih nilai SSH terbaik dari hasil retracking bebagai metode. Data yang digunakan merupakan data level-2 SGRD dari satelit Jason-2 dan Jason-3 di perairan Natuna dan sekitarnya tahun 2016-2018, data undulasi geoid (EGM08), dan data in situ stasiun pasang surut (pasut) tahun 2016-2018. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy dilakukan dengan menggunakan beberapa metode retracker yang kemudian dimasukan kedalam sistem fuzzy.
Hasil analisis performa metode retracking menunjukan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy secara konsisten menghasilkan estimasi SSH terbaik di seluruh lintasan pengamatan. Retracking waveform dengan sistem fuzzy mampu menurunkan standar deviasi SSH hingga 29.7 cm untuk Jason-2 dan 22.9 cm untuk Jason-3 dari standar deviasi on-board retracker. Retracking waveform dengan sistem fuzzy menghasilkan persentase improvement percentage IMP yang tertinggi dibandingkan dengan metode lainnya dengan nilai rata-rata perbaikan mencapai 60.9 % untuk Jason-3 dan 43.1 % untuk Jason-2.
Validasi estimasi sea surface height anomaly (SSHA) hasil retracking waveform terhadap data pasang surut menunjukan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy lebih akurat dibandingkan metode lain. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy mampu menghasilkan rata-rata korelasi temporal mencapai 0.75-0.89 dan RMSE antara 0.15-0.17 m. Retracking waveform dengan sistem logika fuzzy mampu meningkatkan akurasi estimasi SSHA di daerah pesisir hingga jarak 4 km dari garis pantai. Dari hasil penelitain ini dapat disimpulkan bahwa retracking waveform dengan sistem logika fuzzy berpotensi untuk diterapkan dilokasi lain baik di daerah pesisir maupun perairan yang dekat dengan pulau-pulau kecil dan untuk satelit altimeter lainnya
Oceanic index variability and its role in mangrove dieback events in East Lampung
A significant dieback event of Avicennia marina was observed in the coastal area of East Lampung, beginning in 2020, with its cause remaining unidentified. This study aimed to assess the rate of mangrove degradation and investigated the influence of the ocean index on mangrove dieback event. Sequential satellite imagery analysis (2019–2022) was performed to evaluate changes in mangrove cover, focusing on a 200-hectare area within the total 528.69-hectare mangrove forest, utilizing using Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Mangrove Health Index (MVI). Field data were collected at 30 research stations, encompassing live mangroves, partially affected areas, and fully dieback sites, both before and during the dieback event (2020 and 2021). These efforts provide critical insights into the extent and drivers of mangrove decline in the region. Based on the results, the mangrove dieback caused a rapid and significant loss of healthy stands (results of the MVI) and very-high-density stands (results of the NDVI). With reduction in mangrove area was 117.64 ha during 2020-2021. A pronounced decline in 2021 coincided with a prolonged La Niña phase, leading to excessive freshwater influx and prolonged inundation, which likely decreased the salinity and sediment dynamics required for mangrove survival. Additionally, a negative ENSO phase (-1.2) and a concurrent positive IOD phase (+1.5) were associated with increased drought conditions, elevated salinity, and reduced freshwater availability, further stressing Avicennia marina populations. These findings underscore the strong link between oceanic variability and mangrove health, highlighting the need for continued monitoring and improved predictive models to assess the long-term impacts of climate change on coastal ecosystems
Regional Validation Coastal Sea Level Anomaly Estimation from Altimetry Satellite and Tide Gauges Data using Fuzzy Inference System: A Case Study Around Natuna Seas
The validation of waveform retracking analyses with Fuzzy Inferences system, which was previously developed to optimize the estimation of sea surface height (SSHs), particularly in coastal locations, is presented in this study. The fuzzy inference system has been tested and validated in the Natuna Sea, Indonesia, where altimetry waveforms varied based on water conditions. Validation was performed by comparing the waveform retracking result of Jason-3 data with in-situ tide gauge data and geoid. The validation of waveform retracking data for sea level anomaly (SLA) estimate against tidal data demonstrates that the waveform retracking with a fuzzy inference system is more accurate than previous approaches. Waveform retracking with fuzzy inference system is able to produce an average temporal correlation of 0.75-0.89 and RMSE between 0.15-0.17 m. The waveform retracking combined with a fuzzy inference system can improve SLA estimation accuracy in nearshore up to 4 km from the coastline. The results indicate that retracking with fuzzy inference system has the potential to be used in other complicated oceans
Penentuan Status Padang Lamun Kawasan Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi Desa Sidodadi, Kab. Pesawaran, Provinsi Lampung
Ekosistem lamun di kawasan pesisir saat ini banyak memperoleh ancaman dan tekanan dari kegiatan antropogenik. Perairan Teluk Lampung memiliki luas padang lamun sebesar 710 Ha pada tahun 2015. Dengan kondisi baik sebesar 64,79%, kondisi sedang sebesar 22,59% dan kondisi rusak sebesar 12,62 %. Lokasi kajian merupakan kawasan ekosistem lamun yang mendapat pengaruh langsung dari aktifitas budidaya keramba jaring apung, daerah penangkapan ikan dan kerang, kegiatan ekowisata mangrove dan daerah aliran sungai Desa Sidodadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting dan status ekosistem padang lamun kawasan perairan Ekowisata Mangrove Cuku Nyinyi. Metode sampling yang digunakan berdasarkan panduan monitoring padang lamun oleh LIPI dengan menggunakan kuadran 50x50 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas perairan di lokasi kajian cukup sesuai untuk kelangsungan hidup dan perkembangan lamun. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh dua jenis lamun yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Jenis E. acoroides memiliki rata-rata kerapatan sebesar 339 individu dan jenis T. hemprichii sebesar 104 individu. Persentase penutupan lamun tergolong dalam kategori sedang dengan dominansi jenis tertinggi pada E. acoroides. Berdasarkan nilai penutupan lamun dapat disimpulkan bahwa status padang lamun kawasan Ekowisata Cuku Nyinyi termasuk dalam kategori kurang kaya atau dalam kondisi kurang sehat
Uji Akurasi Interpolasi Idw, Kriging dan Analisis Fluktuasi Klorofil-a di Wilayah Laut Kabupaten Kayong Utara
Data spasial dapat diproses menggunakan berbagai teknikkinterpolasi, namun setiap teknik akan menghasilkannoutput yang berbeda. Pemilihan metodeeyang digunakan akan berdampak pada hasil akhir yang diperoleh. Klorofil-a berperan penting dalam menentukan tingkat produktivitas primer di perairan (Susilo, 2000). Kesuburan suatu perairan dapat diukur melalui tingkat produktivitas primer yang dihasilkan. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Kayong Utara menggunakan data klorofil-a dari citra Aqua Modis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan teknik Interpolasi IDW & Kriginggguna menentukan teknik yang paling mendekati nilai klorofil-a yang sebenarnya, serta untuk mengidentifikasi tingkat kesuburan perairan laut di wilayah tersebut berdasarkan konsentrasi klorofil-a. Data citra Aqua Modis diolah menggunakan perangkat lunak SeaDAS dan diinterpolasi menggunakan ArcGIS. Berdasarkan uji akurasi dengan RMSE, metode Kriging menunjukkan hasil yang lebih akurat dibandingkan metode IDW, dengan nilai RMSE masing-masing sebesar 3,889607 dan 3,900089. Konsentrasi klorofil-a terendah pada kedua metode tercatat sebesar 0,32 mg/m3, sedangkan yang tertinggi mencapai 83,22 mg/m3, dengan nilai rata-rata 4,08 mg/m3. Distribusi klorofil-a di perairan Kayong Utara menunjukkan konsentrasi tertinggi di wilayah pesisir yang semakin menurun ke arah laut lepas. Distribusi bulanan mengindikasikan bahwa konsentrasiinilai klorofil-a mencapai puncaknya tertinggi pada bulan September, dengan nilai 8,16 mg/m³, sementara konsentrasi terendah tercatat pada bulan Oktober, yaitu sebesar 2,04 mg/m³
Potassium Cyanide (KCN) Content in Coral Reefs and Its Effect on The Abundance of Indicator-Fishes in The Anambas Islands
The coral reef ecosystem has been continuously degraded in various parts of Indonesia, including the Anambas Islands. This research aimed to discover the content of Potassium Cyanide (KCN) accumulated on corals and the effect on indicator fishes abundance in the Anambas Islands. This research was conducted at 25 observation stations in the Anambas Islands National Marine Protected Area. The potassium cyanide (KCN) content was tested with the principle of titration and distillation. The coral samples used ranged from 10-20 g diluted in 100-200 ml distilled water. The method used to determine the abundance of indicator fish was underwater visual census or UVC, which recorded fish in every station. This research recorded 307 fish individuals from 14 species of the Chaetodontidae family. Potassium Cyanide's content on corals was high ranging from 0,009-0,032 mg/L with an average 0,0205 mg/L. We concluded that there was a negative correlation between the content of Potassium Cyanide (KCN) on corals and indicator fishes abundance, which means the higher the Potassium Cyanide content (KCN) is on corals, the lower the indicator fishes abundance will point out
MENJAWAB KOMPLEKSITAS HUKUM DI TENGAH MASYARAKAT Narkotika, Kekerasan Seksual, dan Perlindungan Anak
Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi lembaga yang ditunjuk untuk melakukan rehabilitasi pada pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika. Tahapan rehabilitasi meliputi rehabilitasi medis (detoksifikasi), rehabilitasi nonmedis (konseling dan terapi kelompok), dan tahap bina lanjut (after care), di mana pecandu diberikan aktivitas yang sesuai dengan minat dan bakatnya untuk mengisi kegiatan sehari-hari dan kembali beraktivitas normal. Dengan demikian, penyalahgunaan narkotika di Indonesia membawa dampak sosial yang luas dan beragam, merugikan baik dari segi kesehatan, keamanan, dan ekonomi. Upaya pencegahan dan penanganan melalui hukum dan rehabilitasi menjadi sangat penting untuk mengatasi masalah ini.
Buku ini lahir dari keinginan mendalam untuk menjembatani kesenjangan informasi antara hukum dan masyarakat, khususnya dalam menghadapi isu-isu hukum yang sering menjadi pertanyaan dan kebingungan di kalangan masyarakat, seperti masalah narkotika, kekerasan seksual, hukum pidana, serta perlindungan anak. Kami menyadari bahwa hukum tidak selalu mudah diakses atau dipahami oleh masyarakat luas. Terdapat banyak pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat mengenai bagaimana hukum dijalankan, ditegakkan, serta bagaimana masyarakat dapat mengakses keadilan dengan cara yang tepat. Buku ini dirancang sebagai jembatan pengetahuan, memberikan informasi yang jelas, mudah dipahami, dan terpercaya terkait berbagai masalah hukum yang sering kali menjadi sorotan.
Isu narkotika, sebagai salah satu topik utama, dibahas dengan mendalam untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana hukum mengatur dan memberantas penyalahgunaan narkotika. Buku ini menyentuh masalah kekerasan seksual yang akhir-akhir ini menjadi sorotan publik, dengan harapan memberikan pencerahan dan juga solusi terhadap masalah tersebut. Selain itu, buku ini juga mengeksplorasi berbagai aspek hukum mengenai organisasi masyarakat, termasuk bagaimana perlindungan anak dibentuk dalam tataran regulasi, proses pembukan dan perlindungan hukum juga menjadi salah satu isu yang sangat penting dan mendapat tempat khusus dalam buku ini
LAPORAN INDIVIDU PRAKTIK LAPANGAN TERBIMBING (PLT)
Magang III terintegrasi dengan mata kuliah Praktik Lapangan Terbimbing
(PLT) mempunyai kegiatan yang terkait dengan pembelajaran maupun kegiatan yang
mendukung berlangsungnya pembelajaran. Mata kuliah PLT diharapkan dapat
memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, terutama dalam hal pengalaman
mengajar, memperluas wawasan, pelatihan dan pengembangan kompetensi yang
diperlukan dalam bidangnya, peningkatan keterampilan, kemandirian, tanggung
jawab, dan kemampuan dalam memecahkan masalah.
Secara umum, pelaksanaan PLT meliputi empat tahapan yaitu tahap
persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan penyusunan laporan. Tahapan pelaksanaan PLT
meliputi tahap pembekalan, penerjunan, dan praktik mengajar. Pelaksanaan program
PLT dimulai dari tanggal 15 September 2017 sampai dengan 15 November 2017
yang diisi dengan observasi kelas dan lembaga, konsultasi, pembuatan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran, pembuatan materi ajar dan media pembelajaran, praktik
mengajar, dan evaluasi. Dalam praktik mengajar, kelas yang diampu adalah kelas X
Teknik Pemesinan 1 dan X Teknik Pemesinan 2. Mata pelajaran yang diampu adalah
teknologi mekanik dan praktik kerja bangku.
Penyelenggaraan PLT untuk mendukung pengembangan kompetensi
mahasiswa sebagai calon guru atau tenaga pendidik. Melalui program ini, praktikan
diharapkan memiliki keterampilan dalam mengelola kelas sehingga kegiatan
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan lulusan yang
berkompeten. Pelaksanaan PLT di SMK Muhammadiyah 1 Bantul ini juga
diharapkan dapat menjadi salah satu fungsi kehumasan mahasiswa sehingga sekolah
dapat menjadi mitra Universitas Negeri Yogyakarta untuk melaksanakan PLT tahun berikutnya
